
...Aku tidak percaya yang namanya kebetulan, sehingga kebetulan itu selalu saja menghampiriku....
...***...
Clara tengah duduk di bangku Bus 021 bagian belakang sambil memainkan ponselnya. Bus 021 tidak terlalu ramai untuk saat ini dan Clara baru saja pulang sekolah. Clara terlalu malu mengingat kejadian tadi pagi ketika Raga tiba-tiba datang ke kelasnya. Clara mensyukuri bahwa Raga datang bukan untuk menemuinya melainkan temannya. Clara sempat khawatir bahwa Raga bakal marah karena menyelidikinya. Clara memakai headset nya sambil mendengarkan lagu di ponselnya.
Bus 021, tiba-tiba berhenti di halte lain dan penumpang di sana cukup banyak. Clara melihat bahwa tidak ada penumpang berkebutuhan khusus sehingga dia kembali duduk dengan santai.
"Eh, Clara..," sapa seseorang.
Clara yang tengah sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba di kejutkan oleh Raga dan teman-temannya yang tengah berdiri di dekat bangkunya. Yang menyapa Clara barusan tadi adalah Bagas. Clara hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
Clara melihat Raga di dorong temannya untuk berdiri di dekat Clara.
'Duk.'
Raga hampir saja jatuh ke pangkuan Clara yang tengah duduk.
"Maaf." Ucap Raga pelan namun dapat di dengar oleh Clara.
Raga membenarkan posisinya dan menoleh ke arah teman-temannya yang mendorongnya barusan.
"Ck, kalian..," kesal Raga tertahan.
Teman-temannya hanya terkekeh di belakangnya.
Bus 021, adalah saksi atas pertemuan Raga dan Clara.
Clara benar-benar gugup karena situasi ini. Terlebih ketika bus semakin penuh dan penumpang pun bertambah sehingga jarak Clara dan Raga semakin dekat. Clara dapat mencium bau khas Raga di posisi itu. Clara menunduk malu, samar-samar rona muncul kembali di kedua pipinya. Raga yang tengah menatap keluar jendela pun begitu. Dia sekali-kali melirik Clara yang tengah menunduk. Raga bisa melihat Rona itu di pipi Clara walau hanya sekilas. Tanpa sadar itu membuat Raga mengeluarkan rona di telinganya.
*
Bus 021, berhenti di halte yang dekat dengan rumah Clara. Clara meminta Raga untuk sedikit menggeser posisi karena dia harus segera turun. Clara keluar dari bus itu dan berjalan di trotoar.
'Uh, tenanglah Ra. Tidak apa-apa.' Batin Clara menenangkan diri.
Clara menggelengkan kepala menggubris perasaan aneh itu. Clara tidak mau berurusan dengan cinta-cintaan untuk saat ini. Clara hanya ingin fokus pada studinya karena saat ini dia berada di tingkat akhir.
"Sebentar lagi juga UN. Jadi aku harus fokus dengan ini lebih dulu." Gumam Clara.
Clara tanpa sadar telah sampai di depan rumahnya. Clara membuka pintu dan mengucapkan salam. Mamanya kebetulan berada di rumah tengah menonton televisi. Mama membalas salam Clara.
"Cuci tangan, ganti pakaian, dan makan..," ucap mama masih fokus menonton FTV.
"Iya ma." Jawab Clara.
__ADS_1
Clara menaruh sepatunya di rak lalu masuk ke kamarnya. Clara mencuci tangan di kamar mandi, membersihkan wajah lalu kembali ke kamar mengganti pakaian. Setelah menggantinya, Clara keluar kamar pergi ke dapur. Clara membuka kulkas mengambil kaleng minuman dingin dan meneguknya hingga habis. Clara membuka lemari sambal, melihat apa yang ada di sana. Ternyata mama memasak lauk kesukaannya. Clara bergegas mengambil nasi dan mengambil sepotong lauk lalu menaruhnya di piring. Clara duduk di meja makan dan memakannya dengan lahap.
*
Clara tengah berbaring di kasur memainkan ponselnya bertukar pesan dengan teman-temannya di grup obrolan. Mereka berniat besok ke perpustakaan sehabis pulang sekolah. Clara melirik buku-buku di meja belajarnya.
"Sepertinya aku masih kekurangan buku matematika." Gumam Clara.
Clara mengatakan bahwa dia akan ikut ke perpustakaan besok. Setelah membalasnya Clara membuka aplikasi Instagram dan memberi like pada foto yang teman-temannya bagikan.
Clara melihat notifikasi permintaan mengikuti dan ternyata itu Raga. Clara berfikir sejenak dan akhirnya menerima permintaan tersebut.
Clara dan Raga sudah berteman di Instagram.
"Ku pikir ini baik-baik saja, jika memiliki tambahan teman." Gumam Clara.
Tiba-tiba pesan masuk melalui chat pribadi di Instagram Clara. Clara membukanya dan menemukan Raga mengirim pesan untuknya.
By: Raga.
I love you, Clara.
Clara kaget dan refleks menjauhkan ponselnya.
"Apaan-apaan itu."
*
Clara memainkan pulpennya gugup.
"Kamu kenapa Ra?" Tanya Rani melihat gelagat aneh Clara.
Clara kepikiran kejadian kemarin. Setelah membaca chatan dari Raga, Clara segera keluar dari Instagram dan menjauhkan ponselnya. Clara baru pertama kali harus berhadapan dengan situasi ini. Clara belum pernah berurusan dengan masalah cinta-cintaan sehingga ini pertama kali bagi Clara menemukan seseorang yang mengatakan bahwa dia mencintai Clara.
"Ah, i-itu..," gugup Clara.
"Kenapa Ra?" Tanya Sumi ikut penasaran.
"Iya Ra, tidak biasanya kamu seperti ini." Sahut Violetta.
"Kalian janji jangan bilang siapa-siapa ya." Gugup Clara.
"Iya, kita janji." Balas Rani.
"Iya, pastilah Ra." Balas Sumi.
__ADS_1
"Iya, tenang aja." Balas Violetta.
Clara berfikir sejenak lalu mulai membuka suara.
"Ke-marin Raga nembak aku." Ucap Clara malu.
"Apa? Serius..," ucap Violetta.
Clara mengangguk.
"Bagaimana? Kok bisa?" Tanya Rani penasaran.
"Iya, kok bisa Ra?" Tanya Sumi.
"Aku gak tahu, tapi kemarin dia ngefollow aku di Instagram trus ngirim chat I love you, katanya." Jelas Clara.
Rani, Sumi, Violetta, saling pandang satu sama lain.
"Sebaiknya kamu selidiki dulu Ra. Siapa tahu hanya iseng." Ucap Sumi.
Clara mengangguk, 'Benar, mungkin saja iseng.'
*
Di perpustakaan,
Clara tengah mencari buku. Clara mengitari setiap rak namun tanpa sengaja bertemu Raga.
Raga menoleh menatap Clara dan terkejut.
"Oh, maaf." Ucap Clara hendak pergi.
Raga menghentikan Clara membuat Clara bingung. Raga saat ini memegang bahu Clara dan Clara pun memutar tubuhnya menatap langsung Raga.
"Anu, soal kemarin..," gugup Raga sambil menjauhkan tangannya di bahu Clara.
Clara teringat pesan Raga dan itu membuatnya malu.
'Deg.'
"Maaf, itu sebenarnya teman gue yang iseng." Ucap Raga.
"Eh?!" Clara terkejut.
"Iya, maaf. Membuatmu salah paham." Lanjut Raga.
__ADS_1
...-TBC- ...