Save You

Save You
07. Berkebalikan (3)


__ADS_3

"Saya tidak menyangka penampilan Pendamping Putri Bell terlihat menyedihkan."


"Bahkan baju pelayan lebih baik dari miliknya."


Jens tidak menyahut walaupun sindiran itu jelas mengarah padanya.


Apa salahnya tidak mandi pagi, hanya cuci muka dan menggosok gigi. Atau mungkin karena pakaiannya? Tidak, Jens yakin memakai apakaian apapun dia akan terlihat tampan.


Namun ya, Satu orang penyihir menara melihatnya dengan jijik. Mereka yang terbiasa dengan kebersihan dibawah komando Penyihir Agung, Reflin Kailen, tentu merasa Jens terlihat mengganggu.


Yah apalah ia di mata para bangsawan sombong itu.


"Abaikan itu, tanganku belum sembuh total untuk membalas mereka."


Dia berkata lirih, tidak ada yang mendengarnya karena kebanyakan tidak peduli.


Perhatian Jens mengarah pada Putri Bell yang keluar dari kerumunan rombongan. Putri Bell yang cantik dengan karakteristik rambut pirang dan mata abu-abu datang menghampiri Jens yang membeku sesaat, dia suka perempuan yang ada di depannya saat ini.


"Senang bertemu dengan Anda."


"Senang juga bertemu dengan salah satu pendampingku nanti."


Putri Bell terlihat anggun saat mengatakan itu, tetapi Jens lebih terfokus pada kalimat yang Putri Bell ucapkan.


"Permisi, salah satu?"


"Ya, Raja menugaskan Penyihir Agung untuk menjadi salah satunya."


"Sial," lidah Jens fasih untuk mengumpat.


Putri Bell menarik kembali senyum palsu dan mulai tersenyum biasa, gerakan anggunnya mampu membuat Jens menoleh. "Tidak perlu menahan umpatanmu, aku suka pria yang kasar."


Ketertarikan jelas terlihat jelas pada mata Putri Bell Justie, mata abu-abunya terlihat selalu fokus pada gerakan Jens.


"Benarkah?"


"Tentu, mari bicarakan ini lebih lanjut saat kamu sudah dewasa."


Hanya satu tahun perbedaan usia diantara mereka, dan Putri Bell yang lebih muda secara terang-terangan sedang memberikan isyarat pada Jens walaupun jelas terkesan omong kosong belaka.


Jelas, Jens sudah mendengar serta melihat langsung sepak terjang perempuan itu.


Dan Jens juga menyukai semua tindakan Bell, dia suka semua wanita cantik.


Walaupun semua orang tau Putri Bell seorang penggoda ulung, tetapi perasaannya saat ini lebih condong kearah Jens yang kasar, tidak teratur dan pembuat onar. Mata abu-abunya jelas merencanakan sesuatu.


"Tapi bersihkan dirimu lebih dulu, Tuan Reflin tidak menyukai sesuatu yang kotor."

__ADS_1


Jens reflek mencium aromanya sendiri, tidak sebau itu kok sampai orang akan menyadari dua tidak mandi.


"Haruskah saya bertemu Tuan Penyihir Agung?"


"Kamu perlu melakukannya."


"Bisakah saya menjadi kusir kereta saja?" tanya Jens, dia benar-benar sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk mandi.


"Wajahmu akan terbuang sia-sia."


"Wah, apa ini pujian atau hanya rayuan dari Putri negara saya yang tercinta?"


"Itu perkataanku yang paling tulus," sahutnya, Putri Bell tersenyum geli. "Cepat ganti baju."


"Harus ya?"


Putri Bell mengaguk, Jens mendesah lelah. Dia mengambil baju ganti dari tas penyimpanan yang Tuan Hans paksa bawa dan memilih tempat untuk berganti pakaian.


Meninggalkan Putri Bell, dia tidak tahu jika Reflin Kailen datang dengan sihir teleportasi. Rambut cokelat panjangnya tertiup angin, mata hijau gelap terarah pada punggung Jens yang semakin menjauh.


Saat ini Reflin terlihat seperti tuan muda tampan dari keluarga terhormat, walaupun itu memang kenyataan yang tidak bisa dipertentangkan.


"Tuan Putri, saya terlambat?"


Putri Bell menggelang, senyumnya tabah dan ramah begitu menyambut Penyihir Agung yang selalu sulit untuk ditemui. "Tidak apa, kita akan berangkat setengah jam lagi."


