SEATAP BERSAMA MERTUA

SEATAP BERSAMA MERTUA
Episode 10


__ADS_3

Dengan cekatan pak Tatang membongkar satu persatu lemari berukuran cukup besar yang terbuat dari kayu itu satu-persatu.


Marni yang baru saja melangkah keruang tv langsung sedikit terkejut.


Pertanyaannya yang dari tadi ia pikirkan bagaimana cara mengeluarkan lemari besar tersebut melalui pintu yang ukurannya lebih kecil akhirnya terpecahkan.


Marni teringat ucapan bu Esih, jika suaminya itu mantan tukang pembuat lemari dan pintu dari kayu.


Makanya pak Tatang sangat pandai saat membongkar lemari-lemarinya yang besar.


Marni kembali mengepak prabotan yang lainnya bersama bu Esih.


Hingga saat magrib tiba, datanglah satu buah mobil bak berwarna hitam terparkir di depan kontrakannya.


Marni segera menghentikan kerjaannya dan melangkahkan kakinya keluar untuk melihat siapa yang datang.


" Aa " sapa Marni saat suaminya turun dari dalam mobil bersama satu temannya yang menjadi supir.


" Udah pada di benahin belum? " Tanya Andi berlenggang masuk kedalam kontrakan. Marni mengekor dari belakang.


" Sudah sebagian " jawabnya.


Para laki-laki bergotong royong mengakut perabotan satu-persatu kemobil bak  tersebut. Sekiranya sudah tidak muat untuk menampung, mobil di jalankan bersama Uus. Karna hanya dia yang tau lokasi tempat kontrakannya yang baru.


Hingga akhirmya di jam setengah sembilan, semua perabotan berhasil di angkut.


Rumah kontrakan itu berubah menjadi kosong.


Marni segera mengunci pintu kontrakan tersebut dan membiarkan kunci tersebut ngegantung di handel pintu.


" Ayo naik " ajakan Andi yang baru saja datang dengan menggunakan motor jadulnya itu.


Marni patuh dan duduk berbonceng di belakang.


Para tetangga di sebelah hanya diam mengintip dari dalam kontrakan pribadinya. Satupun tidak ada yang sudi membantu atawpun mengucapkan perpisahaan kepada bu Esih.


Marni jadi teringat saat pertama ia menginjakan kaki di kontrakan ini.

__ADS_1


Disambut dengan gembira oleh kedua mertuanya, bahkan para tetangga datang berkunjung bersilaturahmi kepadanya.


Suka duka ia lalui di kontrakan ini.


Tempat yang membuatnya sudah merasa nyaman.


Dan kini tempat itu sudah tidak bisa ia tinggali karna sudah tidak mampu untuk membayar kontrakan selama tiga bulan.


Padahal mertua perempuannya tersebut pernah bercerita. Bahwa mereka tinggal disini sudah hampir lima tahun.


Waktu yang cukup lama.


Tapi tetap saja, yang punya kontrakan akan mengusir kepada siapapun yang telat membayar sewa kontrakan.


Marni hanya bisa berdoa. Semoga saja di tempat kontrakannya yang baru, semuanya akan berubah manjadi lebih baik.


Amin.


Sampailah mereka di tempat kontrakan yang baru. Letaknya tidak terlalu jauh dengan kontrakan mereka yang kemarin.


Namun rumahnya terlihat lebih kecil dari yang kemarin.


Semua ruangan sangat penuh oleh prabotan.


" Sekarangmah cape udah malem. Mending kita tidur saja, besok baru kita beres-beres " ucap bu Esih yang duduk di depan pintu utama.


Marni mengheula nafas " iya ma " jawabnya singkat.


Ia melangkah maju kedalam, melihat kekamar utama. Kamar yang di penuhi oleh barang-barang berat hingga tidak ada tempat untuk duduk.


Perempuan berambut kriting itu melihat kamar kedua. Tempat itu di penuhi oleh beberapa karung kresek dus dan yang lainnya yang ntah apa itu isinya.


Dan terdapat dua kamar disana. Dapur yang cukup sempit begitu juga kamar mandi yang lebih sempit dari yang sebelumnya.


" Tidur dimana a? " Tanya Marni dengan sangat pelan saat suaminya datang menghampirinya yang berada di pintu kamar mandi.


" Di kamar " jawabnya enteng.

__ADS_1


" Semua ruangan penuh a, bahkan aku gak tau baju-baju kita dimana? "


" Ntar juga ketemu jika sudah di beresin. Aa mau benahi dulu kamar biar bisa di pake tidur" ucapnya seraya pergi dan Marni mengekor dari belakang.


Laki-laki bertubuh tinggi itu masuk kekamar kedua. Ia menumpuk karung dan yang lainnya di tepi. Dan mencari tikar untuk dijadikan alas tempat tidur.


Setelah selesai, Marni dan Andi segera merebahkan tubuh lelahnya di atas tikar tersebut.


Selang beberapa menit, Marni mendengar suara dengkuran suaminya yang menandakan jika suaminya sudah terlelap tidur.


Namun perempuan berambut kriting itu tidak bisa tidur, ia beberapa kali membalikan tubuhnya agar dapat tertidur dengan nyenyak. Namun matanya seolah tidak mau terpejam.


Mungkin karna suasana baru sehingga belum beradap tasi.


Ia segera bangun dari rebahnya dan melangkah keluar kamar.


Marni melihat kedua mertuanya dan uus sudah terlelap tidur di ruang utama. Tidur mereka sangatlah pulas mungkin karna kelelahan. Tapi ntah kenapa, perempuan berambut kriting itu tidak bisa tertidur.


Ia segera masuk kembali kedalam kamar dan duduk disamping tubuh suaminya yang sudah terlelap tidur.


Untuk sejenak ia termenung sendiri. Merenungi nasibnya yang sekarang.


Perempuan berambut kriting itu sungguh tidak menyangka jika hidupnya akan lebih buruk dari masa lalunya.


Ada rasa sedikit menyesal karna sudah menikah dengan Andi.


Bola matanya terus menatap kearah wajah suaminya yang sedang terlelap tidur.


Perempuan berambut kriting itu mengulum senyum dan memukul jidatnya pelan.


" Mikir apa sih ah ni otak "


Ia segera merebahkan tubuhnya di samping tubuh suaminya, dan mengecup pipi pria disampingnya itu seraya mengucapkan kata yang begitu pelan.


" Maaf ya aa sayang " lanjut ia merebahkan tubuhnya, mengheula nafas dan memejamkan kedua matanya.


duuh Marni menghayalnya kejauhan bun.😂🙏

__ADS_1


beei semangatnya donk untuk Marni, biar tidak berfikir yang aneh-aneh lagi


__ADS_2