Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 10


__ADS_3

Tia merias wajahnya dengan sempurna, hari ini ia akan menghadiri pesta teh yang diadakan oleh Putri. Lebih tepatnya, Ivona Adelaide Vantulla, adik perempuan dari putra mahkota Sid de Vantulla. Di novel tersebut, kekaisaran Vantulla dibagi menjadi empat bagian yang dipimpin oleh masing-masing Duke, ada bagian barat, timur, utara, dan selatan. Tia sudah mempelajari bagian-bagian dari pusat kota kekaisaran, butuh sekitar satu jam lebih untuk sampai di istana.


Tia juga sudah mempersiapkan sepuluh bibit tanaman Calia di dalam sebuah kotak berwarna coklat, sepuluh bibit yang lain ia taruh di dalam kotak berwarna biru muda. Ia sudah diberi tahu oleh Putri, bahwa seorang duchess dari Selatan juga akan turut hadir di pesta teh itu.


Jantungnya berdebar-debar, ia berulang kali harus berakting dengan baik di depan meja riasnya. Aria juga sudah banyak membantunya, kali ini Tia ingin kediaman Willberia benar-benar diakui oleh sang Raja. Dan berhubungan baik dengan mereka, tanpa adanya rasa kecurigaan.


Tapi, Tia harus selalu waspada dengan kehadiran Rose. Kemarin, dia langsung menempelkan es batu ke pipinya yang membekas karena tamparan Rose. Setelah dirinya keluar dari ruang kerja Adeis, dia tidak melihat keberadaan Violet dan Adeis, dia sedikit bersyukur, setidaknya, mereka berdua tidak mendengar perkelahian antara dirinya dengan perempuan ular itu.


“Nona, kereta kuda anda sudah siap,” Aria tiba-tiba masuk kedalam kamar Tia dengan pelan.


Tia menolehkan kepalanya, “Baik, aku segera kesana, persiapkan dirimu juga, Aria.”


Aria menganggukkan kepalanya, tersenyum lebar, dia juga tidak sabar untuk menemani Tia pergi ke istana. Saat itu, dia berpikir setelah pulang dari istana, dia ingin mengajak Tia untuk berkeliling pasar di pusat kota sebentar, paling tidak membeli kue, makanan, atau gaun. Yah, Tia juga pasti akan manut-manut saja.


Setelah mereka berdua bersiap, akhirnya mereka pun berangkat ke pusat kota pada hari itu juga. Tia awalnya ingin mengajak Adeis untuk pergi bersamanya, tetapi karena pesta dansa untuk penutupan acara yang akan diadakan beberapa hari lagi, Adeis menjadi sibuk. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja.


“Semoga tuan putri menyukai hadiah ini,” ucap Tia didalam kereta kuda tersebut, ia mengenggam erat dua kotak yang masing-masing terdapat bibit tanaman yang sangat langka itu.


“Saya yakin ia akan menyukainya... ngomong-ngomong anda sudah tahu bagaimana reputasi pangeran?” Aria yang duduk dihadapan Tia tersenyum lebar. Sepertinya dia menyukai sosoknya.


Di Novel, akhlak putra mahkota sangat terkenal, dia baik, dan ramah kepada orang lain, tegas, dan banyak berkontribusi pada pemerintahan. Benar-benar idaman semua para wanita, sedangkan untuk adik perempuannya, dia tidak dijelaskan secara rinci didalam novel. Intinya, Tia sengaja memberikan bibit tanaman Calia kepada tuan putri agar dia bisa membudidayanya di dalam istana. Setelah dokumen disetujui pihak kerajaan, Tia baru akan bisa melakukan pengeksporan ke pusat kota. Sebenarnya, rahasia yang tidak diketahui oleh semua orang adalah, Ibu Ratu sedang sakit parah, hanya Tia yang mengetahui itu melalui novel. Walaupun wajahnya mungkin akan terlihat biasa-biasa saja, tapi dia sangatlah rapuh.


“Anda mendengar saya nona?”


“Oh, maaf...” Tia lantas memusatkan kembali pikirannya, setelah Aria menegurnya.


