Satu Malam Tanpa Cinta

Satu Malam Tanpa Cinta
08 - Pertemuan


__ADS_3

"Mbak, ini saya hanya menduga, tapi mungkin Anda bisa saja salah orang."


Keny mencoba menjelaskan pada Jamie yang benar-benar ngotot untuk ikut dengannya.


Bagi Jamie, ia benar-benar harus menemukan pria itu, meski hanya berupa kemungkinan.


Jamie bahkan sudah memeriksa hotel tempat di mana ia terbangun. Pihak hotel sungguh merahasiakan daftar tamu yang memesan kamar hotel tersebut dengan alasan kebijakan hotel mengenai privasi tamu.


Jamie yang merasa seakan menemui jalan buntu pada akhirnya harus melapor ke polisi agar bisa mendapatkan bantuan.


Ketika Keny datang menawarkan bantuan, secara otomatis Jamie harus mencoba kemungkinan itu. Meski belum tentu benar, namun apa salahnya mencoba.


"Tidak apa-apa, Pak Keny, saya harus memastikan sendiri, huek...," Jamie kembali menahan mual.


Ia menutup rapat mulutnya dengan tangan. Cepat-cepat ia membuka tumbler kedap panas untuk meneguk air hangat yang cukup manjur untuk meredam rasa mualnya.


"Mbak Jamie, Anda baik-baik saja?" tanya Keny.


Jamie mengacungkan simbol OK dengan jarinya. Selama perjalanan menggunakan bus, Jamie seakan kesulitan bernapas karena mencium aroma campur aduk.


Begitu turun di halte bus, Jamie akhirnya bisa menghirup udara bebas.


"Mari ikut saya," ajak Keny.


Jamie mengikuti langkah Keny meninggalkan halte dan mulai memasuki kawasan apartemen.


"Anda tinggal di sini?" tanya Jamie.


"Untuk sementara selama tinggal di kota ini," jawab Keny.


"Oh begitu," Jamie mengangguk. "Jadi, Anda bukan penduduk lokal?"


"Begitulah, saya ada di kota ini untuk mengurus pekerjaan," jawab Keny.


Keny mempersilakan Jamie untuk masuk ke unit apartemen yang nampak berantakan. Banyak pakaian dan bekas makanan yang berserak di lantai.


"Mohon maaf tempatnya berantakan begini, kalau merasa kurang nyaman, Anda boleh tunggu di luar saja," kata Keny.


"Oh tidak apa-apa," sahut Jamie masih mengedarkan pandangannya.


Sebenarnya Jamie benar-benar merasa takut. Dengan mudahnya ia ikut bersama pria asing yang baru dikenalnya di kantor polisi. Jika pria itu sampai berbuat jahat pada Jamie, sungguh tega sekali.


Keny memasuki sebuah ruangan dan keluar dengan membawa sepasang sepatu yang langsung ia tunjukkan pada Jamie.


Jamie memandangi sepatu itu, sungguh sama persis seperti miliknya.


"Bagaimana, Mbak?" tanya Keny.


"Hmm, mirip sih," jawab Jamie ragu-ragu.


"Mohon maaf, Pak Keny, kok Anda bisa memiliki sepatu ini?" tanya Jamie.


"Oh, kebetulan saya menemukan sepatu ini, saya menyimpannya karena berpikir siapa tahu akan ada yang mencarinya," jawab Keny.


Jamie terperangah, jantungnya mulai berdegup kencang, aliran darah berdesir cepat.


"Di-di mana Anda menemukannya?" tanya Jamie.


"Di kamar teman saya," jawab Keny.

__ADS_1


Jantung Jamie mulai bergemuruh tak karuan. Apakah ini sepatunya? Jamie benar-benar menjadi ragu sendiri.


"Keny! Kau sudah pulang?!"


Jamie mematung saat melihat sosok pria yang keluar dari salah satu kamar. Pria berkaus oblong warna putih dan bercelana pendek dengan rambut acak-acakan itu berjalan menghampiri Keny.


"Kau bawa makanan apa? Aku lapar," kata pria itu.


"Kau baru bangun tidur?" tanya Keny.


"Yep," jawab pria itu santai.


Jamie terperangah, ia tak mungkin bisa melupakan pria berambut acak-acakan dengan mata merah seperti ikan busuk yang telah merenggut masa depannya bahkan menuduhnya membuat jebakan.


"Siapa dia?" tanya pria itu, menyadari kehadiran Jamie.


"Beliau adalah..," kata Keny terhenti.


"Pak Keny," potong Jamie.


Jamie menoleh ke arah Keny sambil mengeluarkan secarik kertas dan menunjukkan sketsa wajah pria.


"Sepertinya saya sudah menemukan orang yang saya cari!" kata Jamie dengan cepat.


"Mbak Jamie, apa Anda yakin?" tanya Keny tak percaya.


