Save You

Save You
09. Berkebalikan (5)


__ADS_3

Kerajaan Nire tidak berpisah benua dari Kerajaan Aiden, tetapi musim dari kedua kerajaan ini selalu bersebrangan.


Kerajaan Aiden akan memasuki musim dingin dalam beberapa minggu, sementara Kerajaan Nire cukup tenang dengan musim panas yang tidak terlalu panas. Walaupun begitu, Liy Mindy masih memberikan kedua tamunya, Jens dan Reflin Kailen sebuah penutup kepala untuk menghindari terik.


"Ini adalah alun-alun ibu kota, setiap beberapa bulan dalam satu tahun akan di adakan festival untuk menghormati Dewa."


"Kapan itu akan berlangsung?"


Dewa, Reflin tertarik hal itu karena sihir cahaya adalah sesuatu yang berasal dari Dewa.


Penyihir Menara berbeda dengan Penyihir kebanyakan yang energi sihirnya berasal dari alam, mereka dianugerahi dengan sihir cahaya berdasarkan keturunan. Setiap keluarga bangsawan memiliki satu berkat itu dan memberikan anaknya bekerja di menara sihir secara suka rela seumur hidupnya.


"Itu sekitar tiga hari dari sekarang."


"Pantas ada beberapa dekorasi saat kita melewati pasar," Jens menyahut, dia menggigit kue asin yang Liy belikan dari salah satu toko di pasar. "Apakah ada banyak makanan enak?"


"Tentu saja, saya pastikan anda tidak akan melupakan pengalaman mengunjungi festival."


"Aku menantikannya," Jens pergi ketika ia mendapati toko makanan.


Liy dan Reflin mengikuti karena memang itu arah yang akan mereka tuju.


"Apakah akan ada lampion?" Reflin membuka suara untuk bertanya lagi. Dia pernah mendengar jika Kerajaan Nire menerbangkan lampion sebagai tanda memuja dewa cahaya, sekaligus dewa tunggal yang warga Kerajaan Aiden sembah.


Liy Mindy tanpa ragu menggeleng.


"Ini musim panas, kami tidak akan menerbangkan lampion melainkan mematikan cahaya untuk menghormati sebuah kisah purbakala."


"Huh?"


Kening Reflin berkerut, dia tidak mengenal kerajaan Nire dengan baik sehingga tidak mengetahui kebudayaan yang ada.


"Dalam kitab kuno Kerajaan Nire, ada dua Dewa yang tercatat; Dewa cahaya dan Dewa Kegelapan yang mengatur pergerakan siang dan malam sehingga tidak terjadi gerhana berkepanjangan yang merusak tatanan. Kami meyakini hal itu dan menyembah mereka, keberadaan mereka seperti ibu yang merawat kami."


"Namun, saya tidak pernah mendengar berkat dari Dewa Kegelapan."


Liy terkekeh, "Bahkan tidak ada penyihir yang diberkati Dewa Kegelapan di wilayah ini."


Mungkin karena Kerajaan Nire lebih dikenal sebagai Kerajaan ilmu pengetahuan, sihir adalah hal yang sedikit langka untuk dimiliki, tidak seperti Kerajaan Aiden dimana kesemua penduduk memiliki berkat itu.


"Kenapa?"


"Karena Dewa Kegelapan mencintai makhluk berumur panjang."

__ADS_1


Percakapan mereka terputus karena Jens menerobos ke tengah-tengah dengan tiga buah permen apel, ada senyum kekanak-kanakan ketika menyerahkan salah satunya ke Liy.


Lalu beralih ke Reflin yang menatapnya linglung, tidak ada yang pernah memberi permen Apel pada laki-laki yang sudah dewasa bahkan kedua orang tua mereka sendiri, bahkan ketika Reflin masih kecil, hal itu tetap tidak berlaku.


Namun, Jens tidak tau menahu tentang hal itu, yang dipikirkan hanyalah makanan dan kegembiraan liburan. Agaknya, dia cepat beradaptasi dengan Kerajaan Nire lebih baik dari orang lain.


"Ini manis, cobalah!"


"Terimakasih tuan Jens," Liy secara tulus berterimakasih. Keduanya sama-sama mempunyai ketertarikan dengan benda manis yang mungkin akan merusak gigi mereka.


Namun, tenang saja, kakak laki-laki Liy selalu mengajarkan menjaga kesehatan agar menjadi tampan, walaupun prakteknya tidak semudah itu.


"Oh ya Liy, bisakah diakhir kunjungan kamu mengantarku ke tempat oleh-oleh? Aku ingin membeli sesuatu untuk teman-temanku."


