Save You

Save You
02 Hubungan Kesenjangan (1)


__ADS_3

"Jens ya, aku tidak pernah mendengar tokoh bernama itu di novel. Apa karena Jens tidak pernah bertemu dengan para tokoh utama ya?"


Jens menarik napas, bergumam sepanjang hari membuat beberapa pekerja yang memergoki dia di balkon lantai dua Guild berfikir jika otaknya tidak waras paska koma beberapa hari lalu.


Dipikir-pikir tidak masuk akal jika ia masuk ke dunia novel.


Dia mengetuk jarinya ke pembatas pagar, jalanan kota Vall yang ramai terlihat samar-samar karena dia menggunakan penutup mata dari kain hitam. Udara pagi yang lama tidak dia hirup, dan suara-suara yang tenang memenuhi pendengarannya.


"Atau mungkin karena Jens tidak pernah ada?"


Bisa saja, ia orang yang bukan dari dunia ini terlahir kembali tanpa ingatan. Masalahnya, dia ingat masa lalunya. Jens ingat betul jika dunianya adalah sebuah novel yang kakaknya tulis, kakaknya yang mungkin saja juga bereinkarnasi ke dunia ini.


Prioritasnya adalah mencari keberadaan kakaknya, ia punya banyak kandidat yang cocok jika dibandingkan dengan kakaknya.


Jens punya banyak tebakan.


Masalahnya, apakah tebakannya benar atau salah tidak ada yang tau jawabannya. Untuk saat ini Jens menghadapi jalan buntu.


"Jens," sebuah suara membuat dia menoleh. Pemimpin divisi kesatria, Taram tersenyum lebar begitu masuk dan menepuk pundaknya yang masih diperban tanpa rasa bersalah. "Ketua Hans memanggilmu."


'****.'


Berita yang dia bawa membuat suasana hati kusut seperti rambut singa yang Taram punya.


"Untuk apa?" tanya Jens.


"AGAR KAMU BERISTIRAHAT DAN TIDAK MENGGODA PEREMPUAN DI DIVISI PELAYAN HAHAHA."


Lihat tawa yang terang-terangan itu, Taram menertawakan penderitanya yang akan bertemu Ketua Alice's House. Lengan besarnya mengalung di leher belakang Jens, membuat anak laki-laki yang belum sepenuhnya memasuki usia dewasa itu menginjak kaki Taram untuk memperingati.


"Jangan menggoda jangan menggoda, mereka saja yang terpesona padaku," keluh Jens, dia merapikan rambut hitamnya yang habis diacak-acak Taram. "Pergi mencari kekasih sana, Hilds akan senang jika dia memiliki menantu."


"Jangan membicarakan ayahku, dia lebih senang aku melatih otot-otot cantikku."


"Perempuan takut dengan pria berotot," Jens mengaduh, membayangkan dipeluk oleh lengan kekar Taram membuat dia merinding. Wajah bodoh Taram adalah hal yang kemudian dia lihat. "Hanya beberapa kok, aku pergi dulu."


Jens menaiki anak tangga untuk mencapai lantai tiga, ruangan khusus untuk Ketua Alice's House bekerja. Kalau tidak salah ingat terakhir kali dia bertemu dengan ketua adalah 4 bulan lalu saat menerima misi di perbatasan.


Misi yang katanya membahayakan nyawa tapi malah hanya berakhir dengan membawa kucing kesayangan tuan Delvon, si Pemimpin Divisi Penyihir yang katanya akan mengamuk jika kucing kesayangannya, Betty, tidak kembali.


"Ini saya, Jens."


"Masuk."

__ADS_1


Ia membuka pintu, laki-laki berkacamata bisa dia lihat samar-samar dari balik penutup mata. Ketua mendongak setelah meletakkan kertas, mata ungu Ketua melihat tangan Jens yang diperban.


"Kamu diberhentikan sementara."


"Hah? tunggu pak tua ini tidak adil, aku hanya terluka sedikit dan masih bisa melakukan ini itu. Mana bisa kamu memecat salah satu pegawaimu yang berbakat walaupun hanya sementara?!" Jens menggebrak meja.


Hans, laki-laki berumur akhir 30-an menatap balik Jens.


"Jaga tempramenmu," ia menyodorkan sebuah kertas berwarna keruh.


