
~Karena Pada Dasarnya Bintang Tak Pernah Meninggalkan Langit Malam, Walaupun Langit Malam Jatuh Cinta Pada Bulan~
Waktunya tiba. Eghan harus berangkat lebih dulu dibanding Aira. Karena pendaftaran di Kanada jauh lebih cepat. Eghan pun sudah siap dengan koper-koper yang ia bawa. " 15 menit lagi. Tapi tu anak nakal belum sampe juga di bandara " gumam Eghan seraya melirik jam tangan miliknya.
Aira dari dulu memang suka mengulur-ulur waktu. Baginya 10 menit ke bandara pun bisa ia lakukan. Tapi sepertinya nasib baik tak menghampirinya. Ban mobil yang ia kendarai bocor di perempatan jalan menuju bandara. " Ah shit! padahal bentar lagi nyampe. Malah pake acara bocor segala lagi argh " gerutunya kesal. Jalanan di sekitar sana cukup ramai, namun yang jadi masalahnya adalah bengkel dengan jarak 20 km lagi dari tempatnya. " Yaelah! gimana nih, jauh banget lagi bengkelnya " gumamnya sambil menendang ban mobil.
Aira benar-benar kesal. Dia tak tahu harus berbuat apa di tempat seperti ini. Tiba-tiba inisiatif itu datang ke kepalanya. " Telpon mang Udin. Dia kan tinggal di Jakarta " ujarnya cepat. 6 menit, mang Udin pun datang ke tempat Aira. " Eh neng, kok di Jakarta? sendirian? " tanyanya heran. " Mau ke bandara mang, Eghan mau berangkat ke Kanada "
Di arah kiri tampak beberapa tukang ojek sedang berkumpul. " Mang, Aira naik ojek aja ya. Tolong mobil Aira ya mang " sambar Aira seraya berlari. " Oh iya siap neng "
" Ojek! " teriak Aira dari arah seberang. Aira benar-benar panik, ia takut Eghan sudah pergi. Sesekali ia melirik kearah jam tangan miliknya. Dalam hati Semoga Lo masih mau nungguin gue Ghan
5 menit lagi pesawat yang Eghan tumpangi akan lepas landas. " Eghan, cepat sana naik. Bentar lagi pesawatnya mau berangkat " ujar Shintya memperingati Eghan. " Bentar lagi ma " sambar Eghan melirik jam tangannya.
" Nungguin apa sih? "
Eghan tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Shintya. Ia lebih fokus dengan hp yang ada ditangannya. Sudah beberapa kali ia menelpon Aira, tapi tak diangkat-angkat. Mungkin hampir 10 kali Eghan menelpon, hanya berdering tapi tak ada jawaban. Eghan khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan Aira.
Departure with a destination for Canada, will take off in a matter of 30. Please enter the plane that you are riding
" Duh Eghan udah ada peringatan tuh. Cepetan sana naik " ucap Shintya panik.
" Eghan, masuk cepat nanti ketinggalan pesawat. Kamu nungguin apa sih? " tegas Adi Wijaya Mahendra, papa Eghan.
__ADS_1
Akhirnya Eghan pasrah dan mulai berjalan ke arah pesawat. Awas Lo ya Ra! batin Eghan kesal. Baru 3 langkah berjalan, langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari arah belakang. Dia kenal suara teriakan ini. Dengan cepat Eghan langsung membalikkan badannya kebelakang.
" Eghannnnnnn! tunggu gue Ghan " teriak Aira seraya berlari.
" Aira " gumam Eghan tersenyum kecil.
Aira sampai didepan Eghan dengan napas yang tersengal-sengal. Hampir saja Eghan tak bisa bertemu dengan Aira lagi. " Haaaaa! gue kira Lo udah berangkat tadi " ujar Aira memukul dada Eghan keras. Dan harus diingat, di sana juga ada Shintya dan Adi yang sedang menahan tawa melihat tingkah laku Aira. Mereka sangat mengenal Aira, maka tak heran jika anaknya rela menunggu Aira datang.
" Ohhh, jadi ini yang ditunggu-tunggu dari tadi. Pantasan gak mau naik " sindir Shintya seraya memainkan matanya. Eghan langsung melototi Shintya tajam dan memberi kode agar ia menutup mulut.
" Ha apa tante? Eghan nungguin Aira? " tanya Aira menatap Shintya. Belum ada jawaban dari Shintya, Eghan menarik kedua bahu Aira. " Lo harus jaga diri baik-baik Ra, gue lama di sana. Kalo Lo udah mau berangkat ke Inggris, jangan lupa kabarin gue. Inget kabarin! " tegas Eghan.
