Seduce The Male Lead

Seduce The Male Lead
Chapter 13


__ADS_3

“Tuan,”


Adeis seketika menolehkan kepalanya sebentar setelah seseorang memanggilnya dengan pelan. “Ada apa?” jawabnya.


“Saya menginformasikan tentang pertemuan Tuan baron Antrody dan nona Duchess. Ada sebuah obrolan yang sepertinya memancing emosi tuan baron pada saat saya menguping,” bisik orang tersebut, seseorang yang mengenakan jubah hitam dengan pedang disamping pinggangnya.


Alis Adeis mengerut, “Memancing emosi bagaimana maksudmu?”


“Saya menyaksikan, tuan baron menampar nona Duchess dengan keras, lalu setelahnya tuan baron meninggalkan nona di luar, saya tidak terlalu mendengar apa yang mereka bicarakan, karena jarak saya dengan mereka cukup jauh, dan saya memastikan bahwa mereka berdua tidak melihat saya,”


“Baiklah, terima kasih infonya. Kamu boleh pergi,” ucap Adeis sembari menghela napasnya.


“Baik tuan,”


“Oh... sebentar,”


“...?”


“Awasi nona Duchess, dan jika ada sesuatu yang mencurigakan, kamu bisa langsung memberitahukannya kembali kepadaku,”


“Saya akan melaksanakan perintah tuan, saya pamit undur diri.”


Cklek!


Terdengar suara jendela yang ditutup dengan pelan, Adeis menatap kepergian orang itu dengan serius. Itu adalah mata-mata yang sudah ia percayai selama menjadi seorang Duke di Willberia. Mereka disebut Assasin, mereka bisa membunuh, mereka juga bergerak secepat kilat, dan tidak ada yang tahu pasti identitas masing-masing diantaranya. Assasin ini hanya dibentuk dibawah kekuasaan Adeis sendiri, dan yang mengetahui keberadaan mereka, hanya dirinya serta para pengawal dan orang-orang lama.


Adeis mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kerja. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, waktu dimana biasanya orang-orang mulai beristirahat. Dia kembali memikirkan perkataan Assasin tadi, mengenai Tia. Adeis bahkan sudah mengetahui informasi bahwa Baron mengunjungi Tia, tapi ia tidak tahu kalau mereka akan terlibat percekcokan, entah apa yang membuat Adeis kepikiran, yang pasti tidak ada bekas tamparan di pipi Tia.


Tiba-tiba saja hatinya sedikit risau.


Beberapa hari lagi acara penutupan pesta perburuan akan ditutup, Tia sudah menyelesaikan pekerjaan dengan baik hari ini, Adeis sudah melihat hasil yang Tia pilih untuk dekorasi istana Aqashia, tidak buruk. Bahkan, Adeis sedikit menyukai hasilnya. Pria itu lagi-lagi menghela napas dengan panjang, ia bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


Kakinya menapak dengan pelan, koridor sungguh sepi, tidak ada para pelayan dan ksatria yang bertugas. Adeis menyugar rambutnya perlahan, rasanya ia tidak ingin istirahat hari ini. Setelah dirinya baru sadar, bahwa kakinya berjalan mengarah ke pintu kamar Tia, ia sedikit terkejut akan sikapnya.


“Apa yang kulakukan?” batinnya.


Adeis mengacak pinggang, menghentak-hentakkan sepatunya. Masih berpikir betapa anehnya dia saat ini. Akhirnya Adeis pergi dari kamar Tia, dan berjalan menuju ke kamar tidurnya. Tidak ada yang tahu bahwa saat itu, seorang Duke tengah berdiri mematung didepan kamar tidur Tia, bahkan Tia nya sendiri.


...***...


“Nona Tia... anda kedatangan seseorang,”


Tia yang sedang sibuk membaca buku di sofa lantas menutup bukunya, dan menatap kearah pintu kamarnya. Seseorang? apa mungkin itu ayahnya, atau Rose?


“Sebentar,” jawab Tia. Ia membuka kenop pintu, dan betapa terkejutnya mendapati seorang pria paruh baya yang tersenyum kearahnya. “Maaf, ada keperluan apa?”


“Saya ditugaskan tuan Duke untuk memeriksa kesehatan anda hari ini. Perkenalkan nama saya Hardy Whistledown, saya seorang dokter sekaligus guru sihir di akademi kekaisaran,” ucapnya dengan suara yang santai. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi hormat kepada Tia.


