Sekai : Ore wa sekai de motto tsuyoi ningenda

Sekai : Ore wa sekai de motto tsuyoi ningenda
Chapter 21 - Serangan (2)


__ADS_3

Banyak para prajurit yang terluka parah dan mati, sedangkan ke 3 Guardian masih tetap berdiri tegak tanpa kelelahan sama sekali.


Serangan para Demin berhenti sementara, mayat mayat Troll, Ogre dan goblin berserakan di tanah, lalj di bakar oleh penyihir api, untuk di musnahkan.


Yang terluka di sembuhkan oleh para Priest yang baru saja datang.


" Kenapa para Demon nya berhenti menyerang?"


Glenda meletakkan perisai dan pedangnya lalu duduk bersender di dinding.


" Entahlah mungkin mereka mengatur strategi"


Selise menancapkan Lancernya dan bersender di lancernya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


" hahaha! Para Demon tak ada yang punya otak, mereka hanya ketakutan dengan kita saja"


Glenda tertawa dengan keras, membuat para prajurit yang lain melihat kearahnya


" err... Glenda, aku pernah mendengar desas desus, tentang 7 Commander di Wilayah Demon, konon katanya mereka sangat kuat, dan pintar seperti kita"


Githa duduk ditanah dengan gaya dogeza


" itu hanya Mitos Githa, Mitos, tak usah di percaya"


" Aku juga pernah mendengarnya tentang hal itu, bisa jadi penyerangan kali ini di pimpin oleh 7 Commander"


" bahkan Selise juga? Terserahlah, aku tak percaya tentang hal itu, semua Demon itu bodoh, dan harus dimusnahkan!"


Tanah mulai bergetar, para prajurit mulai waspada begitu pula ke 3 Guardian


" apa lagi ini? Gempa bumi?"


Selise mencabut Lancernya dan memasang posisi siaga


" Tak mungkin ada Gempa disini Selise san "


Githa berdiri dan memandangi sekitar.


" a-apa apaan itu?!"


Glenda terdiam membeku, saat melihat Troll dan Ogre yang sangat besar, tingginya mencapai 17 meter.


" Aku tak pernah mendengar bahwa ada Troll dan Ogre sebesar itu! "


" J-jumlahnya bahkan ada puluhan!"


" A-apa yang harus kita lakukan, Selise san Glenda san?!"


Githa mulai terlihat panik


" Para prajurit dengarkan aku?!, masuklah kedalam gerbang, bawa yang terluka dan segera ungsikan para warga! "


" T-tapi Glen- "


" Sudahlah! Cepat masuk, serahkan saja ini pada kami! "


Glenda berteriak dengan sangat keras


" BAIK!"


Para prajurit langsung mengangkat yang terluka dan membawanya ke dalam gerbang.


Dan yang lainnya langsung, menyuruh para warga mengungsi ke titik yang lebih dalam lagi, yaitu dekat dengan istananya.


Para warga yang panik, berdesakan saat di perjalanan, membuat para prajurit kelelahan mengaturnya.


Ke 3 Guardian tanpa menunggu para Troll dan Ogre mendekat lagi, langsung saja mereka menyerang para Ogre dan Troll tersebut.


Namun serangan Selise dan Glenda tak ada yang mempannya.


Bahkan Sihir Githa pun hanya melukai sedikit tubuh Ogre dan Troll


Satu Troll yang berdiri di depan Selise mulai mengayunkan Kayu besar, meskipun besar, namun itu sangat cepat, sehingga Selise tak bisa menghindarinya.


Terpaksa Selise menangkis dengan Lancernya


Meskipun dia dapat menangkisnya, tetap saja dia terlempar jauh ke samping, sampai menghantam pohon.


" ughh!... Gila... Sakit sekali!"


Selise mulai sedikit mengeluarkan darah di mulutnya.


" Glenda san! Bisakah kau mengulur waktu? Sepertinya aku bisa membunuh nya dalam satu serangan"


" apakah cukup 40 detik?"