Jamie mengangguk mantap.


"Jay, kau mengenal beliau?" tanya Keny ke arah pria bernama Jay itu.


Jay menggeleng cepat.


"Tidak, memangnya siapa dia?" Jay balik bertanya.


"Sebentar, aku terima telepon dulu," Keny berpamitan.


Pria itu keluar dari unit apartemen meninggalkan Jamie dan Jay.


Plak..!


Jamie langsung memukul Jay dengan sepatu di tangannya.


"Dasar laki-laki sialan!" seru Jamie.


"Hei! Hei! Apa yang kau lakukan?!" sergah Jay.


Jamie masih mencengkeram erat sepatu yang ia gunakan untuk memukuli Jay.


"Kenapa kau menyerangku? Memangnya apa salahku?" Jay melangkah mundur, mengambil sikap defensif.


"Kamu nanya?! Kamu bertanya-tanya?!" Jamie balas berteriak.


"Cih! Dasar wanita gila!" Jay mengumpat kesal.


"Ya! Aku memang wanita gila! Dan semua itu gara-gara kau!" geram Jamie sambil melempar sepatunya ke arah Jay.


Jay berusaha menghindari lemparan sepatu, ia bahkan sampai jatuh tersungkur ke lantai karena terpeleset tumpukan pakaian.


"Ugh! Sial!" Jay mengumpat kesal.

__ADS_1


"Tanggung jawab kau! Tanggung jawab atas perbuatan yang telah kau lakukan padaku!" teriak Jamie.


"Tunggu! Tanggung jawab atas perbuatan yang kulakukan?! Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?" tanya Jay keheranan.


"Kau sudah melakukan hal yang seharusnya tidak pernah kau lakukan padaku!" jawab Jamie.


Emosi Jamie masih meledak-ledak tak terkendali. Rasanya ia ingin mencakar-cakar pria itu namun lagi-lagi Jamie merasakan rasa mual yang begitu hebat.


"Huek! Huek! Di mana toilet?" tanya Jamie.


Jay bergidik ngeri, dengan cepat ia menunjuk toilet dengan telunjuknya yang mengarah lurus.


Jamie segera berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


"Huh! Keny! Siapa yang kau bawa sih?!" teriak Jay.


Keny yang baru saja memasuki ruangan terkejut mendengar teriakan Jay.


"Jay, ada apa? Kenapa teriak-teriak begitu?" tanya Keny sambil menghampiri Jay.


"Keny! Apa kau sudah gila? Kenapa membawa orang asing kemari?" tanya Jay.


"Lho, ke mana Mbak Jamie?" Keny balik bertanya.


Jay hanya menunjuk ke arah toilet, terdengar suara muntahan yang membuatnya jadi ikut mual.


"Kenapa wanita itu muntah-muntah? Apa dia mabuk?" tanya Jay.


"Aku rasa tidak seperti itu, Jay," sahut Keny.


Jamie melangkah keluar dari toilet dengan langkah terhuyung, lalu dengan cepat menghampiri kembali Keny dan Jay.


"Mbak Jamie baik-baik saja?" tanya Keny.


"Maaf, Pak Keny, saya sedang tidak baik-baik saja. Dan saat ini, penyebab saya tidak baik-baik saja adalah pria ini," jawab Jamie sambil menunjuk ke arah Jay.


"Apa maksud Anda?" tanya Keny kebingungan.


"Pak Keny, pria inilah yang saya cari! Pria ini yang harus bertanggung jawab terhadap saya! Pria ini telah membuat saya mengandung benihnya!" jawab Jamie.


Keheningan segera tercipta begitu Jamie melayangkan tudingannya pada Jay. Keny terperangah ke arah Jay.


"Haha!" Jay tertawa keras-keras sambil bertepuk tangan.


Keny yang kebingungan segera menyikut rusuk Jay, agar Jay berhenti tertawa.


"Tunggu, apa maksud Anda, Mbak?" tanya Keny.


"Saya menuntut pertanggung jawaban darinya," jawab Jamie.


"Ck... ck!" Jay berdecak kesal. "Hei, Mbak! Hati-hati kalau bicara! Jangan asal tuduh begitu! Memangnya kau siapa sampai mengaku mengandung anakku?" tanya Jay.


"Aku bahkan tidak mengenalmu! Kau jangan asal tuduh begitu! Apa kau mau kulaporkan ke polisi atas tuntutan pencemaran nama baik dan juga penipuan?" tanya Jay.


"Huh! Begitu ya?! Kalau begitu, aku akan melaporkanmu atas tuduhan pelecehan dan kekerasan seksual!" balas Jamie.


"Stop!"


Keny berseru untuk menengahi dua orang yang begitu asyik bersiteru.

__ADS_1


"Berhenti berteriak dan tolong bicara pelan-pelan!"


...*****...


__ADS_2