
“Bagaimana dengan kabar nona Violet?” tanya Alana disela-sela keheningan sesaat.
Tia menyeruput teh hangatnya, dia sempat berpikir sebentar jawaban apa yang paling masuk akal, “Dia baik-baik saja, kami jadi dekat setelah kedatangannya ke kediaman,”
“Syukurlah, anda pasti sudah tahu, kalau nona Violet dulunya calon tunangan Adeis,”
“Duh, anda ini!” Ivona menyenggol sikutnya, dia berbisik dengan pelan, “Itu sudah lama, takutnya pembicaraan ini membuat dia tidak nyaman,”
“Tidak apa-apa, saya sudah mengetahui hal itu. Syukurlah, nona Violet masih berhubungan baik dengan Adeis, saya juga mendengar cerita dari nona Violet, kalau mereka sudah berteman sejak kecil,”
“Astaga, anda baik hati sekali,” Alana tersenyum ramah kepada Tia, “Rumor orang-orang sebelum kabar pernikahan anda dengan Adeis tersebar, sangatlah jahat dan berbanding terbalik dengan apa yang saja lihat sekarang. Sepertinya, kita bertiga akan menjadi akrab setelah ini,”
“Benar,” kata Ivona.
“Saya harap juga begitu.”
Setelah mereka berbincang-bincang kecil, Tia memutuskan untuk pulang, dia berpamitan kepada Ivona dan juga Alana. Tidak lupa, mereka berdua berterima kasih kembali dengan Tia karena dirinya sudah memberikan bibit tanaman Calia. Ivona mengatakan agar Tia harus sering-sering menerima undangan dari nona-nona bangsawan yang lain, Tia hanya bisa mengiyakan ucapannya.
Di kereta kuda, saat dalam perjalanan, Tia mengatakan sesuatu kepada kusir kuda, bahwa dia dan Aria akan jalan-jalan sebentar di pasar pusat kota. Tentunya, Aria sudah menyiapkan jubah untuk dirinya dan juga Tia. Karena mereka harus menyamar sebagai orang biasa. Tia tidak mau terlalu terlihat mencolok di hadapan orang lain.
“Kita hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai kesini,” ucap Aria membantu Tia untuk memakaikan jubahnya. “Tolong tunggu sebentar ya pak kusir, kami akan segera kembali,”
“Baik.”
Tia berjalan mengikuti Aria, dari kejauhan mereka sudah bisa melihat stand-stand jajanan, dan makanan berat. Tia tiba-tiba jadi teringat saat ia hidup di dunia modern. Dia sering menghabiskan waktu di hari weekend nya untuk hunting makanan bersama sahabat karibnya. Itu momen yang sangat bahagia, sekaligus menyenangkan.
“Nona, saya mau lihat kue susu disana ya, anda lihat-lihat saja dulu,” bisik Aria kepada Tia, yang dijawab Tia dengan anggukannya.
Tia menoleh kearah stand yang berdiri di sampingnya, ada sate daging yang sedang dibakar oleh salah satu penjualnya. Dia meneguk ludahnya, “Saya mau beli sate dagingnya, dan... hmmm, tolong bungkus sepuluh tusuk, ya,” akhirnya dia jadi membelinya.
“Baiklah, tunggu sebentar lady,” kata sang penjual.
Sementara matanya melirik-lirik ke stand lain, tiba-tiba dia jadi teringat dengan hadiah apa yang bagus untuk diberikan kepada Adeis. Saat ia melihat stand yang menjual pernak-pernik. Perhatiannya tertuju kepada bros kemeja berwarna merah pekat yang dipampang di sebuah kotak. Tia memutuskan untuk pergi kesana dan melihatnya lebih dekat.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu, lady?” ucap penjual pernak-pernik itu.
“Berapa bros berwarna merah ini?” Tia menunjuk ke salah satu kotak berwarna putih. Terdapat bros kemeja berbentuk bulat dengan motif bunga lotus berlian ditengahnya. Tia jadi teringat warna bros itu dengan warna mata Adeis, warna merah pekat.
“Ini sangat mahal lady, saya mendapat berlian itu saat saya bekerja di tambang bersama teman saya. Setelah itu, saya berinisiatif untuk mengukir dan membuatnya menjadi bros, apa anda yakin untuk membelinya?”
“Wah, dari berlian? saya tidak menyangka, saya pikir ini terbuat dari batu ruby. Saya akan membelinya,” jawab Tia.
“Kalau begitu saya menjualnya empat puluh ribu gulden saja untuk anda,”
“Baik, tolong dikemas dengan baik, karena saya akan menghadiahkannya untuk seseorang,”
Penjual itu mengangkat kedua alisnya secara bersamaan, “Begitu ya? sepertinya anda ingin menghadiahkannya kepada kekasih anda. Tenang saja lady, saya yakin dia akan senang dan langsung memeluk lady saat itu juga,”
Tia tertawa kecil, “Anda bisa saja,” tentunya Adeis tidak akan bersikap seperti itu. Setelah si penjual sudah mengemas barang yang dibeli Tia, perempuan itu akhirnya kembali ke stand penjual sate daging untuk mengambil belanjanya disana.
