
23.54 malam
"emily kamu itu sudah besar, tapi kelakuan kamu masih saja sama seperti anak kecil, sangat keras kepala" ucapan ayah benar-benar menyakiti hatiku.
"Iya emily, oleh karena itu kami mencarikanmu seorang pengasuh" kata ibu.
"Untuk apa pengasuh, aku bisa merubah sifatku lagi ibu tak perlu mencari kesalahan dalam hidupku, aku benar benar membenci ibu" teriakku dihadapan ibu.
Kulihat mulut ibu yang ingin berbicara lalu aku memotongnya "walau aku memaafkanmu apa kau kira aku setuju memiliki adik, dan ayah kau sama halnya seperti ibu sangat mengesalkan" teriakkan itu sampai membuat aku mengeluarkan air mata.
Dengan ekspresi marah ayah mengangkat tangan hendak menamparku.
"Ayah ingin menamparku, tampar saja kalau ayah berani, aku saja tak takut pada tuhan apalagi pada ayah, pukulah aku sekarang juga jika ayah memang menginginkan itu" Teriakku.
Lalu sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Betul saja, ayah telah menamparku.
"Graham apa yang kau lakukan, kenapa kau menampar putri kita" teriak elly pada suaminya.
Ibupun mendaratkan tamparan kepipi ayah. Benar-benar keras.
"Emily apa kau tak apa-apa?" ucap ibu yang risau padaku sambil menyentuh pipiku yang telah ditampari oleh ayah.
"Aku benci kau elly cooster" ucapku sambil meninggali kamar ibu dan ayah.
Setelah sampai dikamar, barulah air mata ini keluar. Rasanya sakitnya bukan berasal dari tamparan, tapi berasal dari ayah yang rela menamparku.
Rasanya hatiku benar-benar sakit.
Seakan ada duri yang tumbuh dihatiku ini.
Kucoba untuk tidur.
TUHAN DIMANA KAU DISAAT-SAAT BEGINI
\*\*\*
06.13 pagi.
Pinggangku terasa sakit. Kulihat benda apa yang membuat pinggang ku terasa sakit. Buku...
__ADS_1
Barulah aku teringat disaat aku membersihkan kamar kemarin.
Aku teringat bahwa buku itu tak memiliki apapun didalamnya.
Kubuka buku itu
Tiba-tiba saja buku tersebut sudah penuh dengan tulisan-tulisan dan simbol-simbol :
Halaman pertama :
Ada subuah simbol bintang (setan)
Halaman Kedua :
Jenis-jenis mereka
Halaman ketiga :
cara memanggil mereka
Saat ingin melanjutkan halaman ke empat aku teringat kalau hari ini sekolah. Kumasukkan buku itu kedalam tas agar bisaku baca nanti disekolah.
Dengan tidak mandinya aku pergi kesekolah. Saat melewati dapur dan ruang tamu, ayah dan ibu benar-benar tak ada.
07.00 pagi
"Emily, kenapa tak hadir kemarin" tanya alice.
(Alice) teman sekelas sekaligus teman di tempat pelatihan balet.
"Kemarin aku sakit" jawabku singkat.
Beberapa saat kemudian gurupun masuk dan memulai kelas.
\*\*\*
"Ashley coba kamu lihat tas emily" kata andrew pada ashley.
"Emangnya kenapa pada tas emily, jelek?"
__ADS_1
Jawab ashley.
"Bukan tasnya, tapi isinya" sambil menunjuk pada tas emily.
"Ada buku yang sudah terbakar, aneh"jawab ashley.
Dengan cepat tangan ashley mengambil buku tersebut. Lalu membacanya satu persatu.
Jam kelas pun berakhir dan saatnya beristirahat.
Emily :
Saat kulihat dalam tas, buku tua itu hilang.
Saat melihat kearah belakang. Benar saja andrew dan ashley sedang membaca buku tua itu. Kuambil dengan cepat agar mereka tak membaca terlalu banyak.
"Maaf Emily cooster, karena kami telah membacanya" ucap ashley padaku.
"Andrew itu tentang apa tadi?" tanya ashley pada andrew.
"Itu buku tentang setan" teriak andrew agar seisi kelas mendengarkannya.
Amarah ku benar-benar memuncak dikala itu tapi kucoba untuk menahan...
"Emily lho bersekutu sama setan ya? Pantas aja sama kelakuannya" ucap ashley dengan mulut kotornya itu.
"Heehhh mulut a****g lho bisa diam nggak" teriakku pada ashley.
"Beraninya lho" ucap ashley.
Dan akupun bertengkar dengan ashley.
Mengalahkan ashley memang lah mudah, baru saja kupukul kepalanya dengan buku yang tebal dia langsung saja terjatuh lalu menangis.
"Dan lho anak h***m" ucapku pada andrew.
Aku tau akan kalah melawan andrew tapi aku tetap saja meneriakkinya. Tentu aku tau gosip tentang andrew dari beberapa orang dikelas.
Semua orang terkejut lalu diam setelah aku mengatakan hal itu. Dengan sangat cepat tangan andrew mendekat pada wajahku.
__ADS_1
Benar saja, aku terpukul oleh andrew sampai terjatuh. Entah darimana sebuah tenaga besar masuk dalam diriku. Kuangkat sebuah meja lalu kulempar tepat ke kepala andrew. Andrew pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Disinilah kesempatan emas datang kuambil pena lalu mendekati tubuh andrew yang tak sadarkan diri. Kutancapkan pena ke bola mata andrew agar dia jera melihat buku milik orang lain.