Aira memberi hormat kepada Eghan sambil tersenyum lebar. " Asiyap bossku " sahut Aira. Sudah terdengar suara pemberitahuan keberangkatan, saatnya Eghan pamit kepada semua orang. " Ma, pa. Eghan berangkat. Ra gue duluan " ucap Eghan berlari. Terpancar kesedihan di wajah Aira, matanya berlinang. Sekuat apapun Aira menahannya, akhirnya air mata itu jatuh juga. Belum pernah Aira merasakan kesedihan yang begitu mendalam seperti ini.
" Tunggu sebentar " teriak Eghan pada salah satu maskapai penerbangan yang akan menutup pintu pesawat.
Eghan menghela napas kasar, ketika sudah menduduki kursi pesawat. Ia memilih duduk didekat jendela, agar bisa melihat Aira dari dalam. Entahlah kursi disebelah Eghan kosong saat ini. Mungkin memang tak ada yang menempatinya atau orang itu terlambat.
" Permisi " ucap wanita cantik pada Eghan. Eghan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, sebagai sahutan dari ucapan wanita itu. Suara bising dari mesin pesawat mulai terdengar, menandakan bahwa pesawat akan lepas landas.
Eghan melihat Aira dari dalam jendela yang sedang melambai padanya. Aira berlari mengikuti pesawat itu bergerak. Beberapa kali Eghan memperingati, agar Aira jangan berlari. Tapi Aira tak mau dengar, hingga akhirnya ia jatuh tersungkur. " Airaa " teriak Eghan pelan ketika melihat Aira terjatuh.
Kini pesawat sudah berada di udara. Tak memungkinkan untuk Eghan keluar lagi membantu Aira berdiri. Ia kesal melihat Aira yang tadi terjatuh karena mengejar pesawat yang ia tumpangi.
__ADS_1
" Ke Kanada juga? " tanya wanita yang berada disebelah Eghan. Sontak pertanyaan wanita itu membuat Eghan menoleh ke arahnya. " Hmm " singkat Eghan, lalu mulai memasangkan earphone ke telinganya.
" Di sana kuliah? " tanya wanita itu lagi. Walaupun Eghan sedang mendengarkan musik, tapi ia tetap mendengar suara wanita itu. " Iya " sahutnya cepat.
" Kuliah dimana? " kali ini wanita itu menanya lebih detail. " Di University Toronto, Canada. Jurusan seni dan musik " sahut Eghan detail.
Wanita itu diam sejenak sambil tersenyum. Sedangkan Eghan, dia sibuk mendengarkan musik. Musik yang Eghan dengarkan benar-benar membuatnya mengantuk. " Kenalin, gue Ralin. Kuliah dan jurusan yang sama dengan Lo " ucapnya sambil menyodorkan tangannya pada Eghan. Ucapan Ralin membuat Eghan terbangun dari tidurnya.
" Gue Eghan Mahendra. Bisa dipanggil Eghan " sahut Eghan membalas jabat tangan Ralin. Ralin tersenyum lebar ketika Eghan membalas jabat tangannya. Wanita cantik nan manis itu benar-benar menghipnotis semua pria yang melihatnya.
Begitu pula dengan Eghan. Penampilannya yang tampan dan sederhana, membuat para wanita ingin sekali mengenalnya. Eghan memang dingin, dan terlihat bodo amat. Tapi dibalik itu semua Eghan adalah tipe yang benar-benar perduli kepada orang terdekatnya.
Tak terasa sepanjang mereka mengobrol, pesawat pun telah sampai di bandara Kanada. Eghan pun langsung menuruni semua barang-barang nya dan keluar lebih duluan dibanding Ralin. " Gue duluan " singkat Eghan.
Ralin yang tahu ditinggal oleh Eghan, ia berlari mengejar dan meneriaki Eghan. " Eh tunggu! " teriak Ralin berlari mengejar Eghan. Sontak Eghan melirik kearah Ralin yang sekarang sudah berada disampingnya. " Boleh minta no hp? " tanya Ralin yang sudah menyodorkan hpnya.
Sebenarnya Eghan malas memberikan no nya. Hanya saja, sekarang Ralin satu jurusan dan satu tempat perkuliahan dengannya. " Iya, boleh " sahutnya sedikit lama. " Nih, gue duluan " ucap Eghan lalu melintas pergi dari hadapan Ralin. " Hati-hati, nanti gue telpon ya! " teriak Ralin kepada Eghan.
Terlihat jelas, bahwa Ralin sedang menahan senyum kasmaran nya. Sepertinya dia sudah jatuh cinta dengan Eghan di Kanada, tempat ia bersekolah.
__ADS_1
To be Continued โจ
Mau lanjut? bayar dong haha. Gampang, bayarnya cuma pake like, komen, vote yang banyak, sama rate 5 ๐. Mudah dan murah kan? ya iyalah, makanya ayoooooo! ๐งก