Satu Malam Tanpa Cinta

Satu Malam Tanpa Cinta
02 - Kepanikan Pagi


__ADS_3

Secara perlahan Jamie membuka mata saat cahaya matahari menyusup masuk melalui celah-celah tirai yang tertutup.


Kelopak mata Jamie terasa sangat berat, begitu berat hingga rasanya ia lebih memilih untuk kembali menutupnya saja.


Namun Jamie tersadar saat matanya memindai langit-langit kamar, jelas bukan langit-langit kamar hotel yang sudah dipesannya untuk lima hari ke depan.


Jamie juga merasakan sekujur tubuhnya sakit dan begitu sulit untuk digerakkan.


Mata Jamie membulat saat mengintip tubuh polosnya yang berada dalam selimut putih tebal.


Lebih mengagetkan lagi saat ia menoleh dan mendapati punggung seorang pria yang berbaring membelakanginya.


Punggung siapa itu?


"Kyaaa!"


Jeritan yang begitu histeris membuat sosok pria yang terlelap dalam posisi memunggungi Jamie ikut terlonjak kaget.


Masih dengan kondisi setengah sadar, pria itu mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang saat ini menarik selimut tebal dalam keadaan panik.


Jamie cepat-cepat membungkus tubuh polosnya dengan selimut itu. Namun matanya tetap tak melepaskan pandangan pada pria yang akhirnya mengusap wajah untuk mengusir rasa kantuknya.


"Si- siapa kau?!" teriak Jamie.


Jamie merasa tubuhnya gemetaran, ia benar-benar tidak mengerti. Bagaimana ia bisa terbangun di tempat asing, bersama pria asing, dan dalam keadaan tanpa busana?


"Kenapa aku bisa ada di sini?!" Jamie kembali berteriak.


Jamie berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Ia menemui Julie di sebuah klub malam, berbincang-bincang dan berkeluh kesah. Membicarakan masalah rencana perjodohan Jamie dengan seorang pria pilihan orang tua Jamie yang super kolot.


Jamie memegangi kepalanya yang benar-benar nyeri akibat digempur kenyataan mengerikan ini.


Ini pasti hanya mimpi!


Tidak! Ini pasti hanya konten prank!


Jamie mengedarkan pandangannya, mencari-cari apakah ada kamera tersembunyi yang saat ini sedang merekam.


"Oh Tuhan! Apa yang sudah terjadi?! Apa yang sudah terjadi?!" seru Jamie penuh kepanikan.


Air mata segera merebak turun membasahi kedua pipi. Namun cepat-cepat Jamie menyeka air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria asing itu.


"Hei, yang harusnya bertanya itu aku!" ucap pria itu dengan nada arogan.


"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?"


"A-apa?!" Jamie terperangah.


Pria itu beringsut turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya yang teronggok di lantai.


"Jangan-jangan kau adalah penyusup yang masuk ke kamar ini!" tuding pria itu.

__ADS_1


"A-apa?! Aku penyusup? Hei! Kau jangan mengada-ada seperti itu! Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini!" sengit Jamie.


Pria itu masih memandang skeptis ke arah Jamie.


"Di mana Jemi?" tanya pria itu.


"Jemi?" Jamie balik bertanya.


"Ya! Di mana Jemi?"


Jamie kembali terperangah.


"Semalam dengan jelas aku menghabiskan malam bersama Jemi, dan kenapa sekarang justru wanita asing sepertimu yang berada di sini?! Ke mana Jemi?!"


"A-apa?! Menghabiskan malam bersama?!" Jamie kembali berseru.


Rasanya ia benar-benar akan pingsan. Sungguh merupakan hal yang gila jika Jamie benar-benar menghabiskan malam bersama seorang pria asing.


"Berhenti bersandiwara! Cepat katakan di mana Jemi?!"


"Hei, Bung! Aku tidak sedang bersandiwara! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa!" sergah Jamie lagi.


"Ck! Berhenti menguji kesabaranku atau aku akan memanggil polisi untuk menyeretmu sekarang juga!" ancam pria itu.


"Apa?! Polisi?!" Jamie kembali terlonjak.


Sikap arogan pria itu sungguh memancing emosi Jamie.


