
" mon gua minjeum duit dong, gope. Buat kontrakan " ucap Andi saat baru saja mendatangi jongko temannya tersebut. Dan menaruh masker di atas sawi putih yang ada di hadapannya.
" Gak ada! Sorry banget ya, gua juga lagi pusing jualan sepi. " Ucap Temon. Salah satu penjual sayuran yang lumayan akrab dengan Andi.
" Gua janji dalam tiga hari gua bayar " ucap Andi yang terus berusaha merayu agar Temon mau meminjaminya uang.
" Gua bukannya pelit Di. Tapi gua beneran lagi gak megang uang "
" Oh iya, makasih ya Mon "
" Ok. "
Andi segera berlenggang pergi dari jongko Temon menuju jongkonya. Tapi saat sampai di jongkonya Andi merasa ada yang ketinggalan di jongko temannya itu. Dengan segera Andi kembali melangkahkan kakinya menuju jongko temannya tersebut.
Langkah Andi terhenti di sebelah jongko temannya itu karna ia mendengar suara temon yang sedang mengobrol dengan temannya yang lain.
" Hahaha.. so-soan minjem duit gope di bayar dalam tiga hari, yang ada kagak di bayar-bayar. Hutang dia banyak "
" Dia juga minjeum duit ke gua, gua alesan saja kalo gua baru tranzfer ke mak di kampung "
" Males gua ngadepin orang oon kaya gitu "
" Ya sama, gua juga males. Kita harus jaga jarak sama dia, biar dia gak minjeum duit ke kita lagi "
Andi yang mendengar jelas percakapan mereka, segera memutar arah balik ke jongkonya dengan raut wajah yang sedikit kesal.
__ADS_1
Ia benar-benar tidak menyangka jika teman yang paling dekat dengannya akan melontarkan ucapan seperti itu.
Padahal dulu Temon adalah orang paling sering Andi bantu dalam hal apapun, tak jarang jika Temon meminjam uang padanya, ia selalu memberi pinjaman.
Kehidupan Temon dulu belum se,sukses sekarang, dulu ia hanya sebagai pekerja toko yang di gajih seratus ribu perhari. Kerja dari subuh sampai jam 10 malam. Dan tak jarang Andi selalu menelaktir temannya itu untuk makan di warteg.
Dan Andi juga memberi Temon pinjaman uang untuk modal usahanya berjualan di pasar. Dan dengan suka rela ia memberi pinjaman uang untuk temannya itu dengan menggadekan motornya.
Tapi kini. Saat dirinya berada di titik terendah teman yang ia anggap paling baik itu, ternyata adalah teman yang paling jahat. Andi benar-benar sangat tidak percaya jika Temon akan berbicara seperti itu di belakangnya.
Pesanan satu porsi batagorpun datang. Penjual itu menaruh satu piring berisi batagor di atas jongkonya.
" Monggo batagornya jadi " ucapnya dan berlenggang pergi.
Jongko Temon termasuk jongko yang selalu diminati pembeli ketibang jongko sayuran lainnya.
Setiap harinya jualannya selalu laris. Bahkan para pembeli sampai rela mengantri disana. Padahal masih banyak penjual sayuran lainnya. Tapi ntah pake ramuan apa sampai-sampai orang lebih baik mengantri agar bisa membeli sayuran di jongkonya.
Marnipun patuh,dan memakan batagor tersebut. Karna ia tau jika suaminya itu sedang pusing memikirkan uang kontrakan.
Sedangkan Andi hanya duduk diam diatas jongkonya. Ia merasa bingung harus mencari kemana buat setor kontrakan.
Dan iapun teringat sama salah satu temannya yang bernama Budi.
" Aa pergi dulu ya, kerumah temen "
__ADS_1
" Mau ngapain? " Tanya Marni.
" Ntar aa ceritain "
Andi segera berlenggang pergi meninggalkan Marni sendiri di pasar.
Ia segera mengendarai motor jadulnya itu dan melaju pergi.
Andi benar-benar berharap penuh kepada temannya itu.
" Assalamualaikum " sapa Andi setelah sampai di depan rumah yang dituju.
" Waalaikumsalam " jawab seorang perempuan yang baru saja keluar dari dalam rumah tersebut. Dan dia adalah istrinya Budi.
" Budinya ada? "
" A,Budi kerja mas. Pulangnya nanti jam 10malam. Ada apa ya? "
" Ada perlu sama Budi. Ya udah! Nanti malam saja saya kesini ya. Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab perempuan itu yang terus memperhatikan Andi. Dan kembali masuk kedalam rumah saat laki-laki yang baru saja datang kerumahnya benar-benar menghilang dari pandangannya.
Senyum tipis terpancar dari wajah Andi. Ia benar-benar yakin jika temannya itu akan memberikan sejumlah uang kepadanya.
" Semoga saja dia ingat, jika dulu dia pernah minjam uang sebanyak dua juta "
__ADS_1