
...Sudah berapa lama ini?...
...Kita tidak pernah bertemu....
...Tapi aku merindukanmu....
...Teruntuk perasaan yang tidak tuntas terucapkan....
...***...
4 tahun kemudian,
Clara duduk di sebuah Cafe sembari meminum minumannya. Dia menunggu teman-temannya di sana. Dia menatap keluar jendela yang tampak sangat ramai di lalui oleh pejalan kaki dan kendaraan di jalan. Hari ini adalah hari libur dan menuju tahun baru. Clara kembali ke kampung halamannya setelah sekian lama.
'Ting'
Clara menoleh ke pintu masuk dan ternyata teman-temannya sudah datang. Teman-temannya melambaikan tangan ke arah Clara. Clara bangkit dari duduknya menyambut teman-temannya.
"I Miss you Ra.." seru Rani merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Clara.
Clara membalas pelukannya, "I Miss you teman-teman"
Clara memeluk Rani, Sumi , Violetta secera bergantian lalu kembali duduk.
"Sudah berapa lama nih, kita gak ketemu. Kangen kalian semua..," ucap Sumi.
Benar, sudah empat tahun berlalu dan sudah banyak perubahan yang terjadi. Kenangan hari itu masih begitu jelas di mata Clara. Teman-temannya semakin cantik dan terlihat jauh lebih dewasa. Violetta sudah menikah dengan James, pacarnya. Sumi bertunangan dengan pria lain dan putus dengan Dion sewaktu lulus SMA. Rani berpacaran dengan teman sekampusnya dan saat ini tengah mendiskusikan pernikahan. Clara sangat senang bertemu teman-temannya. Sudah begitu banyak waktu yang di lewati bersama mereka dan kini kesibukan akhirnya mempertemukan mereka lagi.
"Ra, gimana denganmu?" Tanya Rani penasaran.
Clara menggelengkan kepalanya. Clara masih sendiri dan belum ada seseorang yang berhasil menyentuh hatinya. Clara sendiri juga bingung dengan dirinya.
"Mau ku antar ke tempat langganan ku. Ku dengar ramalan di sana cukup ampuh loh. Kemarin teman sekantor ku ketemu jodohnya di Bus 021 sesuai yang di katakan Mbah di sana." Jelas Violetta.
"Eh, serius Vi. Minggu lalu juga aku iseng kesana dan ngikutin sarannya si mbah naik Bus 021, eh tahu-tahu ketemu Yohan dan dia ngajak aku ke rumahnya ketemu orang tua mereka. Jadi gini deh, sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Rani malu-malu.
"Wah, selamat Ran..," ucap Violetta, Sumi, dan Clara.
"Em, aku gak yakin dengan hal yang begituan." Ucap Clara.
Clara tahu, sudah banyak orang-orang di sekitarnya mengatakan Bus 021 bisa mempertemukan kita dengan jodoh. Clara ragu, sudah lama dia tidak naik bus itu. Bus yang sering dia naikin ketika pergi dan pulang sekolah. Bus yang membuat dia semakin dekat dengannya. Clara jadi teringat dengan Raga, cinta pertamanya.
'Mungkin saja dia sudah menikah.' Batin Clara.
Sumi, Violetta, dan Rani memperhatikan wajah sedih Clara. Dulu mereka pernah mendengar curhatan sedih Clara sebelum kelulusan mereka. Raga menolaknya. Hari itu di UKS, Clara menyerah dan mengatakan bahwa dia suka Raga. Raga mengatakan dia juga menyukai Clara tetapi mereka bahkan tidak bisa bersama. Raga tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh sehingga mereka tidak bisa bersama. Clara putus bahkan sebelum mereka sempat jadian. Bus itu hanya akan menjadi kenangan buruk bagi Clara.
"Ra..," panggil Rani.
Clara mengangkat wajahnya tersadar dari lamunan.
"Kamu masih menyukai Raga ya?" Tanya Rani.
'Deg'
Ekspresi Clara seketika berubah menjadi sendu. Clara segera menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak. Mana mungkin. Bahkan aku sudah lupa bagaimana wajahnya? Haha..," bohong Clara sambil tertawa kaku.
Sumi, Violetta, dan Rani tahu bahwa Clara tengah berbohong. Mereka saling pandang satu sama lain.
Sumi segera bangkit dari duduknya, "Ra, sekarang kita harus ke peramal yang di katakan Vio. Aku gak mau lihat kamu sedih-sedihan terus."
Sumi menarik tangan Clara untuk bangkit dari duduknya dan membawanya keluar cafe. Violetta dan Rani ikut menyusulnya dari belakang.