"Hei Bung! Kau jangan besar kepala ya! Aku bukan wanita murahan yang bersedia menghabiskan malam bersamamu! Harusnya aku yang melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian!"


"Julie!" seru Jamie. "Julie pasti tahu sesuatu!"


Jamie merosot turun dari tempat tidur, menahan rasa nyeri yang dirasakannya. Masih dengan gemetaran, tangannya mulai mengais-ngais tumpukan pakaian yang teronggok ke lantai.


"Tasku! Di mana tasku?!" seru Jamie.


"Ck! Bisakah kau berhenti berteriak seperti itu?!" sergah pria itu sambil menatap sinis ke arah Jamie.


Jamie mendengus kesal, ia memilih mengabaikan pria itu.


Pria itu mengambil gawai cerdasnya, berjalan menuju ke jendela untuk membuka tirai penutup.


Jamie masih berusaha mencari tasnya, ia kemudian terdiam, berusaha mengingat-ingat di mana terakhir kali meletakkan benda itu.


Ia benar-benar yakin benda itu selalu berada di sampingnya atau ia letakkan di atas meja bartender.


"Ke mana tasku?" tanya Jamie.


" Oh tidak, ini benar-benar kacau!" keluh Jamie.


Jamie memunguti pakaiannya dan segera berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


Begitu menatap ke arah cermin, Jamie bisa melihat betapa mengerikannya penampilannya saat ini.


Tubuhnya terlihat dipenuhi memar keunguan, terutama di sekitar dada dan leher. Tubuh Jamie seketika merosot dengan air mata yang langsung terjun bebas tanpa hambatan.


Ini benar-benar lebih buruk dari mimpi buruk.


...*****...


Pria itu bergerak mondar-mandir di depan jendela dengan gawai cerdas yang menempel di telinga kiri.


"Halo, Jemi!" ucapnya begitu teleponnya terjawab.


"Hai Jay, ada apa?" jawab suara wanita di seberang sana.


Pria itu meneguk ludahnya, tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat.


"Ka-kau di mana?" tanya pria bernama Jay itu.


"Aku di New York, oh, maaf Jay, semalam aku pergi terburu-buru, jadi aku lupa mengabarimu," jawab wanita itu.


"Ada panggilan kompetisi yang begitu mendadak," lanjut wanita itu lagi.


Pria itu masih terdiam, kehilangan kata-katanya.


"Jay, apa kau mendengarku?"


"Oh, ehem, yeah," jawab pria itu lagi.


"Baiklah Jay, kalau begitu aku harus memulai sesi latihanku, sampai jumpa."


Tut.. Tut.. Sambungan telepon terputus.


Pria itu mengusap kembali wajahnya dengan gusar.


"Apa yang sudah kau lakukan, Jay?!" geramnya penuh kekecewaan.


Jay menatap nanar tempat tidur yang begitu kusut dan acak-acakan.


Di lantai terdapat beberapa botol minuman berkadar alkohol yang membuatnya mabuk tergeletak kosong. Alkohol yang membuatnya mengira bahwa wanita yang ditidurinya benar-benar adalah Jemi.


Jemima, wanita yang sudah dicintai oleh Jay sejak lama. Wanita yang tak bisa dimilikinya hanya karena mereka sudah berteman sejak lama. 


Jay benar-benar ingin memiliki Jemima seutuhnya, meski harus menghalalkan segala cara. Jay sudah menyusun rencana dan menyiapkan segalanya. Skenario Jay sudah begitu sempurna, namun rupanya semua tak berjalan sesuai rencana.


Orang suruhan yang dibayar Jay untuk menculik Jemi, rupanya membawa orang yang salah.


"Kami sudah bekerja sesuai apa yang Anda minta. Kami mengikuti wanita bernama Jemi, memberi obat bius dalam minumannya, dan membawa wanita itu ke kamar hotel, persis seperti yang Anda perintahkan."


Begitulah yang dikatakan oleh mereka dan kini membuat Jay benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya.


Di atas tempat tidur itu terdapat bercak noda darah dari wanita yang saat ini sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.

__ADS_1


"Oh sial! Kenapa bisa begini?!" geram Jay sambil meninju udara.


...*****...


__ADS_2