SEATAP BERSAMA MERTUA

SEATAP BERSAMA MERTUA
Episode 9


__ADS_3

Alhamdulillah hari ini jualan Andi dan Marni laris. Sehingga jam satu siang mereka sudah pulang ke kontrakan.


" Tadi supirnya yang punya kontrakan kesini " sambutan bu Esih saat menantu dan anaknya itu baru saja pulang dari pasar.


Bu Esih terlihat begitu kebingungan, harus mencari kontrakan kemana?


Sedangkat prabotan rumah tangganya begitubanyak.


Sehingga bu Esih kesulitan untuk mencari kontrakan yang muat untuk menampung semua prabotannya.


" Besok sore yang punya kontrakan akan datang kesini. Jadi sebelum besok sore kita harus segera pindah dari sini " lanjut bu Esih menjelaskan dengan sedikit mengeluh.


" Iya nanti Ndi cari kontrakan " ucapnya seraya masuk kedalam kamar dan Marni mengekor dari belakang.


" Emangnya aa punya uang? " Tanya Marni saat mereka sudah berada di dalam kamar.


" Ada dua ratus. Ya kita nyari yang murah dulu " jawabnya seraya merebahkan tubuhnya di atas tikar.


" Kontrakan tu banyak a, hanya terhalang dana "


" Iya tau, kita harus nyari satu rumah yang di kontrakin. "


Andi segera keluar kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di lantai beralas tikar.


Tangan kanan pak Tatang terus saya memijat-mijat judatnya. Wajahnya terlihat kebingungan. Dan segelas kopi yang ada di hadapannya nampak utuh beluh di minum sama sekali.


" Udah dapet, mak. Kontrakannya? " Tanya Andi saat ikutan duduk bersama kedua orang tuanya.


" Belum dapet, kontrakannya pada kecil-kecil " jawab mak seraya merentangkan kedua kakinya dan memijit-mijit perlahan betis kanannya dengan tangan kanannya.


" Ya emang susah, beli prabotan banyak banget. Lemari juga gede-gede " gerutu Andi.


" Ya mau gimana lagi Ndi? Dulukan kamu tau sendiri mak jualannya kaya gimana jadinya bisa kebeli perabotan mahal " bu Esih napak sedikit kesal dan sedikit meninggikan nada volume suaranya.


" Coba bapa sama mak nurut omongan Ndi. Untuk menjual semua tanah di kampung dan bikin rumah disini, mungkin kita gak akan kaya gini. Pindah-pindah kontrakan, akut-akut prabotan kesana-kesini "


" Tanah itu kalo bisa tambahin Ndi bukan di jual, itukan buat bekal dimasa tua nanti. Masa mau di jakarta terus " timpal pak Tatang dengan sedikit emosi.


" Buktinya ampe sekarang kita tetap di jakarta! " Timpal Andi cepat dan kesal.


Sebenarnya pak Tatang dan bu Esih masing-masing memiliki tanah warisan yang luas di kampungnya. Tapi dari umur Andi lima bulan, mereka memutuskan untuk merantau kejakarta.

__ADS_1


Sampai Andi beranjak dewasapun mereka belum pernah pulang ke kampung halamannya.


Hingga Andi bertemu dengan Marni di pasar dan berlanjut saling tukar nomer hanepone hingga akhirnya memutuskan untuk menikah, barulah pak Tatang dan bu Esih untuk pertama kalinya mudik ke kampung halamannya yaitu Suka Bumi.


Mereka pulang di sambut histeris oleh sodaranya yang berada disana, karna sudah tiga puluh tahun tidak pulang tanpa kabar apapun.


Sekalinya pulang membawa kabar baik, bahwa Andi akan menikah dengan perempuan yang bernama Marni yang kebetulan dia juga berasal dari Suka Bumi.


Namun berbanding terbalik, sodaranya menangis dan memintaaaf karna sudah menjual tanah warisan milik pak Tatang sebagian dengan alasan uangnya di pake buat oprasi matanya. Bahkan sebagian tanah yang belum terjual sudah di tawarkan ke orang lain oleh sodaranya tersebut. Tapi beruntung! Karna pak Tatang keburu pulang kesana. Sehingga sebagian tanahnya bisa ia selamatkan dan tidak jadi di jual oleh sodaranya tersebut.