"Bisakah Anda memberi tahu siapa yang akan menjadi pendamping Anda selain Saya?"


"Saya tidak ingin satu rungan dengan seseorang yang tidak kompeten."


Secara kasar, Reflin Kailen tidak ingin berada satu ruangan dengan orang yang tidak sebanding.


"Dia Jens dari Guild Alice"


Dan nama itu bukanlah yang Reflin Kailen tahu.


Walau Jens terkenal dikalangan warga dan gadis bangsawan. Seseorang seperti Penyihir Agung yang selalu berada di menara sihir tentu jarang mengetahui hal itu.


Hal ini membuat Reflin hanya menunjukkan ekspresi bingung. Putri Bell lebih memilih seseorang dari komunitas penyedia pekerja biasa daripada salah satu kesatria istana. Ini membuat Reflin menduga jika seseorang bernama Jens adalah kategori yang pantas bersanding dengannya, setidaknya mungkin satu tingkat dibawahnya.


"Nama yang tidak terkenal."


"Anda akan segera mengenalnya," balas Putri Bell.


Jens kembali setelah berganti baju dengan kemeja hitam dan celana panjang senada, terlihat sederhana tetapi juga rapi sekaligus bersih.


"Senang bertemu dengan Anda," Reflin menyapa singkat, ada senyum tipis yang tersungging sebagai bentu basa-basi.

__ADS_1


Putri Bell merasa jika Reflin telah salah paham, dia hanya menyrengit dan membiarkan kesalahpahaman ini berlangsung lebih--


"Eh seorang Reflin Kailen menyapa duluan? aku harap tidak akan ada bencana."


--lanjut.


Namun Jens sudah mengacaukannya dengan tawa lebar yang tidak cocok dengan para bangsawan selagi menjabat tangan Reflin.


Itu membuat momentum yang seharusnya pas menjadi jatuh tak berbentuk.


.


.


"Sir Hans," suara serak seseorang terdengar dari balik pintu besar, Hans mengangguk dan sihir sederhana sesegera mungkin membuka pintu.


Penyihir tua Delvon masuk, ia mengelus janggut putih panjangnya dan tertawa saat memasuki ruangan.


"Hohoho," tawanya tidak cocok dengan karakter yang berwibawa.


"Apa yang kau inginkan?" pertanyaan yang tanpa basa-basi segera Hans berikan, ia tidak sedikitpun mengalihkan pandangan dari dokumen yang ia kerjakan.


"Aku merasakan pergerakan yang tidak biasa dari anak itu," kata Delvon, Hans jelas tau siapa yang dimaksud tetapi ia memilih diam. "Apa ini pilihan yang tepat membiarkan ia mencapai usia 20 tahun?"


Umur 20 tahun adalah usia yang mandiri, anak-anak bebas meninggalkan orang tuanya saat menginjak umur itu. Pekerja Guild dibebaskan untuk memilih tetap tinggal atau pergi mencari tempat baru.


Hans merasa sebentar lagi ia akan ditinggalkan.


"Ini hal baik saat mengetahui ia bisa mencapai 20 tahun."


"Masalahnya, sihir-"


Hans berdecak, sihir dan sihir lagi.


"Aku sudah mengatakan jika kau bisa mengambil semua penyihir berbakat untuk kau jadikan murid, tetapi memaksa Jens yang tidak punya bakat mempelajari sihir bukanlah pilihan terbaik. Kau kira aku tidak tau apa yang kau pikirkan?"


Penyihir Delvon menggeleng dan menghembuskan napas gusarnya. Tubuhnya yang ringkih tidak kuat untuk terus berdiri dan pada akhirnya memilih duduk saat sihirnya membantu mengambilkan kursi.


"Kau terlalu memperhatikan anak-anak bermasalah. Nak Noel yang tidak senang melakukan apa-apa pun ikut bermasalah."


"Itu tidak masalah selama sesuai prosedur."


Penyihir tua Delvon mengendurkan otot-otot keriput di wajahnya dengan tersenyum, walaupun janggut putih kusutnya menghalangi niat tulusnya untuk terlihat ramah di depan Hans.


"Aku tidak ingin basa-basi, apa maksudmu datang kemari?" tanya Hans lagi.


"Ramalanku mengatakan beberapa bulan dari sekarang sesuatu yang besar akan terjadi."

__ADS_1


"Lalu?"


"Itu melibatkan nama yang kau kenal dari masa lalu," ada jeda beberapa saat, "dan Jens."


__ADS_2