Save You

Save You
03. Hubungan Kesenjangan (2)


__ADS_3

"Itu bagaimana caranya?"


Noel tidak merta mengabulkan keinginan Jens, dia seperti bingung dan tidak mengerti.


"Jadikan aku kucing, ah, atau apapun hewan yang sering ditemui dimasyarakat."


"Permisi--"


"Tidak bisa?"


"Bukan itu, Tuan Delvon mengatakan jika energiku bertolak belakang dengan tubuh Sir Jens," Noel berbicara dengan hati-hati, seiring waktu yang berlalu, dia menatap Jens yang mengetuk pinggir ranjang kayu.


Kemudian kesatria itu berdiri, tanpa sungkan menggeledah isi laci meja Noel.


"Tidak adakah barang di laci ini yang tidak terbuat dari energi sihirmu?"


"Itu ruang penyimpananku Tuan Jens, itu tempat barang pribadiku."


Jens berbalik pada Noel yang tersentak.


"Kamu tidak punya item sihir pengubah wujud yang terbuat dari energi penyihir lain?"


"Ah aku punya," Noel mengambil sesuatu dari balik bantal, ada kalung berbandul hitam. "Ini akan menandai tuanya dan hanya bisa digunakan oleh tuannya, bisa digunakan untuk menyamar menjadi apa saja, ini item dari Tuan Delvon--"


Jens mengambil kalung itu dengan segera serta memakannya.


"--yang harganya mahal."


"Tolong bayar ini dengan tabuangmu."


Jens pergi begitu saja setelah mengambil item berharga dari Noel.


.


.


Meaw


Kaki-kaki berbulu berjalan di tepi jendela, lalu setelah dirasa aman ia melompat turun tanpa menimbulkan suara. Tempat yang dia datangi adalah sebuah kamar bercat hijau muda, furniture dan lukisan yang terpajang membuat dia yakin betul jika ia tidak salah kamar.


Lalu dimana Ivyna?


Ua melihat ke kanan-kiri dan tidak menemukan siapa-siapa.


Baru setelah itu pintu terbuka, perempuan berkacamata yang membawa beberapa buku masuk. Ia mengeong, bertingkah lucu seolah benar-benar seekor kucing.


"Jens? Apa yang kamu lakukan."


Sayangnya ia ketahuan. Tubuh kucingnya terangkat oleh sihir Ivyna. Perempuan itu meletakkan buku di sebuah meja menghadap luar. Kemudian meraih tubuh kucing Jens dan membawanya turun.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa menipuku Jens."


Kucing Jens mengeong sekali.


Ia kembali ke wujud manusia setelah melompat dari pelukan Ivyna, ia menemukan sahabatnya itu menatapnya dengan tatapan agak geli.


"Aku dengar kamu koma, lagi. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ivyna, wajah perempuan itu memang datar tetapi suaranya jelas khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawab Jens. Ia berdiri di belakang Ivyna Kailen yang tiba-tiba berbalik dan meraih tangannya. Tangan Ivyna yang sewarna susu kontras dengan kulit kecoklatan Jens. "Aw."


"Tidak ada yang bisa kau bohongi dengan suara itu Jens."


Ivyna mengendurkan remasan tangannya. "Itu karena kau meremas tanganku secara tiba-tiba!"


Perempuan itu memilih untuk tidak menjawab dan merapal sebuah mantra, cahaya kehijauan bersinar dan merambat ke lengan Jens dan tubuhnya yang terluka, kemudian cahaya itu meredup. Jens menggerakkan jari-jarinya yang terasa lebih ringan dan sebelumnya. Lalu bertepuk tangan, sihir selalu membuatnya kagum.


"Hebat sekali."


"Semua orang bisa melakukannya."


"Aku tidak bisa."


"Mungkin bakatmu seratus persen ada di pedang. Bukankah para pelangganmu sering memuji keterampilanmu?"


Pembaca novel kakaknya selalu penasaran kenapa Ivyna tidak dibuat tidak memiliki sihir saja agar dia lebih menyedihkan. Sederhananya, karena itu latar tempat dimana semua warganya memiliki sihir.


Sayang sekali, Jens tidak memiliki anugrah itu.


"Benar, aku akan menjadi Kesatria terhebat yang punya banyak uang. Ngomong-ngomong aku lapar," kata Jens.


"Ikuti aku."


Jens berubah lagi menjadi kucing, telapak kaki berbulunya berjalan mengikuti Ivyna dari belakang. Dia mengeong pada beberapa pekerja Paviliun yang gemas akan sosoknya. Berjalan seperti kucing angkuh, dia sudah siap untuk mendapatkan elusan di kepala oleh pelayan-pelayan cantik itu.


