SEATAP BERSAMA MERTUA

SEATAP BERSAMA MERTUA
Episode 8


__ADS_3

Marni terbangun dengan sedirinya, ia mengambil hanepone yang berada di sebelah bantal yang ia gunakan untuk sandaran kepalanya.


04.35


Matanya membulat lebar, memperjelas penglihatannya. Apakah benar dengan apa yang ia lihat itu?


Marni merasa heran, sudah jam segini tapi tidak ada suara ketukan pintu dari bapak mertuanya?


Apakah mereka masih tidur? Aah rasanya gak mungkin!


Marni segera bangun dan membuka pintu kamarnya. Ia melihat kedua mertuanya itu sedang duduk melamun dengan suguhan satu gelas kopi hitam. Tatapannya kosong, sepertinya mereka sedang mempunyai masalah yang cukup besar.


" A,andi sudah bangun blum neng? " Tanya pak tatang.


" Belum pak " jawab Marni singkat dan berlenggang pergi ke kamar mandi.


Marni mengetahui betul apa yang sedang di pikirkan oleh kedua mertuanya itu. Ia juga sebenarnya ikutan pusing dan gak tau harus bagai mana?


Tapi ia lebih memilih untuk tenang dalam keadaan seperti ini.


" A bangun " ucap Marni seraya menggoyangkan tubuh suaminya yang masih tertidur pulas. Saat marni sudah balik lagi kekamar.


" Heeeum " jawabnya dengan mata yang masih terpejam.


" A bangun. Sudah jam lima ini " marni menggoyangkan tubuh suaminya sedikit kencang, agar suaminya itu bisa terbangun.


" Masa sih jam lima " ucapnya pelan dan tidak percaya.


" Lihat sendiri jika tidak percaya "


Dengan malas Andi membangunkan tubuhnya dan mengucek-ngucek kedua matanya. Dengan sedikit melek ia mengambil benda berlayar datar yang berada di sebelah bantal. Ia mengecek waktu melalui benda tersebut.


Bola matanya membesar saat mengetahui bahwa yang diucapkan istrinya itu adalah benar.


' ko gak bangunin? " Tanya Andi enteng.


" Di bangunin dari tadi yaa, aanya saja yang gak denger " jawabnya sedikit kesal.


Andi segera bangkit da berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Marni segera merapikan tempat tidurnya.


" Mak. Gak kepasar? " Tanya Andi saat sudah keluar dari kamar mandi.


" Gak. Mau cari kontrakan baru buat pindah " jawabnya lesu.


.

__ADS_1


" Mau pindah saja? " Andi kembali bertanya seraya mengambil handuk yang menggantung di handel pintu kamarnya dan mengusapkannya ke seluruh wajahnya.


' kalo kita gak pindah, kita harus bayar empat juta empat ratus ribu ndi, si ngko tetap akan ngusir kita jika kita bayar sebulan dulu. Mending uangnya buat kontrakan yang baru saja "  jelas bu Esih panjang lebar.


" Emangnya jika kita pindah dari sini, kita gak perlu bayar kontrakan yang tiga bulan mak? "


" Ya. Enggak usah " timpalnya cepat.


Marni yang merasa sudah siap segera berlenggang keluar kamar dan segera membuka pintu utama lalu keluar dan Andi mengekor dari belakang.


Andi segera menyalakan mesin motornya dan marni segera duduk di jok motor bagian belakang lalu melaju pergi menuju pasar.


" A, jual saja hanepone Marni, buat nambahin kontrakan "


" Jangan. Udah kamu tenang saja biar aa yang mikir " Andi mengencangkan laju motornya agar cepat sampai ketujuan.


Sebenarnya Andi sudah mempunyai rencana untuk menemui temannya lagi yang bernama Budi jam delapan pagi nanti. Dan kebetulan hari ini adalah hari minggu.


Ia berfikir pasti temannya itu gak kerja dan ada di rumah.


Rupanya lelaki bertubuh tinggi itu masih berharap kepada temannya itu. Ia sangat yakin jika ia bertemu dengan temannya, maka temannya itu akan sudi membayar hutangnya walaw tidak semua.


***


Andi memarkirkan motornya di rumah berwarna hijau yang bersebelahan dengan rumah Budi temannya itu.


Andi mengulum senyum saat mendapati Budi sedang mencuci motor di depan rumahnya. Dengan semangat ia mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai.


" Andi " ucap Budi yang sedikit kaget dan menghentikan kegiatannya saat menyadari jika temannya itu menghampirinya.


Budi tidak menyangka jika Andi akan mendatanginya sepagi ini. Karna yang ia tahu, jika Andi pasti akan sibuk dipasar.


" Apa kabar bro. Malam gua kesini lu,nya gak mau keluar " sapa andi mengulum senyum tanpa basa-basi.


" Mungkin gua udah tidur, cape banget soalnya " jawabnya enteng tanpa merasa bersalah.


Andi hanya menunjukan senyum terbaiknya saat mendengar alasan yang diucapkan temannya itu. Jawabannya gobl*k.


" Gua. kesini mau nagih hak gua! Gua yakin lu gak lupa " Andi kembali memperjelas inti tujuannya. Biar paham.


" Kalau sekarang gua gak ada uang, nanti saja lima hari lagi lu kesini "


" Lu gajihan? "


Budi mengangguk.


" Ok. Tapi jika nanti gua kesini, dibukain pintu gak? Takutnya kaya tadi malam lagi, kan rugi bensin gua. " Ucapnya enteng dan sedikit meledek.

__ADS_1


" Kan gua bilang, tadi malam gua langsung tidur "


" Iya ah. Gua balik ya " Andi berlenggang pergi menghampiri motornya yang terparkir disebelah rumah temannya itu dengan senyum semangat.


Andi sangat berharap penuh kepada temannya itu.


*


*


*


hiburan dulu biar ketawa.


Jeng Eha dan Jeng Yeti.


"beli rinso satu jeng" ucap jeng Yeti yang baru saja datang ke warung milik jeng Eha.


"tumben beli Rinso? biasanya juga sabun colek" tanya jeng Eha sedikit menyunggingkan bibir atasnya.


"ini bukan buat baju jeng, tapi buat mandiin kucing saya! dia jatuh ke got. badannya kotor banget" jelas jeng Yeti panjang lebar.


"waduuuuh." (sedikit syok) "nanti kucingnya mati dong jeng. kalo di mandiin pake rinso" lanjut jeng Eha dengan raut wajah yang sama.


"udah ah, mana rinsonya jeng? nanti kucing saya kabur! gara-gara kelamaan nungguin saya"


hingga akhirnya jeng Eha memberikan satu bungkus Rinso kepada jeng Yeti.


dan jeng Yeti langsung gegas pergi saat sudah memberikan uang seribu rupiah kepada jeng Eha.


Esok harinya.


jeng Yeti datang lagi ke warung jeng Eha dengan tangisan mengharu pilu.


"gimana kucingnya jeng? masih hidup ataw sudah mati?" ucap jeng Eha tanpa basa-basi. walau sudah tau bisa menebak dengan expresi dari jeng Yeti.


"kucing saya mati jeng Eha. hikz hikz hikz" jawabnya dan tangisannya makin kencang.


"tuuuuh kan apa kata saya. jangan di mandiin pake rinso! matikan jadinya" ucapnya enteng percaya diri.


"kucing saya waktu di mandikan dia masih hidup ko jeng Eha."


"loh. terus, matinya kenapa?" tanya jeng Eha penasaran.


"saya peras"


🤦😒😒😒

__ADS_1


__ADS_2