*
Di dalam tenda berwarna merah. Clara, Sumi, Violetta, dan Rani duduk di sana menghadap wanita paruh baya berpakaian aneh sambil mengucapkan mantra.
Wanita paruh baya itu menyelesaikan mantranya lalu menatap mereka.
"Siapa yang mau di ramal?" Tanya Wanita paruh baya itu.
Sumi, Violetta, dan Rani menunjuk serempak ke arah Clara.
Clara tersenyum kaku.
"Dia Mbah. Teman saya. Tolong pertemukan dia dengan jodohnya..," ucap Violetta semangat di ikuti anggukan Sumi dan Rani.
"Ah, kalian." Malu Clara.
Wanita paruh baya yang di panggil Mbah itu menatap Clara dari atas hingga bawah lalu mengangguk. Dia kembali merapalkan mantra sambil memejamkan mata. Lalu dia mengocok sebuah kartu dan menaruhnya di atas meja. Dia meminta Clara memilih dari ke empat kartu itu. Clara menunjuk salah satu kartu yang di atas meja itu asal.
Jujur saja Clara tidak terlalu peduli dengan ramalan ini.
Sumi, Violetta, dan Rani menanti was-was ketika wanita paruh baya itu membuka kartu. Semua orang terkejut ketika gambar yang tertera di kartu itu sebuah Bus 021 dan di sisi lain keramaian orang-orang berlalu lalang.
Clara bingung apa arti kartu itu.
'Aku jadi curiga, apa jangan-jangan semua kartu nya bus 021.' Batin Clara.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu membuka suara,"Ini dan ini. Jodoh anda sangat dekat. Dekat sekali hingga anda tidak sadar bahwa dia selalu berputar-putar di sekitar anda seperti ini."
Wanita paruh baya itu menunjuk keramaian.
"Anda akan bertemu dia di tempat keramaian, jadi anda perlu memancingnya dengan sesuatu. Panggil dia semakin dekat dan dekat. Tidak sekali, ini beberapa kali." Lanjut Wanita paruh baya itu.
"A-apa maksud Mbah? Dia ada di sekitar saya?" Tanya Clara gugup.
Wanita paruh baya itu mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Dia memberikan Clara sebuah gantungan kunci.
"Pakai itu dan temukan jodoh anda di sana." Ucap Wanita paruh baya itu.
Clara, Sumi, Violetta, dan Rani menatap gantungan kunci di tangan Clara penasaran.
'Apa benar dia ada di sekitarku?' Pikir Clara.
*
Clara sudah berkeliling dari tadi bersama teman-temannya sambil memegang gantungan kunci itu namun tidak ada apapun yang terjadi. Malahan dari tadi mereka di kejar anjing gara-gara gantungan kunci itu.
"Hah, hah, Ra. Aku lelah. Besok saja kita lanjutkan." Ucap Sumi yang sudah menyerah karena berputar-putar terus di area pertokoan.
"Iya Ra. Aku juga harus pulang. Sebentar lagi mas James pulang kantor." Ucap Violetta melirik jam di tangannya.
Benar, sudah pukul 8 malam.
Teman-temannya pasti memiliki urusan masing-masing di hari menuju tahun baru ini. Clara mengangguk.
"Iya, aku juga harus pulang." Jawab Clara.
Mereka pun akhirnya berpencar ke rumah masing-masing.
Clara duduk di halte bus dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan grab.
'Bus 021 akan mengantarmu ke jodohmu.'
Clara terhenti dan membatalkan pesanannya mengingat ucapan orang-orang tentang bus itu.
'Apa aku naik bus saja hari ini? Tapi pasti sangat ramai karena ini tahun baru?' Pikir Clara.
Tiba-tiba Bus 021 berhenti di depan Clara. Ada beberapa penumpang turun dari bus dan tanpa pikir panjang Clara naik ke bus itu meski harus berdesak-desakan dengan yang lain.
"Aduh..," ringis Clara pelan ketika penumpang laki-laki berbadan besar mendorong nya ke belakang hingga berakhir menabrak seseorang.
Clara jatuh ke pelukan orang itu.
"Ma-maaf."
'Deg'
'Bau ini. Familiar?' Batin Clara.
Clara mengangkat wajahnya dan orang itu masih setia memegang bahu Clara agar tidak jatuh.
'Deg'
'Raga..,' Batin Clara.
Meskipun sudah lama. Clara masih ingat sosok itu. Wajah Raga tidak berubah sedikitpun meski saat ini ada sedikit bulu-bulu halus di bawah hidung dan dagunya.
'Apa Raga mengenaliku?' Batin Clara.
Clara menstabilkan posisi berdirinya dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap Raga, sosok yang sangat dia rindukan.
