Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 14


__ADS_3

Tia mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya diatas meja, cuaca hari ini sangatlah mendukung baginya untuk berpikir. Aria menyarankan Tia untuk berkunjung ke kuil gereja setelah pesta penutupan diselenggarakan. Rencana nya Tia akan berpergian setelah Rose juga sudah pulang dari kediamannya, dan mencari alasan kepada Adeis bahwa dirinya ingin mengantar kepulangan Rose, dan mengunjungi rumah Baron.


Akhir-akhir ini tidak ada yang membuat Tia terusik, Rose masih belum menampakkan wajahnya setelah hari itu. “Di novel kan dia itu licik, dia juga orang yang telaten dalam membuat rencana... aku jadi resah ketika dia belum menampakkan wajahnya sama sekali,” Batinnya, sembari memijit pangkal hidungnya.


“Apa yang anda lakukan malam ini? semua persiapan sudah anda selesaikan, apa anda mau pergi berbelanja?” Aria yang melihat Tia sedang pusing lantas bertanya.


“Boleh, tapi kita tidak boleh terlalu lama di pasar, aku harus bertemu Tuan Colin untuk kelas etiket,” Tia berdiri dari tempat duduknya.


“Baiklah, saya akan menyiapkan pakaian anda,”


“Terima kasih.”


...***...


Beberapa hari sebelumnya, Ellin mendengar suara seseorang sedang berbicara dengan nada yang cukup kasar di taman belakang. Perempuan itu terus-terusan mengiggit ujung jari jempolnya. Ellin berpikir sejenak, sebelum ia ingin mendatangi wanita tersebut dan menegurnya.


Sampai ketika kakinya ingin melangkah, telinganya menangkap pembicaraan yang membuatnya sedikit senang.


“Tia sialan, aku akan membunuhmu... berani-beraninya kau merebut orang yang kucintai!”


Ellin, dengan wajah yang seram, sedikit tertawa.


“Apa ada yang kau sesalkan, Nona?”


...***...


“Aria?”


“Ya?”


“Apa menurutmu ini sedikit kolot? aku menyesuaikan trend gaun jaman sekarang, aku takut jika aku memakai gaun terlalu mewah untuk malam ini,” Tia menghela napasnya, tangannya bergerak menyusuri bagian bawah gaunnya, merapikan setiap kain agar terlihat mulus.



Aria tertawa kecil, “Bahkan ini gaun yang direkomendasikan sendiri oleh designer nya, saya yakin itu baik-baik saja,”


“Yah... kalau menurut Aria begitu, aku akan mencoba untuk percaya diri saja. Ngomong-ngomong, apa ekspresi orang-orang ya ketika aku mengundang tuan putri ke acara ini?” ucap Tia kalem.

__ADS_1


“Anda belum mengumumkan ke para tamu bahwa anda mengundang tuan putri?”


Tia menggeleng, “Tidak... aku tahu sejarah keluarga ini dengan keluarga kerajaan. Aku hanya ingin membangun sebuah hubungan kepercayaan diantara mereka,”


Aria hanya bisa tersenyum kecil, lagipula ia tidak bisa membantah perkataan Tia yang ada benarnya. Sudah beberapa tahun ini, keluarga Windsor tidak pernah mengundang keluarga kerajaan ke acara pesta, ataupun semacam undangan minum teh sekedar membicarakan pekerjaan dan lainnya. Hanya Tia yang bisa melakukannya.


Tok... tok... tok...


“Nona duchess... Tuan duke sudah menunggu anda,” suara ketukan pintu membuat seisi sekitar hening sementara, Tia menjawabnya, dan menyuruh Aria untuk mempersiapkan semua hal dengan baik hari ini.


Dan juga, ini hari pertamanya debut sebagai Duchess Willberia.


Tia membuka pintu kamarnya, berjalan dengan perlahan menyusuri setiap koridor-koridor yang sudah di hiasnya dengan indah. Dan, akhirnya pun ia sampai di ruang penghubung antara ruang aula. Disana, matanya bertabrakan dengan Adeis. Pria itu, memakai setelan hitam, dilengkapi dengan bros pemberian Tia yang dikenakan di sakunya.


“Salam, kepada yang mulia,” Tia tiba-tiba menundukkan kepalanya, dan membungkukkan tubuhnya sedikit. Ini pemberian rasa hormat terhadap suaminya yang akan menjadi partnernya malam ini.


“Kau...”