“Sepertinya anda memang tidak mendengarkan saya. Kalau gitu, saya akan kembali bicara,” kata Aria, “Pangeran itu sangatlah tampan, wajahnya putih berseri, dengan rambut yang berkilau berwarna keemasan, sama seperti tuan putri. Tapi, putra mahkota lebih dominan ke ibunya, saya pernah melihat dia berpidato bersama ibunya di pusat kota, sebelum saya menjadi pelayan di kediaman Willberia,”


“Wah, keren sekali kamu bisa melihatnya,”


“Iya... waktu itu sangat ramai sekali, ngomong-ngomong itu saat ulang tahun pangeran, dia berinisiatif untuk melakukan pidato di hari ulang tahunnya, dia memilih pusat kota,”


Tia manggut-manggut, “Begitu, ya?”


“Nona... saya juga sudah tahu tentang kakak nona itu,” ucap Aria.

__ADS_1


“Kakakku?”


“Ya, Nona Rose bukan?”


“Iya,”


“Dia cantik sekali, saya pangling melihatnya, pantas saja anda juga sangat cantik,”


Tia menyunggingkan senyumnya, “Tidak, kami tidak semirip itu,”


Aria hanya bisa termenung sebentar, suasana tiba-tiba menjadi canggung. Tidak ada yang kembali untuk memulai obrolan. “Ah, ba --bagaimana setelah anda pulang dari istana nanti, kita mampir sebentar ke pasar di kota?”


“Wah, boleh-boleh,” Tia sedikit senang, akhirnya setelah sekian lama, dan setelah dia masuk kedalam dunia novel itu, dia baru bisa merasakan yang namanya pasar kembali. Lagipula dia tidak pernah jalan-jalan, dan setelah Aria mengajaknya, dia sedikit beruntung.


“Apa yang akan kubeli ya?” batinnya senang.


...***...


“Selamat siang Nona Duchess Tia. Saya Bonia, kepala dayang istana putri, saya sudah mendengar dari tuan putri Ivona, kalau anda akan menghadiri pesta teh yang akan dijamu olehnya,” seorang wanita paruh baya membungkuk secara hormat dihadapan Tia, kelihatannya dia sangatlah tegas. Tia bisa menilai dari caranya dia memberi hormat.


“Salam kepada Nona Aria,”


“Salam juga kepada Nona Bonia,”


Tia memperhatikan sudut istana putri dengan wajahnya yang berseri-seri, istana terbagi menjadi tiga tempat, sama seperti kediaman Willberia. Di istana, terdapat istana utama, yang ditinggali oleh raja, ratu, serta pangeran, selanjutnya ada istana putri, yang ditinggali oleh putri sendiri. Setelah melakukan perkenalan singkat itu, akhirnya Tia dan Aria diajak masuk ke taman istana, karena disanalah putri selalu mengadakan acara pesta minum tehnya.


“Bahkan atapnya pun sepertinya terbuat dari emas,” Aria bisik-bisik.


“Benar,” ucap Tia pelan.


“Silahkan Nona, semoga pesta anda menyenangkan,”


“Terima kasih,” Tia membungkukkan tubuhnya, dia pun mempersilahkan Bonia dan Aria untuk menunggu di luar. Biasanya Aria juga akan dituntun ke ruang tamu, dan menikmati kue kering serta teh disana. Itu termasuk etiket kekaisaran, walaupun Aria bukan gelar bangsawan, setidaknya saat seorang nona bangsawan mengunjungi suatu tempat, pelayannya pun juga akan dijamu.


Tia berjalan menyusuri lorong taman yang sangat indah, bunga-bunga yang melingkar di tiap-tiap tiang lorong tersebut membuatnya sangat takjub. Benar-benar berkilau dan sangat memanjakan matanya.

__ADS_1



Dan ketika ia menemukan sesosok perempuan yang tengah duduk disalah satu kursi, Tia tambah terkejut melihatnya. Bersinar diantara bunga-bunga, dan seelegan apa dia dimata Tia. “Wah, gila... gila,” gumam Tia.


