Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 6


__ADS_3

Violet melihat Tia dari kejauahan, dia sangat kesal ketika mengetahui bahwa Adeis menerima sulaman sapu tangannya. Violet ingat satu tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, Adeis selalu menolak sulamannya.


“Nona Violet... apa anda baik-baik saja?” ucap salah satu nona bangsawan yang tadi berkenalan dengan Tia.


“Ah iya, jangan pedulikan aku... ngomong-ngomong, aku harus menyambut Countess Fiona dulu ya,” jawab Violet.


“Baiklah nona.”


Violet berlalu dan pergi, dia memutuskan untuk bertemu Fiona, kakak perempuan Adeis yang tahun ini, ikut menyelenggarakan pesta berburu bersama suaminya. Ketika Violet berhasil menemukan Fiona yang ternyata mengobrol dengan Sepupu Adeis, ia pun langsung menyapanya dari kejauhan.


“Kak Fiona!”


Perempuan cantik berambut perak dan mempunyai mata merah seperti Adeis itu, langsung menolehkan kepalanya, “Violet!”


Mereka berdua berpelukan, Violet kembali memeluk seorang pria yang berada di samping Fiona, “Halo Kak Harith!”


“Halo juga Violet,” sapa Harith, pria kedua tertampan setelah Adeis menurut Violet.


“Jadi dimana Duchess Willberia? aku ingin bertemu dengannya,” kata Fiona.


“Iya, aku juga ingin bertemu dengannya,” ucap Harith.


Violet lagi-lagi sedikit kesal ketika orang-orang ingin lebih mengenal Tia, bukannya Fiona dan Harith sangat sudah lama tidak bertemu, seharusnya mereka mengobrol-ngobrol saja dulu. Violet menghela napas panjang, dia akhirnya menuntun Fiona dan Harith ketempat Tia. Setelah Violet menemukan sosok Tia yang sedang minum di area pojok, dia pun bergegas untuk menyapanya.


“Oh ... Violet?” sapa Tia.


“Ini kak Fiona ... dan, Harith. Sepupu Adeis,” Violet tanpa basa-basi langsung memperkenalkan mereka.


Tia menaruh gelas wine yang tadi sempat ia minum di atas meja. Perempuan itu membungkukkan tubuhnya sedikit, mengetahui bahwa mereka pun harus dihormati, karena mereka kakak perempuan Adeis dan sepupunya. “Salam countess Fiona, dan Har---?” Tia melirik sedikit kearah Harith.


Pria itu tersenyum manis, dia ikut membungkukkan tubuhnya sedikit, “Harith, Nona duchess. Saya Harith Winterglass, sepupu Adeis,”


“Ah, iya benar,” Tia tersenyum, dia ingin membuat suasana disekitarnya tidak menjadi canggung untuk saat ini.


“Hm... kak, apa kakak tidak berpikir Adeis akan membawa apa kalau dia pulang?” Violet tiba-tiba bertanya.


Fiona menoleh, “Anak itu paling cuma membawa hewan tingkat tinggi, setelah itu dia mentok-mentok memberikannya ke kuil untuk diteliti,”


“Dia itu selalu saja tidak ingin memberikan hasil buruannya,”


“Benar,” Harith tertawa kecil.

__ADS_1


Tia hanya bisa tersenyum mendengar percakapan mereka, dia bingung ingin memulai topik apa, “Apa dia selalu begitu? menolak sapu tangan orang lain, ikut serta, dan membawa hasil buruannya?”


“Ya, benar... dia memang seperti itu, kalau dia kembali pun, memang dia pasti akan membawa sesuatu, tapi dia hanya akan memberikannya ke kuil. Padahal wanita-wanita yang menyukainya, berharap agar Adeis memberikannya pada mereka,” jawab Fiona dengan kalem.


Tia menganggukan kepalanya, “Begitu, ya,”


“Tapi kak Fiona, Adeis tiba-tiba meminta sulaman sapu tangan dari Tia,” ujar Violet.


“Oh ya? wah, selamat dong... itu berarti Adeis membuka hatinya padamu,” Fiona mengenggam kedua tangan Tia.


Tia seketika itu merona, “Membuka hati... nya?”


“Hahaha, kak Fiona bisa saja. Adeis sangat dingin sekali, dia tidak akan mungkin langsung begitu saja menampilkan ekspresinya,” Violet melipat kedua tangannya.


“Ya, walaupun Adeis dingin, aku yakin dia memang akan mulai membuka hatinya untuk istrinya,” Harith menambahkan.


Tia berbincang-bincang kecil dengan Fiona dan juga Harith, Violet tampak tak senang jika Tia akan menjadi lebih dekat dengan mereka berdua. Perempuan itu akhirnya membiarkan mereka untuk mengobrol, Violet berjalan kesekitaran taman untuk memastikan siapa saja yang datang ke pesta.


BRUK!


