Save You

Save You
01. Mimpi yang Mendahului Takdir


__ADS_3

"Hai kutu buku!" Lengan laki-laki itu menggulung di leher, mantan teman sekelasnya yang seharusnya tidak menyapa kini bertingkah sok akrab. "Aku dengar kakakmu yang tidak bisa melakukan apa-apa menulis sebuah buku ya?"


"Seingatku kita tidak terlalu dekat untuk membahas itu."


"Woah santai bung, aku di sini karena pacarku penggemar novel kakakmu. Dia ingin bertanya sedikit kepadamu karena kakakmu sulit untuk di hubungi."


Alis si laki-laki yang ditanya bertaut, dia melempar ******* lelah begitu meletakkan nampan untuk duduk di satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Ada dua orang lagi selain yang menyapanya tadi, salah satunya seorang perempuan yang malu-malu bertanya.


"Aku belum membaca semuanya karena ragu, siapa ML di cerita ini?"


"Klise, pemenangnya selalu Putra Mahkota."


"Benarkah? Aku pikir Natheline akan bersama Yujin! mereka terlihat cocok."


"Dengar sayang," jari jemari yang berbalut plester menyusup ke rambut pendek si perempuan. "Kamu hanya perlu kekuasaan untuk mendapat yang kamu inginkan, alur novel seperti ini mudah ditebak."


"Ups, maaf."


Anak laki-laki menarik tangannya dengan cepat, meninggalkan rona merah muda samar di pipi gadis yang sudah memiliki pacar.


"L-lalu siapa karakter favoritmu di novel ini?"


Dia nampak berfikir, semua karakter digambarkan dengan baik.


Novel fantasi-romansa dengan Harem terbalik selalu bertujuan menyenangkan pembaca yang kebanyakan perempuan. Cerita tentang penyihir yang diberkahi cahaya dengan 4 orang yang jatuh hati padanya.


Natheline Mon Vedlick.


Anak angkat keluarga Marques Vedlick yang kehilangan anak laki-laki dalam sebuah insiden. Protagonis baik hati yang digambarkan seperti peri, warna rambut dan mata yang senada merah muda. Periang dan lembut, Penyihir Menara yang punya keajaiban dengan karakternya.


Keempat orang yang jatuh hati padanya juga bukan orang biasa.


Klise.


Putra Mahkota yang sudah punya tunangan.


Penyihir Agung yang sedingin es.


Kesatria kerajaan yang terobsesi.


Serta, Perwakilan kerajaan lain yang sifat aslinya tidak diketahui.


"Tidak ada."


Senyum merekah, si laki-laki mengetuk meja dengan ujung jari.


"Jika tidak ada, adakah karakter yang kamu benci?"

__ADS_1


"Tidak ada juga."


"Itu tidak masuk akal, kamu tidak membenci antagonis itu? diawal saja aku sudah tidak suka sikapnya yang terlalu terobsesi menjadi pendamping Putra Mahkota."


Selain lima orang penuh sorotan itu, ada satu orang yang akan menjadi penghalang Protagonis. Tentu, setiap cerita punya antagonis tersendiri. Antagonis dari novel 'Minid' adalah Ivyna Kailen, tunangan putra mahkota.


Penyihir pendengki, setara dengan iblis yang terkucilkan.


"Biasa saja, pada akhirnya dia dieksekusi."


"Akhir cerita ini terlihat menggantung!"


Teman yang sejak tadi diam mulai membuka suara, diambilnya sebuah buku bersampul emas. Tidak ada yang menyangka jika novel kakaknya bisa terkenal dan diantara peminatnya adalah temannya, juga orang yang tahu jika penulis cerita itu adalah kakaknya.


"M-menggantung?"


Dia ingat jika akhir cerita yang ia bantu ketik hanya sampai terbongkarnya kejahatan Ivyna oleh salah satu tokoh protagonis laki-laki. Apa kakaknya menambahkan cerita tanpa bantuannya.


"Coba buka akhir buku!"


Titah yang menjengkelkan, tetapi tetap dituruti dengan baik karena lembar terakhir buku sudah terbuka lebar.


"Coba baca baik-baik kata terakhir antagonis."


[Ruang singgasana yang ramai bangsawan, Ivyna Kailen terdiam dengan wajah yang menunduk menyaksikan lantai berkarpet merah yang dia pijak. Mata hijau jernih dicurahi air mata, entah apa yang dia pikirkan, aku tidak tahu.


"Ada permintaan terakhir? Aku akan mengabulkannya jika aku mau."


