Save You

Save You
08. Berkebalikan (4)


__ADS_3

Perang dingin terjadi di dalam kereta kuda dibarisan nomor dua, tempat dimana Reflin Kailen dan Jens menaiki kereta kuda yang sama sesuai aturan kerajaan. Putri Bell dan jurnalis berada di kereta pertama, para penyihir dibarisan ketiga dan karena keduanya pendamping, itu sebabnya mereka tidak boleh berpisah


Jens rasa selama setengah perjalan Reflin memandangnya dingin dan dingin. Dia yang tidak terbiasa, mencoba menyibukkan diri dengan membersihkan anting-anting hitam berulang kali, atau beberapa kali mengangkat anting-anting untuk melihat tatapan Reflin masih saja dingin.


'Ivy pasti lelah punya kakak seperti dia,' batinnya penuh kasihan.


Keheningan terus terjadi sampai Jens tidak tahan dan mulai bertanya.


"Katakan padaku apa yang salah sehingga kamu menatap seperti ini?"


"Kamu lusuh."


Kenyataannya itu tidak cukup untuk membuat Jens marah.


"Tidak tau etika."


Itu juga, atau bahkan memang itu kebenarannya.


"Tidak teratur, dan tidak punya energi sihir."


"Aku bukan penyihir."


"Tidak wajar seseorang kesatria tidak punya kekuatan sihir walau sedikit, kekuatan sihirmu bahkan lebih rendah dari rakyat biasa."


Setting dunia ini adalah keseimbangan. Semua manusia punya dua keterampilan fisik dan sihir sesuai potensial.


Para kesatria mempunyai potensial fisik yang lebih kuat dari sihir, sementara Penyihir berkebalikan dengan para Kesatria dan rakyat biasa memiliki rata-rata yang seimbang.


Di kehidupan sebelumnya, Jens menemukan kakaknya berbicara menggebu-gebu dengan aturan novel yang sangat jenius ini.


Semua warga negara punya keseimbangan ini, tergantung pengembangan seperti apa yang terjadi. Walaupun, kakaknya secara tidak rendah hati menggambarkan bahwa dia ingin Ivyna Kailen, Antagonis novel tidak mempunyai kekuatan, tetapi itu tidak mungkin.


Semua orang mempunyai kedua keseimbangan itu, kecuali Jens, yang bukan bagian dari dunia ini.


Saat dia bereinkarnasi kedunia ini, secara bertahap dia tahu kalau ia tidak memiliki potensi sihir. Apa kakaknya juga bukan tipe penyihir? ia akan mencatat poin itu untuk mempersempit pencarian.


"Alam tidak mencintaimu."

__ADS_1


Yah, tidak ada yang salah dari pernyataan itu.


"Kau seperti tidak diciptakan untuk dunia ini."


"Diam!"


Satu lemparan jarum beracun yang diambil dari tas hampir menggores leher Reflin jika Jens serius untuk menargetkannya.


Jens sudah memasang antingnya, kemudian bersedekap setelah kembali melempar jarum beracun kesisi berlawanan leher Reflin.


"Tidak perlu memiliki sihir jika kamu bisa membungkam Penyihir Agung dengan jarum beracun," mata Jens berkilat tajam, ini keahlian yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun kecuali pada Tuan Hans.


"Kamu Penyihir Agung, kamu dicintai cahaya, sihirmu hebat sehingga tidak memberikan potensi fisikmu tumbuh."


Mata hijau Reflin ikut berkilat.


Perkataan Jens adalah sebuah hal yang tidak pernah diketahui oleh siapapun bahkan keluarganya.


Namun, Jens yang dikehidupan lalu telah membaca semua draf novel sebelum dibukukan mengetahuinya dengan jelas fakta yang sering disembunyikan seperti ini.


Itu juga alasan masuk akal yang membuat Reflin mendekati sang Protagonis yang bisa menggunakan sihir pembangun, pemelihara dan karunia. Sihir yang tidak masuk untuk bisa dimilik oleh keturunan bangsawan, bahkan kerajaan sekalipun.


"Aku tidak ingin bertarung," Jens mengatakan itu ketika dua jarum beracun diangkat ke udara oleh sihir Reflin.


"Kamu takut?" Reflin sudah kehilangan sifat tenangnya, matanya benar-benar mencerminkan sikap permusuhan.