“Ya?”


“Apa?” Tia terkejut, tidak disangkanya Adeis akan mengatakan hal seperti itu. “Apa saya harus menutupnya dengan jubah?”


“Tidak perlu,” Adeis mendekat kearahnya, ia meraih tangan Tia dan melingkarkan tangan perempuan itu ke tangannya. “Norman, berikan pengumumannya sekarang,” Adeis menatap kearah seorang ksatria yang berjaga di sebelah tirai, yang akan membuka kedatangan mereka berdua.


Tia menoleh, jantungnya seketika berdebar-debar, “Orang ini terkadang membuatku gila, tapi terkadang juga membuatku bingung,” batinnya.


“Tuan duke Adeis de Willberia, dan Nona duchess Attiya de Willberia, akan segera memasuki ruang aula,”


Seketika itu, suasana di ruangan aula menjadi heboh, dan menanti-nanti pasangan yang sudah menggemparkan pergosipan kalangan kelas atas. Duke Adeis yang terkenal dingin itu akhirnya memberikan hasil buruannya ke istri tercinta, dan akan hadir di pesta penutupan dengannya. Benar-benar pujian yang berlebihan.


...***...


“Halo nona duchess, saya Penelope Tuttiana, senang bertemu dengan anda,”


“Ah, halo... senang bertemu dengan anda juga,”


Sudah satu jam lebih Tia harus berkenalan dengan para tamu, akhirnya ia bisa melihat mereka secara dekat, karena waktu ketika Tia memberikan sapu tangannya kepada Adeis, Tia masih belum berani untuk mendekati dan berbicara kepada mereka.

__ADS_1


“Kau mau berdansa?” tiba-tiba Adeis berbisik disampingnya.


“Duh... geli,” gumam Tia, “Saya tidak mahir berdansa,”


“Tidak apa... akhirnya musiknya dimainkan sekarang,”


“Jangan marah jika saya menginjak kaki anda,”


Adeis hanya menatapnya dengan wajah yang cukup datar, sedangkan Tia keheranan menatapnya. Segera setelah musik dimainkan, Adeis memegang tangan Tia, dan bersama-sama membungkukkan tubuh mereka satu sama lain, setelah itu ia mulai melingkarkan tangannya di pinggang Tia. “Apa kau senang aku memakai bros pemberianmu?”


“Ah, sejujurnya aku sedikit senang,” Tia mencoba mengalihkan rasa gugupnya.


Adeis mengiringi dansa itu dengan baik, ketika gemerlap emas berkilauan diantara langit-langit, matanya hanya tertuju kepada perempuan itu. Bahkan, alunan musik samar-samar terdengar, apakah itu hanya perasaannya saja, bahwa Tia sedikit cantik hari itu. Orang-orang menatap mereka berdansa dengan indahnya, ternyata pesona duchess yang mereka kenal itu tidak seburuk yang dibicarakan orang-orang.


“Saya mengundang tuan putri untuk hadir di acara ini, tolong sambut dia dengan baik,” tiba-tiba Tia berkata demikian, membuat lamunan Adeis buyar seketika.


“Oh, iya,”


“Hanya itu?”


“Ya, terus mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa menghentikanmu,” ujar Adeis, masih sambil berdansa.


Tia sedikit senang dengan jawaban Adeis, dia akhirnya puas dengan hasil kerja kerasnya selama ini, Tia yakin jika ia merubah satu hal dalam cerita, hal-hal yang berkaitan dengan keburukan pasti tidak akan pernah terjadi. Dan, pembunuhan itu juga pasti tidak akan pernah ada, hanya perlu membuat rencana-rencana masa depan yang perlu ia ubah.


“Anu... tuan duke... saya punya satu permintaan,”


“Apa?” Adeis seketika mengangkat satu alisnya.


“Tolong anda kabulkan saja permintaan ini, walaupun kesannya agak sedikit konyol,” Tia merasakan perutnya sedikit kram ketika akan mengatakan hal itu, jantungnya berdegup tidak karuan.


“...?”


“Ayo kita melakukan hubungan intim seperti suami istri pada umumnya.”


Dan seketika itu juga, secara tidak sengaja Tia menginjak sepatu Adeis, dan membuat pria itu sedikit terkesiap karena ulahnya. Belum lagi harus mendengar kalimat yang terlihat sedikit tabu baginya.


“Ayo kita lakukan itu!”

__ADS_1


__ADS_2