
Kucing Jens mengutuk, ia baru saja berhasil kabur dari Adlick yang berniat membawanya ke istana. Ia berhasil kembali ke kamar Ivy dengan selamat tanpa menjadi kucing cincang karena Yujin Hork mengejarnya dengan pedang. Beruntung Putra Mahkota tidak punya banyak waktu untuk menunggu pengejaran yang sia-sia itu menghentikan hal-hal yang tidak ia inginkan.
Kucing Jens mengeong sekali lagi saat melompat turun dan berubah menjadi manusia.
Jubah tipisnya tertiup angin dari jendela yang sengaja terbuka, ia yakin Ivyna menunggu dia untuk datang lagi.
"Ivy," panggilnya, Ivyna hanya melirik. "Apa kamu senang dengan kabar yang dibawa Putra Mahkota?"
"Tidak."
"Karena kau tidak mencintainya?"
Jens berharap jika Ivyna akan mengaku, mencintai seseorang seperti itu sama sekali bukan Ivyna Kailen yang ia kenal.
Jika Ivyna terang-terangan mengatakan iya, di saat Jens menginjak usia dewasa ia akan mengajak Ivyna melarikan diri. Jauh dari kehidupan sesak sebagai bangsawan yang garis cintanya sudah disepakati.
"Karena aku berfikir jika aku tidak akan bisa menjadi tunangannya satu bulan ke depan."
Jens tau itu sulit.
Melepaskan gelar dari lahir untuk membantah perintah juga bukan Ivyna sekali.
"Mengapa?"
"Hanya firasat."
Kadang kala, firasat Ivyna selalu tepat, untuk itu ia berharap itu benar.
"Butuh hiburan?"
Mata keduanya bertatapan, Jens mengerti dan duduk di kursi lain yang sudah disediakan. Saat ia melirik, dari celah pintu yang terbuka ia tau betul jika Sarah, pelayan yang bertanggung jawab atas sahabatnya mengintip.
Semua orang tau jika wanita berambut jingga itu waspada kepada Jens, padahal Jens hanya pernah menggodanya sekali. Hanya sekali.
"Ivy, kau sudah menjelaskan ke Sarah jika aku tidak berniat buruk kan?" tanyanya, dia mengambil kukis coklat dan mulai menggigit. "Aku hanya mampir untuk makan."
Ivyna tidak menjawab.
Jens terus memakan jamuan kecil itu setelah lega tatapan Sarah perlahan-lahan tidak terasa lagi.
"Ngomong-ngomong Ivy, aku penasaran dengan satu hal."
Ivyna menyrengitkan kening, "Apa itu?"
"Mengapa kamu terlihat sangat cantik hari ini?"
"Kau boleh keluar jika hanya ingin mengatakan omong kosong seperti itu."
"Aku 'kan hanya memuji."
.
.
"Sudah siap?"
Jens mengulurkan tangan, begitupula Ivyna yang menyambut. Langit malam sebagai saksi, juga kunang-kunang yang menemani langkah keduanya yang ingin kabur dari mansion keluarga Kailen.
"Siapa di sana?!"
__ADS_1
"Penyusup!"
Jens terkejut, "Ups ketahuan."
Ia mengangkat tubuh Ivyna untuk dibawa kabur, di belakang mereka beberapa kesatria penjaga mengejar. Pedang sudah ditangan dan langkah mereka secepat langkah Jens.
"Tanganmu tidak apa-apa?" tanya Ivyna.
"Lumayan."
"Turunkan aku."
"Nanti kita akan tertangkap," protes Jens, disaat seperti ini Ivyna masih saja mencemaskannya.
"Hah."
Bruk
Jens menghentikan langkahnya, para kesatria yang mengejar mereka ambruk satu persatu. Dia menyadari debu kehijauan yang melingkupi tangan Ivyna. Sesaat dia terkagum lalu berlari lebih cepat dan melompati dahan demi dahan.
Angin yang berhembus menerbangkan helaian rambutnya.
Ia mendekap erat tubuh kurus Ivyna walaupun tangannya masih sakit nyaris mati rasa.
"Kita sampai," katanya begitu menurunkan perempuan berambut cokelat panjang itu. Gaun tidur Ivyna tertiup angin, perempuan yang lebih tua darinya melangkah lebih dekat ke danau dan mulai menunduk bermain dengan air.
Danau kunang-kunang.