“Aduh!” Violet hampir terjatuh saat seseorang tidak sengaja menabrak tubuhnya. Untungnya orang yang ditabrak itu dengan sigap membantunya agar tidak terjatuh.


“No ---nona, maafkan saya,”


“Anda kenal adik saya?” perempuan itu menatap Violet. “Saya Rose Antrody, saya kesini ingin menyapa adik saya,”


Violet melipat kedua tangannya, jujur saja dia paling anti dengan keluarga Baron Antrody, apalagi saat mengetahui Adeis harus menikahi mereka, saat itu masa-masa tersuram Violet, ia mengurung diri dikamar selama dua hari tanpa makan. Ia berpikir dengan cara seperti itu Adeis akan mengkhawatirkannya, namun pria itu terlalu sibuk bepergian ke menara sihir untuk meneliti hewan tingkat tinggi. “Dia sedang berbincang dengan orang lain,”


Saat Violet hendak pergi, Rose menahan pergelangan tangannya, “Nona tunggu!”


“Apa?” Violet menatapnya dengan tajam.


“Bisakah anda mencarikan saya kamar tamu? saya baru saja tiba di sini.”


...***...


Suara terompet yang dibunyikan oleh salah satu ksatria Willberia di depan gerbang Aqashia, membuat Tia yang menunggu di halaman serta setengah tamu-tamu yang menunggu pasangan mereka menoleh. Setengah tamu lainnya memilih menunggu di aula mansion Vellyruk, sama seperti Fiona dan Harith, tetapi Tia lebih memilih menunggu Adeis di halaman. Lagipula dia juga seorang Duchess, masa tidak mau menunggu suami tercintanya.


Satu persatu orang-orang mulai memasuki gerbang, terdapat bercak-bercak darah di tiap masing-masing baju zirah mereka, Tia sedikit khawatir dengan Adeis dan juga Rudell. Saat dirinya menangkap sesosok orang yang ia cari, dia pun langsung menyusulnya.


“Yang mulia, apa anda baik-baik saja?” Tia menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinganya.

__ADS_1


“Nona Duchess?” Rudell melirik kearah Adeis.


Adeis menatap Tia dengan tajam, pria itu tiba-tiba melingkarkan jubahnya ke tubuh Tia, “Udara di wilayah barat saat malam sangat dingin, seharusnya kau masuk saja mengikuti yang lain,”


Deg!


Wajah Tia memanas, kenapa pria itu tiba-tiba seperti itu terhadapnya? “Yah, saya baik-baik saja, terlebih lagi saya khawatir dengan kalian berdua,”


“Nona Duchess, Kami membawakan hadiah untuk anda,” Rudell menyenggol lengan Adeis, dia terlihat kegirangan.


“Hm? hadiah?” Tia kebingungan.


“Bukan hadiah untukmu, tapi untuk kuil,”


Rudell jengkel dengan sikap Adeis untuk sekarang, “Ayolah tuan, sebaiknya anda berikan saja hadiah itu untuk nona Duchess, daripada anda berikan ke kuil,”


“Hahhh... dia mungkin akan ketakutan,” Adeis menghela napas panjang.


“Nona Duchess?”


“Ya?”


“Kami membawakan anda Kromax!”


“Ha ---HAH?!”


Setelah kejadian itu, Adeis serta Rudell mengantarkan Tia untuk masuk kedalam aula mansion Vellyruk, rencananya Adeis akan memberikan sesuatu informasi yang harus diucapkan kepada para tamunya. Sejujurnya saat Rudell mengatakan ia dan Adeis membunuh Kromax, dia sempat tidak mempercayainya, tapi Tia berpikir, jika tokoh utama pria pasti akan bisa mendapatkan apapun, ya karena dia pasti tidak akan mati. Tia juga merasa aneh saat Adeis memutuskan untuk memberikan hasil buruannya kepada dirinya. Apa itu tidak apa-apa?


“Adeis?” Fiona datang dari anak tangga, melihat Adeis beserta Rudell dan Tia sedang berbincang-bincang kecil. “Aku dengar kamu membawa Kromax, apa itu benar?”


“Sama seperti tahun lalu ... hewannya terkesan biasa saja,” jawab Adeis dingin.


Tia menatap kedua saudara itu, mereka benar-benar terlihat sangat mirip. Begitupula dengan cara bicara mereka yang terkesan tidak peduli dengan tanggapan orang lain, hal itu membuat perut Tia sedikit tergelitik ketika memikirkannya.


HUACHIM!


“Oh?” Fiona melirik kearah Tia, “Kamu terkena flu, sebaiknya kamu istirahat,”


Adeis ikut melirik kearahnya, pria itu menempelkan punggung tangannya ke dahi Tia, secara tiba-tiba, “Kau sakit?”


“AAA ----APA INI!????” Pipi Tia memerah, jantungnya berdetak dengan cepat.

__ADS_1


“Nona Duchess, sepertinya anda benar-benar demam.” Rudell menambahkan.


__ADS_2