
" Ndi. Mama pinjeum dulu uang, seratus ribu buat setor brokoli kurang " sahut bu Esih saat berlenggang mendekati anaknya yang sedang membungkus tahu.
Dan jongko tempat bu esih berjualan sayur. Itu bersebelahan dengan jongko milik Andi yang berjualan tahu tempe.
" Yang waktu itu 200 juga gak mama ganti! " Ketus Andi seraya menyunggingkan bibir atasnya.
Bu Esih memang selalu meminjam uang kepada Anak laki-laki yang berada di hadapannya itu jika setorannya kurang.
Dan itu membuat Andi merasa kesal. Serba salah jika harus ngadepin orang tua!
Di jawab, sangkanya ngelawan orang tua. Di biarkan yaa begitu, gak nyadar-nyadar.
Dan bu Esih selalu jika waktu sudah menunjukan jam 8 pagi, ia pasti segera meminta untuk segera di antar pulang dengan tergesa-gesa. Bagai manapun keadaannya! Jika bu Esih sudah minta antar pulang, ya harus waktu itu juga. Tidak boleh tidak. Apa lagi bilang " nanti"
" Ya,kan. Kamu tau sendiri. Kalo pasar lagi sepi "
" Tapi gak ada ma. Yang kemari saja mama pinjem dua ratus, itu duit setor ke si bos. Ndi gak enak jika harus terus kurang setoran mulu. Bisa-bisa Ndi di omelin si bos "
Bu Esih langsung melihat kearahku yang berada di dalam jongko, sedang duduk di kursi plastik sembari melihat video tiktok melalui haneponenya.
Ia memilih diam. Dan pura-pura tidak mendengar obrokan ibu dan anak tersebut.
Karna sebenarnya Marni juga kesal terhadap kedua orang tua suaminya tersebut. Jika di rumah pasti Marni akan di suguhi omelan dari pak Tatang. Apapun akan jadi bahan omelannya.
Waktu kemarin juga Marni. Dan kedua mertuanya tersebut sedang asik menonton acara tv. Marni yang duduknya dekat pintu utama, mendengar ada suara cicak jatuh dari dekat pintu utama.
Pluk.
Marni langsung reflex bilang " aduh " seraya tubuhnya sedikit terangkat keatas karna kaget sekaligus geli melihat cicak tersebut jatuh di sampingnya. Dan cicak tersebut buru-buru kabur ntah kemana. Menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
" Ada apa neng? " Tanya pak Tatang yang langsung menoleh kearah Marni saat ia reflex bilang "aduh"
" Itu tadi pak, ada cicak jatuh " ucapnya seraya tersenyum kegelian dan tubuhnya reflex sedikit bergetar. Menunjukan exfresi kegeliannya tersebut.
" Astaghfiruwllah " ucap pak Tatang sedikit meninggikan volume suaranya dan wajahnya menunjukan keterkejutannya " terus cicaknya gak neng tangkap? " Lanjutnya seraya mengelus-elus dada dengan tangan kanannya.
" Ngga. Cicaknya langsung pergi pak " jawab Marni sedikit heran mengapa pak Tatang harus berexfresi syok seperti itu. Dan lagi cicak adalah hewan geli menurutnya. Jangankan untuk menangkapnya, hanya dengan melihatnya sajapun sudah membuat perempuan berambut keriting itu kegelian.
Expresi pak Tatang langsung marah. Matanya membulat lebar seolah mau keluar " harusnya neng tangkap cicaknya terus matiin. Bukan di biarkan pergi "
Hah
Marni langsung mengkrenyitkan dahinya, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari mulut mertuanya tersebut.
Ia menarik nafas cukup panjang dan mengeluarkannya perlahan. Bagai mana mungkin ia bisa menangkap lalu membunuh cicak tersebut. Sedangkan saat cicak jatuh ke bawah, hewan menggelikan itu langsung pergi dengan cepat dan menghilang.
" Cicaknya langsung pergi pak " ucapnya pelan dan memberikan senyum terbaiknya. Berusaha mengontrol emosi sebaik mungkin. Karna bagai manapun laki-laki beruban yang di hadapannya itu adalah mertuanya sendiri.