Walaupun makin tahun kunang-kunang yang tersisa makin sedikit, tetapi keduanya masih kompak menyebut tempat ini sebagai demikian. Kenangan masa kecil mereka yang keduanya masih ingat betul.
"Sudah lama sekali ya," kata Ivyna.
"Tidak bertengkar," sangkalnya, "Ia bahkan tidak peduli."
Jens tersenyum pait.
Suatu hari nanti jika Ivyna tidak segera menyambut uluran tangannya untuk melarikan diri bersama-sama, orang yang akan mengeksekusi Ivyna tidak lain adalah kakaknya sendiri.
Penyihir Kerajaan yang bahkan tidak mempertimbangkan jika yang ia eksekusi adalah adiknya sendiri.
Jens tidak membenci orang itu, hanya tidak suka hubungan keluarga yang dijalani keduanya.
Bagi Jens yang dimasa lalu hidup dengan kakak perempuannya usai kedua orang tuanya meninggal, bergantung satu sama lain adalah cara ia tetap bisa hidup.
Juga, alasan bagaimana ia sampai ke sini.
"Ivy kau kedinginan?" tanya Jens, dia membuka jubahnya dan memasangkannya pada Ivyna yang hampir menolak. "Jubah ini gratis."
"Aku selalu merasa kamu terlalu banyak berubah, Jens."
Keduanya bertatapan, netra hijau Ivyna masih sayu seperti biasanya. Tidak ada ketertarikan, tidak ada rasa penasaran, juga tidak ada kecurigaan.
"Karena aku lebih tampan dari waktu kecil?"
"Benar."
Kadang sebuah persahabatan tidak harus saling terbuka satu sama lain.
.
__ADS_1
.
.
Jens menarik jubah penyihir Noel dengan sekali sentakan.
Penyihir muda itu sudah bekerja keras dan menyelesaikan misi dengan baik. Tentunya, dia kembali kekamar asrama dengan tujuan beristirahat.
Bukannya malah mendapati Jens yang terus memalak hal-hal yang Noel punya. Dari kalung sihir yang kini memiliki bandul berbentuk mata kucing karena sudah menyesuaikan diri dengan Jens, ranjang, jubah penyihir dan sekarang makanan ringan.
"Jens! Jangan seenaknya mengambil makananku."
Dua anggota Alice's House saling berebut makanan ringan, beruntung ruangan ini hanya diisi kedua orang itu.
"Oh, kamu tidak memanggilku dengan hormat lagi?"
Noel punya dendam tersendiri pada Jens mulai dari hari ini.
Karena pria aneh itu, tabungannya selama tiga bulan bekerja keras habis begitu saja untuk mengganti kalung sihir milik Tuan Delvon.
Noel duduk dilantai setelah mengamankan makanan ringan, "Itu karena aku baru tahu jika kamu lebih muda, kamu juga bukan kesatria yang pantas dihormati!"
Jens juga tahu hal itu.
"Kamu sudah tau, sekarang haruskah aku memanggilmu Kak Noel sebagai panggilan akrab?"
"Itu menjijikkan."
Ekspresi jijik Noel ditunjukkan secara terang-terangan.
"Ambil ini," Jens melempar satu kantung koin dan ditangkap Noel dengan patuh. "Itu 120 gold."
"Wah, kau sepertinya kaya."
"Aku sudah bekerja di sini sejak berdiri," kata Jens.
Jens berbaring terlentang, matanya memperhatikan langit-langit kamar.
Udara malam terasa dingin menyentuh dada Jens yang tidak ditutupi jubah.
"Kak Noel, kamu bilang kamu pekerja keras. Tolong bekerja padaku dan aku akan menggajimu dengan layak."
"Tidak, aku bukan materialis."
"Aku juga akan meminta Tuan Delvon dan Pria tua untuk tidak memberimu tugas selain dengan persetujuanku sehingga mereka bisa membiarkanmu tidur lebih lama. Penyihir pemalas, Kak Noel."
"Benarkah kau bisa melakukan itu?"
Tangan Jens terulur dan menepuk kepala abu-abu Noel.
"Tentu saja."
"Baiklah aku setuju, apa tugasku?"
"Mengamati Nona Ivyna Kailen secara diam-diam."
"Sial."
Setelah tiga bulan bekerja di sini, Noel merasa tugas ini yang paling berat untuk seseorang yang tidak menyukai pekerjaan berat sepertinya.
__ADS_1
Dia merasa dijebak.