
selamat membaa🤗🤗🤗
" Di.. bangun sudah jam empat " teriak pak Tatang dari balik pintu kamar.
" Iya pak. " Sahut Marni dari dalam kamar.
" Tiap hari harus di bangunin orang tua mulu, gak ada mandirinya sama sekali. " Terdengar gerutu pak Tatang dari luar kamar. Meski dengan nada pelan. Namun gerutuan itu terdengar jelas di telinga Marni.
Sebenarnya. Marni selalu bangun lebih awal sebelum pak Tatang (mertua) teriak membangunkan Andi suami Marni.
Cuman Marni tidak langsung keluar kamar, melainkan membangunkan Andi yang sejatinya selalu susah untuk di bangunkan.
Terkadang Marni merasa jengkel dan kesal, karna untuk dapat membangunkannya harus memiliki extra sabar.
" A. Bangun bentar lagi adzan subuh " bisik Marni seraya menggoyangkan tubuhnya agar bangun.
" Heeeu " sahut Andi malas,dengan mata yang masih terpejam lalu kemudian terdengar kembali suara ngoroknya yang menandatakan bahwa Andi belum bangun.
Ya begitulah! Sudah menjadi kebiasaan Marni setiap harinya. Mendapatkan omelan dari ayah mertuanya dan kekesalan kepada suaminya yang selalu susah untuk di bangunkan.
Marni dan Andi menikah tiga bulan lalu. Dan memutuskan untuk ikut suaminya keJakarta Timur.
Tinggal satu atap bareng mertua dan adik kandungnya Andi bernama Uus.
Rumah ini memiliki tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi.
Dan Rumah yang mereka tempati bukan rumah mertuanya ataw rumah Andi! Melainkan rumah kontrakan yang perbulannya satu juta delapan ratus ribu rupiah.
" Tiga hari lagi kontrakan Ndi " sambutan pak Tatang saat Andi baru saja keluar dari kamarnya.
Tapi Andi tidak menggubris ucapan pak Tatang. Ia hanya berjalan malas menuju kamar mandi.
Marni yang masih didalam kamar, segera membereskan tempat tidur agar tidak berantakan. Karna jika tidak di bereskan maka pulang dari pasar nanti Andi dan Marni akan di sambut dengan omelan pak Tatang yang sehari-harinya diam di rumah dan tidak bekerja sama sekali.
" Gak mandi ya? " Tanya Marni saat Andi masuk kedalam kamar.
" Gak keburu kalo mandi " jawab Andi seraya memakai baju dan mengusap wajahnya dengan handuk yang menggantung di hendel pintu. " Udah. Cepetan beres-beresnya ayo siap-siap " lanjut Andi seraya keluar kamar.
Andi dan bu Esih (ibu kandungnya) segera pergi menggunakan motor satria yang jadul. Dan Marni segera setengah berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Habis itu segera masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian.
Serasa sudah siap. Marni segera keruang tamu duduk di lantai beralas tikar dengan pintu terbuka.
" Neng. Lain kali bangun tu harus jam tiga. Kalau jaman bapa dulu kepasar jam tiga itu sudah kesiangan! Sudah telat tidak bisa jualan. Karna Covid saja pasar jadi sepi " ucap pak Tatang yang datang dari arah dapur sembari membawa satu gelas kopi hitam dan duduk di dekat pintu kamar Marni.
" Sebelum bapa membangunkan A,Andi juga saya sudah bangun pak! Cuman tidak keluar kamar saja " jawab Marni dengan hati yang degdegan. Karna baru kali ini ia membalas omelan pak tatang.
Kemarin-kemarin Marni tidak pernah sekalipun membalas ucapan pak Tatang ataw bu Esih. Ia lebih memilih diam agar omelan tidak berlarut panjang.
__ADS_1
Tapi kali ini Marni sengaja membalas ucapan pak Tatang. Biar tidak ada salah paham.
" Hahaha " pak Tatang menertawai ucapan Marni " kalo sudah bangun harusnya buru-buru kekamar mandi. Masak air. Cuci piring. Beres-beres segala macam. Bangun tapi diam sama saja oercuma" lanjutnya enteng.
Siap-siap deh ini. Pikir Marni. Ia berharap Andi segera datang untuk menjemputnya kepasar. Agar ia bisa terhindar dari omelan mertuanya itu. Wajahnya sesekali menoleh kearah luar memastikan apakah Andi sudah datang menjemputnya ataw belum.
" Jaman bapa dulu tidak begitu neng! Bapa bangun jam satu pagi sama ibunya Ndi. Terus jalan kaki kepasar, sampe di pasar langsung di sibukan dengan pembeli. Neng ma enak, kepasar pake motor. Dulu bapak sama ibunya Ndi jalan kaki setiap hari "
" Berangkat ya pak " timpal marni bersalaman saat Andi sudah datang menjemputnya.
" Iya hati-hati neng "
Marni segera menaiki motor dan berlalu pergi menuju pasar Munjul.
Lokasi dari kontrakan menuju pasar tidak begitu jauh 20 menit langsung nyampe. Cuman jika harus berjalan kaki ya lumayan jauh.
