Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 7


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah Adeis dan Rudell pulang dengan selamat, sebuah pembicaraan mulai menghebohkan para tamu di mansion Vellyruk. Pembicaraan itu mengutip seorang Duke yang terkenal dingin akhirnya memberikan hadiah hasil buruannya kepada istri tercintanya. Terlebih lagi, Adeis menangkap sebuah hewan tingkat tinggi yang didalam tubuhnya terdapat artefak. Tia sebenarnya biasa-biasa saja sih mendengar pembicaraan itu, paling juga Adeis hanya memberikan kepadanya sebatas istri, bukan orang yang dicintai.


Toh, di Novel asli pun, Adeis cintanya hanya kepada Eleonora.


“Nona, hari ini anda peringkat pertama di gosip pergaulan kelas atas,” Aria berjalan disamping Tia, hari ini ia akan menemani nona nya itu untuk bersantai di taman.


“Aku tahu, banyak undangan pesta teh yang masuk ke kediaman Willberia,” Tia akhir-akhir ini memfokuskan dirinya bekerja sebagai Duchess, ia bekerja dari pagi sampai siang, lalu sorenya harus melayani tamu-tamu di mansion Vellyruk, malamnya pun harus melayani mereka juga. “Ngomong-ngomong Aria, aku masih belum berani untuk beradaptasi dengan mereka. Undangan dari istana kekaisaran pun masuk,”


“Tu ---tuan putri?” Aria terkejut.


Tia menganggukan kepalanya, “Iya, rumornya dia sangat cantik dan elegan, matanya tajam seperti mata elang. Rambutnya berkilau berwarna keemasan, dan matanya hijau seperti batu zamrud,”


“Astaga ... benar sekali, adik saya juga mengatakan kalimat seperti itu,”


“Kamu punya adik?”


“Ya, saya punya ... Perempuan,”


“Lain kali ajaklah dia bermain kesini, aku bosan ketika hanya melihat wajah Ellin, dia kan jutek,” Tia tertawa kecil, diikuti Aria yang juga setuju dengan pendapatnya.


“Ngomong-ngomong, anda harus datang ke undangan pesta teh tuan putri, saya yakin anda akan terpana dengan kecantikannya,” ucap Aria. “Saya harap kalian berdua bisa menjadi teman dekat,”


“Ya, mungkin akan kucoba nanti, tapi sebelumnya aku harus membalas suratnya dulu,” Tia berkata demikian.


TRANG!


“Hm?” Tia menoleh ketika terdengar suara pedang yang beradu. Tia baru ingat, biasanya di hari minggu sore hari, ia sering melihat Adeis bersama ksatria-ksatrianya berlatih pedang di tempat latihan, di mansion Vellyruk Tia hanya bisa melihatnya dari kejauhan, sekarang, dia bisa melihat dari dekat.


Tia menatapnya sebentar, beberapa hari yang lalu Adeis memperlakukannya secara tak biasa, tiba-tiba pria itu jadi sedikit lembut kepadanya, melingkarkan jubahnya, menyentuh dahinya. Padahal dirinya tidak selemah itu. Tetapi, setelah Fiona kekeuh mendatangkan dokter, dokter itu mengatakan bahwa tubuh Tia memang sedikit sensitif jika dibawa terlalu lama di luar, saat malam. “Rasanya jadi geli, kalau pria itu tiba-tiba jadi bersikap seperti itu,” gumamnya.


“Hm?” Aria menoleh.


“Ti ---tidak, anu ... Aria, kamu duluan saja, aku ingin melihat suami tercintaku disana,” Tia memulai aktingnya kembali. Setelah Aria benar-benar pergi meninggalkannya, Tia pergi kearah Adeis yang sedang berlatih pedang.


Perempuan itu berjalan pelan, dia tidak ingin memanggil nama Adeis sekarang ini, jika ia berteriak, ia takut yang lain akan terganggu dan menatap kearahnya.


“Tuan duke?”


“...?”


“Ada Nona Duchess,”

__ADS_1


Adeis melirik kearah Tia yang tersenyum kearahnya dari kejauhan, tidak terlalu jauh sih, hanya saja Tia itu agak mencolok karena warna rambutnya. Perempuan itu bersembunyi dibalik pohon besar, walaupun dia sembunyi disana, ksatria-ksatria lain pasti sudah menyadari kedatangannya. Tia melambaikan kedua tangannya, mengajak Adeis untuk mengobrol sebentar dengannya.


Adeis menaikkan satu alisnya, “Perempuan aneh.” batinnya, menghela napas panjang. Dari kejauhan, Adeis saja sudah terlihat tampan, apalagi dilihat dari dekat, bisa-bisa Tia pingsan. Walaupun mereka sudah sering bertatapan wajah secara dekat, tapi tetap saja, perasaan canggung dan berdebar-debar selalu ada.


“Apa?” tanyanya dingin.


“Hehehe... yang mulia tidak lelah?” Tia tersenyum lebar.


“Tidak,”


“Um... dimana Kromax yang anda bawa beberapa hari yang lalu dengan Rudell?”


Adeis melipat kedua tangannya, “Kenapa kau menanyakan itu?”


Tia mengangkat kedua bahunya, “Saya kan istri anda, masa tidak boleh menanyakan itu?”


“Pergilah, aku masih ada urusan,” saat Adeis hendak ingin pergi, Tia dengan cepat menarik tangannya, sehingga membuat pria itu kembali berhadapan dengannya.