" aku hanya perlu 20 detik"


" baiklah"


Githa mulai merapalkan sihirnya


" Wahai es abadi, dengarkanlah permintaanku"


Lingkaran sihir tulisan kuno berwarna biru tercipta di depan Githa  meskipun masih tergolong kecil.


" Pinjamkan kekuatan suci mu, bekukan semua yang ada di depanmu"


Linkarannya semakin membesar dan membesar seukuran dengan para Troll dan Ogre.


" Glenda san! Mundurlah!"


Glenda menoleh kearah Githa dan melihat Lingkaran sihir biru besar, dan membuat nya kaget, langsung saja Glenda berlari dan bersembunyi di belakang Githa.


" [ Halheim Icey Field]"


Githa mengucapkannya dengan sangat lantang


Dari lingkaran tersebut muncul lah butiran butiran es, lalu dengan cepat menyerbu para Troll dan Ogre, dan membuat mereka membeku seketika.


Akan tetapi, Ogre tersebut bisa melelehkan Es nya, dengan Api mereka.


Hanya para Troll yang masih membeku.


Dengan Cepat Selise bangkit, dan memecahkan semua Troll yang membeku, dan melewati para Ogre, kembali kepada Githa dan Selise.


" Para Ogre itu sangat kuat, bahkan sihirku tak bisa"

__ADS_1


" dan juga tubuh mereka sangat, keras, apa yang kita lakukan Selise?"


Glenda dan Githa menatap ke Selise.


Selise terlihat sedang berpikir.


" Jika saja Putri Rose ada disini, mungkin kita bisa"


" Tapi kita tak bisa membahayakan Putri Rose"


" Iya benar Selise"


" Kalo begitu tak ada pilihan, mari kita lawan sekuat tenaga!"


" Ya!"


Selise, Githa dan Glenda, berjuang mati matian untuk melawan 1 Ogre saja, butuh waktu yang cukup lama untuk membunuh 1 Ogre, namun Ogre masih tersisa banyak, Mereka sudah kelelahan, keringat mereka mengucur dengan deras membasahi tubuh mereka.


" hah... hah.... Yang benar saja..."


Selise bertekuk lutut, menancapkan Lancernya ketanah, Selise sudah sangat kelelahan, begitupula dengan Githa dan Glenda.


Para Ogre masih terus berdatangan.


" aku tak pernah menyangka akan melawan monster macam ini, dan terlebih lagi jumlah mereka sangat banyak"


" t-tapi kita tak bisa menyerah, Selise san, Glenda san! Kita harus melindungi Kerajaan ini, meskipun nyawa taruhan kita!"


Githa kembali berdiri, semangatnya untuk melindungi Kerajaan masih belum padam, maka dari itu Selise dan Glenda juga ikut berdiri, dan memegang masing masing senjata mereka kuat kuat.


" setidaknya, kita bisa menahan para Ogre ini, sampai bala bantuan datang"



Yura sedang berdiri di depan, para para murid akademi semuanya berkumpul di sebuah aula, mereka pun terlihat berbicara satu sama lain, bingung kenapa di kumpulkan di sini.


" Kalian Diamlah!"


Namanya adalah Remora Bridger dia adalah wakil kepala akademi, meskipun umurnya masih tergolong muda, baru berumur 22 tahun dia sudah menjadi wakil kepala akademi ini.


Sifatnya yang keras dan sinis tersebut membuatnya di takuti, tak hanya itu konon katanya kekuatannya itu setara dengan sang kepala akademi Yura.


Semuanya Hening, dan mulai serius memperhatikan apa yang akan di sampaikan oleh Yura sang kepala akademi.


" Kerajaan sedang dalam keadaan darurat, maka dari itu, bagi murid kelas ke tiga, kalian di wajib kan membantu Kerajaan"


salah seorang murid mengangkat tangannya.


" apa yang sedang terjadi, Yura sensei?"


" Kerajaan kita di serang oleh, para Demon"


Sontak para Murid kembali berisik.


" Bagaimana ini? Apakah Shiro sama ikut bertarung?"


