
Anita benar benar tak menyangka akan benar benar kembali dengan laki laki ini, terlebih ia harus menjadi sekretaris nya..
" Keluar " ucap Dylan seolah memberi kode kepada Faiz
" Baik Pak " Faiz mengangguk paham dan bangun dari kursinya
Anita pun ikut bangun dari kursinya untuk ikut bersama Faiz.
" Mau kemana kamu ..? " tanya Dylan kepad Anita
" Tadi bukannya bapa nyuruh pergi " tanya Anita dengan bingung
" Saya menyuruh dia bukan menyuruh kamu, duduk " ucap Dylan kembali dengan ketus
" Baik pak " Anita kembali duduk di kursinya
" Silahkan perkenalkan nama kamu " ucap Dylan kepada Anita.
" Nama saya Anita Apriani, saya memiliki beberapa pengalaman —"
" Cukup " Dylan menghentikan ucapan Anita, dan Anita pun menutup bibirnya rapat rapat
" Kamu sudah membaca perjanjian yang sudah kamu tanda tangani bukan... " ucap Dylan yang kini sudah berdiri sambil menyandarkan pinggangnya di pinggir meja kerjanya
" Sudah Pak " jawab Anita dengan mengangguk
" Bagus, berarti saya tidak perlu susa susah memberitahu apa yang harus kamu lakukan dan tidak boleh kamu lakukan bukan "
" Iya Pak " Anita mengangguk
" Apa kamu tidak ingin mengatakan apapun, sepertinya kita pernah bertemu " ucap Dylan sambil memegangi luka di sudut bibirnya
" Be.. bertemu kapan ya pak " ucap Anita dengan gugup, ia pikir Dylan lupa dengan kejadian semalam atau ia pikir Dylan tak mengenali dirinya
Dylan mengambil amplop coklat yang berisi surat perjanjian, ia mengeluarkan surat tersebut.
" Jadi kamu benar-benar tak ingat dan tak ingin mengatakan sesuatu, mungkin kamu juga tak butuh pekerjaan ini " ucap Dylan sambil memegang kertas perjanjian tersebut
Anita terkejut dan mau tidak mau ia harus mengakui kesalahannya.
" Saya minta maaf pak, sungguh saya minta maaf. Tapi saya benar benar butuh pekerjaan ini pak " ucap Anita dengan cepat menjawab ucapan Dylan
' Saya akan membuat kamu tergila gila kepada saya Anita ' gumam Dylan dalam hatinya
" Okee saya maafkan karena semalam kita belum mengenal bukan " Dylan mendekatkan wajahnya kearah Anita
Dengan jarak dekat seperti ini Dylan dapat mencium aroma parfum Anita, wangi Vanila yang begitu manis.
" Awalnya saya ingin menyuruh kamu mulai bekerja esok, tapi sepertinya saya membutuhkan kamu bekerja di hari ini " ucap Dylan sambil menatap Anita
" Hari ini pak..? " tanya Anita terkejut
__ADS_1
Dylan pun memilih duduk di sofanya sebelum menjawab ucapan Anita.
" Kemari " ucap Dylan yang sudah berada di sofa
Dengan ragu Anita pun bangun dari kursinya dan mendekat kearah Dylan, ia pun duduk di sofa kosong sebelah Dylan.
Karena jarak begitu jauh Dylanpun menggeser tubuhnya sehingga kini ia dekat dengan Anita.
" Kenapa sepertinya kamu takut " ucap Dylan sambil mengelus lengan Anita dengan tangannya
Anita menggelengkan kepalanya, walaupun sejujurnya ia sudah sangat takut sekarang.
" Apa kamu tidak ingin bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan semalam, apa kamu tidak melihat luka yang ada di sudut bibir saya " ucap Dylan sambil menunjuk luka Tersebut
" Bapa mau saya belikan obat..? " tanya Anita dengan polos
" Saya bisa beli sendiri Anita, saya tidak butuh itu " ucap Dylan
Dylan menarik pelan dagu Anita, sehingga kini ia bisa menatap wajah Anita dari jarak sangat dekat.
" Ba..bapa mau apa..? " tanya Anita yang sudah ketakutan
" Meminta pertanggung jawaban kamu " ucap Dylan sambil mengelus bibir Anita dengan ibu jarinya
Dylan langsung mencium bibir Anita, namun bibir tersebut masih tertutup dengan rapat.
