Sekai : Ore wa sekai de motto tsuyoi ningenda

Sekai : Ore wa sekai de motto tsuyoi ningenda
Chapter 18 - Lady Killer


__ADS_3

Akhirnya aku bisa tenang kali ini tanpa gangguan, menikmati hembusan angin di malam hari ini, aku merebahkan diriku diatas atap, sambil melihat bulan yang bulat menerangi kota ini.



Angin sejuk ini, ingin membuatku tertidur, aku harap penjahat itu tak muncul, agar aku bisa bersantai, atau tidak bertemu dengan yang lain saja jangan bertemu denganku.



" Hei, kenapa kau malah bermalas malasan disini?"



Suara itu.. Glenda?, kenapa harus mengangguku



" tolong pergi sana hush hush!"



" Hei itu tak sopan!"



Dia marah marah seperti anak kecil, lalu dia duduk di sampingku, aku menoleh kearahnya, dia sedang memandangi bulan di atas.



Matanya terlihat sedih.



" kenapa kau kesini?"



" aku hanya berpatroli, dan kebetulan melihatmu disini"



Dia kembali berdiri.



" kalo begitu aku lanjutkan, dan kau jangan hanya diam disini



" iya iya"



Akhirnya dia pergi, aku masih ingin bersantai disini



Sedangkan itu situasi di asrama khususnya asrama yang di tempati oleh Reine,Cyne,Myne,Leshanna ini.



Asrama ini di penuhi aura persaingan untuk memperebutkan, tempat tidur di atas.



Ruangan ini terdiri 4 Tempat tidur, 3 di bawah berjejer, dan 1 diatas.



" karena aku paling tua, aku lah yang diatas"



" tidak bisa seperti itu Reine san!"



" Reine onee san, karena aku paling muda, aku lah yang harus diatas, hahahah!"



" a-aku tak masalah mau di mana..."



" lihatlah Leshanna, dia mengalah, jadi biarkan aku keatas"



Reine menaiki tangga



" tunggu dulu!"



Cyne menarik baju Reine, dan mebuatnya terjatuh dari tangga, kepalanya pun benjol



" hoi Cyne! Sakit!"



" hahahhaah!! Rasakan itu Reine onee san! Hahahahaa"



Reine memukul kepala Myne sampai terpentok lantai.



Cyne menendang punggung Reine.



Reine kemudiam kesal, dan membalasnya



Akhirnya ketiganya saling ganti memukul, sedangkan Leshanna naik keatas, dan lebih duluan merebahkan dirinya



" hoaam... oyasumi~"



" oyasumi Lesha-"



Reine menoleh kearah Leshanna



" hoi Leshanna! A-"



Bruak!, Myne memukul wajah Reine, lalu Cyne memukul perut Myne.



Mereka kembali saling memukul, Leshanna sudah tertidur dengan pulas di ranjangnya.



******



Githa terbang tinggi dengan sihirnya, dia mengatamati lewat udara, dia tahu semua posisi temannya, Selise yang sedang sibuk berpatroli di tempat kumuh, Glenda yang sedang saling bertatapan dengan anjing liar, dan Shiro yang sedang tidur di atas atap.



Githa hanya bisa menghela nafasnya.



Tak lama kemudian, dia melihat seseorang yang mencurigakan berjubah tudung hitam, sedang berada di atas atap rumah.



Githa memperhatikan, orang mencurigakan itu memasuki Jendela, Githa menurunkan terbangnya, dan mendarat dekat rumah itu sambil bersembunyi.



Dengan posisi siap menyergap, Githa meghadang orang mencurigakan itu keluar.



Menunggu sekitar 4 menitan, Orang itu keluar.



" berhenti kau!"



Githa berteriak, namun orang mencurigakan itu langsung melempar 3 pisau ke arah Githa.



Dengan segera Githa mengeluarkan Pelindung untuk menghalaunya.



" Aku yakin itu pasti dia"



Githa langsung menembakkan sihir api keatas dan membuatnya meledak, sebagai tanda dia menemukannya.



Glenda dan,Selise yang melihat itu, segera menujunya.



Githa terus mengejar orang mencurigakan itu, di jalan dia terus di lempari Pisau, membuatnya sedikit kesal, jalan berkelok kelok, kotak kotak yang berada di jalanan dia robohkan untuk menghambat jalan Githa.