Reflin melirik, siapa orang aneh yang berteman dengan makhluk aneh seperti Jens?


Pasti orang itu punya kelainan.


"Kami punya banyak pusat oleh-oleh di Ibu Kota," Liy menyahut, dia bangga sudah mengingat rute wisata.


"Itu bagus," Jens tersenyum, "dan tolong traktir aku oleh-oleh."


"Huh?"


Seharusnya begitu.


"Saya tidak menyukai Anda! huhuhu, uang manisku yang berharga."


Liy menyesali isi kantongnya yang kosong. Ia pikir oleh-oleh yang dimaksud adalah buah tangan seperti kue atau bingkisan buah-buahan yang tumbuh di musim panas, bukannya peralatan sihir yang harganya luar biasa mahal sekali.


Liy menjatuhkan diri dengan memeluk kaki Reflin yang berdiri tegak, mata merah mudanya menatap Jens penuh kengerian. Ayolah, pria yang ditunjuk sebagai Pendamping putri Kerajaan tetangga sudah menguras isi tabungannya sejak lima bulan lalu.


Terkutuklah Liy dan rasa tidak enak hatinya.


"Benarkah? salahkan aku karena tidak tau harga benda sihir," balas Jens, gigi taring yang mengintip dari celah bibirnya sekarang terkesan menyebalkan.


"Itu karena kamu bodoh," Reflin berdecak lidah, bosan.


"Yayaya Tuan Penyihir Agung yang terhormat harusnya mengajarkan ilmunya pada rakyat rendahan ini," balas Jens dengan senyum miring.


"Percuma mengajari orang berotak bengkok."


"Itu mungkin jika anda juga berotak bengkok," Jens mengambil jeda dan mulai mengamati, persekian detik kemudian dia kembali berbicara, "Ah, sepertinya anda ini memang abnormal."

__ADS_1


"Rasanya aneh dipuji oleh orang yang lebih abnormal."


Liy menggigil di tengah perang dingin, akhirnya permusuhan kedua orang itu sampai ke otak sebiji kacang hijau Liy. Walaupun demikian, dia tetap mencoba mencairkan suasana dengan memulai pertanyaan kecil.


"Tuan Jens, Anda juga seorang penyihir?"


"Bukan."


Jens kembali menggigit kue yang tersisa sembari menyimpan alat-alat sihir ke tas yang baru saja ia beli.


"Lalu peralatan sihir ini?"


"Ini untuk anak buahku, ralat temanku. Aku tidak tau kenapa dia selalu mengandalkan benda sihir." Jens menyentuh ujung dagu dan mulai berfikir. "Padahal dia terlihat tidak punya masalah."


"Itu karena sihirnya lemah," entahlah mengapa, kata-kata Reflin jelas terarah pada Jens. "Penyihir jarang membeli benda sihir dari Penyihir lain, maka dari itu benda sihir termasuk langka dan mahal seperti yang kau alami saat ini."


Liy sebagai yang tertipu, dia agak tersinggung.


"Itu tidak seperti dia, bagaimana ya aku menggambarkannya. Hah, aku tau. Dia seperti penyihir yang masih malu-malu menggunakan sihirnya karena masih baru menjadi penyihir?"


"Omong kosong, Penyihir baru yang aku kenal kesemuanya selalu jumawa pada sihir lemah milik mereka. Otak temanmu mungkin mengalami kelainan karena lebih mengandalkan benda sihir daripada tertawa sombong seperti Penyihir baru lain," cerca Reflin.


Jelas kali kilat tidak sukanya, sebagai Penyihir Agung yang kerap kali menjadi mentor putra sulung Bangsawan, ia jelas tau tipikal penyihir baru, sombong dan hanya omong besar.


Namun, ada penyihir baru yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini. Seseorang yang dirumorkan sebagai pewaris Menara Sihir yang sah.


"Ya, mungkin karena dia bersalah karena energinya pernah berbenturan dengan tubuhku."


"Apa yang kamu bicarakan?"


"Energinya berbenturan--"


"Kau bodoh ya? Penyihir pada umumnya biasanya menggunakan energi alam yang cocok dengan mahluk hidup, jika tubuhmu tidak bisa menerima energi alam berarti kamu mayat hidup!"


"Tidak-tidak," Jens mengangkat kalung yang dia kenakan, "Kalung ini bekerja padaku sebelumnya, dan ini berisi sihir milik Tuan Delvon, dia penyihir pada umumnya."


"Huh?"


"Huh?"


Liy Mindy memisahkan kedua orang ini dengan cepat ketika merasakan hawa-hawa yang tidak enak.


"Mari masuk, Saya yakin kalian lelah."

__ADS_1


__ADS_2