Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 5


__ADS_3

Hari ini di mansion Vellyruk sangat sibuk, para pelayan mempersiapkan kamar tamu-tamu yang akan datang dua hari lagi. Butuh satu minggu lebih untuk mempersiapkan pesta perburuan. Tentu saja kamar tidur Tia dikosongkan terlebih dahulu, dan alhasil Tia dipindahkan sementara di istana Aqashia. Dirinya akan sering bertemu Adeis dan Violet disana.


Mansion Vellyruk selain menjadi tempat tinggal Duchess, disana sudah disiapkan puluhan kamar tamu, jaga-jaga jika ada pesta ataupun perayaan besar yang diadakan di wilayah Willberia. Kamar tamu itu tentunya dibersihkan oleh para pelayan disana, jadi tidak berdebu dan tetap bersih.


Di Novel asli, yang Tia ingat. Rose akan tetap mencoba melihat Adeis dari kejauhan, disaat pesta ataupun perayaan besar yang berlangsung. Bisa jadi, Rose tiba-tiba akan datang disaat-saat seperti ini, Tia hanya perlu mempersiapkan diri.


“Apa anda mempunyai teman?”


“Oh, di ---sini?” Tia terkejut ketika Violet menanyainya.


Saat ini, Adeis, Violet, dan Tia sedang makan malam di ruang makan istana Aqashia. Entah kenapa, Violet tiba-tiba mengajaknya untuk makan bersama dengan Adeis. Padahal, Tia tidak mau, dan ingin membiarkan mereka berdua saja, karena mungkin mereka teman yang saling peduli satu sama lain.


“Tidak, saya belum punya teman,” ucap Tia kalem.


“Sebaiknya anda sering-sering ikut pesta teh di hari sabtu, pesta nya diadakan di cafe Rilley, di persimpangan pusat kota Adelin. Tapi, saya bisa mengajak nona-nona bangsawan untuk meminum teh di taman Aqashia,” Violet tersenyum ceria.


“Baiklah, saya senang dengan tawaran anda,” Tia ikut tersenyum polos, dia harus tetap berakting di tempat seperti ini.


“Violet, kau banyak bicara ya,” Adeis menyahut tiba-tiba.


“Eyyy, kamu ini... kita kan sudah terbiasa dengan hal seperti itu,”


Tia melirik Adeis perlahan, pria itu sibuk memotong daging yang akan ia makan.


“Kak Fiona dan Sepupumu akan datang kesini, saat pesta perburuan,” Violet berbicara lagi. Tia benar-benar merasa terasingkan diantara mereka.


Tia kembali menyimak apa yang mereka bicarakan, mengenai kakak Adeis. Adeis memang memiliki seorang kakak perempuan, bernama Fiona de Willberia. Saat orang tua mereka di bunuh, Fiona saat itu sedang menetap di sekolah akademi. Dan dia sangat jarang pulang, Fiona juga ikut ke medan perang saat kekaisaran Vantulla berperang dengan kerajaan Termion saat umur Fiona masih delapan belas tahun. Fiona dan Adeis hanya selisih dua tahun, hebatnya lagi setelah kedua orang tua mereka dibunuh, Fiona menjadi kepala keluarga sementara. Dan berhasil membuat Adeis menjadi Duke yang sempurna, walaupun dia masih tidak bisa mengisi kekosongan hati Adeis. Tapi, pria itu menyayangi kakaknya.


Sedangkan, sepupu yang Violet maksud. Tia masih belum mengetahuinya.


“Aku sudah selesai makan... aku duluan,” Adeis berdiri dari tempat duduknya.


Tia hanya bisa menghela napas dengan panjang ketika suaminya memang bertindak sedingin itu. Malam itu, mereka menghabiskan makan sembari berbincang-bincang kecil, Violet yang senantiasa menceritakan bahwa dirinya dulu suka menjahili Adeis, dan Adeis akan marah kepadanya. Tia hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya ketika dia mendengar ocehan Violet.


Setelah beberapa hari mereka makan bersama, kini para tamu bangsawan sibuk memadati aula mansion Vellyruk. Para pelayan sibuk menyapa mereka di gerbang kediaman Willberia. Tia sendiri hanya bisa menyaksikan tamu-tamu itu datang dan tertawa bersama pasangan mereka masing-masing.