Tanya Cyne ke Reine


" Bisa saja, aku juga khawatir dengan Shiro"


Leshanna seperti sedang berdoa


" tenang saja! Master itu kuat! Apa pun akan di hajarnya!"


Reine dan yang lainnya melihat ke Myne dan mengangguk


" Benar juga.. Shiro sama adalah orang yang kuat!"


Yura kembali berbicara saat kedaan mulai tenang lagi.


" bagi murid kelas 1 dan 2 silahkan diam di asrama masing masing dan jangan ada yang keluar!"


" BAIK YURA SENSEI!"


Yura meninggalkan tempatnta dan keluar dari Aula.


" Bagi para kelas 3, bersiaplah, kita akan berangkat! Jadi bawalah perlengkapan kalian, sekarang bubar! "


Para murid berhamburan keluar aula, para murid kelas 3 secepatnya menuju asrama masing masing, dan mengambil perlengkapan mereka.


Sedangkan itu, Selise dan yang lainnya masih berusaha menahan serangan para Ogre, baru 6 Ogre yang mereka tumbangkan, sedangkan Ogrenya masih tersisa banyak.


Githa sudah mencapai batasnya, Selise dan Glenda tak melihat Githa yang sudah tak bisa bergerak, dia terdiam, dan ngos ngosan.


Salah satu Ogre memukul Githa sampai terpental ke dinding, dindingnya hancur.


" Githa!"


Glenda berteriak, dan menoleh kearah Githa yang terpental ke dinding


Ogre yang didepannya mengayunkan Kayu berapi yang besar ke arah Glenda, Glenda dapat menangkis dengan Perisainya, namun dia termundur cukup jauh, karena saking kuatnya pukulan tersebut.


Sedangkan Selise baru saja berhasil membunuh 1 Ogre, pakaian Selise pun terliat rusak, sehingga seluk beluk tubuhnya terekspos, payudaranya yang besar menyembul dari armornya, Bagian bawahnya hanya di tutup sebuah plat besi.


Meskipun tubuhnya banyak luka, tak bisa di pungkiri bahwa Selise masih terlihat cantik dan sexy.


Selise mengambil langkah mundur, dan membantu Glenda.


Ogre yang ada di depan Glenda tumbang oleh hunusan Lancer Selise.


" Glenda, selamatkan Githa"


" Tapi Selise-"


" Sudahlah! Dengarkan aku Glenda!"


Glenda terdiam.


Selise menyentuh pipi Glenda, dan langsung mengecup bibirnya Glenda, Pupil Glenda membesar karena kaget, namun Glenda juga menikmatinya.


Setelah kecupan mesra tersebut, Selise tersenyum.


" Kita akan bersama lagi Glenda, percayalah"


Glenda menetes kan air matanya.


" Janji yah..."

__ADS_1


Mereka berdua berjanji dengan mengaitkan jari kelingking.


Glenda langsung berlari menuju Githa terpental.


Dua sisi dinding mulai jebol juga.


Para Demon menyerang dari 3 arah, Glenda yang melihat hal itu  menggertakkan giginya, dan mempercepat larinya menuju Githa yang tertimbun reruntuhan.


Sedangkan Selise masih tetap berdiri tegak, meskipun tubuhnya sudah hampir mencapai batas, dan terus melakukan serangan bertubi tubi hingga 1 Ogre tumbang.


2 Dinding yang sudah di jebol tadi, di masuki oleh banyak Demon, Goblin yang masih ada Gargoyle, Succubus dan masing masing 1 Naga di dinding yang jebol.


Sedangkan Preta berjalan santai di belakang para Ogre, meskipun masih jauh dari posisi Selise berada


Glenda telah menemukan Githa yang tak sadar kan diri dari reruntuhan, dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuannya, dari mulutnya Githa mengeluarkan darah yang cukup banyak.


Para prajurit yang melihat banyak demon yang menerobos, langsung panik, dan tak bisa apa apa selain lari


2 Naga tersebut bersama sama menyemburkan api, dan membakar rumah rumah, menjadikan bagian terdepan kerajaan ini menjadi lautan api.


