Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 12


__ADS_3

“Kenapa kau bersikeras bersikap seperti itu?”


Tia mematung sebentar, ia masih mengusap darahnya yang mulai mengering dibagian filtrum, alisnya mengerut. “Saya memang seperti ini, tidak ada yang berubah,”


“Orang-orang bergosip tentangmu, apa kau hanya akan diam saja?” Adeis melipat kedua tangannya, menatap dengan penuh keheranan perempuan yang berada di hadapannya sekarang ini. Dia sedikit kesal akan jawaban Tia, “Putri angkat Baron Antrody yang terkenal kejam dan pemaki itu, bukannya kau orang yang seperti itu?”


Tia menyunggingkan senyumnya, “Ternyata itu ya, kesan pertama anda,”


“...”


Tok... tok... tok....


“Nona Duchess?”


Tia menolehkan kepalanya secara tiba-tiba, mendapati seorang pelayan yang tengah membuka pintu kamar secara perlahan, “Nona kedatangan ayah anda.”


“Ayah?” gumam Tia. Ia menatap kearah Adeis lagi sebentar, dan beranjak pergi keluar tanpa berpamitan, disusul oleh pelayan yang baru saja memberinya kabar soal ayahnya yang datang ke kediaman Willberia.


Sedangkan Adeis merasakan kepalanya berdenyut-denyut, ia bahkan belum sempat menanyakan bagaimana proses pertemuan Tia dengan tuan putri kerajaan. Kepalanya terus-menerus berputar akan pembicaraan orang-orang mengenai Nona Duchess yang sangat terkenal itu. Adeis melirik ke hadiah yang diletakkan oleh Tia diatas nakas, perlahan mulai pasti, tangannya beralih membuka kotak tersebut.


...***...


“Ayah?”


“Tia... putriku, apa kabarmu?”


Tia mengernyitkan dahinya, melihat ayah angkatnya itu tengah berdiri di lobi utama istana Aqashia. “Apa yang ayah lakukan disini?” Tia memasukkan sapu tangan milik Adeis ke saku gaunnya.


Baron tersenyum dengan ceria, tentu saja itu hanyalah sebuah topeng. Topeng yang menutupi citranya, padahal semua pelayan dan para ksatria akan menggunjing tentang dirinya. “Ayah dikabari oleh Rose, bahwa pesta dansa akan diadakan selama tiga hari lagi. Kamu tahu, kalau ayah ini seorang Baron,”


“Bicaranya mendadak formal, aku tahu pasti ini akan mengarah kepada apa,” batin Tia, dia menghela napas dengan panjang. Tidak ada siapa-siapa yang lalu lalang disana, hanya mereka berdua.

__ADS_1


“Bolehkah Ayah meminjam uangmu? kau tahu, kau sekarang menjadi Duchess berkatku, kalau bukan karena aku, kau selamanya akan menjadi budakku di sana. Ayah sama sekali tidak mempunyai pakaian baru untuk menghadiri pesta dansa itu... dan juga, ibumu?”


“Ibu?” Tia menyipitkan kedua matanya.


“Selama ini dia sakit, setelah kepergianmu, kami sedikit kekurangan disana,”


Tia tertawa kecil, rasanya ingin sekali dia berteriak sekencang-kencangnya di hadapan wajah orang yang sudah merusak kebahagiannya. “Dia bukan ibuku, dia itu istrimu. Dan kau itu suaminya, seharusnya kau sebagai suami, harus kerja dan jangan berjudi saja. Apa kau tidak tahu, aku sudah tahu kebusukanmu selama ini, kau suka bermain wanita, bahkan gosipmu disini ---”


“Sialan!”


PLAK!


Tia merasakan pipinya mulai memanas, kepalanya tiba-tiba mendadak pusing. Sesak rasanya merasakan perilaku seperti ini secara berulang, keluarga sampah, bahkan pelayan-pelayan yang diam-diam membuat gosip aneh tentang dirinya. Suami yang masih belum mau membuat kepercayaan penuh padanya. Jantungnya berdebar-debar, andaikan Adeis melihat kejadian ini, andaikan Adeis bisa menyelamatkannya dari kejadian ini.


“Bahkan seorang binatang pun pantas melecehkanmu, kau sama seperti ibumu yang pelacur itu!” Baron memelotot tajam kearah Tia, perempuan itu bahkan bisa melihat urat-urat di pelipisnya.


