Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 9


__ADS_3

Tia tersentak ketika melihat seseorang menepuk pundaknya dengan pelan. Matanya mengerjap-erjap, melihat siapa orang yang berada dihadapannya sekarang itu.


“Nona Tia, apa yang anda lakukan disini?”


“Ha --rith?”


Orang itu adalah Harith, Tia dengan cepat membetulkan posisinya. Dia baru ingat, kalau semalam ia membaca novel di perpustakaan, dan tertidur disana. “Astaga, ternyata saya semalaman disini,”


“Anda tidak tidur dikamar anda?” Harith tersenyum kecil.


Tia menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak... saya memang berniat membaca novel malam itu, tapi saya malah mengantuk dan ketiduran... biasanya saya tidak seperti itu kok,”


Harith tertawa sedikit melihat kelakuan Tia, “Saya ingin masuk ke perpustakaan untuk membaca dokumen Willberia, tapi saya cukup kaget ketika melihat anda sedang tidur nyenyak diatas meja,”


“Kalau begitu, lupakan saja anda melihat saya,” Tia mengambil novel yang tadi terletak diatas meja, dan menaruhnya kembali di rak buku. “Anda mau melihat dokumen-dokumen kan? silahkan, saya mau pergi dulu,”


“Um, Nona?”


“Ya?” Tia menelengkan kepalanya.


“Hidung anda mengeluarkan darah,”


Tia sontak terkejut, dengan gesit dia mengangkat kepalanya keatas, saat dia menyentuh filtrumnya, “Ko --kok bisa mimisan begini?” ucapnya pelan, padahal dia tidak bekerja terlalu berat, walaupun akhir-akhir ini ia merasa pusing, dan sedikit lelah.


“Anda baik-baik saja?” Harith mengeluarkan sapu tangan dari balik saku celananya, dia membantu mengelap hidung Tia yang berdarah. “Biar saya bantu,”


“Tidak perlu, saya bisa sendiri,” Tia mengambil alih sapu tangan Harith dan mengelap hidungnya sendiri. “Saya harus kembali sekarang... Sapu tangannya akan saya kembalikan besok, terima kasih.”


Harith mengangguk, dia melambaikan tangannya kearah Tia setelah perempuan itu kembali. Anehnya, dia merasa lucu dengan tindakan Tia yang tiba-tiba tertidur, dan panik melihat sesuatu keluar dari hidungnya.


...***...


“Nona!”


“Oh, emmm... Aria?” Tia buru-buru menyembunyikan sapu tangan milik Harith kedalam saku gaunnya. Dia tidak mau membuat Aria khawatir terhadapnya, “Ada apa?”


“Darimana saja sih, anda?”


“Aku... dari perpustakaan,”


“Kenapa anda tidak kembali? tuan Duke...”

__ADS_1


Tia lantas menatap Aria dengan lekat, “Ada apa dengan tuan Duke?”


“Tuan duke mengatakan kepada saya, kalau anda harus menemui seseorang,”


“Kapan dia memberi informasi?” Tia melipat kedua tangannya, bahkan pria itu semalam tidak mengatakan apa-apa, mereka berdua malah berdebat.


“Tadi pagi,” jawab Aria, “Anda darimana saja nona? semalam saya sudah mencari-cari anda ketaman, dan keruangan lain,” saat Aria mengatakan hal itu, jelas saja mungkin Adeis menemukan Tia di perpustakaan, tapi Adeis tidak memberitahukan keberadaan Tia ke Aria, karena Adeis pikir Tia memang sudah izin dengan Aria.


“Sebenarnya aku pergi ke perpustakaan malam itu, aku tidak bisa tidur. Tapi, saat baca-baca novel, aku malah ketiduran,”


“Saya malah melewatkan ruang perpustakaan, karena saya pikir anda tidak akan tertarik kesana,” ucap Aria, “Sebaiknya anda menyiapkan diri sekarang, dan bertemu dengan tuan Duke,”


“Baiklah.”


Tia memanyunkan mulutnya sedikit, dia sedikit kesal kenapa Adeis tidak memberitahukannya saja semalam, apa mungkin dia baru ingat dan memutuskan untuk memberi tahu Aria?


Perempuan itu masuk kedalam kamarnya, dan mulai bersiap-siap untuk mandi. Setelah Tia mandi, dan menyelesaikan riasannya, dia langsung bergegas pergi ke ruang kerja Adeis. Kata Aria, biasanya kalau sudah siang begini, dia berada disana, dan akan selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah sampai di ruangan Adeis, Tia mendengar beberapa orang sedang berbincang, Tia takut jika dirinya akan membuat tamu Adeis terganggu dengan kehadirannya.


TOK!


TOK!


“...?”


Tia terpaku sejenak, kedua matanya melirik kearah Adeis yang sedang menatap kearahnya. Ini bukan bercanda kan, di Novel tidak ada adegan seperti ini. “Ro... se?”


“Apa kabarmu, Tia?” Perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Rose, villain sekaligus main karakter sebenarnya di Novel asli. Tia mengingat rencana yang sudah ia tulis di sebuah kertas beberapa hari yang lalu, rencana yang sudah dia siapkan secara matang, harus berubah karena Rose.


Apa karena ini pesta perburuan, makanya Rose datang? tapi, pertemuan kedua Rose tidak seperti ini dengan Adeis.