“Apa yang anda beli?” Aria datang disaat yang bersamaan, “Saya membeli cemilan kue susu untuk anda, kita bisa menikmatinya saat sore hari di taman. Ngomong-ngomong saya juga membelikan kue susu untuk adik saya,”
“Oh ya? aku baru saja membeli bros untuk Duke. Dan aku juga, membelikanmu sate daging, kalau mau, aku bisa membelikannya untuk adikmu,”
“Baiklah... kalau begitu, apa kamu mau jalan-jalan sebentar lagi?”
“Wahhh, ayo nona... saya akan mengajak anda nonton opera kecil di sana, kalau tidak salah hari ini tema ceritanya tentang Lady Shenia, itu cerita yang sangat indah dan romantis!” Aria senang bukan main, dia langsung menarik pergelangan tangan Tia untuk menuju ke tempat yang ia inginkan.
Ini benar-benar menyenangkan. Karena bagi Tia, bahagia memang sesederhana itu.
...***...
“Rudell?”
“Nona Tia?” Rudell tiba-tiba terkejut dengan kehadiran Tia di tempat latihan berpedang.
“Dimana tuan Duke?” tanya Tia tanpa basa-basi, dia mengenggam kotak kecil berwarna biru tua di tangannya.
__ADS_1
“Beliau sedang istirahat, nona... tapi, dia sepertinya lagi tidak berada di ruang kerja,” ucap Rudell, pria itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, saat ini dia sedang berlatih pedang sendirian.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih, semangat untuk latihannya,” Tia akhirnya berlalu pergi. Dia sudah mencari-cari keberadaan Adeis di taman dan tempat latihan, biasanya orang itu selalu ada disana saat sore hari. Tapi, batang hidungnya bahkan tidak kelihatan.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi kamar tidur Adeis, yah... walaupun menurut Tia ini tidak sopan, tapi jantungnya malah berdebar kencang. Karena itu, pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kamar suaminya. Tia bahkan tidak tahu mengapa, pikirannya bisa langsung menyuruhnya untuk lebih baik taruh saja di kamarnya. Dan untungnya, Tia sudah tahu persis kamar tidur Adeis di istana Aqashia.
“Permisi,” ucap Tia pelan, dia mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Di depan kamar tidur Adeis tidak ada penjaga ataupun ksatria yang mengawal, karena siapa juga yang mau membunuh Duke yang terkenal kejam, sekaligus yang sangat hebat di medan peperangan itu? “Yang mulia... saya masuk ya,” Tia berucap demikian, dia membuka kenop pintu kamar tersebut, dan melihat-lihat ke sekitar kamar Adeis.
“Kemana sih, dia?” batin Tia, dia menghela napas kasar, perempuan itu akhirnya menaruh kotak berwarna biru tua itu di atas nakas yang dekat dengan kasur.
CKLEK!
“Oh?”
“...?”
“AAA -AKHHH MATAKU!” Tia menjerit-jerit didalam hatinya, ketika melihat seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Seorang Pria yang memakai bathrobe, menampilkan setengah bentuk perutnya yang sangat-sangat sixpack. Pemandangan ini sangat menyilaukan matanya, Tia bisa pingsan jika terus-terusan melihat ini.
“Kau mimisan?”
“Hah?” Tia menyentuh filtrum dengan jari telunjuknya. Sontak saja, dia langsung mengangkat kepalanya keatas, kenapa dia mimisan lagi sekarang? apa karena melihat Adeis yang baru keluar dari kamar mandi, dan memperlihatkan bentuk tubuhnya?
Adeis yang melihat Tia yang bingung, lantas langsung memberikan sapu tangan kepada Tia yang tadinya terlipat rapi di atas meja. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Saya, mengantar sesuatu, anu... sebuah hadiah,” kata Tia, ia mengusap pelan sapu tangan itu di hidungnya.
“Hadiah? kenapa?”
“Karena anda mengizinkan dokumen itu, saya berterima kasih,” Tia jengkel mendengar jawaban santai dari Adeis.
“Hmmm...” Adeis bergumam, pria itu melirik kotak berwarna biru tua di atas nakasnya, setelah Tia menunjuknya.
“Kalau anda tidak suka tidak apa-apa, tapi kalau anda suka, saya pun merasa senang. Walaupun saya tahu mungkin itu bagi anda sangat biasa-biasa saja, tapi saya sudah sangat tertarik dengan warnanya,” Tia memulai kembali aktingnya dihadapan Adeis, perempuan itu mengusap-ngusap hidungnya sembari tersenyum sumringah, “Saya teringat anda, ketika melihat hadiah itu,”
__ADS_1
“Kenapa...”