Merasa tak akan bisa mengejar jika hanya berlari, Githa menggunakan sihir terbang, dan mengejarnya dengan cepat, sedikit lagi Githa bisa mencapainya dan menangkapnya, namun orang mencurigakan itu melompat keatas, Githa yang panik karena tak sadar didepannya jalan buntu, langsung menaikkan ketinggiannya secara paksa, namun itu membuatnya energinya terkuras sangat banyak.



Githa sudah mengeluarkan peluh, tandanya dia sedikit kelelahan.



Selise dan Glenda sudah dekat dengan Githa.



Lalu Githa menunjuk kemana orang itu lari, mereka bertiga kembali mengejarnya.



Mereka bertiga mengambil arah yang berbeda, mereka berniat untuk mengepungnya.



Sampai pada akhirnya Orang mencurigakan itu terkepung oleh ketiga guardian itu.



Dan membuka jubahnya.



Wajahnya yang cantik dengan rambut ungu, kalung terlihat seperti salip tergantung di lehernya, pakaiannya hanya menutupi bagian kewanitaannya saja



" perempuan?!"



Glenda tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya dengan apa yang dilihat, ternyata kriminal yang selama ini mereka kejar adalah seorang wanita.



" kau! Aku mengenalmu! Kau adalah orang yang bekerja di bar itu kan?!"



" ara~ sepertinya aku ketauan, tak ada pilihan yaah~"



Wanita itu mengeluarkan enam pisau masing masing tiga di satu tangannya.



Selise dan yang lainnya pun segera mengambil posisi siaga.



Githa mulai merapalkan sihirnya.



Wanita itu langsung melempar pisaunya kearah Githa.


__ADS_1


Githa tetap tenang, tanpa konsenstrasinya terganggu, Githa menghindar kekanan.



Akan tetapi itu kesalahan fatal yang di buat Githa, dia tak tau, bahwa Wanita itu langsung berada tepat di mana pisau itu, dia kembali memegang pisaunya, dan melemparkan kearah Glenda dan Selise.



Githa yang terkejut dan kehilangan konsentrasi terkena tusukan di pinggangnya.



Darah mulai mengalir keluar dari pinggangnya, Githa menahan rasa sakitnya, dan terduduk ditanah.



" Githa!!"



Selise berteriak kepada Githa



" jangan berteriak ini sudah malam"



Wanita itu tiba tiba berada di depannya, dia baru ingat bahwa dia melemperkan pisau kearahnya



Selise menghunuskan Lance nya kedepan, namun Wanita itu menghilang, dan muncul ke Pisau yang terbang menuju Glenda.



Glenda yang sudah tau itu, dia mengangkat tamengnya dan menangkis pisau kecil yang kembali di lemparkan kearahnya.



Tak hanya diam Selise mencoba menyerang Wanita itu, namun dengan mudahnya wanita itu menghindar.



Wanita itu tak  memperkirakan bahwa dia akan di serang dari belakang,sebuah sihir api tepat di punggungnya, dia pun terpental.



Githa memuntahkan darah dari mulutnya, dan tak sadarkan diri



Selise mendecik.



Glenda langsung mengejar Wanita itu yang masih berada di udara.



Pedang Glenda mulai bersinar kuning terang.



Glenda melompat.



" [ Bombastic Smash!]"



Tebasannya itu menghantam tanah, dan tanah nya terbelah sepanjang 200 meter, untungnya tak ada rumah yang terkena itu, namun akibag itu, banyak,warga yang terbangun dan melarikan diri.



Glenda yang mengira telah mengenainya langsung tersenyum.



Akan tetapi dia melihat wanita itu berdiri tegak di hadapannya tak terkena tebasannya.



" apa yang terjadi!"



Glenda terkejut dengan hal yang di lihatnya itu.



Selise melemparkan Lancenya ke arah wanita itu, namun wanita itu dengan mudahnya mengelak, Selise berlari mendekatinya, dan bertarung dengan tangan kosong.



Selise memukul ke wajah Wanita itu, dan dia tangkis dengan satu tangannya, tak,sampai di situ, Selise melancarkan serang kombonya, Perut, perut, tangan, dada, perut, dan wajah, dia melancarkan enam serangan itu, namun semuanya berhasil di tepis oleh wanita itu.