Karna ia sangat meyakini. Jika ada cicak jatuh di hadapannya lalu tidak di matikan, maka akan ada kesialan yang akan menimpa keluarganya.
" Bapa tu neng, jika ada cicak jatuh langsung bapa tangkap, Hep.. terus di matiin. Gak di biarkan kaya neng barusan. Astaghfiruwllah haladzim semoga tidak terjadi apa-apa dengan keluarga semuanya "
Pak Tatang terus saja berceloteh menceritakan pengalamannya setiap ada cicak jatuh. Dan wajah Marni yang tadinya mengexfresikan senyum terbaiknya langsung raib. Mendengan mertuanya berceloteh tentang dirinya menghadapi cicak.
Seolah tidak percaya dan aneh! Kenapa cicak jatuh saja harus di permasalahkan?
Dan selama dua puluh dua tahun ia hidup, baru kali ini mendengar ada cicak jatuh di permasalahkan.
Marni hanya bisa diam dan berpura-pura mendengarkan ceritaan mertuanya tersebut. Walau sebenarnya ia masih kesal dan heran, mengapa cicak jatuh saja harus di permasalahkan.?
__ADS_1
" Neng jam berapa sekarang? " Tanya bu Esih seraya berjongkok wajahnya sedikit mendekat kearah Marni.
" Jam tujuh lewat empat puluh dua menit mak. " Jawabnya. Saat matanya melihat kearah jam waktu melalui layar datar yang ia pegang.
" Ndi. Antar mama pulang dulu. Takutnya keburu ada ****** lewat. Dan bayarin dulu ke si brokoli cepe " sahut bu Esih enteng. Seolah menyimpan saham kepada anaknya itu.
Bu Esih dengan lihay menutup semua sayurannya dengan karung, Bertanda jika warungnya sudah tutup. Jika sudah selesai, sebelum berlenggang pergi bu Esih kembali menghampiri Andi yang sedang sibuk melayani pembeli dan berbicara dengan terburu-buru " anterin ma pulang dulu, dan jangan lupa talangin dulu cepe ke brokoli. Mama tunggu di depan gerbang ya. "
Serasa sudah selelai berbicara, bu Esih langsung berlenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari anaknya yang sedang sibuk melayani pembeli.
" Udah buruan pergi sana. Dan cepetan balik lagi. Nanti mak marah lagi jika lama "
" Selalu saja begini. Orang lagi riweh kaya gini malah minta anter pulang, heran "
Meski kesal dan bergerutu, namun Andi tetap saja buru-buru pergi keluar menyusul maknya yang sedang menunggu di gerbang luar sana.
" Nanti jika ada bos brokoli kasih cepe ya " pesan Andi sebelum ia benar-benar berlenggang pergi.
Marni yang mendengar jelas, pura-pura tidak mendengar apa yang di ucap suaminya tersebut. Ia memilih tersenyum kepada pembeli yang berada di hadapannya yang sedang memilih tahu yang mana yang mau ia beli.
Marni langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi plastik saat si pembeli itu sudah mendapatkan tahu yang ia mau dan berlenggang pergi. Tangan kanannya reflex memijat-mijat pelan di bagian keningnya.
Perempuan berambut keriting itu hanya bisa menahan rasa kekesalannya sendiri. Karna ia juga bingung harus bagai mana menghadapi sikap mertuanya tersebut.
Ingin sekali ia marah dan meluapka semua kekesalan yang ada pada dirinya kepada suaminya tersebut. Tapi ia berpikir seribu kali lagi jika harus memarahi suaminya.
Mungkin yang ada, suaminya malah makin tersiksa.
Disisi lain istrinya dan di sisi lain orang tuanya.
__ADS_1
Marni hanya bisa menelan ludah kasar dan mengubur dalam-dalam rasa kesalnya tersebut. Dan berharap dapat segera mengumpulkan uang untuk pindah kontrakan biar tidak seatap dengan keluarga suaminya tersebut.
Walau tidak tau, kapan itu akan terwujud.