Sebelumnya juga, Aria menyarankan Tia untuk menyulam sapu tangan, nantinya sapu tangan itu akan ia berikan kepada Adeis. Tia berpikir, sepertinya pria itu tidak akan menerima sapu tangannya. Lagi pula, Tia tidak bisa menyulam. Tapi, karena Aria terus memaksanya untuk membuat sapu tangan itu, alhasil Tia belajar cara menyulam selama empat hari dari Aria.


“Apa kamu pikir dia mau menerimanya?” Aria menatap sapu tangan yang digenggamnya, dia membuat dua. Satu sapu tangan itu akan ia berikan kepada Rudell.


“Saya yakin, tuan Duke akan menerimanya. Lagi pula anda menyulam dengan lumayan baik, empat hari anda untuk belajar menyulam sangat tidak sia-sia,” jawab Aria yang berdiri disamping Tia.

__ADS_1


Tia melirik kearah sapu tangan yang ia genggam, dia menyulam bunga matahari disana. Hanya pola itu saja yang bisa ia buat. “Aku dengar, Duke tidak pernah menerima sapu tangan orang lain,”


“Iya, saya juga mendengarnya dari teman saya. Duke tidak suka pemberian seperti itu,”


“Kalau gitu, aku mau kasih Rudell saja,” gumam Tia.


...***...


Suasana sangat ramai sekali di depan istana Aqashia, jantung Tia sangat berdebar-debar semalaman saat mengetahui pesta perburuan akan dilakukan besok. Tia memakai gaun yang sederhana, atas sarannya sendiri kepada Aria. Aria saat ini sedang tidak bersama Tia, karena dia harus sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Sampai saat ini, Tia hanya berdiri diantara para tamu-tamu, tidak ada yang menyadarinya kalau dia seorang Duchess. Dia juga belum melihat wajah Adeis sedari pagi. Ketika Tia melihat Violet dari kejauhan, yang sedang duduk disalah satu meja, Tia pun langsung pergi kesana.


“Halo, nona Violet,” ucap Tia setelah dirinya sampai di meja itu.


Violet menoleh kearahnya, “Oh halo!”


Para perempuan yang mengenal Violet terkejut dengan kehadiran Tia. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang wajahnya baru mereka lihat. “Kenalin para nona-nona. Dia adalah Duchess Willberia, Nyonya Tia,” ucap Violet dengan santai.


“A ---anda sekalian tidak perlu memanggil saya nyonya, panggil saya dengan nama saja,” Tia kikuk mendengarnya.


“Pft!” salah satu dari mereka menahan tawa, dia menyembunyikan mulutnya menggunakan kipas. Apa dia mengejek Tia hanya karena dirinya belum paham etiket?


“Salam Duchess, semoga matahari selalu memberkati anda. Saya Harnes Juliet, putri dari Marquess Juliet,”


Wah, mereka dari bangsawan tingkat tinggi.


“Sa -saya Attiya, panggil saya Tia saja,”


“Apa anda tidak mempunyai marga, sebelum menikah dengan tuan Duke?” tanya lagi dari salah satu diantara mereka.


Sebelum Tia menjawab, Violet dengan cepat memotongnya, “Duchess dari keluarga Baron Antrody. Mungkin beliau tidak mau menyebutkan nama belakangnya, karena bisa saja merasa tidak nyaman,”


“Hah?” batin Tia. Sekilas melirik kearah Violet. “Aku memang gak punya marga, karena aku anak haram, apa dia belum tau?”


“Loh, dari Baron?” mereka berbisik-bisik satu sama lain. Wah, Tia tidak nyaman dengan hal seperti ini, itu menyakitkan.


“Iya... Violet benar,” jawab Tia.


Suara lonceng terdengar beberapa kali, menandakan para wanita harus bersiap melepaskan pria mereka untuk berburu. Tempat biasanya mereka berburu adalah hutan Aqashia, hutan yang terkenal dengan hewan-hewan ajaibnya, serta hewan-hewan langka pun ada disana. Saat Tia sibuk menatap kearah orang yang mulai berkerumun, orang-orang lain malah sibuk menatapnya sembari berbisik-bisik, Violet serta nona-nona bangsawan lain melirik kebelakang Tia.