“Akhirnya anda sampai juga, Nona duchess Tia,” ucapnya kalem. Dia menyeruput teh yang sudah dihidangkan di atas meja berbentuk bulat. Tia lantas membungkuk hormat.


“Terima kasih karena anda telah mengundang saya untuk hadir di acara pesta teh anda, saya sangat senang sekali, tuan putri Ivona,” Tia duduk di hadapan Ivona. Sedikit agak canggung, karena dirinya belum mengetahui bagaimana etiket sopan santun ketika mengobrol dengan keluarga kerajaan.


“Saya menunggu kehadiran Duchess Alana dari selatan, saya yakin anda sudah tahu info itu,”


“Ah, iya. Saya sudah membaca surat anda,” jawab Tia.


Akhirnya beberapa menit setelah kedatangan Tia di taman itu, Alana pun datang dengan sangat anggun, Tia berpikir bahwa orang-orang bangsawan itu sangatlah keren. Ivona saja sangat pintar mengendalikan ekspresi wajahnya. “Salam kepada Tuan putri Ivona, dan Nona Duchess Tia,”


“Oh, anda mengenal saya?” tanya Tia.


“Tentu saja, walaupun saya tidak hadir di pesta anda karena saya sangat sibuk mengurus wilayah, saya tahu berita ketika suami anda membawakan hewan Kromax untuk anda,” Alana menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinga, ia pun ikut duduk.


“Saya juga mendengar berita itu, saya tidak menyangka si Adeis yang dingin melakukan hal seperti itu,” kata Ivona.


Tia merona, dia tertawa kecil. Sedangkan Ivona dan Alana saling bersitatap, tidak menduga bahwa perilaku Tia tidak seperti rumor-rumor yang beredar. Sejujurnya, Ivona sengaja mengundang Tia agar ia bisa melihat langsung sejahat apakah dirinya, tapi sejak kehadirannya datang, pikiran-pikiran seperti itu menghilang begitu saja. “Kebetulan hubungan saya agak dekat dengan Duchess Alana, jadi jangan heran jika kamu melihatnya sedikit tidak sopan dengan saya,”


“Begitu ya, saya mengerti,” Tia memakan kue kering yang sudah tersedia di hadapannya. “Anda sekalian pasti sudah tahu, saya hadir pasti juga ada sebab,”


Ivona dan Alana memperhatikan Tia dengan seksama. Ketika Tia mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat dan berwarna biru muda dari dalam tas kotak yang dibawanya semenjak ia masuk ke istana. Ia menyodorkan kearah Ivona dan Alana, “Saya memberikan tuan putri Ivona dan Nona Duchess Alana masing-masing sepuluh bibit tanaman Calia,”


Alana mengatupkan bibirnya sebentar, “I... ini kan tanaman langka itu,”


“Benar, saya sudah memutuskan untuk mengekspor bibit tanaman Calia ke pusat kekaisaran, dan tentunya ke berbagai daerah, kalian pasti akan mengerti dengan cara pembudidayaannya,” jawab Tia.


“Hebat sekali, saya sangat terkejut ketika keluarga Willberia akhirnya mau mempererat hubungan dengan cara seperti ini,” Ivona mengambil kotak berwarna coklat tersebut, dan membukanya dengan pelan, “Terima kasih banyak, Nona Tia. Saya sangat berterima kasih dengan hal ini, saya akan memberitahukan tanaman dari pemberian anda ini kepada ayah saya,”


“Terima kasih banyak juga, Nona Tia. Saya akan membudidayakannya, dan siap membantu anda untuk melakukan ekspor tanaman ini,”


Tia menganggukan kepalanya, akhirnya dia berhasil melewati ini semua, akhirnya prosesnya berjalan dengan sangat lancar. Ia pikir ini pasti akan sulit, mengingat orang-orang yang bergosip tentang dirinya. Seorang Nona baron yang sangat jahat, dan suka menindas orang lain, Tia bersyukur ia bisa memperlihatkan jati diri yang sebenarnya. Bahwa, Nona duchess yang mereka bicarakan itu, tidak sejahat yang mereka pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2