
Reflin Kailen kembali dari menara sihir dengan wajah yang layu, aura tidak enak membekas tiap langkah ia menyusuri lorong kediaman Kailen yang seolah memberikan ia akses untuk tidak diganggu.
Kecuali saat ia bertemu seseorang yang berbagi darah yang sama dengannya.
Reflin menyambut Ivyna dengan aura dingin ketika adik perempuannya datang berlawanan arah dengan tujuannya, aura dan penampilan dua orang itu terlihat hampir identik walaupun keduanya tidak akur.
"Selamat atas rumor pertunangan yang akan segera disahkan."
"Senang mendengarnya dari Anda."
Kata-kata itu terucap hanya persekian detik ketika mereka bersunggungan, Ivyna memberikan hormat yang tidak digubris.
Reflin segera menuju ruang Duke untuk memberi kabar, sementara Ivyna baru selesai dari kelas dan mendapati Jens berdiri di depan jendela membiarkan angin menerbangkan helai rambut hitam laki-laki belum dewasa itu.
Lalu mengalihkan perhatian pada Ivyna yang sudah menyuruh Sarah menutup pintu.
"Ivy!"
"Kamu menyusup lagi," suara dingin Ivyna membuat Jens agak merinding di musim gugur yang akan segera berakhir ini.
"Aku di sini untuk membawamu berjalan-jalan."
Suara Jens ruang, dia membawa mengganti bunga anggrek layu di sebuah vas dengan bunga yang segar. Kebiasaan Ivyna tidak masuk akal, membiarkan sebuah bunga layu tanpa diganti sungguh tidak etis.
"Tidak," jawabnya.
"Mengapa?"
Dibalik penutup kain hitam mata Jens melebar seperti minta dikasihani, dia sudah jauh-jauh datang ke Kediaman Kailen bukan hanya untuk mendapatkan penolakan dari Ivyna yang ia sayangi.
"Reflin kembali, aku yakin ibu akan mengadakan makan malam keluarga."
"Aku akan bersamamu dengan wujud kucin--"
"Tidak, Jens, Reflin pendeteksi sihir yang berbakat. Kamu tidak bisa menipunya."
Satu-satunya alasan kenapa kehadiran Jens tidak terdeteksi adalah karena Jens tidak punya sihir.
Jika Jens punya sihir, bukan hanya sindiran soal rumor yang ia terima tetapi juga sindiran soal menyembunyikan laki-laki simpanan di bawah umur.
"Ah, kalau begitu luangkan waktumu sebentar saja untuk mengobrol denganku ya ya ya?"
Tangan Jens ringan terulur.
Ivyna menanggapi dengan serius, ada perbedaan antara kulit kecoklatan Jens dan kulit putih susu Ivyna yang membuat keturunan bangsawan itu tersenyum agak tersenyum kecil.
Jens pasti berlatih serius untuk menjadi Kesatria.
Ia masih ingat kata-kata Jens yang pernah diucapkan dua tahun lalu, ketika pertemuan mereka baru beberapa bulan dan binar kekanak-kanakan melingkupi anak laki-laki yang tumbuh sebagai kesatria sejak kecil.
__ADS_1
Saat itu Jens seperti anak laki-laki manis yang lebih muda dan pendek, sangat pendek hingga ia tidak percaya pemuda pendek itu akan lebih tinggi darinya. Ia juga ingat ada bekas luka dan perban yang membungkus leher Jens.
"Pria tua terlalu serius ketika melatihku," Jens mengomel dengan serius.
Ivyna dengan baju penyamaran cuma bisa mendengarkan ketika Jens kembali mengeluh.
"Aku tidak ingin bekerja dengannya!"
Membayangkan anak sekecil itu bekerja cukup ironis, tetapi rumor bila Alice's House lebih manusiawi membimbing anak-anak terlantar daripada preman jalanan cukup membuat Ivyna mewajari tindakan pelatihan yang terkesan keras.
Ia juga tau jika Jens mencintai pedang karena hanya itu satu-satunya yang Jens bisa raih.
"Lalu, kamu akan bekerja menjadi apa?" tanya Ivyna, ia menutup buku novel murahan menyebabkan kunang-kunang menjauh darinya.
Danau di dalam hutan yang bersebelahan dengan kota Vall terlihat dipenuhi kunang-kunang malam itu, Jens melempar batu sehingga memecah ketenangan air danau.
Udara yang agak dingin dihiraukan oleh dua anak-anak itu.
"Aku akan bekerja keras menjadi Kesatria," Jens bersemangat, dia berdiri dan menunjuk dirinya sendiri. "Saat itu, tolong sewa aku menjadi kesatriamu untuk selamanya."
"Sepertinya menarik."
Ivyna menjauhkan pikiran yang telah lama itu.
