Secret Hubby

Secret Hubby
Stories In Kanada 2


__ADS_3

~Aku Ingin Mencintaimu Sesederhana Mungkin. Dengan Kata Yang Tak Sempat Diucapkan Kayu Kepada Api Yang Menjadikannya Abu~


Dengan membawa dua koper, yang kini sedang ia tenteng ditangan kiri dan kanannya. Eghan berjalan ditengah-tengah kerumunan orang-orang Canada. Kedatangan Eghan di sambut baik oleh semilir angin dan mentari yang bersinar terang.


Drttt...Drttt


Satu pesan muncul di layar hp Eghan. Pesan yang sedang ia tunggu-tunggu. Udah sampe belum Ghan? Pesan dari Aira saat ini benar-benar membuat Eghan senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Aira selalu bisa membuat Eghan tersenyum, walau tak ada alasan untuknya tersenyum. Sekarang jarak antara Eghan dan Aira terasa sekali. Bak tembok besar yang membatasi mereka. Di sana malam dan disini pagi. Begitulah seterusnya. Semua sangat berbeda. Mereka sadar, diusia muda ini mereka harus memanfaatkannya untuk masa depan.


Baru sehari tanpa Aira. Rasanya Eghan sudah sangat rindu dengan kelakuan Aira yang aneh-aneh itu. Bagi Eghan menahan perasaan selama lebih dari 10 tahun bukanlah hal mudah. Kadang kala Eghan ingin sekali mengutarakan isi hatinya. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut akan merusak persahabatan yang sudah mereka jalin lama itu. Kalau dinilai, Eghan bisa mendapatkan nilai 100 sebagai pemain drama terhebat. Dia mampu menyimpan semuanya seakan tak pernah mencintai sahabatnya sendiri.


Memang terbilang tak pantas. Secara Eghan tahu betul ciri lelaki idaman Aira. Dan Eghan jauh dari kata idaman itu.


Kring...kring


Ponsel Eghan tiba-tiba berdering keras. Nomor tak dikenal menelponnya siang ini. Eghan menyerit, siapa yang menelponnya? Apa Aira dengan nomor baru? atau?


" Hallo? "


" Um, hallo. Hai Eghan " ucap seorang di balik ponsel itu.


" Ya, siapa? "


" Ini gue Ralin "


Eghan diam sejenak. Mengingat-ingat kembali dengan nama Ralin.


" Ah iya gue inget. Ada apa? "


" Em gak ada sih cuma mau nelpon aja. Oh iya, save no gue ya. Sampai ketemu di kampus Ghan "


*****


Today, 08.30 in Canada waktu setempat.


Eghan menelusuri tiap pojok-pojok kampus seraya memotret pemandangan yang memanjakan mata. Dari arah kiri terdengar irama piano dengan tempo lambat, membuat Eghan penasaran dan segera menuju ruangan besar itu. Beberapa kali Eghan memotret seorang wanita yang sedang menikmati musik piano. Wanita itu terlihat tak asing di matanya. Setelah wanita itu selesai memainkan piano, mata mereka beradu tatap tanpa sengaja. Wanita itu begitu cantik dan anggun dengan rambut panjang nya.


__ADS_1


Garis di bibirnya tertarik lebar saat menatapnya. Eghan hanya mematung menatap wanita itu. Matanya menatap penuh makna.


" Ketemu lagi deh " ucap wanita itu dengan senyum manisnya.


Yah! dia adalah Vanya. Mantan kekasih Eghan. Kekasih yang pernah mengisi hati lelaki dingin itu. Vanya bersinggah selama 2 tahun di hati Eghan. Entah apa alasan Vanya meninggalkan Eghan saat itu. Tiap kali bertemu Vanya, seketika Eghan menjadi bodoh dan sama sekali tak bersuara. Ia memilih diam dan mematung.


" Apa kabar? lama gak ketemu. " tanya Vanya pada Eghan.


" Em baik. " singkatnya memalingkan wajah.


" Aira? gimana kabarnya? "


Pertanyaan Vanya kali ini membuat Eghan mengepal kuat. Ia tak suka Vanya bertanya tentang Aira. Entahlah ia hanya tak suka.


" Apa, kau masih nyimpannya sendiri? "


Deg!


