
"Bangkai" tanyaku heran pada ibu.
"Iya, ada bau bangkai" jawab ayah yang mulai mecium aroma itu.
Jangan-jangan.....
Aku langsung berlari kekandang pupy.
Disana aku telah menemukan pupy yang tak bernyawa lagi.
"Apa ini karena ulah Las lacoina" tanyaku gusar dalam hati.
Beberapa saat datanglah ibu, ayah, dan nyonya loesa. "Emily apakah pupy telah mati" tanya ibu padaku.
"sepertinya iya" jawabku. Ayah pun mendekati kandang pupy. Dari kejauhan kulihat wajah ayah yang kebingungan.
"Ada apa ayah" tanyaku dari jauh.
Ayah tak menggubrisnya.
"Emily tolong ambilkan kain bekas" pinta ayah padaku.
Saat mau melaksanakannya...
"Biar saya saja" ucap nyonya loesa.
"Terima kasih nyonya loesa" ucapku.
"Tidak perlu berterima kasih,ini kan tugas saya sebagai pembantu". Ucap nyonya loesa, lalu masuk kedalam rumah dan mencari kain bekas.
__ADS_1
Dari kejauhan kulihat tubuh pupy yang berdarah "Apakah pupy dibunuh?" tanyaku dalam hati.
Barulah nyonya loesa memberikan kain bekas kepada ayah. Sebenarnya aku mau saja yang memberikan kain untuk ayah tapi ibu melarangku untuk kesana.
Setelah menguburkan pupy aku tak merasakan apapun seperti menangis ataupun sedih, aku menerima saja kematian pupy, tapi apa yang sebenarnya yang membuat anjing kecil itu tewas.
Disaat ayah sudah mencuci tangan diwestafel dapur aku langsung saja bertanya pada ayah. "Ayah, kenapa wajah ayah bingung saat melihat bangkai pupy tadi" tanyaku pada ayah. "Sebelum ayah menjawab pertanyaanmu itu, apakah kau sudah memaafkan ayah?" tanya ayah balik padaku.
Sebenarnya aku tak lagi marah pada ayah, jadiku jawab saja sudah memaafkan ayah.
"Sekarang giliran ayah yang menjawab pertanyaanku" ucapku.
"duduklah dengan tenang dulu" pinta ayah padaku agar tak tergesa-gesa.
"Jadi saat ayah melihat bangkai pupy tadi, ayah melihat bagian bawah badan pupy yang bolong dan jantung pupy yang sudah hilang, lalu sangat banyak bekas gigitan disana, jadi itulah yang ayah bingungkan apa fungsi dari jantung anjing kecil" jawab ayah dengan panjang lebar padaku.
"Apa fungsi jantung anjing bagi Las lacoina" ucapku dengan marah didalam hati.
"Selamat malam" ucap ayah padaku.
"malam juga ayah" jawabku.
Agar malam ini aku tak takut akan tidur kuhidupkan saja televisi, biar nyonya loesa yang mematikannya nanti.
Kucoba untuk tidur. Tapi mataku tak mau menerima tubuhku yang sudah melemah.
Karena pikiranku masih saja tertuju pada wanita berkerudung hitam di mimpi dan di televisi.
Setelah berjam-jam memikirkannya,
__ADS_1
Mataku perlahan-lahan mulai tertutup karena mengantuk..
\*
Mimpi....
Diriku ada digereja tua yang sudah tak layak pakai, kumuh dan berantakan....
Sangat menakutkan disini hanya terdengar detak jantung dan langkahku.
Semakin berjalan kedepan semakin gelap tempatnya. Coba saja aku dapat menendalikan mimpi, pasti aku sudah lari dari gereja tua ini.
Tiba-tiba didepan ku ada sebuah cahaya lilin yang dihidupkan oleh seseorang. Kulihat senyumnya yang mengerikan. Diri ini mulai berjalan mundur sedangkan orang itu berlari dengan kencang mendekat kearahku yang lamban.
Dekat, mulai mendekat....
Dan akupun melihat wajahnya yang hancur berantakan.
Tapi aku tak takut, karena dia sama sekali tak menyeramkan.
"aku disini emily, untuk membantumu. berhati-hatilah.... Aku tau ini hanya mimpi, tapi lewat inilah kita dapat bertemu" ucapnya.
Tiba-tiba datanglah sebuah sinar yang sangat terang diantara kami......
Dan akupun terbangun.
__ADS_1
Kulanglahkan diri ini untuk mandi lalu berangkat kesekolah yang diantari oleh ayah yang juga ingin pergi bekerja.