"Aku bersamamu karena kita sama-sama Pendamping, aku ingin pulang hidup-hidup sehingga bisa memberikan hadiah untuk temanku yang bekerja keras siang dan malam menjadi bawahanku."


"Wah," untuk kali ini Jens merasa hawa yang identik saat berbicara dengan Ivyna. "Tidak kusangka Kesatria sepertimu memiliki bawahan."


Perkataan sarkastik.


Sebenarnya perkataan Reflin ada benarnya, Noel mana sudi menjadi bawahan orang yang pernah menipunya.


"Ck, aku ingin kembali dengan selamat demi sahabatku."


Dia tidak bohong ketika mengatakan itu, Jens melihat jarumnya hancur menjadi debu di udara. Reflin kembali tenang ketika keduanya bertatapan, dan menghela napas secara bersamaan.

__ADS_1


Ada satu kalimat yang keduanya sembunyikan, tetapi raut keduanya tidak bisa untuk berbohong.


'Aku tidak menyukainya.'


Mereka kembali ke keadaan semula, perang dingin berlanjut bahkan saat rombongan tiba di istana Kerajaan Nire dan mereka turun dari kereta kuda, Jens dengan sengaja menjegal kaki Reflin dan Penyihir yang tiba-tiba agak kekanak-kanakan itu membalas dengan membuat Jens terpeleset.


Sungguh, perang dingin yang kuat, keduanya tidak bisa didekati saat ini. Aura dari Reflin memang dingin sejak dulu, tetapi ini lebih dingin dan mencekam, seolah mencekik siapapun yang mendekat.


Jens sendiri sepertinya juga akan meledak ketika ada seseorang yang mencoba berbicara padanya.


"Apa kami seharusnya memisahkan mereka?" Seorang bawahan bertanya pada Putri Bell yang cukup terhibur.


"Penyihir Agung nampaknya bisa menghancurkan apa aja jika bersinggungan dengan kesatria itu lebih lama," Bawahan lain merasa khawatir.


Putri Bell tersenyum malu-malu, "Biarkan saja, para orang tampan selalu memiliki hal yang membuat mereka membenci satu sama lain."


"Tapi tuan putri-"


"Bukankah, Anda terlalu welas asih untuk keduanya?"


Putri Bell nyaris tertawa ketika mata abu-abunya melihat interaksi yang lebih lucu, Jens dan Reflin kembali ingin mengerjai satu sama lain. "Jika anda bisa memisahkan mereka, maka silahkan," putusnya final.


Mendapatkan persetujuan, beberapa anggota rombongan berusaha memisahkan mereka tetapi berakhir dengan perang dingin yang makin tidak mengenakkan hati.


Namun, perang dingin berakhir ketika laki-laki pendek berambut hijau yang datang untuk menyambut kehadiran mereka, itu Liy Mindy yang menjabat sebagai perwakilan Kerajaan.


"Selamat datang di Kerajaan Nire, kalian bisa beristirahat sebentar, setelahnya siapapun yang ingin mengelilingi kota ini bisa menemuiku besok diruang perpustakaan pada pukul tengah hari."


Itu senyum tertulus yang pernah Jens lihat.


Dan dia tertarik untuk berjalan-jalan, sebelum, dia menemukan Reflin Kailen diruang yang sama keesokan harinya dan dengan suasana hati yang sama dinginnya seperti kemarin ketika mereka bersinggungan.


"Wah tuan Penyihir Agung juga perlu jalan-jalan dan menyegarkan pikiran?" Jens agak tergelitik, "Kukira anda lebih suka bersembunyi di menara anda."


Tidak ada jawaban, Jens cemberut, padahal niatnya memancing keributan. Terluka di tangan Penyihir Agung bisa saja membuat ia mendapat kompensasi yang besar.


Kompensasi yang besar sama artinya dengan tumpukan koin emas.

__ADS_1


"Baiklah, dua orang yang akan mengikutiku berkeliling!"


Liy Mindy adalah anak laki-laki paling polos yang tidak peka dengan suasana hati orang lain. Bahkan ketika kedua tamunya saling melempar tatapan tajam, senyum Liy tidak luntur dari wajah imut laki-laki berambut hijau itu.


__ADS_2