Saat berkelok hendak menuruni tangga, Ivyna berhenti hingga kucing Jens tanpa sengaja menabrak gaun gelap perempuan itu.


"Salam kepada bintang fajar kerajaan Vivid."


Kucing Jens mengintip, mata bundarnya menangkap sosok berambut pirang dan mata seterang langit, orang yang berada di depan Ivyna tanpa pemberitahuan kedatangan adalah Putra Mahkota, Adlick Justie.


"Anda tidak seharusnya datang tanpa mengabari saya," kata Ivyna, ia menarik napas dalam-dalam, geram. "Tidak sopan."


"Aku datang karena undangan nenekmu." Adlick tidak tersenyum, sebaliknya ia melirik kucing yang menempel pada Ivyna Kailen. Ia menunduk dan mengambil kucing Jens, mengabaikan ketidaksukaan Ivyna yang dikunjungi secara tiba-tiba. "Apa ini? Kau menyihir seseorang agar menjadi kucing sebagai hukuman?"


'Orang ini menjengkelkan.'


"Meaw."


"Kau lapar?"

__ADS_1


"Saya akan menyiapkan perjamuan untuk Yang Mulia, tolong tunggu beberapa saat," pungkas Ivyna, ia berbalik pergi meninggalkan kucing Jens yang berusaha menggapai Ivyna agar dibebaskan dari pelukan laki-laki. Dia hanya mau dipeluk wanita cantik!


Dia ingin memberontak dengan cara mencakar setelan mahal yang Putra Mahkota kenakan, sayangnya sebelum itu terjadi mata kucingnya menangkap kehadiran Kesatria tingkat satu penjaga Putra Mahkota, juga salah satu protagonis pria lain yang balik menatapnya.


Ia menyimpan kembali cakarnya, dan Kesatria itu ikut menyimpan pedangnya.


Setelahnya Jens tidak tau.


Dia terjebak diantara pembicaraan Ivyna Kailen dan Adlick Justie. Yujin Hork, selaku kesatria tingkat satu yang menjaga putra mahkota menjaga di luar rumah kaca. Sebelum pria tinggi itu meninggalkan ruangan, matanya yang awas masih memperhatikan kucing Jens, membuat kucing tidak bersalah itu ngeri.


Masalahnya, jika Yujin Hork atau kesatria paling berbakat di kerajaan mengetahui jika ia manusia dan dengan tidak sopan menyentuh Putra Mahkota, ia bisa saja dikebiri saat ini juga.


Mengerikan.


Bahkan di novel asli, Yujin Hork dinilai tidak terkalahkan.


"Bagaimana kabarmu Ivyna?"


"Saya baik berkat anda yang mengunjungi saya."


"Senang mengetahui kamu menyukai kedatanganku karena setelah ini aku akan sering berkunjung."


"M-maaf?" Ivyna ingin memastikan jika telinganya tidak salah dengar.


Meaw


"Raja menyuruh agar dalam jangka waktu satu bulan aku harus terlihat selalu bersama."


Ivyna mensejajarkan etika dengan senyum tipis yang kembali dia pasang.


"Baiklah jika itu keinginan Yang Mulia Pangeran Mahkota."


Kucing Jens mengeong sekali lagi sebagai tanda tidak setuju.


Akan sulit menemui Ivyna jika itu terjadi, Jens akan dicap sebagai penyusup tidak tahu malu yang mencoba menggoda lady bangsawan yang sedang menjalin hubungan dekat dengan calon tunangannya.


"Satu bulan lagi bertepatan dengan ulang tahunku, kita akan mengumumkan pertunangan."


Pesta ulang tahun Putra Mahkota, Jens hanya tau jika disaat itu Adlick Justie akan memberikan cincin pertunangan kepada Ivyna Kailen sekaligus pembukaan awal bab novel.


Pesta yang luar biasa dan langkah awal Ivyna Kailen menjadi gila akan posisinya.


Setelah pemeran utama perempuan muncul, status tunangan Putra Mahkota hanya akan menjadi ejekan dan tidak bermakna apa-apa.


"Saya menantikan itu."


'Jangan sia-siakan hidupmu Ivy!'


Adlick mengelus bulu kucing Jens yang masih dipangkuannya, untuk kesekian kali kucing Jens mengeong.

__ADS_1


'JANGAN SENTUH AKU! KAMU BUKAN WANITA CANTIK.'


__ADS_2