“Suami apa sih anda, saya belum selesai bicara,”


“... Kau selalu berbicara formal padaku, kau boleh memanggilku dengan nama saja,”


“Bo ---bolehkah???” mata Tia berbinar-binar, kesannya seperti anak anjing yang memohon meminta makanannya kepada sang majikan. “Kalau begitu, Adeis?”


“Huh, apa itu, dia kaget?” Tia membatin ketika tiba-tiba Adeis sedikit terkejut saat Tia memanggil namanya. Apa dia tidak suka? apa Tia harusnya masih memanggilnya Yang mulia?


“Kau tahu? kau itu ... istri yang aneh,”


“A... apa anda bi... bilang?” Tia kikuk, rasanya dia ingin marah saat itu juga, dikatain Aneh sama suami sendiri.


“Apa kau sudah selesai? aku harus kembali,”


“Tidak, sebentar!”


“Apa lagi ---”


“Ini,”


Tia menaruh sebuah permen di telapak tangan Adeis, pikirannya random saat itu, tiba-tiba hanya ingin memberikannya sebuah permen. Kebetulan saat di perjalanan menuju ke tempat latihan, Aria sempat memberinya beberapa butir permen, agar tidak merasa jenuh.


“Semangat!” ucap Tia setelah memberikannya permen, Tia pun langsung beranjak pergi, dan menyuruh Adeis segera kembali.

__ADS_1


Adeis mematung di tempat, mengamati kepribadian Tia yang sangat-sangat mencengangkan baginya.


Tanpa mereka berdua sadari, Rose mengamati Tia dari kejauhan, wajahnya benar-benar merah saat itu, menahan amarah yang selama ini tertumpuk didalam dadanya. Adeis dan Tia, berbincang seolah-olah mereka memang sedekat itu di tempat latihan berpedang. Padahal Adeis dan Tia sama sekali belum pernah saling bertemu, apalagi Adeis rumornya terkenal dingin dan kejam, tapi, setelah Rose menyaksikannya sendiri. Adeis memperlakukan orang-orangnya seperti biasa saja, tidak sekejam itu.


“Ayah sialan, seharusnya biarkan saja aku yang menikahi Duke. Kenapa harus perempuan lacur itu!” Rose mencak-mencak, dia mengiggit kuku jempol tangannya.


Baru sekitar dua hari ia menginap di mansion Vellyruk sebagai tamu, tapi dia belum pernah sama sekali melihat wajah Tia ataupun mengajaknya bertemu secara empat mata. Dia baru melihat Tia sekarang ini. Berkat Violet, orang yang Rose kenal saat ia tidak sengaja menabraknya saat itu, dia bisa mendapatkan hak sebagai tamu di mansion tersebut.


Padahal, Tia tidak berhak bahagia, dia seharusnya menolak surat pernikahan tersebut, dia seharusnya dikurung oleh Baron Antrody saat itu.


“Sialan!”


Rose mengacak-acak rambutnya, dia benar-benar geram. Adeis harusnya menjadi miliknya, bukan anak haram itu.


“Awas saja kau, Tia.”


...***...


Tia berjalan dengan senang, dirinya memasuki istana Aqashia dengan bahagia, para pelayan menatapnya dengan sinis. Ya, Tia gak peduli, lagian dia sudah terbiasa akan hal itu. “Semoga dengan permen itu, Adeis masih mikir-mikir dulu kalau mau bunuh aku nantinya.” batinnya.


Saat menyusuri lorong tangga kedua menuju kamar tidurnya, Tia melihat Ellin keluar dari kamarnya. “Ellin?” ucapnya.


Ellin gelagapan, tapi dia langsung menyembunyikan ekspresinya, perempuan licik itu, entah apa yang akan dia perbuat, “Nona Duchess, anda sudah kembali?”


“Yah... seperti yang anda lihat,” jawab Tia, dia berusaha untuk tidak memikirkan sesuatu yang aneh tentang Ellin. Jujur saja, yang boleh mengecek kamar tidur Tia saat ini adalah Aria, karena statusnya sebagai pelayan pribadinya. Ellin tidak akan mempunyai kewenangan lain, selain menyuruh Tia untuk menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.


“Saya habis membersihkan kamar tidur anda, karena Aria sedang sakit. Maaf jika perbuatan saya membuat anda tidak nyaman,”


“Aria sakit?”


“Iya, Nona,”


“Begitu ya,” Tia cemas, perempuan itu akhirnya menyuruh Ellin untuk pergi. Dia pun beristirahat di kamar tidurnya.


Hari itu, dia tidak kepikiran sama sekali dengan apa yang Ellin lakukan saat itu. Tia awalnya sempat curiga, tapi setelah Ellin membuat alasan yang indah, Tia pun akhirnya mengesampingkan pikirannya itu.


Tia melirik kearah nampan berisikan Teh hangat dan sepiring kue kering diatas mejanya. Selain itu, ada tumpukan kertas dan sebuah tinta disampingnya. Ngomong-ngomong, dia sudah sangat lama sekali tidak menulis surat, lagian dia tidak mempunyai keluarga yang harus ia surati. Ibu kandungnya saja dia sudah lupa bagaimana wajahnya.


Tia berpikir-pikir kembali isi Novel aslinya, seharusnya disaat seperti ini, bukankah Rose akan sering mengamati Adeis, semacam stalker sih, tapi Tia agak bersyukur, karena saat ini dia masih belum melihat batang hidung Rose yang menyebalkan.


Perempuan itu merasakan tenggorokannya sedikit kering, dia pun meminum teh hangat yang sudah di sediakan di mejanya tadi. Rasanya agak manis diawal, dan pahit sedikit diakhir.

__ADS_1


“Nulis-nulis dulu deh, setelah itu tidur.” gumamnya.


__ADS_2