Tia juga membungkukkan tubuhnya, setidaknya dia juga harus sopan kepada pria yang jauh lebih berumur darinya, “Salam kenal,” Tia membatin dalam dirinya, Adeis menyuruh seorang dokter untuk memeriksa kesehatannya hari ini? apa yang ia lakukan? bahkan dirinya belum menanyakan pendapat Tia terlebih dahulu.


Tia duduk di kursi kayu yang mengarah ke jendela besar, nampak pemandangan asri memasuki pandangannya. Semerbak aroma teh mawar yang baru saja dibawa oleh Aria masuk ke indera penciumannya. “Terima kasih Aria, kamu boleh pergi.”


“Baik, Nona.”


“Pelayan pribadi anda hanya satu saja?” Hardy bertanya di sela-sela setelah Aria menghilang dari sana.


“Iya,”


“Rata-rata seorang bangsawan, setidaknya memiliki dua, sampai tiga,”


Tia tersenyum kecil, ia menyeruput tehnya, “Saya hanya percaya padanya,”


Terjadi keheningan sesaat, Hardy dengan sigap langsung mengeluarkan sebuah jarum kecil dari dalam tas hitamnya. Jarum kecil itu tiba-tiba berubah sedikit membesar setelah ia menjetikkan jarinya, “Baiklah kalau begitu, saya akan langsung memeriksa anda dengan jarum ini,”

__ADS_1


“Wah... bagaimana cara alat ini bekerja?” ujar Tia setelah merasa dirinya terlihat tertarik dengan jarum yang dikeluarkan oleh Hardy.


“Anda hanya perlu menyodorkan tangan anda, dan saya hanya akan menaruhnya diatas telapak tangan anda.” dia terlihat diam sebentar, setelah melanjutkan kalimatnya, “Jika jarum ini terangkat dan melayang, ia akan berubah menjadi sebuah tulisan yang hanya bisa dilihat oleh saya, itu berarti saya bisa mengetahui kondisi anda saat ini,”


“Uhm... baik...”


Sring!


Setelah jarum tersebut diletakkan diatas telapak tangan Tia, entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdegup dengan kencang. Sampai setelahnya, jarum itu perlahan mulai naik keatas, dan melayang. Berputar-putar dengan kencang, sampai membuat wajah Hardy berubah menjadi sedikit lebih serius. Apa ini maksudnya?


Sret!


“Hm...?”


“Y -ya... apa, apa tulisannya?”


Hardy menelan ludah sebentar, “Saya kurang mengerti maksud kalimat tersebut, tapi saya menyarankan anda untuk pergi ke kuil gereja,”


“Apa... apa saya sakit parah?”


“Tidak, tentu tidak. Ini sedikit sulit untuk saya jelaskan. Jika anda ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya, anda bisa pergi ke gereja dan menemui seorang pendeta disana,”


Tia terlihat berpikir sebentar, jantungnya berdebar-debar, jika ia ke kuil gereja, ada sesuatu yang harus ia pikirkan baik-baik. Kuil gereja dari wilayah Willberia membutuhkan waktu sekitar satu dua lebih, belum lagi mereka harus beristirahat sebentar di hutan. Sebenarnya ada kuil gereja yang dekat di Willberia, namun itu hanya sebatas kuil untuk berdoa dan beribadah. Jika ingin melakukan penyempurnaan kekuatan, penyembuhan, berobat secara batin, maka semua hal itu terdapat di kuil gereja yang besar.


Eleonora...


“Bagaimana Eleonora?” batin Tia, ia mengiggit bibir bawahnya.


“Saya akan membantu anda menjelaskan ini kepada tuan du-”


“Tidak... saya yang akan menjelaskannya sendiri,” ujar Tia dengan cepat.

__ADS_1


Hardy menghela napasnya dengan pelan, ia ragu untuk menjelaskan pemikirannya tentang apa yang ia baru saja lihat di tulisan itu. Hardy memilih untuk mengurungkan niatnya, berpikir lebih baik Tia mencari tahu sendiri. Sudah beberapa tahun lamanya ia menjadi seorang dokter, baru dua orang yang mengalami gangguan seperti Tia.


__ADS_2