Scary Sleep

Scary Sleep
Pastor


__ADS_3

"Buku itu sama sekali tidak milikmu" tunjuk meri luisa padaku.


"Lalu tentang masa kecilku?" tunjuk balasku padanya.


Lalu tangan meri luisa menghilang (tak muncul kembali).


Setelah lama menunggu kucoba untuk mengeluarkan suara "meri luisa apakah kau masih disini" tanyaku.


Lama-lama mata ini mulai terbuka dan mulai terbangun.


Saat terbangun kulihat jam didinding yang menunjukkan pukul 7 pagi.


Aku langsung bergegas kedapur karena lapar.


setibanya didapur...


kusuruh bibi untuk memasakkan sarapan untukku, kudengar sebuah suara dari ruang tamu.


"Bi, diluar itu suara siapa" tanyaku pada bibi yang sedang memasak sarapan untukku.


"Itu seorang pastor" jawab bibi padaku.


"Pastor ? Siapa yang membawa pastor ?" tanyaku lagi pada bibi yang sedang sibuk memasak.


"Bagaimana kalau kamu tanya saja sama ayah dan ibumu diruang tamu" jawab bibi.


APAKAH MERI LUISA MENGHILANG KARENA DATANGNNYA SEORANG PASTOR...


Saat ingin menuju ke arah ruang tamu perasaanku mulai tak enak. Karena pastinya kedatangan pastor ini ada hubungannya denganku.


Kucoba untuk mengintip dulu.


"Emily, tak perlu megintip duduk disini" suruh ayah yang mengetahui aku sedang mengintip.


Kududuk agak jauh dari pastor karena aku malas saja ditanya-tanya.

__ADS_1


"Namanya siapa? " tanya pastor itu padaku.


Padahal aku sudah duduk agak jauh tapi dia tetap mengobrak-abrik tentangku.


"Nama saya emily" jawabku singkat.


Kulihat bibir ayah yang mulai ingin angkat bicara. Kucoba memotong pembicaraan ayah.


"Nama anda siapa ?" tanyaku pada pastor itu agar ayah tak angkat bicara.


"Kamu cukup memanggil saya pastor arnold" ucap pastor itu padaku.


Datanglah sebuah kesempatan emas bagiku untuk menanyakan keberadaan air suci, karena dibuku halaman 5 itu sipengusir setan haruslah memiliki air suci.


"Apa kau memiliki air suci" tanyaku pada pastor itu.


"Air suci hanya berada diluar gereja roma"


Jawab pastor itu.


"Tapi aku kenal seorang imam yang dapat mensucikan air" jawabnya tiba-tiba.


"Apa kau bisa membawakannya padaku ?"


Tanyaku dengan semangat.


"Bagaimana kalau kamu memberikanku waktu 3 hari untuk membawakan air itu padamu" jawab pastor itu.


Aku langsung saja menyetujuinya.


"Emily, dia adalah pembimbing barumu" ucap ayah dengan menaikkan sedikit nada suara karena aku sudah memotong pembicaraannya.


Tak tau kenapa emosiku ini mulai tak stabil.


"Aku tak perlu pembimbing seperti dia, aku dapat meluruskan hidupku sendiri, apa ayah kira hidup ayah begitu baik" teriakku pada ayah sambil menunjuk pastor itu dengan jariku.

__ADS_1


Semua yang berada diruang tamu tercengang mendengar teriakkan ku.


"Cukup sudah emily ayah sudah tak tahan pada sifatmu ini, sekarang juga kamu pilih tetap mau dirumah ini dengan aturan yang ayah buat atau pergi dari rumah ini" teriak ayah padaku.


Kemarahanku semakin menjadi-jadi.


Sedangkan ibu sudah ketakutan melihat pertengkaran antara ayah dan aku.


"Apa ayah kira aku tak dapat hidup tanpa ayah, sungguh sebenarnya aku tak pernah menginginkan ayah dihidupku"


Teriak balasku pada ayah.


Dengan kaki yang menghentak kencang aku mengarahkan diri ini kekamar untuk mengambil barang-barang yang kuperlukan.


Lalu keluar dari rumah ini...


Saat berpapasan dengan ayah. Ayah memegang pundakku, seakan ingin hendak mengatakan sesuatu.


"Biarkan dia membuktikan yang ia katakan" ucap pastor arnold itu pada ayah.


Lalu ayah melepaskan tangannya dari pundakku dan seketika pula aku langsung pergi keluar dari rumah ink.


SUNGGUH AKU TAK INGIN KEMBALI KERUMAH UNTUK KEDUA KALINYA...


\*\*\*


"Tuhan kenapa kau selalu membuat hidupku kacau, kukira saat bangun tadi aku akan mendapatkan hari-hari seperti biasanya, kau begitu jahat padaku"


sepanjang perjalanan mengelilingi kota aku hanya mengumpat kebencianku, kulangkahkan kaki ini dengan cepat, sesekali air mata ini keluar, membuat penglihatanku memburuk, kucoba untuk membersihkannya.


Entahlah....


Ada sebuah dorongan yang benar-benar keras dibagian kanan tubuhku yang disusuli bunyi klakson yang sangat keras.


Tubuhku melayang cukup jauh, terhempas.

__ADS_1


Disitulah kulihat meri luisa tertawa dengan terbahak-bahak sebelum akhirnya mata ini tertutup.


__ADS_2