“Adeis?” ucap Violet, membuat Tia menolehkan kepalanya kebelakang.


Tia terkejut, tapi untung saja dia tidak terhuyung karena kehilangan keseimbangannya. Adeis menatapnya dengan datar, Tia tidak mengerti kenapa pria itu mendatanginya.

__ADS_1


Adeis mengulurkan tangannya kedepan Tia, “Kau tidak memberiku sapu tangan?”


“Ha -hah?!” jawab Tia.


“Kenapa kau terkejut, bukannya wajar aku meminta sapu tangan dari seorang istri?”


Bla!


Bla!


Bla!


Suasana benar-benar semakin ramai, mereka bingung dengan sikap Duke yang meminta sulaman sapu tangan kepada seseorang. Bukannya, Duke tidak suka menerima sapu tangan dari orang lain? bahkan, Violet, yang notabene nya adalah teman kecilnya pun ditolak.


“Adeis, bukannya kamu selalu meno ---” Violet merasakan gejolak panas didalam hatinya, namun perkataannya dipotong.


“Aku kecualikan untuk istriku,”


“Kenapa?” tanya Violet lagi.


“...” Adeis melirik kearah Tia, dia tidak mendengarkan Violet, “Kau membawanya?”


“Oh... i ---iya, saya membawanya untuk anda, suamiku!” Tia tersenyum lebar, dia menampilkan wajah cantiknya di hadapan Adeis. Padahal dia berencana untuk memberikannya kepada Rudell, tapi dia tidak menyangka kalau Adeis yang memintanya terlebih dahulu. Dan, Tia hanya membawa satu sapu tangan. Kalau begitu, Tia simpan lagi satunya untuk diberikan kepada Rudell di hari berikutnya.


Nona-nona bangsawan melirik kearah Violet yang sedikit kesal karena perilaku mereka berdua. Walaupun Violet bukan lagi tunangan Adeis, Violet masih menyukai Adeis. “No -nona Violet, ayo kita pergi melihat para pria di sana, sebentar lagi akan dimulai,” ucap salah satu dari mereka yang duduk tidak jauh dari Violet.


Violet menoleh, dia langsung mengubah ekspresi wajahnya, “Wah iya... baguslah, ayo.”


Adeis menerima sapu tangan dari Tia, dia melihat sulaman bunga matahari disana, “Kenapa tidak sulam lambang keluarga saja?”


“Itu... sangat susah sekali, saya cuma punya waktu tiga hari untuk mempelajarinya, dan bunga matahari adalah yang paling mudah,” Tia mengoceh panjang lebar, Adeis tidak semenjengkelkan saat pertemuan pertama mereka di lorong mansion Vellyruk saat itu.


Adeis mengangguk kecil, dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Tia. Sapu tangan yang tadi ia genggam, ia letakkan di sakunya. Tia sedikit senang karena pria itu mau menerima sulamannya. Tia ikut berkumpul dengan nona-nona bangsawan yang lain, mereka akhirnya memperlakukan Tia dengan sangat hormat, ketika tahu kalau dirinya adalah seorang Duchess.


“Semoga saja suamiku selamat, aku tidak mengharapkan dia membunuh monster tingkat tinggi, jika dia menangkap harimau atau beruang pun tidak apa-apa,” ucap salah satu seseorang.


“Benar sekali,”


Tia mendengarkan mereka dengan seksama, Aria sudah menjelaskan peraturan dari pesta berburu ini kepada Tia sebelumnya. Di hutan Aqashia, terdapat tingkatan tiga monster, monster tingkat rendah, monster tingkat sedang, dan monster tingkat tinggi. Monster langka di tingkatan tinggi antara lain Kromax, sejenis black panther, namun ukuran tubuhnya sangat besar sekali. Di tubuh Kromax, terdapat artefak suci yang nantinya akan diteliti oleh ilmuan manfaatnya. Biasanya para pria akan mendedikasikan hasil buruan mereka untuk wanitanya. Yah, Tia tidak mengharapkan Adeis untuk membawakan sesuatu, jika Adeis pulang dengan tangan kosong pun tidak apa-apa.


Asalkan suaminya itu bisa pulang dengan selamat. Tia pun senang.

__ADS_1


__ADS_2