“Nona duchess, duduklah di samping saya,” orang yang berada disamping Rose adalah Violet, dia melingkarkan tangannya ke lengan Rose, seolah-olah mereka memang sudah seakrab itu. “Adeis memanggil anda, karena kakak anda ingin bertemu dengan Nona,”


“Iya...” Tia ikut duduk disamping Violet, jantungnya entah mengapa tiba-tiba berdebar tak karuan.


“Kamu baik-baik saja, adikku?” Rose tiba-tiba mengenggam kedua tangan Tia. Dia mengusap lembut punggung tangan Tia. “Aku dan Ayah sangat khawatir ketika kamu gak mengirimkan surat sama sekali,”


Tia menatap tajam kearah Rose, rasanya ingin sekali ia mencolok kedua matanya itu, “Maaf kak,” ucapnya.


“Tia?”

__ADS_1


“Ya?” Tia bangkit dari tempat duduknya ketika Adeis memanggilnya, pria itu menaruh surat berstempel kediaman Willberia diatas mejanya. “Tanaman Calia itu kuserahkan padamu,”


“Oh, benarkah?” mata Tia berbinar-binar ketika menerima surat itu, “Yang mulia, terima kasih banyak,”


Adeis menatapnya dengan kalem, pria itu menghela napas panjang dan menatap kearah Rose serta Violet, “Aku akan membiarkan kalian berbincang sebentar, aku mau menemui ksatria Terrion dulu,” saat Adeis melewati Violet, tiba-tiba Violet mengenggam tangannya. Tia menatap pemandangan itu, entah mengapa hatinya sedikit sesak melihat Adeis yang sama sekali tidak menolak sentuhan Violet.


“Aku mau bicara empat mata dulu sebentar,” kata Violet tersenyum manis.


Adeis tidak menggubrisnya, dia malah menatap kearah Tia, “Jangan lupa segera selesaikan dokumennya.”


“Ba -baik...” Tia menganggukan kepalanya.


Sesaat setelah mereka berdua keluar dari ruang kerja tersebut, sekarang tersisa Tia dan Rose disana. Rose menatapnya nyalang, Tia tahu kalau Rose seperti akan marah terhadapnya, “Perempuan tidak tahu malu!” ucapnya pelan.


“Bagaimana bisa kamu ada disini?”


Rose berdiri dari tempat duduknya, ia mengusap lembut wajah Tia, “Aku masuk sebagai tamu. Kamu jahat sekali, masa kamu tidak mengundang keluargamu untuk hadir di perayaan besar seperti ini?”


“Kamu tidak berhak menginjakkan kaki disini, bahkan ayahmu,” Tia menepis tangan Rose dengan kasar. “Kalian selalu menyiksaku, mengurungku, bahkan kakak-kakakmu diam-diam melakukan pelecehan. Orang-orang seperti kalian tidak pantas untuk mengemis kepadaku,”


“Lancang kamu!”


PLAK!


Tia terhuyung, tamparan keras itu tepat mendarat di pipi kanannya, ia merasakan panas, “Apa bahkan kamu gak tahu? kakak-kakak sialanmu itu... setiap mereka pulang ke kediaman ayah, mereka selalu membicarakan hal-hal vulgar di depanku, menyentuh payudaraku, dan mengatakan bahwa itu tidak sengaja, kamu sama seperti mereka, kamu bahkan pura-pura tidak melihat kejadian itu,”


Walaupun Keira, atau Tia sekarang belum merasakan pelecehan langsung terhadap kakak laki-laki tirinya itu, dia tetap merasakan penderitaan dan bagaimana Tia yang dulu bisa bertahan di lingkungan orang-orang itu. Memang, mereka tidak sampai memperkosa Tia atau sebagainya, tetapi mereka hanya melakukan pelecehan verbal dan hanya menyentuh payudara Tia, tidak lebih. Mau bagaimana pun, hal seperti itu pasti membuat Tia asli depresi dan hanya bisa pasrah.


Kedua mata Tia memanas, dia menahan air matanya yang ingin jatuh, “Katakan saja, apa yang kamu lakukan disini?”


“Sialan, aku benci mendengar omong kosong mu yang mengatakan bahwa keluarga kami sangat buruk di matamu, padahal ayah sudah merawatmu dari kecil, aku membiarkanmu masuk ke keluargaku,” Rose tetap membiarkan intonasi nadanya tidak meninggi. Agar orang-orang diluar tidak mendengar perdebatan mereka.


“Apa kamu kesini hanya ingin melihat Adeis?” kata Tia.


“Apa?”


“Persetan dengan tindakanmu yang mengatakan kalau kamu merindukanku, kamu bahkan tidak mempunyai hati nurani sedikit pun,”


“Dasar ****** ---”


“Jika Adeis mengetahui sifat aslimu yang seperti ini, aku penasaran apa reaksinya. Apa kamu bahkan tidak takut sama sekali? Jika orang mengetahui bahwa kakak Duchess sangatlah jahat, apa tanggapan mereka?” Tia menatapnya dengan tajam. “Jangan menganggu kehidupan kami.”

__ADS_1


Tia meninggalkan Rose sendirian di ruangan itu, emosinya tertahan, jika tadi dia tidak menahan amarahnya, dia bisa menampar lebih keras dari tamparan Rose. Hanya saja, dia masih melihat situasi saat ini, belum saatnya Tia membongkar kejahatan asli dari Rose. Setidaknya jika ia berhasil membongkar kejahatannya, peluang Adeis bahagia bersama Eleonora masih ada.


Setidaknya, Tia ingin akhir yang seperti itu.


__ADS_2