Glenda melihat lautan api tersebut, membuatnya bergetar, pantulan api di matanya membuatnya menderita, dia mengingat kejadian masalalunya yang merenggut keluarganya, kampung halamannya terbakar oleh api yang tak dia ketahui.


Tapi sekarang Glenda, benar benar ingat, inilah api yang membakar desanya


Amarahnya Glenda mulai melunjak, giginya menggertak, hingga dia tak sengaja menggigit lidahnya sendiri sehingga mengeluarkan darah.


Dia melihat keatas langit, dan melihat 2 Naga terbang di tempat yang berbeda, Glenda menempatkan Githa di tempat yang aman.


" Githa maafkan aku..."


Glenda berdiri dengan tatapan penuh kemarahan, dia langsung saja menuju ke arah naga yang berada di bagian kanan.


Sedangkan itu diatas menara, Rose dan Ratu Rosalia melihat kejadian ini, kerajaannya di serang oleh Demon.


Rosalia terlihat panik, dia tak tau harus bagaimana


" mama, dimana Shiro?"


Rosalia tak tau harus menjawab apa


"apakah Shiro sedang bertarung juga?"


" i-iya Shiro kun sedang bertarung"


" mama?"


" Rose, carilah tempat aman... Berlindunglah"


" apa yang akan mama lakukan?"


" Melindungi Kerajaan ini"


Rosalia mengelus kepala Rose, dan tersenyum kepadanya


" kalau begitu aku akan ikut!"


Rosalia menggelengkan kepalanya


" K-kenapa?!"


" Rose, kau adalah penerus ku, jadi lindungi lah dirimu"


" T-tapi -"


" Dengarkanlah kata kata ibumu.."


Sayap berwarna emas berkilauan muncul di belakang Rosalia, butiran butiran berwarna emas berjatuhan dekat tubuhnya Rosalia.


Rose terdiam melihat ibunya, dia tak tau ibunya adalah seorang Dewi.


Rosalia langsung terbang menuju tempat yang sedang di serang oleh naga dan demon lainnya.


Bala bantuan dari akademi sudah tiba.


Para murid membantu prajurit mengurus di masing masing dinding yang jebol, keadaan mulai sedikit berbalik, Meskipun masih banyak demon yang menyerang.


Terutama Naga yang terbang tersebut, hanya para penyihir yang bisa menembakinya, namun tak ada efek apapun.


Yura dan Remora berserta murid lainnya menuju gerbang, dan melihat Selise sudah tak sanggup bertarung lagi, Selise tumbang ketanah, sedangkan ada Ogre di depan nya bersiap menghantam tubuh Selise.


Remora dengan cepat langsung melemparkan Tombak Merah darahnya yang muncul di tangannya ke Ogre tersebut, sehingga melubangi perut Ogre tersebut dan tumbang kebelakang.


Dengan cepat Remora mendekati Selise.


Selise hampir tak sadarkan diri.


" Re.. Remora?.. A-apa kabarmu..."


" Diam Selise bodoh!"


Remora mengangkat tubuh Selise dan mendekatkannya dengan para Murid yang bisa menggunakan sihir penyembuh.


Selise mulai di sembuhkan oleh para murid yang menggunakan sihir penyembuh.


" Mari kita bereskan ini "


Yura berganti jadi Wujud Loli nya, dan memasang Sarung tangan pinknya.


Kilatan listrik mengaliri tangannya.


" Ya kepala akademi Yura"


Remora mengeluarkan 2 Tombak merah darahnya, yang muncul dari ruang dan waktu.


Yura melihat kebalakang para Ogre, terlihat seorang wanita yang berjalan santai, dan bertandung, tersenyum kearahnya.


" Remora, kuserahkan para Ogre ini padamu"


" Baiklah kepala Akademi Yura! Berhati hatilah"


Yura mengambil ancang ancang berlari, tanah mulai retak, Yura melesat dengan cepat melewati para Ogre dan menuju Preta, pemimpin Demon ini.


Di saat ini, di dalam kamar Shiro


Dia masih tak sadarkan diri, sambil terikat sihir Bind nya Rosalia.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2