
" tahunya berapa Mba? "
" Lima Ribu ibu " jawab Marni mengulum senyum.
" Loh! Disana harganya emoat ribu " ucap si ibu pembeli seraya menunjuk tangannya sembarang.
" Gak dapet bu. Jika disana empat ribu! Ibu beli saja disana jangan disini " timpal Marni cepat dan masih sedikit ramah mengulum senyum tipis.
" Disana sudah habis. Makanya saya kesini juga. Empat ribu ya? " ucap si Ibu pembeli yang kekeuh.
" Gak dapet Bu " jawab Marni yang mulai menjudeskan wajahnya.
" Jualan mahal amat. Pantes tahunya masih banyak "
Marni merasa kesal dan sudah tidak bisa di simpan lagi. " Jika tidak mampu membeli jangan bicara sembarangan Bu. " Lanjutnya sedikit kesal.
" Eeeeh di jaga ya mulutnya. Saya ini orang kaya! Pembeli itu adalah raja "
Marni langsung tertawa ngakak " ha ha ha. Oh ibu orang kaya ya.? Masa orang kaya beli tahu di tawar " ucap Marni yang tidak mau kalah dengan si ibu pembeli tersebut.
" Eeeh bibirnya gak bisa di jaga. Jika saya mau saya bisa membeli pasar ini. Kamu jangan macam-macam ya dengan saya " ucapnya dengan penuh kesombongan. Wajahnya meumerah padam.
Andi segera mencolek lengan Marni. Dan Marni reflex menoleh kearah Andi.
Andi langsung mengihsyaratkan melalui matanya supaya Marni jangan terpancing emosi.
__ADS_1
Marni mengheula nafas " ya sudah. Ibu beli saja pasarnya biar saya tidak berjualan lagi disini. "
" Awas ya jika saya sudah membeli pasar ini saya akan usir kamu " si ibu mengancam.
" Aminnn. Jika ibu membeli pasar ini! Maka saya akan berjualan di pasar lain " marni menyunggingkan bibir atasnya.
Ibu itu langsung pergi dari sana dengan wajah yang meumerah.
Marni merasa puas dengan tindakannya itu. Dan Andi suaminya hanya bisa diam karna pembeli yang rese seperti itu sudah tidak asing baginya.
" Dasar dajal. Orang kaya ko beli tahu di tawar " gerutu Marni yang memang masih merasa kesal dengan si ibu pembeli tadi.
" Sudah ah. Orang gila di ladebin. Aa pulang dulu ya. Nanti telepon jika para ****** sudah lewat "
" Iya " timpat Marni yang masih merasa kesal.
Begitulah jika pasar sedang sepi. Jangankan buat bayar ******! Buat jajan sendiri saja gak ada. Uangnya habis cuma buat bayar setoran tahu tempe dan yang lainnya.
***
" Mah ada simpenan gak? " Tanya Andi yang sedang menghitung uang hasil penjualannya di dalam kantong kresek berwarna merah.
" Gak ada " timpal Marni yang sedang rebahan di atas tikar plastik seraya melihat video tiktok.
" Ini setoran kurang. Jika kurang besok kita gak bisa jualan " ucap Andi menekan.
__ADS_1
" Kan tadi Aa gak bayar ******. Masa uangnya bisa kurang? " Marni membalik membelakangi Andi kesal.
" Kan kamu tau sendiri tahu masih sisa. Tadi juga sudah bayar kontrakan pasar sama parkir. Minjem dulu, besok di ganti "
Marni hanya diam membelakangi Andi. Video lucu yang ia tonton melalui haneponnya jadi terasa membosankan dan hengkel.
" Ya sudah. Besok berarti tidak jualan " ucap Andi menekan seraya memasukan uang tersebut kedalam keresek lalu ia ikut rebahan di samping Marni seraya mengeluarkan nafas kasar.
Marni merasa tidak memiliki pilihan lain. Dengan terpaksa Marnipun mengeluarka uang simpanannya yang ia taro di tas pribadinya tersebut.
Marni mengeluarkan semua uang tabungannya dan melempar pelan kearah tubuh Andi yang sedang terlentang itu.
" Awas jika tidak di ganti "
" Iya ah. Kalo tahu habis juga uangnya buat siapa lagi jika bukan buat bini " seraya mengambil uang tersebut dan menghitungnya.
" Cuma empat ratus? "
" Ya mau berapa? Adanya segitu. Itu juga aku kumpulin dari uang jajan yang kamu kasih. " Timpal marni kesal dan matanya berkaca-kaca hingga akhirnya air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
" Masih kurang dua ratus lagi " ucap Andi menggaruk-garuk kepalanya walau tidak merasa gatal.
Hal seperti ini kerap kali Marni alami. Uang hasil ia kumpulkan dari uang jajannya selalu di pake untuk membayar setoran yang kurang.
Marni selalu mengeluh dengan keadaan. Impiannya untuk memiliki rumah rasanya begitu sulit.
__ADS_1
Setiap hari harus di hadapkan dengan ******. Belum bayaran perbulannya kontrakan rumah, parkir di pasar dan kontrakan pasar.
Jangankan untuk memiliki rumah. Untuk pindah kontrakan biar tidak seatap dengan mertua saja sangat sulit.