“Sebaiknya kau pergi dari sini, bawa anakmu. Jangan pernah mengusik kehidupanku,” Tia berkata demikian, ia mengusap pelan pipinya yang mulai membekas. Kedua matanya menahan tangis, ia tidak dapat lagi membendungnya.


“Aku menyesal mempunyai anak sepertimu. Tidak, aku bahkan bangga, kalau kau bukan anakku, sial!” Baron menahan amukannya, ia mulai membalikkan tubuhnya, “Kau... kau anak tidak tahu diuntung!”


Sejak beberapa menit yang lalu, hatinya memang sudah dipenuhi rasa kabut. Tapi, ia sedikit lega, ia bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin ia ucapkan ke hadapan orang itu.


...***...


Semua orang tengah sibuk untuk mempersiapkan acara pesta dansa sebentar lagi, semua pelayan bahkan para dayang juga sibuk menata gorden dan dessert apa yang harus dihidangkan. Begitu juga dengan Tia, semenjak tugasnya diaktifkan menjadi Duchess, ia sangat bingung memilih hidangan pembuka, dan dessert apa yang cocok, serta serbet warna apa yang harus cocok dengan warna gorden aula istana.


Jujur saja ini benar-benar melelahkan, tapi Tia bersyukur, ayahnya tidak lagi mengunjunginya sejak kejadian itu. Toh, Tia juga tidak ingin mengirimkannya uang. Tapi, Tia juga tidak melihat keberadaan Rose akhir-akhir ini. Tapi yang pasti, dia hanya ingin fokus terhadap pekerjaannya selama menjadi Duchess.


“Serbetnya ganti saja warna merah muda. Saya ingin menyesuaikannya dengan warna mata tuan Adeis,” ucap Tia kepada salah satu seorang pelayan.


“Baik.”

__ADS_1


Walaupun masih ada beberapa pelayan yang tidak menyukai dirinya, tapi dia senang. Karena statusnya yang menjadi Duchess, ia bisa memegang kendali atas pekerjaan dan tugas-tugas di istana Aqashia.


“Kau tidak istirahat?” Adeis yang tiba-tiba datang mengagetkan Tia yang tengah sibuk membaca sebuah surat.


“A ---anda mengagetkan saya,” kata Tia. Lidahnya tiba-tiba kelu, bingung harus mengucapkan apa.


“Apa kau tahu, wajahmu saat ini pucat?” Adeis menyugar rambutnya kebelakang. Tia terpana dengan ketampanannya, hari ini ia memakai kaos berwarna putih, dipadukan coat berwarna hitam yang menutupi tubuhnya. Cuaca hari ini sedikit dingin, lagipula Adeis sering berlatih pedang diluar.


“Ah ya, benarkah, saya bahkan tidak tahu?”


“Ellin seharusnya membantumu, apa dia tidak ada?”


Tia tersenyum kecil, ia tahu Ellin tidak akan mau bekerja, untuk apa repot-repot bekerja jika sudah ada Duchess yang menanganinya, sepertinya itulah pola pikir Ellin. “Saya bisa melakukannya, mungkin Ellin sibuk menerima pekerjaan lain,”


“Tidak, maksudku...” Adeis dengan cepat mengangkat tubuh Tia dengan ala bridal style, sampai membuat Tia hampir terperanjat kaget. Melihat perlakuan Adeis terhadapnya, tiba-tiba pipi Tia memerah semerah tomat, jantungnya berdebar-debar ketika tatapan Adeis menatap tepat kearahnya. Sontak Tia mengeratkan kedua tangannya di leher pria itu.


Para pelayan-pelayan yang melihat kejadian itu berbisik-bisik kecil, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi Tia sedikit tidak peduli.


“Istirahat sebentar, aku tidak ingin mengangkatmu ketika kau pingsan,” ucap Adeis kalem.


Tia terkekeh, “Apa anda khawatir?”


“Tidak,” Adeis perlahan mengangkat Tia sampai naik kelantai dua, dan menuju ke kamarnya. “Aku akan menyelesaikan setengah pekerjaanmu. Dan aku akan memanggilkanmu dokter,”


“Hah?”


“...”


Terjadi keheningan selama beberapa saat, sampai akhirnya Adeis sudah sampai di kamar Tia, dan meletakkan tubuh perempuan itu diatas kasurnya. Sampai saat Adeis hendak pergi, Tia meraih tangannya, dan mengatakan sesuatu yang membuat Adeis merasa sedikit tergelitik.


“Saya punya permintaan,”

__ADS_1


“...?”


“Saya ingin yang mulia, memakai bros pemberian saya saat di pesta.”


__ADS_2