
...Takdir? ...
...Apakah kau percaya takdir?...
...Aku berharap takdir itu benar-benar nyata....
...Aku cukup lama mencarinya, hingga dia akhirnya datang sendiri di hadapanku....
...Aku sudah lama mengamatinya tetapi dia tidak sadar akan keberadaanku....
...***...
"Ga, gue pulang duluan." Ucap senior Raga namanya James.
Raga mengenalnya sewaktu melamar pekerjaan di kantor ini. James melihat riwayat pendidikan Raga dan ternyata Raga adalah juniornya waktu SMA. Raga akhirnya di terima bekerja di kantornya James. James juga melihat bahwa Raga sangat pintar dan merupakan lulusan terbaik di kampusnya.
"Iya bang. Gue sebentar lagi. Tinggal nambahin satu data habis itu save..," ucap Raga.
James mengangguk lalu menepuk bahu Raga pergi melewatinya. James keluar ruangan lebih dulu. Raga memang anak yang rajin.
Beberapa menit kemudian, Raga menyelesaikan pekerjaannya. Ternyata sudah pukul 7. Raga memasukkan berkas-berkasnya ke dalam lemari dan menguncinya. Raga memegang tas kantornya lalu keluar ruangan kantor.
Raga melihat langit sudah gelap. Jalanan sangat ramai. Dia memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan hingga ke halte bus.
'Sebentar lagi tahun baru..,' Batin Raga melihat anak kecil berlarian di taman.
'Guk..guk..'
Raga mendengar suara anjing menggonggong dan mengejar seseorang bersama teman-temannya. Dia terkekeh melihat itu lalu melanjutkan langkahnya.
Raga menghentikan langkahnya di sebuah toko dengan televisi besar menggantung di kaca. Di sana terdapat wawancara eksklusif selebritis yang baru-baru ini menikah.
'Sejak kapan kalian bersama?'-Pembawa Acara
'Haha, itu. Kami bertemu waktu SMA dan tidak mengira bisa bertemu lagi.' - Pria
'Ah iya. Aku ingat pertama kali kita bertemu di Bus 021. Benar-benar. Waktu itu aku tidak sengaja menginjak kakinya gara-gara berdesakan haha.' Wanita.
'Kamu ingat sayang. Ah, aku bahkan tidak ingat kejadian memalukan itu.'-Pria.
'Wah, sepertinya Bus 021 mempertemukan kalian.'- Pembawa Acara.
'Benar, itu tidak hanya sekali tapi berkali-kali dan terakhir kali kami juga bertemu di sana.' - Wanita.
'Iya, aku tidak menyangka hari itu menjadi akhir kehidupan lajang kita.' -Pria.
Raga menggelengkan kepalanya melihat tingkah romantis pasangan selebriti itu.
'Ah, apaan. Hampir setiap hari gue naik bus itu. Gak ketemu tuh sama jodoh.' Batin Raga.
Raga melanjutkan langkahnya namun tiba-tiba dia teringat wajah seorang gadis yang dia sukai semasa putih abu-abu, Clara.
Raga tersenyum kecut bahwa dia berkali-kali bertemu Clara di bus itu. Tapi sudah empat tahun berlalu, semenjak itu setiap dia naik bus itu tidak melihat Clara lagi.
'Mungkin dia sudah menikah.' Batin Raga.
Raga berdiri di halte lalu naik ke dalam bus 021. Seperti biasa bus ini selalu penuh dan berdesak-desakan untuk masuk ke dalam. Raga memegang pengait di atas kepalanya.
Bus 021, berhenti di halte lain. Samar-samar Raga seperti melihat Clara berdiri di halte itu namun dia menggelengkan kepala mungkin saja dia berhalusinasi.
'Deg'
Raga terbelalak kaget.
'Benar. Itu Clara.' Batin Raga.