Kekehan keras seperti kesetanan. Ivyna Kailen seolah menjatuhkan semua harga dirinya sebagai bangsawan agung tepat di hari ini, hari kematiannya.


Dengan gerakan pelan dan agak kesulitan, dia mendongak seolah menantang Putra Mahkota yang duduk di singgasana.


"Aku tidak mencintai anda, sejak awal dan akhir."


Pangeran Mahkota menggerakkan gigi, isyarat tangan dilakukan dan Penyihir Agung memulai sebagai algojo adiknya sendiri.]


"Lalu untuk apa Ivyna menjadi antagonis?"


Pertanyaan yang keluar dari satu-satunya orang yang tidak pernah membaca novel itu. Laki-laki yang tadi merangkul bahunya kini mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras.


"Cepat katakan kelanjutan--"


"--ens."


"Jens!"


"JENS UANGMU DICURI!"

__ADS_1


Kelopak mata terbuka lebar, bertepatan dengan tangannya yang memblokir sinar menyilaukan dari luar jendela. Jens menarik nafasnya dalam-dalam, meraup udara sebanyak-banyaknya seolah baru terbangun dari kematian.


Badannya menggigil, kakinya lemas seolah diajak pergi jauh.


"Taram, ambilkan nak Jens air!"


Jens tersenyum lemah ketika menerima segelas air dan meneguknya hingga habis. Dia melihat kondisinya, lengan kecoklatan yang berotot dan badan yang tergolong bugar. Dia benar-benar bukan dirinya yang dulu.


'Sial, mimpi tentang kehidupanku yang sebelumnya datang lagi.'


"Apa kamu baik-baik saja nak Jens?"


"Saya baik."


Ketika ingin membuka selimut untuk memastikan lebih jauh, pelayan menjerit dan menutup mata bersamaan dengan Tuan Delvon, Penyihir tua yang ada di sana menahan gerakan Jens.


"Kamu tidak mengenakan apapun di bawah selimut."


Jens seketika membeku, menelan ludah lalu seperti anak kucing yang menutupi tubuhnya dengan selimut bulu.


____


Telapak kakinya terasa basah dan hangat, ruangan yang dibayangi malam hari serasa mencekam. Saat dia menunduk sebuah kepala tergeletak di genangan darah yang dia injak. Rambut yang semula panjang menjadi pendek.


Dia mundur, getaran ditubuhnya tidak berhenti, lebih lagi saat kelopak mata kepala itu terbuka dan menampilkan rongga mata yang kosong membuat kepala gadis itu sakit luar biasa.


Kemudian pandangannya kabur.


Ivyna membuka matanya, dadanya sesak, dia meraih air dan meminumnya. Ketukan di luar jendela mengharuskan dia menjernihkan pikiran, di bawah remang-remang bulan purnama laki-laki berjubah tipis meminta untuk masuk. Ivyna mengirim sihir untuk membuka jendela, membuat laki-laki yang tidak terlihat jelas wajahnya masuk.


"Ivyna Kailen, apa kamu merindukanku?"


Ivyna melihat percikan aneh. Begitu kabut meledak dari tubuh anak itu, ia dilanda rasa ngeri berlebihan yang tidak tertahankan.


Perutnya mual, dan dia terbangun lagi dari mimpi buruk.


Sarah, pelayannya mengambilkan minuman air putih, akhirnya nona yang dia layani bangun setelah beberapa hari pingsan usai pertemuan dengan raja. Dia membasuh keringat Ivyna dengan handuk dan air hangat, nona yang ia layani meneguk habis air dan berakhir memecahkan gelas karena tangannya yang masih bergetar.


"Sarah, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Delapan hari, nona."


Delapan hari dari terakhir kali dia bertemu raja adalah hari terakhir bulan ini, artinya setelah matahari terbit adalah bulan baru tanggal. Dia menerima air lain dari Sarah, "Apa nenek tahu jika aku tidak sadarkan diri?"


"Beliau mengetahuinya dan berpesan jika anda bangun, saya harus mengatakan pesan dari beliau." Sarah menarik jeda sedikit, dia masih memandangi Ivyna yang tidak seperti biasanya. "Dia kecewa karena bulan ini pertunangan anda dengan putra mahkota masih belum diresmikan."


Ivyna melihat dirinya di cermin, cahaya lampu membuat dia rambutnya yang agak acak-acakan terlihat sangat jelas. Dia menarik senyum tipis, agaknya dia mulai gila.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengecewakan dia lagi."


__ADS_2