Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 8


__ADS_3

📍Art tokoh Adeis :



Adeis De Willberia


( Credit art : @0mxmO )


Note : Aslinya di art dia itu warna matanya biru, cuma saya ubah warna merah, mengikuti kesannya Adeis, untuk art nya Tia silahkan imajinasi sendiri agar lebih mengikuti realita kalian. Terima kasih🌸


...***...


TOK!


TOK!


“Masuk,”


“Saya dengar, nona Duchess memanggil saya,”


“Ya, Ellin. Saya ingin menanyakan perihal pemasok tanaman langka yang Willberia punya,” Tia berkata demikian, hari ini dia kembali menjalankan tugasnya sebagai Duchess. Berkat dirinya yang berasal dari masa depan, Tia tidak perlu repot-repot lagi untuk belajar cara menulis dan membaca di kehidupannya yang sekarang. Dan juga keluarga Baron masih belum menyadari kelebihannya itu.


“Kudengar Willberia menolak untuk mengekspor tanaman Calia ke kekaisaran. Padahal kekaisaran sudah banyak membantu wilayah ini. Kenapa kita menolak?” tanya Tia.


“Karena Willberia tidak ingin terikat lebih jauh dengan Kekaisaran, cukup sebatas teman pengekspor kelebihan yang dimiliki masing-masing tempat,” jawab Ellin, wanita itu terlihat enggan membalas pertanyaan Tia.


Sebenarnya, Tia tahu mengapa Willberia tidak ingin mengekspor hasil budidaya tanaman Calia mereka ke istana Raja. Karena, keluarga Duke Willberia masih trauma akan masa kelam yang mereka punya. Dan Adeis masih belum mempunyai kepercayaan yang penuh terhadap Raja. Paling tidak Adeis hanya memenuhi titah perang, serta mengekspor batu sihir dan berlian ke kekaisaran.


Di Novel asli, Kedua orang tua Adeis dan Fiona dibunuh oleh penyihir hitam. Penyihir hitam itu adalah suruhan Raja kedua dari kerajaan. Saat itu, Raja kedua bersikeras untuk mengambil artefak berharga milik Willberia, karena kedua orang tua Adeis menolak, Raja kedua memerintahkan penyihir hitam tersebut untuk membunuh mereka berdua dan berbagi hasil atas kerja kerasnya. Sebenarnya Adeis juga tahu siapa dalang dari kejadian itu, namun dia memilih diam dikarenakan pengaruh Raja kedua yang sangatlah hebat. Dan sampai saat ini, Adeis berhasil menjaga artefak tersebut.


Tapi, tentu saja pada sudut pandang Tia, dia sedikit tidak setuju akan hal itu. Karena, dia yakin Raja yang sekarang, raja kelima sangatlah baik dan bijaksana. Seharusnya Willberia melakukan pengeksporan lima puluh persen dengan kekaisaran agar seimbang, “Ini akan saya ganti. Kita akan mengekspor tanaman Calia ke kekaisaran,”

__ADS_1


“Tapi Nona... anda tidak bisa melakukan itu, bahkan dengan status anda,”


“Ellin, anda tahu apa tentang saya?”


Ellin meneguk ludahnya, “Maksud saya, itu sudah perjanjian mutlak sedari dulu,”


“Tanaman Calia akan membantu kekaisaran Vantulla. Para rakyat kecil didaerah sana, setengah dari populasi mereka mengalami penyakit diare, apa anda tidak memikirkan hal itu?!” Tia menahan emosinya.


“Saya duchess di kediaman ini, anda tidak berhak untuk menghentikan saya. Apa anda pikir selama ini saya diam saja dengan ---Ukh!” Tia merasakan kepalanya sedikit pusing, tapi dia tetap melanjutkan perkataannya, “Saya yang akan bicara dengan Adeis, jadi kamu tolong keluar,”


Setelah Tia mengatakan hal tersebut, Ellin benar-benar keluar. Tapi sebelum itu, ia harus memikirkan kalimat apa yang bagus untuk berbicara dengan Adeis. Tia tahu ini masalah yang sangat sensitif, apalagi jika Adeis menaruh curiga terhadapnya jika Tia tahu kejadian masa lalu itu.


Perempuan itu tiba-tiba terpikirkan undangan Tuan putri yang masuk ke kediaman Willberia. Tia berpikir, apa akan baik jika ia datang dengan membawa hadiah tanaman Calia untuknya, selain itu tanaman Calia akan tumbuh merambat, dan membentuk tanaman yang baru. Setidaknya hal seperti itu, sedikit membuat istana punya rasa berterima kasih kepada Willberia.


...***...