Sesampainya dipasar Marni dan Andi langsung disibukan dengan merapihkan barang dagangannya.
Marni bertugas untuk merapikan toge, kikil, oncom dan jamur.
Sedangkan Andi bertugas untuk mengantongi tahu. Satu bungkus tahu berisi sepuluh biji di jual seharga lima ribu rupiah. Dan dari satu kantong mendapat untung delapan rarus rupiah.
Setiap pagi Andi di sibukan dengan pesanan para pelanggan. Dan harganyapun berbeda. Satu bungkusnya di jual empat ribu lima ratus. Jadi hanya memperoleh tiga ratus rupiah dari satu bungkus tahu.
Terdengar memang sedikit. Tapi Andi sudah memiliki banyak pelanggan. Dan untungnya lumbayan jika tahu habis terjual semua.
"Gak ada " jawab Mak enteng dan sedikit kesal " baru hutang segitu di pinta. Kan kamu makan sehari- hari dari siapa? Kemarin mak minjem uangkan untuk membeli beras yang nantinya kamu makan juga. Heran. Perhitungan banget sama orang tua. Bukannya ngasih " lanjutnya menggerutu kesal.
" Itu bukan duit Ndi mak. Itu duit si bos " ucap Andi berharap bu Esih mau membayar uang pinjamannya kemarin.
" Gah ada ah " jawab Bu Esih kesal.
Andi segera kembali membungkus tahu dengan wajah penuh kekesalan.
Marni hanya diam tersenyum tipis. Karna pemandangan ini sudah tidak aneh baginya.
Bu Esih memang selalu meminjam uang kepada Andi dengan beribu alesan. Dan setiap Andi menagih, jawaban yang sama "perhitungan" yang selalu Bu Esih lontarkan.
Dan di jam sembilan pagi. Ada tiga ****** (bang keliling) yang datang menghampiri Andi dan Marni.
Bukan tanpa alasan Andi memiliki hutang keorang Batak tersebut.
Uang hasil pinjaman ke mereka Andi gunakan untuk menggelar penikahannya dengan Marni.
"Hanya dua puluh ribu? " Ucap Marni saat mereka sudah pulang dan berada di dalam kamar.
" Kan tahunya masih sisa, gak habis. " Jawabnya enteng seraya merebahkan tubuhnya di atas tikar plastik.
__ADS_1
" Tapi aku mau baso a "
" Ya sudah belikan saja itu baso. Buat kamu saja. Dan makan ditempat jangan di bawa pulang, nanti sangkanya kita mempunyai banyak uang sampe membeli baso "
Marni segera menaruh uang tersebut di dalam kantong celananya dan berlenggang pergi keluar.
Marni berjalan melewati perumahan elit nan besar. Berlantai tiga.
Kontrakan yang Marni tempati berada di pojokan paling belakang. Terhalang oleh perumahan elit.
Marni berjalan seraya menyapu bersih pandangannya dan membayangkan memiliki rumah sendiri.
" Sungguh beruntung orang yang memiliki rumah sendiri. Tidak pusing dengan biyaya kontrakan perbulannya. Kapan aku mempunyai rumah? Ya tidak perlu sebesar ini, sederhana dan tidak bocor itu sudah lebih dari cukup " ucap Marni seolah sedang berbicara dengan orang lain.
Marni segera menghentikan langkahnya setelah sampai di depan Penjual Baso yang berada di pinggir jalan.
Ia segera mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dalam kantong celananya.
Marni sudah membayangkan. Betapa enaknya makan baso asam pedas gurih di jam siang seperti ini.
Namun senyumannya pudar saat ia mengingat ada lima orang yang berada di kontrakannya.
" Masih ada hari esok "
Marni segera mengurungkan niatnya untuk membeli baso dan berjalan ketempat warung sembako yang lokasinya tidak jauh dari sana.
Marni membeli lima bungkus mie inztan. Dan sisanya ia belikan kerupuk.
" Dari mana neng? " Sambut pak Tatang yang sedang duduk di lantai beralas tikar dekat pintu saat Marni baru saja datang dengan membawa satu kantong plasik berwarna hitam.
" Dari warung pak " jawabku dan beljalan menuju dapur.
Marni segera menyalakan kompor dan memasak kelima mie rebus di jadikan satu dalam satu wajan.
Marni juga mengulek beberapa cabe rawit.
" Pak mie rebus di dapur " ucap Marni yang sudah menyelesaikan masak dengan dua mangkuk di tangan berisi mie rebus. Lalu berjalan masuk kamar.
" Ayo mas makan " seraya menaruh mangkuk tersebut di lantai.
" Basonya gak jadi? " Ucapnya dan bangun dari rebahnya lalu mengambil satu mangkuk.
" Besok saja "
Ya begitulah. Hal seperti ini sudah sering Marni alami.
Dengan uang dua puluh ribu dari pada ia belikan bakso yang hanya bisa di makan sendiri. Mending uang itu ia belikan mie rebus dan dimakan rame-rame bersama keluarga suaminya.
__ADS_1
Next