Lalu wanita itu menyerang balik, Selise dapat menangkisnya dan menangkap lengannya dan membantingnya ketanah, hingga membuat retakan di tanah.



Wanita itu sedikit kesakitan, lalu melepaskan diri dari genganggaman Selise.



Lance Selise yang jauh darinya lalu kembali ketangannya.



Glenda datang dari belakang Wanita itu dan mencoba  menebasnya dari belakang, tetapi wanita itu dapat menghindarinya.



" Seperti yang di harapkan dari para Guardian, kekuatan kalian memang tak bisa di remehkan~"



" cih, apa maksudmu melakukan hal ini??"



" aku hanya-"



Shiro yang sedang tertidur pulas tiba tiba terbangun saat mendengar sebuah ledakan yang berada 1km dari dirinya.



******




Aku bergerak dari atap keatap lain.



Apa apaan mereka, malah menghancurkan rumah rumah para warga bukannya mereka Guardian



Aku hanya bisa menghela napas dan terheran heran.



Namun beberapa saat kemudian, menjadi hening, tak ada kehancuran lagi, apa sudah selesai? Kalo begitu aku harus cepat.



Saat aku telah sampai, aku terkejut melihat... err.... siapa namanya.. Githa? Ya itu dia, dia bersimbah darah, apa yang terjadi padanya?



Sedangan 2 lainnya tersungkur tak sadarkan diri.



Sekuat apa musuhnya? Sampai mereka bertiga tak bisa mengalahkan? Atau mereka itu lemah? Hahaha ya itu pasti, mereka hanya lemah.



Untuk sekarang sepertinya aku harus menghentikan pendarahan Githa dengan menutupnya, agar dia tak kehabisan darah.



Sepertinya tak ada semacam kain disini...



Aku merobek bajuku, melilitkan di pinggangnya dengan kencang, walaupun dia tak Sadarkan diri ekspresinya mengatakan seolah olah dia kesakitan.



" Uhh.... "



Sepertinya Selise atau Glenda sadar.



Aku mengangkat Githa dan menyenderkannya di dinding dekat Selise yang terbangun.



" Selise, kenapa kalian kalah? "



" B-berisik ! Kami hanya lengah "



" Ohh... Kukira Karena kalian lemah "



" M-mana mungkin bodoh ! "



Pfftt... Entah kenapa Aku ingin tertawa



" A-apa ?! M-menertawakan Kami?! "



" Tak ada, Aku hanya ingin tertawa "



" Aku masih tak bisa bergerak.. "



" Efek Paralyze... Jadi dia menggunakan pisau yah "



" Kenapa kau tau ? "



" Karena yang paling mudah menggunakan Paralyze dengan perantara Pisau "



Assassin kah? Jujur ini sedikit merepotkan melawan assassin, apalagi pengguna pisau.



Apa aku harus menggunakan itu ? Ah tidak tidak, masih terlalu Cepat mengambil kesimpulan.



" jadi kemana larinya dia? "



" entahlah, aku tak tau apa apa lagi "



Bagaimana caraku mengejarnya kalau begini? Aku ingin cepat cepat menyelesaikan ini dan tidur.



" kurasa aku tau dia dimana"



" Glenda? Kau tak apa kan?!"



" aku baik baik saja Selise"



Glenda mencoba duduk, dan menarik napasnya dan menghembuskannya.

__ADS_1



" dia ada di gereja"



" dari mana kau tau?"



" dia memakai kalung mirip salip, hanya satu tempat yang ada itu disini, Gereja di bagian timur yang sudah tak terpakai lagi"



Untung saja ada petunjuk seperti ini, akan jadi lebih mudah aku mencarinya.



Sekarang mari kita cari dan segera selesaikan agar aku segera bisa tidur nyenyak malam ini.



" Jagalah teman kalian Githa, aku akan membereskannya"



Aku meregangkan badanku sedikit



" Hati hati Shiro, aku tau kau itu kuat, tapi dia juga kuat"



Selise memperingatiku



" Agak mengesalkan mengatakan ini padamu, akan tetapi, kami serahkan padamu Shiro"



" Kami akan segera menyusul setelah pulih"



Aku mengambil ancang ancang, dan melompat ke atas atap.