'Usianya 19 tahun saat ini, tinggal beberapa bulan lagi untuk dia menjadi dewasa. Saat itu, dia bisa lepas dari pengasuhan orang dewasa dan mulai mencari pasangan.'
Ia melirik tubuh tegap Jens.
Dia melihat Jens yang tersenyum lebar dan membimbingnya duduk disalah satu kursi.
"Oh Ivy, bisakah kau menyuruh Sarah membawakan camilan? Aku sudah menunggumu sejak tadi tanpa bisa mengunyah sesuatu."
"Baiklah."
Ivyna tersenyum kecil, sikap Jens tidak pernah dewasa.
Dia memanggil Sarah untuk menghidangkan apa yang Jens minta, pelayannya yang cakap bergegas ke dapur untuk mengambil permintaan nona yang ia layani walaupun harus sedikit mengomel soal Jens yang semena-mena memanfaatkan kebaikan Ivyna.
"Katakan apa yang kamu mau?" Ivyna membuka mulut.
Kurang rasanya jika Jens berkunjung tanpa punya agenda lain selain mengajak Ivyna jalan-jalan.
Ivyna mengartikan tebakannya benar setelah senyum Jens kian melebar, laki-laki itu memberikan secarik kertas dan pena kemudian menyerahkannya kepada Ivyna.
Jari panjang Jens mengetuk kertas.
"Aku akan pergi ke Kerajaan Nire dan kamu bisa menulis apa yang kamu inginkan untuk aku bawa."
"Kerajaan Nire," itu kerajaan yang dulu pernah ia kunjungi, tetapi sudah lama sekali. "Apakah kamu dipilih sebagai penjaga Putri Bell?"
__ADS_1
"Benar."
Lihat laki-laki di depannya.
Bukannya Ivyna sudah menyuruh Jens untuk beristirahat?
"Tetapi tanganmu belum sembuh sepenuhnya."
"Aku hanya akan menjadi pendamping Pria, tidak masalah."
"Ah."
Nampan berisi camilan dan satu set peralatan minum teh diletakkan di meja. Jens mengambilnya dengan segera, mengunyah dan minum tanpa memperhatikan etika.
Ivyna sendiri membiarkan Jens, dia menulis sesuatu di kertas dan melipatnya.
"Bukalah ketika kamu benar-benar akan membeli oleh-oleh."
Kening Jens berkerut sedikit, tetapi Jens memilih tidak peduli dan melanjutkan makan.
Ivyna memperhatikan gerak-gerik itu sembari meminum teh.
"Rumor bilang tanggal pertunanganmu dengan putra mahkota sudah diumumkan," tanya Jens, dia baru membaca surat kabar tadi pagi dan pikiran ini mengganggunya. "Apa itu benar?"
"Itu hanya rumor," balas Ivyna. "Bahkan untuk sekarang, Yang Mulia Raja masih mempertimbangkan peranku apakah layak atau tidak."
"Bukanya tidak ada kandidat lain?" pancing Jens.
Ivyna hanya menyeruput tehnya dan mengangguk.
Kening Jens berkerut, seharusnya sebagai mawar pergaulan kelas atas Ivyna mendengar semua rumor tentang bangsawan- bahkan hubungan diam-diam Putra Mahkota dengan Gadis Menara seharusnya bukan hal yang mungkin untuk tidak Ivyna ketahui.
Apa Ivyna sedang bersikap biasa saja?
Jens tanpa sadar mengelus punggung tangan Ivyna, senyumnya semanis kukis yang gadis bangsawan gigit. "Tenang saja Ivy, kau pasti mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini."
"Jens," Ivyna menepis perlakuan manis itu. "Jangan menyentuh wanita sesukamu, kau bisa kena masalah jika hal buruk ini terus-menerus kau lakukan."
Jens berpangku tangan, "Kenapa? Apa kau jatuh cinta padaku?"
"Omong kosong."
"Hahaha," itu tawa lepas yang tidak biasa, bukan karena sakit hati ataupun sedih, itu karena Jens milik merasa bangga. "Ivy kau tidak boleh membohongi perasaanmu, kau boleh menikahi Putra Mahkota tapi ingat kau bisa menjadikanku selir."
Pintu terbuka bahkan sebelum Jens kembali tertawa.
Sarah, pelayan dewasa berambut jahe itu sudah membawa sapu dan siap memukul.
Jens melompat keluar dari jendela dan memijak dahan, "Sampai jumpa Ivy, aku akan membelikan oleh-oleh sesuai permintaanmu dan sampaikan terimakasihku pada Sara yang baik hati."
__ADS_1
"Dasar penyelinap kecil," Sarah berdecih begitu menurunkan sapu, dia membungkuk hormat pada Ivyna yang kembali menyesap teh.
"Kadang-kadang, aku merasa terhibur dan jengkel."