Clara tampak berusaha menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam bus dan tidak menyadari Raga menatapnya. Clara berhasil berdiri di hadapan Raga namun tiba-tiba seseorang mendorong Clara membuat Clara terjatuh ke pelukannya.
'Deg'
Raga melihat tubuh gadis ini sangat kecil.
'Dia tidak berubah sama sekali.' Batin Raga
Raga menahan kedua bahu Clara. Clara mengangkat wajahnya dan terkejut menatap Raga.
"Ma-maaf..,"
Raga dapat melihat raut kegugupan di wajah Clara. Raga berfikir Clara sangat menggemaskan baginya. Dia ingin memeluk tubuh Clara lagi.
Bus tiba-tiba melaju dan lagi doa Raga di kabulkan. Clara jatuh ke pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Raga khawatir.
__ADS_1
Raga dapat melihat wajah merona Clara dari jarak sedekat ini.
"I-iya." Gugup Clara.
Clara mencoba memperbaiki posisinya dan Raga mengamati bahwa sepertinya Clara sedang melamun dengan pikirannya.
'Duk!'
Bus mengerem mendadak. Clara lagi-lagi jatuh ke pelukannya. Kali ini Clara tidak melepaskan pelukannya membuat Raga gugup.
'Ah, sial. Ini bahaya.' Batin Raga.
"Clara..," panggil Raga.
Raga dapat melihat ekspresi terkejut Clara dan melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku Raga!" Ucap Clara panik.
Raga terkekeh melihat ekspresi lucu itu, "Tidak apa-apa. Berpeganglah nanti kamu jatuh."
Clara mengangguk dan memegang besi sandaran bangku disebelahnya. "Terimakasih."
Raga dan Clara dengan posisi berhadapan satu sama lain.
'Apa yang harus gue katakan ya? Dia menggemaskan sekali dan semakin cantik. Mungkinkah dia sudah punya pacar? Benar, sudah terlalu. Bisa saja dia sudah menikah atau punya pacar kan?' Pikir Raga.
Raga mengamati setiap gerak gerik Clara. Clara melihat ke jendela.
'Oh, sepertinya dia sudah sampai? Gue ingin melihatnya lebih lama lagi.' Batin Raga.
Raga melihat Clara terburu-buru turun dari bus.
"Duluan..," seru Clara.
Raga mengamati kepergian Clara.
"Apa Clara tidak nyaman ketemu sama gue?" Gumam Raga.
Raga melihat ke bawah kakinya. Sepertinya dia menginjak sesuatu.
'Deg'
Raga mengambil benda itu.
Sebelum Bus berjalan, Raga bergegas turun dan melihat kesekitar sepertinya dia kehilangan jejak Clara. Raga mengingat-ingat bayangan Clara berjalan turun dari bus sewaktu SMA dan Raga mengikuti arah itu.
Raga kebingungan karena kawasan disini sudah lebih maju dan banyak bangunan baru. Raga melewati orang-orang yang berlalu lalang mencari sosok Clara.
'Deg.'
'Itu Clara.' Batin Raga.
Raga melihat Clara tidak jauh darinya melangkah pelan. Raga segera menahan lengannya.
"Hosh, hosh.., akhirnya ketemu." Gumam Raga kelelahan.
Raga melihat ekspresi terkejut Clara.
"A-apa?" Ucap Clara.
Raga mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan memberikannya pada Clara.
"Ini punyamu kan?" Tanya Raga.
'Deg'
Raga melihat Clara yang menatap gantungan itu dengan mata berkaca-kaca.
'Apa? Kenapa dia menangis? Apa gue melakukan sesuatu yang salah?' Batin Raga.
"
Ra, ka-kamu kenapa? Ma-maafkan aku.." Panik Raga.
"Huaaa..hiks.." Tangis Clara pecah.
'Sial, sepertinya gue benar-benar melakukan sesuatu yang buruk.' Batin Raga.