Tia mengeratkan selendang putih ke tubuhnya, malam ini sangatlah dingin, rasanya seperti di wilayah-wilayah bersalju. Satu minggu lagi, para tamu akan pulang ke kediaman mereka masing-masing, penutup acaranya akan diadakan sebuah pesta dansa megah di istana Aqashia. Tia tidak tahu menahu tentang pesta dansa seperti itu, palingan dirinya hanya akan menghindar.


Perempuan itu keluar dari kamar tidurnya, berjalan pelan melalui lorong demi lorong, suasana sangat sunyi, tenang, dan damai. Tia menyukai hal yang seperti ini, tapi tiba-tiba dia ingin pergi ke perpustakaan, mencari sesuatu yang mungkin akan membuatnya mengantuk. Akhir-akhir ini, dia jadi sedikit tidak bisa tidur nyenyak, kepalanya juga pusing terus-menerus. Setidaknya, sebuah novel percintaan dewasa akan membuatnya sedikit terhibur.


Saat dirinya mendapatkan sebuah judul novel yang membuatnya tertarik, ia pun mulai membukanya, “Gadis sederhana yang tidak ingin mati, dan menikah dengan Duke kejam,” ucapnya pelan.


Perpustakaan sangatlah sepi, sinar bulan purnama membuat suasana disekitar berwarna biru, begitu juga dengan Tia. Tapi tiba-tiba suara sepatu mengagetkannya, dia tidak berani untuk melihat siapakah orang itu. Tia hanya bisa memeluk buku novel yang ia pegang sembari memejamkan matanya.


“Ada yang ingin kubicarakan?”


“Oh?” Tia memutar tubuhnya sedikit, melihat siapa orang yang berhasil membuatnya ketakutan. “Yang mulia, Adeis?”


“...?”


“Maaf, saya berkeliaran... di tengah malam begini,”

__ADS_1


Adeis menghela napas pelan, “Kudengar kau ingin menyetujui tanaman Calia diekspor ke kerajaan?”


“Saya sedang tidak ingin membahas itu,” Tia menjawab, malam ini dia ingin melepaskan rasa letihnya dengan membaca novel.


“Apa kau tahu jika kau menyetujui dokumen itu?”


Tia menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinga, dia memulai aktingnya kembali, agar Adeis bisa mendengarkannya dengan baik, “Ini tugas saya untuk mengatur masalah pengeksporan, sedangkan anda mengatur bagian keuangan dan sebagian tugas duke yang sudah dipersiapkan,”


“Bukan... maksudku,” Adeis menggantungkan kalimatnya, pria itu menyugar rambutnya, “Kau tidak tahu sejarah Willberia,”


“Yang mulia, percayakan semuanya kepada saya,” Tia tersenyum kecil, dia mengeratkan novel yang tadi ia ambil.


“Apa kau pikir dengan kamu menjadi Duchess, semua orang akan menganggapmu hebat?”


Tia mengerutkan kedua alisnya, “Maksud... anda?”


Tia juga tidak ingin untuk terus-terusan akting seperti ini, bersikap lembut terhadap Adeis, berpura-pura lugu dan polos didepannya. Dia hanya ingin akhir yang bahagia untuknya dan juga dirinya.


“Seharusnya aku tidak mengirim surat pernikahan itu, seharusnya aku tidak menikahimu,”


Deg!


“Bu... bukan begitu, saya... saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Anda bisa mempercayakan tugas ini kepada saya, jika ada tugas lain mengenai istana, saya akan memberikannya kepada anda,” Tia meninggikan nada intonasinya sedikit, “Apa anda menemui saya hanya karena itu?”


“Tolak dokumennya, biar aku yang urus,”


“Cukup dengarkan saya kali ini yang mulia, saya tidak akan pernah membuat masalah apapun, saya yakin istana akan senang dengan apa yang kita berikan. Terkadang, anda harus berdamai dengan masa lalu,”


Adeis menatapnya sebentar, dia tidak tahu apa isi pikiran perempuan itu, bisa saja dia mengkhianatinya, makanya dia berjaga-jaga dan bertanya langsung kepadanya. Jika ia mempercayainya, dia tidak akan tahu kedepannya. Tapi, apa Tia mengetahui masa lalunya?


Tia menempelkan tangannya ke pipi Adeis, dia lagi-lagi tersenyum, dan membuat Adeis sedikit muak melihatnya, “Biar saya yang menyelesaikan, lagipula itulah tugas Duchess membantu suaminya,”

__ADS_1


Adeis menepis tangan Tia, entah hatinya benar-benar sangat marah saat itu, tapi tidak bisa ia ungkapkan di hadapan Tia. Pria itu berlalu, dan pergi meninggalkan Tia sendirian disana. Sedangkan Tia, dia menghela napas lega, tapi ia masih tidak tahu apakah Adeis bisa berubah pikiran jika dia mengatakan sesuatu yang seperti tadi.


“Tapi kuharap, dia bisa menerima dokumennya.”


__ADS_2