" Buka mulut kamu " bisik Dylan
" Pintar sayang " ucap Dylan
Dylan kembali menciumi bibir Anita, ia mencium bibir atas dan bawah bergantian.
Anita yang baru pertama kali hanya bisa diam, ia tak tau harus melakukan apa. Tubuhnya terasa lemas untuk mendorong Dylan agar menjauh.
Dylan sedikit kesal karena Anita hanya diam saja, ia berharap Anita membalas ciumannya.
" Kenapa hanya diam " tanya Dylan yang mengakhiri ciumannya
" S..saya belum pernah pak" jawab Anita gugup
Dyla terkejut saat mengetahui Anita belum pernah berciuman, itu berarti Dylan adalah ciuman pertama Anita.
" Apa kamu belum punya pacar ..? " tanya Dylan yang semakin penasaran dengan kehidupan Anita
" Belum saya juga ga pernah pacaran pak " jawab Anita dengan jujur
Dylan merasa senang mendengarnya, itu berarti ia akan jadi orang pertama yang mengisi hati Anita.
" Balas apa yang saya lakukan " ucap Dylan ingin kembali mencium bibir Anita
Dylan kembali menciumi bibir Anita, ia memberikan ciuman yang lembut.
__ADS_1
Anita benar benar bingung harus seperti apa, ia pun kembali diam dan membiarkan Dylan menikmati bibir miliknya.
Karena merasa tak ada balasan kembali, Dylan pun melepaskan ciumannya sebab ia juga tau jika Anita belum pernah.
" Nanti saya akan ajarin kamu yah " ucap Dylan sambil mengelus bibir Anita yang basah karena ulahnya
" Tapi pak sa—"
" Jangan menolak, membatah, lakukan apa yang saya katakan dan jangan pernah membatah ataupun menolak" ucap Dylan dengan tegas
' Kenapa setelah bertemu laki laki ini aku selalu sial sihh ' gumam Anita dalam hati
Anita ingin sekali menampar dengan kencang wajah laki laki ini, karena ia benar benar kesal sangat kesal.
" Kenapa kau menatapku seperti itu..? Apa karena aku tampan..? " ucap Dylan yang merasa di perhatikan oleh Anita
" Tidak " jawab Anita dengan capat
' Percuma tampan kalau otakmu mesum ' gumam Anin kembali dengan kesal
Dylan meletakkan kepalanya diatas paha Anita, melihat hal itu semakin membuat Anita semakin jengkel.
" Kamu tidak ingin mengelus kepalaku " ucap Dylan sambil memejamkan matanya
" Tidak " jawab Anita kembali dengan cepat
Dylan menarik tangan Anita dan meletakkan diatas kepalanya.
" Usap lah " perintah Dylan
Anita menarik nafasnya dalam dalam, ia ingin sekali menjambak rambut laki laki menyebalkan ini.
Dengan terpaksa Anita pun mengelus kepala Dylan, walaupun rasanya sangat kesal sekali.
" Nanti juga kamu terbiasa Anita " ucap Dylan yang masih memejamkan matanya
' Terbiasa matamu, kalau ini bukan perusahaan besar aku tak mau bekerja disini ' ucap Anita dalam hati
Dylan membuka matanya dan melihat Anita yang tengah menatap lurus kedepan, padahal ia berharap Anita menatapnya sambil mengelus kepalanya.
Padahal banyak wanita lain yang ingin melakukan seperti ini bersama Dylan, namun kenapa berbeda dengan Anita.
Kenapa wanita itu justru seperti tak perduli dengannya, Dylan menjadi penasaran dengan hal itu .
" Sepertinya pemandangan didepan sana lebih menarik daripada dibawah " ucap Dylan
Anita pun menoleh kearah bawah, dan melihat wajah Dylan yang kesal.
" Pak kaki saya kesemutan" ucap Anita agar laki laki itu bangun
Dan benar saja Dylan pun mengangkat kepalanya dan memposisikan dirinya duduk, Anita merasa lega untuk sesaat namun dengan cepat Dylan mengangkat tubuh Anita dan mendudukinya dipangkuan Dylan.
__ADS_1