Raga bingung harus melakukan apa. Tanpa pikir panjang Raga menarik tubuh Clara dan memeluknya. Raga berusaha menenangkan Clara.
"Kenapa baru muncul sekarang? Hiks." Racau Clara terisak-isak.
'Tunggu. Apa maksudnya ini? Apa Clara menunggu gue? Kalau memang benar, berarti bukan hanya gue yang menunggunya.' Batin Raga.
__ADS_1
Raga menghela nafas lalu mengelus rambut belakang Clara menenangkannya.
"Maaf." Ucap Raga berulang kali.
Raga tidak mendengar jelas racauan Clara untuknya. Dia hanya memikirkan bahwa dia senang karena Clara menangis untuknya.
"Aku merindukanmu Raga. Hiks..," racau Clara.
"Aku juga. Maafkan aku." Balas Raga.
'Ini sudah lama, tetapi Clara masih menunggu gue. Tentu saja, gue merindukan dia. Gue mencari-cari nya beberapa bulan ini setelah lulus dari kampus.' Batin Raga.
Raga ingin membuat Clara tenang dan dia hanya mendengarkan apa yang Clara katakan.
"Aku suka kamu hiks..," ucap Clara.
'Deg'
"Aku juga menyukaimu Clara." Balas Raga lembut.
'Deg'
Perkataan Raga terakhir berhasil menghentikan tangis Clara.
'Apakah dia sudah tenang?' Pikir Raga.
Raga terpaku melihat rona di kedua pipi Clara.
Clara malu.
Raga tersenyum melihat itu.
Clara tiba-tiba saja mendorong tubuh Raga, membuat Raga bingung. Raga segera menahan Clara.
'Kenapa dia berniat kabur di situasi seperti ini? Gue tidak akan melepaskan Lo lagi Ra..,' Batin Raga.
Raga memeluk tubuh Clara dari belakang. Raga menyandarkan kepalanya di bahu kanan Clara.
Mereka tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang melihatnya.
"Jangan melarikan diri. Kamu sudah memancingku mengatakannya, jadi harus tanggung jawab." Ucap Raga dengan suara parau namun terdengar lembut.
'Deg'
"Tidak mungkin. Aku sepertinya salah dengar." Gumam Clara.
Raga mendengar gumaman Clara terkekeh kecil.
'Ah, dia benar-benar lucu.'
Raga harus membuat Clara yakin akan perasaannya dan dia tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Aku menyukaimu Clara Sekarida. Maukah kau menikah denganku?" Ucap Raga berbisik tepat di telinganya.
Raga menanti-nanti akan jawaban Clara. Raga mengamati bahwa Clara terdiam mendengar lamarannya. Raga melihat telinga Clara memerah.
'Dia malu.' Batin Raga.
"Jawab, Mau atau tidak?" Lanjut Raga terdengar tegas.
Raga melihat bahwa Clara meliriknya namun dia segera memalingkannya kembali. Raga tersenyum penuh arti.
"A-aku mau." Ucap Clara.
Raga tersenyum senang begitupun Clara. Raga sudah lama menantikan hari ini. Raga merasakan debaran di dadanya begitu pula Clara di hadapannya yang sama-sama gugup.
"Jantung kamu berdetak cepat..," gumam Clara malu.
"Biarkan saja." Jawab Raga santai.
Raga senang dan mengeratkan pelukannya. Cukup lama.
"Ga..," panggil Clara gugup.
"Em..," dehem Raga.
"A-aku malu." Ucap Clara.
Raga tersadar bahwa mereka masih di tempat umum. Raga melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Clara.
"Mau menghabiskan malam tahun baru denganku?" Ajak Raga.
Clara tampak berfikir sejenak lalu mengangguk. Raga tersenyum puas lalu mereka pun memutar arah. Clara tidak jadi pulang ke rumah dan mengikuti Raga membawanya entah kemana. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.
__ADS_1
...-END (RAGA)-...