
" besok kontrakan Ndi. " Ucap bu Esih saat menghampiri anaknya yang sedang membungkus tahu.
" Mudah-mudahan aja hari ini habis mak. "
" Udah tiga bulan kita nunggak. Jika bulan ini kita gak bayar, kita di usir sama yang punya kontrakan " ucapnya mengeluh dan sesekali memijat jidatnya yang sedikit kriput.
Andi mengkrenyitkan dahi. Menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh kearah maknya yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
" Loh! Bukannya kita telat cuman dua bulan mak."
" Kan yang tiga bulan lalu kurang delapan ratus. Kalo kita gak bayar full kita di usir. Pusing duuh " keluh bu Esih.
Andi kembali melanjutkan membungkus tahunya.
Memang semenjak covid pasar sepi. Dan hampir setiap hari jualan tahu tempe pada sisa. Bahkan ada yang di buang jika tahu sudah empat hari.
Bukan hanya jongko tempat Andi dan bu Esih saja yang sepi, tapi semua pedagang pasar mengalaminya.
" Neng jam berapa? " Tanya bu Esih sembari menjongkokkan tubuhnya mendekati Marni yang berada di dalam jongko.
" Jam delapan lebih dua menit mak. "
" Ndi anterin mama dulu " ucap bu Esih dan langsung menutup semua dagangannya menggunakan karung.
" Mama tunggu di gerbang ya " pesan bu Esih dan dengan cepat berlenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari anaknya itu.
" Jika ada ****** kosong dulu ya, bilang aja buat kontrakan " ucap Andi kepada istrinya itu dan segera menyusul maknya keluar.
Marni hanya duduk diam di bangku plastik. Matanya terus menatap kearah suaminya yang sedang berjalan pergi hingga tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Marni mengheula nafas dan merasa kesal.
Ia selalu disudutkan untuk menghadapi para ****** sendirian.
Tak jarang para pedagang lain pada menertawakan karna Andi memiliki banyak hutang.
Padahal bu Esih pernah bercerita kepada Marni saat jualan dulu sebelum ada covid.
Bu Esih mengisi empat jongko dijadikan satu. Dan tempat bu Esih yang paling di minati pembeli. Sehari bisa menghasilkan uang lebih dari lima juta saking larisnya.
Dan orang-orang di pasar selalu minta pertolongan kepada bu Esih. Salah satunya meminjam uang.
Bu Esih selalu meminjami uangnya tanpa di tagih kesiapapun yang membutuhkan pertolongan.
Hingga suatu saat, bu Esih menaruh semua uang dan perhiasannya di dalam tas. Ada sekitar enam puluh juta lebih jika di hitung semuanya beserta emasnya.
Seperti biasa, jongko bu Esih selalu yang paling rame. Dan tidak sadar tas yang berisi semua uang dan perhiasannya itu kecolongan oleh orang yang bu Esih sendiri tidak tau orangnya yang mana.
Bu Esih mencari kesetiap kolong jongkonya untuk mencari dimana tasnya betada. Dan saat menyadari bahwa tasnya raib dicuri orang, bu Esih langsung menjatuhkan dirinya di lantai.
Seluruh organ tubuhnya terasa lemas. Telinganya berubah menjadi tuli. Suara Orang-orang disekitar yang ribut karna mau belanja ke jongkonya seketika redup.
Mata bu Esih menyapu bersih kesekeliling. Namun pandangannya perlahan memudar dan berubah jadi gelap.
Rupanya bu Esih pingsan seketika.
Bu Esih tersadar saat sudah berada di kontrakannya.
" Pak, uang kita di curi orang " ucap bu Esih. Air matanya keluar membasahi kedua pipinya. Mulutnya sedikit terbuka.
__ADS_1
Wajahnya benar-benar sangat pilu pada waktu itu.
" Ibu tenang dulu. Istighfar bu, nyebut. Nyebut. " Ucap pak Tatang seraya mengusap lengan bu Esih.
" Semua uang kita raib pak. " Tangisan bu Esih semakin kencang. Ia sungguh tidak menyangka jika uang hasil jaripayahnya bisa raib dalam waktu singkat.
Dan sejak itu, warung bu Esih tidak seramai dulu. Para pembeli pada beralih ke orang lain.
Beberapa sayuran menjadi busuk karna sudah tiga hari.
Setiap harinya paling hanya beberapa orang yang datang untuk belanja ke jongkonya.
Dan bu Esih untuk pertama kalinya meminjam uang ke pedagang yang dulu pernah dia tolong.
" Bu, saya pinjam uang satu juta. Buat setor sayuran. Lusa saya ganti.
" Duuh bu. Maaf, saya baru saja setor kesi bos. Jadinya tidak megang uang "
" Kalo tidak ada sejuta, gak apa-apa dua ratus saja "
" Saya beneran tidak megang uang bu "
Bu esih melihat kearah pergelangan tangan perempuan yang ada di hadapannya itu. Terdapat ada tiga gelang emas yang melingkar.
Bu Esih mengheula nafas panjang. Padahal perempuan yang di hadapannya itu adalah orang yang dulu sering bu Esih tolong.
Bu Esih segera pergi ke penjual ayam, ia mencoba meminta tolong kepadanya dengan harapan si pedagang itu mau meminjami uang kepadanya.
" Pak. Saya mau minta tolong "
__ADS_1
" Duh maaf bu Esih. Bukannya saya pelit ataw apa, tapi saya lagi tidak megang uang. Saya baru membayar uang sekolah anak saya " timpal pedagang ayam tersebut dengan cepat.
Bu Esih hanya diam. Padahal si penjual ayam ini dulu sering di tolong oleh bu Esih. Dulu dia hampir tidak bisa berjualan karna tidak mampu membayar uang kontrakan jongkonya. Tapi dengan suka rela bu Esih menawarkan diri untuk minjami ia uang tanpa bunga. Dan di bayar dengan dicicil memberi kelonggaran padanya.