Gereja kah? Apa aku pernah melihatnya dulu, coba ku ingat ingat.



Hmmm... Bagian Timur



Gereja...



Ahhh aku ingat! Aku pernah dengan Rosaline kesana, bukannya dulu itu masih dipakai, kenapa sekarang sudah tak terpakai?



*****



Rose PoV



Aku berjalan di lorong lorong, dan menghela napasnya.



" kenapa tak ada yang membangunkanku... Padahal aku ingin ikut Shiro dan yang lain lainnya berpatroli"



Kamar itu? Kamar mama kan? Kenapa kamar mama masih terang? Apa yang di lakukan mama?



Aku mendekati kamar mama, aku mendengar suara percikan, dan sepertinya mama terdengar mendesah.



Aku mengintip melewati sela sela pintu.



Aku tak bisa menahan keterkejutanku.



Mama memainkan vaginanya sendiri, a-apa... Aku baru tau mama seperti itu.



Terlebih lagi dia menyebut nama



" ahh~ Shiro kun... Terus~ masuk lebih dalam... Euhhhhh!!"



Mama menggeliat dengan sangat hebat, cairan cintanya mengalir dengan deras keluar dari ****** mama.



K-kenapa aku tiba tiba ikut terangsang...



Selangkangan ku terasa gatal, aku menggesek gesekkan kedua pahaku.



Sedikit cairan membasahi celana dalamku.



Apa aku jadi orang mesum?



Saat aku menoleh kedalam lagi, mama sudah menghilang, itu membuatku kaget.



" Ara~ Rose, mengintip itu tak baik tau, fufu~"



Tiba tiba saja mama muncul di belakangku, itu membuatku jantungan



" M-mama! Mengagetkan!"



" apa yang Rose lakukan? Mengintip mama? Dasar anak tak sopan"



Ehhh?! A-apa ini! Uhhh... Ahh~ mama menyentuh ****** ku...



" m-mama?!"



" anak nakal harus di hukum"



Senyum mama mengerikan.



" sekarang ikutlah dengan mama"



Aku di tarik mama ke dalam kamar, apa yang akan dilakukan mama? Tidakkk



" mama apa yang mau mama lakukan? Tidakkkkkk!!!!"



*****



Shiro PoV



Aku telah sampai di dalam gereja, namun saat aku menelusurinya, aku tak menemukan apapun disini, kosong, hanya bebangkuan yang sudah rusak.



Aku menyentuh setiap dinding, dan lantai, saat ku menyentuh lantai di dekat membar, aku merasakan lantai ini lebih ringan dari yang lainnya.



Ruang bawah tanah? Bagaimana caranya membukanya? Apa ku hancurkan saja?



Aku menoleh ke sana kemari, dan aku melihat ada satu wadah tempat menaruh Obor, aku menariknya.



Dan ternyata benar saja, itu tombolnya



Lantainya terbuka sendiri, dan terlihat tangga menuruni kebawah dalam kegelapan.



Aku mengantifkan [Silent Step] dan bergerak dengan cepat menuruni.



Sepanjang jalan aku mencium bau amis disini.



Sampai pada akhirnya, ada cahaya dari api obor yang terang di ujung.



Saat aku sampai disana.



Melihat hal hal disana, aku tak bisa berkata apa apa lagi, Aku marah, marah dan marah.



Akan kusiksa dia yang melakukan hal keji kepada anak anak seperti ini.



Tubuh anak anak yang terpisah dari kepalanya tergantung di rantai, tak hanya satu tetapi puluhan tergantung rantai.



Kepala nya berada dalam sebuah gelas, berisi air berwarna hijau.



Aku mencoba untuk tetap tenang sementara ini, dan mendekati tubuh itu.



Semua tubuh yang tergantung ini  berbeda beda kondisinya, ada yang masih terlihat segar dengan darah mengalir, ada yang kering seperti tulang.



Aku mendoakan kalian semoga tenang.



Dan aku akan membalaskan apa yang kalian rasakan, kepada yang melakukan hal ini kepada kalian.



Lihat lah dari sana, anak anak kecil tanpa dosa yang malang.



To be Continue



__ADS_1


__ADS_2