
Bu Esih segera meminjam ke pedagang lainnya dengan harapan agar ada seseorang yang mau menolong dirinya. Namun hasilnya nihil.
Tidak ada satu orangpun yang mau meminjamkan uang kepadanya dengan berbagai alesan.
Hingga saat itu, ada salah satu pedagang yang memberi saran kepadanya, untuk meminjam kepada ****** (bank keliling)
Dan untuk pertama kalinya bu Esih meminjam uang ke ****** sebanyak satu juta. Dan bu Esih harus melunasinya dengan di cicil perharinya lima puluh ribu dalam kurun tiga puluh hari.
Dua hari kemudian bu Esih meminjam kepada ****** yang lain untuk membayar kontrakannya.
Hingga akhirnya, bu Esih memiliki lima ****** setiap harinya.
Dan sehari-hari uang bu Esih ludes buat ******.
Karna tidak mampu membayar kontrakan jongkonya. Hingga akhirnya bu Esih yang tadinya memiliki empat jongko kini tinggal satu jongko yang mampu ia pertahankan.
Dan sejak penjualannya menurun. Jongko bu Esih yang tadinya tempat nongkrong para ibu-ibu pedagang lainnya untuk bergosib. Kini tidak ada satu orangpun yang mau singgah disana.
Semua orang terkesan menjauh dan hanya seperlunya saja.
Satu-persatu barang yang ada di kontrakannya ia jual.
Kulkas, dispenser multipungsi.
Bahkan bu Esih menjual salah satu motornya. Dan hanya menyisakan satu motor satria jadul yang gampang rusak.
" Andinya kemana? " Tanya salah satu ****** saat ia baru saja datang ke jongko.
__ADS_1
" Nganterin mak pulang. Kata a Andi hari ini kosong dulu. Mau bayar kontrakan soalnya " jawab Marni.
" Sudah tiga hari loh libur mulu. Masa hari ini libur juga, kapan lunasnya? " Ucapnya sedikit emosi.dan menggaruk kasar pucuk kepalanya lalu berlenggang pergi.
Marni segera mengheula natas lega, karna satu ****** berhasil ia atasi.
Tak lama ****** yang lain datang kembali untuk menagih uang.
" Kemana Andi? "
" Nganter mak pulang dulu. Tadi kata a Andi hari ini libur dulu. Mau bayar kontrakan "
****** tersebut langsung mengangkat jempol tangannya dan berlenggang pergi.
Dan tak lama ****** yang terakhir datang. Dan yang ini seorang perempuan yang cerewet bermuka judes berambut pirang.
" Mana setoran? " Seraya mengulurkan tangan kanannya.
" Gak ada " timpalnya dengan nada penuh emosi. Bibirnya sedikit maju kedepan dan matanya melotot tajam. " Dia sudah dua hari tidak bayar, jika kosong terus kapan lunasnya? " Lanjutnya kesal.
" Tapi uangnya di bawa a Andi, saya gak megang uang sama sekali " ucap Marni seraya menepuk kantong celananya.
" Aaaah alesan. Pokoknya saya tidak mau tau. Hari ini harus ngisi " ucapnya tegas penuh penekanan.
" Uangnya di bawa a Andi mba. Jika ada disaya, sudah saya kasih ke mba. "
Terlihat begitu jelas, raut wajah ****** itu nampak marah dan kesal. Bibirnya sedikit menjulur kedepan. Matanya melotot seolah mau keluar.
__ADS_1
Hingga akhirnya ****** itu pergi dengan mengomel pelan di mulutnya. Sehingga Marni tidak mampu mendengar apa yang d ucapkan perempuan berambut pirang tersebut.
Akhirnya Marni bisa bernafas dengan lega. Walau masih ada rasa kesal dalam hatinya. Karna suaminya itu selalu menyuruh dia ngadepin para ****** sendirian.
" Udah pada lewat kan? " Tanya Andi yang baru saja datang sehabis mengantar bu Esih pulang ke kontrakannya.
" Iya " jawabnya dengan sedikit kesal dan menyunggingkan bibir atasnya.
Andi menyadari betul jika istrinya itu sedang memendam rasa kesal terhadapnya. Maka dari itu Andi lebih memilih untuk diam. Karna jika ia bertanya kenapa kepada istrinya, maka ia akan langsung di omelin habis-habisan oleh istrinya itu.
" Tahunya berapaan? " Tanya salah satu pembeli saat ia baru saja datang dan matanya menyapu bersih kearah tahu yang sudah di bungkus.
Marni langsung menunjukan senyum terbaiknya kepada pembeli tersebut. " Lima ribu perbungkusnya bu, isi sepuluh. " Jelasnya dengan ramah.
" Beli tiga "
" Iya "
Marni segera mengambil tiga bungkus berisi tahu tersebut,dan memasukannya kedalam kantong kresek berwarna putih. Lalu memberikannya kepada si pembeli tersebut.
San si pembeli mengeluarkan uang lima belas ribu rupiah. Menaruhnya dengan sedikit di lempar kearah Marni lalu mengambil kantong kresek tersebut dari tangan Marni kemudian berlenggang pergi.
Seketika wajah Marni berubah menjadi judes kembali saat si pembeli itu benar-benar tidak terlihat lagi. Ia segera mengambil uang tersebut dan menarunya dikantong celana.
" Mau batagor gak? " Tanya Andi sedikit merayu, berharap agar istrinya tidak bermuka judes seperti itu lagi.
Tapi Marni hanya duduk diam dan tidak menjawab pertanyaan suaminya itu, rasa kesal yang tumbuh di hatinya itu belum sirna. Apa lagi jika hanya di bujuk dengan batagor.
__ADS_1
" Aa pesenin dulu ya "
Andi segera pergi keluar pasar untuk meumesan satu porsi batagor.