Namun biarpun sudah di jual sebagian oleh sodaranya, tanah warisan milik pak Tatang masih terbilang cukup luas.


Karna beliau adalah keturunan orang yang berada pada masanya.


" Bapa tu dari kemarin pusing mikirin kontrakan, kamu malah ngegampangin ngomong-ngomong warisan "


" Alah, ngapain pusing mikirin doang, toh gak ngebantu apa-apa. Tetap saja Ndi-Ndi juga pusing minjeum duit sana-sini buat kontrakan " timpal Andi dengan kesal dan menyunggingkan bibir atasnya.


Tiba-tiba Uus adiknya Andi datang dengan satu temannya yang bernama Dio.


Mereka langsung bersalaman sebelum akhirnya duduk di samping mereka.


" Terus uang buat sewanya berap? " Tanya bu Esih cepat.


" Satu juta seratus mak. Udah, masalah uang itu biar Uus yang mikirin "


" Alhamdulillah, " ucap pak Tatang seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


" Untuk ongkis sewa mobilnya itu aa yang bayar ya "


" Iya, aa ketenpat temen aa dulu untuk nyewa mobil kolbak "


Andi segera masuk kedalam kamar untuk mengambil kunci motornya dan melangkah keluar rumah lalu melaju pergi.


" Neng ayo kita beres-beres " ajakan bu Esih saat membuka pintu kamar yang ditempati Marni tanpa mengetuk terlebih dahulu.


" Iya ma " jawabku singkat dan lang sung membenahi baju-baju kedalan tas.


Setelah selesai memasukan semua bajunya dan baju suaminya kedalam tiga tas dan dua kantong kresek cukup besar, ia segera berlenggang ke kamar bu Esih.


Marni langsung mematung saat berada didepan pintu kamar mertuanya yang terbuka. Matanya membulat lebar dan menelan ludah dengan susah payah.

__ADS_1


Perempuan berambut kriting itu sangan terkejut setelah mendapati gundukan baju-baju yang begitu banyaaaaak.


Padahal mertua perempuannya itu sudah memasukan beberapa bajunya kedalan satu karung berukuran cukup besar.


Tanpa bicara apa-apa, Marni. Segera membantu mertua perempuannya untuk menasukan baju-baju kedalam karung yang sudah di sediakan.


Perempuan berambut kriting itu sangat kaget, mengapa mertuanya itu memiliki baju sebegitu banyaknya?


Bahkan ia melihat sebagian celana yang ia masukan kedalam karung ada yang sudah sobek di bagian belakang.


Namun ia tidak berani untuk mengucapkan komentarnya, ia lebih memilih patuh dengan mulut terdiam.


" Ini baju dari mak waktu tempo dulu ampe sekarang neng, makanya banyak seperti ini "


Marni hanya mengulum senyum mengangguk, seraya mengerjakan tugasnya.


Hadeuuuuuh. Ngapain coba baju sudah jelek sobek begini di kumpulin.? Bukannya di bikin lap kaki ke. Ataw di buang saja beres kan!. Marni berceloteh di dalam hatinya sendiri dengan bibir mengulum senyum terbaiknya.


" Mau di buang sayang. Mau di bikin kain lap, kata bapanya Ndi jangan, pamali. Nanti saja jika mudik ini baju mau di bawa sebagian buat di kasih sodara " ucap bu Esih seraya terus merapikan bajunya dan dimasukan kedalam karung.


Hah.


Gak salah! Masa baju kucel begini mau di kasihin ke sodara, yang bener saja bu. Kalau aku anaknya sudah ku buang ini baju . Marni kembali mengomel di dalam hatinya.


Perempuan berambut keriting itu menyadari posisinya yang hanya sebatas menantu, jadi ia tidak berani untuk memberi saran kepada mertua perempuannya itu.


Walau sebenarnya ia merasa sedikit kesal, katna satu jam lebih empat puluh lima menit ia habiskan hanya untuk membereskan baju saja.


Belum perabotannya yang lain!


Balum ketiga lemari berukuran cukup besar yang besarnya melebihi ukuran pintu.


Aaaaah pusing.


Dan kejadian ini menjadi panutan kedepannya untuk perempuan berambut keriting tersebut.


Bahwa jika masih mengontrak jangan membeli perabotan besar. Karna sejatinya orang yang mengontrak tidak akan diam selamanya dalan satu tempat.


pelajaran yang sangat penting ya🤗


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2