Mata Eghan membulat. Ia sedikit kesulitan menelan air liurnya. Suasana berubah menjadi sunyi. Ia tak pernah menduga bisa bertemu dengan Vanya di tempat seperti ini.


" Gue duluan " singkat Eghan berjalan menjauhi Vanya.


Ya! Aira benar, Eghan egois. Ia tak pernah mau mendengar perkataannya. Setiap kali bertemu Vanya, Eghan menjadi pecundang, tak berguna, dan bad.


Flashback


" Eghan " panggil Vanya tiba-tiba.


Eghan kaget bukan main ketika Vanya yang datang dengan keadaan basah kuyup.


" Lo ngapain kesini hah! gue kan udah pernah bilang jangan muncul dihadapan gue sama Eghan Lo paham gak sih!! " bentak Aira keras.


" A...Aira gue, gue cuma— "


" Pake jaket gue " sambung Eghan seraya memakaikan Vanya jaket.


" Lo. Lo kenapa sih Ghan! Lo kenapa tiba-tiba jadi pecundang gini hah! ke..kenapa gara-gara dia Lo jadi lembek gini? kenapa Ghan? kenapa!! " teriak Aira memukuli Eghan.

__ADS_1


Eghan terdiam. Lalu menarik tangan Vanya menjauh dari Aira.


" Woi bang*at! " pekik Aira dari jauh.


Prakk!


Satu tamparan keras tepat melayang ke pipi Vanya. Emosi Aira tak terbendung lagi. Matanya berlinang, napasnya sedikit sesak. " Gu..gue mohon sama Lo Van. Tolong Lo jauhin Eghan. Dia tu cowok ****! dia tu lemah. Lo jangan sentuh hati dia lagi. Gue mohon Van. Apa gue perlu berlutut? " Ucap Aira dengan isak nya.


" Aira cukup " bantah Eghan pelan.


" Apaan sih Lo Ghan! Lo mau di jadiin pelampiasan dia ha! Lo tuh cuma di cari kalo dia butuh aja Ghan! dia tuh cuma pinjem pundak Lo pas dia terpuruk kayak gini. Lo harus sadar Ghan! "


" Aira dia juga temen kita. Gue gak mungkin pilih kasih dalam berteman. Gue— "


" Hah? temen? pas dia ninggalin Lo tanpa alasan pun gue udah gak anggap dia temen Ghan. Gue gak butuh temen kek dia. Lo gak boleh jatuh cinta sama temen lagi Ghan, apalagi sama gue "


*****


Itulah sebab Eghan tak pernah mengutarakan perasaannya pada Aira. Sejak dulu, sebenarnya Eghan tak pernah mencintai Vanya. Tapi Vanya lah yang mencintainya. Vanya tahu bahwa Eghan memendam perasaannya kepada Aira. Karena Vanya selalu menyiksa diri sendiri, Eghan lah yang menjadi pelampiasan rasa sakitnya.


Eghan, Aira dan Vanya hanyalah sahabat kecil yang menggemaskan. Aira dan Eghan lebih dulu menjadi teman dibanding Vanya. Ketika Vanya berusia 11 tahun, mereka baru memulai persahabatan. Sedang Aira dan Eghan, mereka berteman ketika berusia 4 tahun.


Andai saja dulu Eghan tak pernah menjalin hubungan dengan Vanya. Mungkin persahabatan mereka akan tetap baik-baik saja. Makin diingat, semakin membuat Eghan kesal. Lupakan!


Drttt....


" Woi Psycophat! gue udah di Inggris "


Mata Eghan berbinar. Pesan singkat dari Aira membuatnya berlari menuju bandara. Hatinya senang bukan main. Sekarang ia tak merasa jauh dari Aira.


" Lo gak usah kesini. Nanti aja kalo gue butuh wkwkwk. "


Langkahnya terhenti saat Aira mengiriminya pesan lagi. Senyum diwajahnya tak bisa hilang. Sebenarnya ia bermaksud untuk pergi ke Inggris, namun Aira melarang karena ia tahu Eghan harus banyak berlatih di Kanada.


*****


To be Continued ✨

__ADS_1


Mianhe jarang up. Tapi Insyaallah bakal sering up walaupun seminggu cuma 2 kali hehe :)


Jangan lupa like komen vote and rate 5 🌟 🥀


__ADS_2