Jens membaca isi pesan yang meminta ia sebagai anggota guild diberhentikan sementara sampai benar-benar pulih total. Nama yang tertera di surat adalah orang yang dia tau betul.


Noel, anggota muda lumayan berbakat dari divisi penyihir, juga orang yang menyebabkan ia jatuh koma.


"Apa-apaan ini--"


"Itu permintaan, aku memilah dan menyetujui permintaan masyarakat yang membutuhkan jasa kita." Hans melihat raut wajah Jens, anak laki-laki itu membaca baik-baik isi kertas dan agaknya mulai tersenyum licik. "Jangan berfikir untuk membuat permintaan agar aku membatalkan yang ini."


"Sial, ini deskriminasi!"


Hans tidak mendengarkan makian Jens, ia mendorong satu kantong penuh berisi koin emas. "Lalu ini untukmu."


"Wah anda baik sekali memberi gaji atau bahkan bonus?"


"Itu dari Nona keluarga Kailen."


"Dia tidak menemuiku secara langsung?"


Salah satu hal yang ia khawatir ketika ia bangun dari koma adalah fakta jika Ivyna Kailen, antagonis novel menjadi sahabatnya.


Dia mual, mengingat akhir tragis Ivyna membuat ia merasa kasian. Tidak ada yang salah dengan Ivyna, sungguh, Jens sudah mengenal perempuan itu dari kecil dan tidak ada tanda-tanda penyimpangan moral dari Ivyna seperti yang dipaparkan di cerita novelnya.


Ivyna yang ia kenal selalu perhatikan, selalu mengobati lukanya dan sesekali mengomel karena khawatir. Karena itu, Ivyna tidak pantas mati seperti di dalam novel. Jens ingin Ivyna bebas pergi dan punya banyak pilihan untuk memilih keinginannya sendiri.


Karena Ivyna sahabatnya.


Ia harus melindungi hal berharga miliknya.


"Jens, setelah ini tolong bujuk Noel untuk bekerja dan minta Delvon menemuiku."


"Yes Sir."


.

__ADS_1


.


.


"Tuan Delvon, Pria tua memanggilmu."


Penyihir tua berpakaian jubah hitam dengan bordir lambang kartu sekop khas guild menoleh, ia mengambil kertas berwarna gadin yang diberikan Jens dengan senyum yang lumayan merekah. Dipandangnya kertas dan seseorang yang menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut.


"Nak Jens, aku akan pergi. Tolong pastikan Noel bekerja keras."


"Tentu."


Penyihir tua berjalan melewati Jens ke pintu keluar.


Jens melempar perhatiannya kepada isi kamar asrama penyihir, seharusnya ada tiga ranjang di setiap asrama, tetapi di ruangan ini hanya satu ranjang yang kini ditempati seseorang.


Seseorang yang sedang meringkuk.


Jens mendapati getaran samar dari dalam selimut beludru.


"Noel, aku tidak ingin menghitung sampai tiga."


Getaran dari selimut terlihat, kali ini satu sosok keluar dari selimut yang tadi membungkus seperti kepompong.


Rambut dan warna mata yang senada abu-abu bekas pembakaran. Kulit pucat, dan pakaian yang acak-acakan. Noel meneguk ludah gugup ketika bertatapan bertatapan dengan Jens.


"Bagus, tolong temui Pak Tua."


Jens menarik selimut dan melipat dengan rapi, dia juga mengambil jubah penyihir dan menyerahkannya pada Noel yang sorot matanya malah menunjukkan rasa bersalah yang.


"Apa?"


"Tolong maafkan aku."


Jens tau, penyebab salah satu insiden terfatal Jens sehingga tidak bisa menggunakan pedang sementara waktu adalah penyihir ini. Tidak tau karena sebab apa, hari itu energi sihir Noel lepas kendali dan bertabrakan dengan tubuh Jens sehingga membuat reaksi penolakan.


"Bisakah aku memintamu sesuatu? setelah itu aku akan menganggap rasa bersalahmu valid."


"Aku akan melakukan apapun yang Sir Jens minta!"


Binar di kedua mata abu-abu Noel terlihat jelas. Penyihir muda yang lebih tua beberapa tahun dari Jens mengenakan jubah dan berdiri seperti akan mengabulkannya permintaan.


"Jadikan aku kucing."

__ADS_1


__ADS_2