'Ini sudah lama. Kami tidak pernah bertemu bahkan berpapasan sekalipun tapi kenapa hari ini tiba-tiba..,' Batin Clara sendu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Raga lembut.
Memang sudah lama. Gaya bicara Raga pun berubah. Dia menjadi pria dewasa yang sopan dan baik. Clara dapat melihat pakaian rapi yang di kenakan Raga, Dia telah menjadi pria yang sukses.
"I-iya." Gugup Clara sambil merapikan tasnya
'Duk!'
Lagi-lagi, bus mengerem mendadak dan Clara jatuh ke pelukan Raga.
'Sial, ini memalukan. Bisa saja Raga sudah menikah dan aku memeluk suami orang. Jangan-jangan dia menikah dengan gadis itu.' Pikir Clara.
Clara teringat gadis yang dulu pernah berbicara dengan Raga sewaktu ujian. Clara menyimpulkan bahwa Raga menolaknya mungkin karena dia sudah pacar dan tidak enak hati sehingga mengatakan alasan lain.
"Clara..," panggil Raga karena Clara memeluknya cukup lama dan itu membuat Raga gugup.
'Deg.'
'Tunggu, Raga mengenaliku.' Batin Clara.
Clara refleks menjauhkan tubuhnya dari Raga. Samar-samar rona merah muncul di pipi Clara.
"Maafkan aku Raga!" Ucap Clara panik.
__ADS_1
Raga terkekeh melihat ekspresi lucu Clara, "Tidak apa-apa. Berpeganglah nanti kamu jatuh."
Clara mengangguk sambil memegang besi sandaran bangku. "Terimakasih."
Clara dan Raga saling berhadapan satu sama lain. Clara tidak tahu harus mengatakan apa. Dia gugup dan benar-benar gugup. Dia ingin segera turun dari bus ini dan pulang ke rumah menetralkan degupan jantungnya yang tidak mau di ajak berkompromi. Clara takut Raga mendengar detak jantungnya sangat keras. Clara melirik keluar dan ternyata bus nya sudah berhenti di halte dekat rumahnya. Clara buru-buru turun.
"Duluan..," ucap Clara tergesa-gesa dan keluar dari bus.
Clara tidak berniat menoleh kebelakang dan berjalan lurus melewati orang-orang berlalu lalang. Kawasan rumahnya sekarang cukup ramai dan banyak bangunan baru yang baru di bangun.
'Srett..'
Seseorang baru saja menahan lengannya membuat langkah Clara terhenti. Clara menoleh.
'Deg.'
'Raga. Kenapa dia menyusulku? Bukankah kompleks rumahnya masih jauh tetapi kenapa dia turun.' Pikir Clara.
"Hosh, hosh.., akhirnya ketemu." Gumam Raga kelelahan mengambil nafas.
Raga mengejar Clara sedari tadi dan memanggilnya beberapa kali namun Clara tidak mendengarnya karena melamun.
"A-apa?" Bingung Clara.
Raga menyodorkan sebuah gantungan kunci ke arah Clara.
Clara terkejut itu gantungan kunci yang di berikan peramal tadi.
'Temukan jodohmu dengan gantungan ini'
"Ini punyamu kan?" Tanya Raga.
Clara menerimanya sambil mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "Te-terima kasih."
'Tidak mungkin. Tidak mungkin Raga jodohku.' Batin Clara.
Raga terkejut melihat air mata menetes di kedua pipi Clara. Raga panik karena membuat seorang gadis menangis dan semua orang yang berlalu lalang melihatnya tajam.
"Ra, ka-kamu kenapa? Ma-maafkan aku.." Panik Raga.
"Huaaa..hiks.." Tangis Clara semakin menjadi-jadi setiap mendengar ucapan Raga.
Raga bingung harus melakukan apa. Tanpa pikir panjang Raga menarik tubuh Clara dan memeluknya. Raga berusaha menenangkan Clara.
"Kenapa baru muncul sekarang? Hiks." Racau Clara terisak-isak.
Raga menghela nafas lalu mengelus rambut belakang Clara menenangkannya.
"Maaf." Ucap Raga berulang kali setiap tangisan dan racauan yang keluar dari mulut Clara.
"Aku merindukanmu Raga. Hiks..," racau Clara.
"Aku juga. Maafkan aku." Balas Raga.
Clara tidak mendengarkan ucapan Raga karena dia sibuk mengeluarkan semua isi hatinya.
"Aku suka kamu hiks..," ucap Clara.
'Deg'
"Aku juga menyukaimu Clara." Balas Raga lembut.
'Deg'
Perkataan Raga terakhir dapat di dengar oleh Clara.
Tangis Clara tiba-tiba terhenti. Dia malu, sangat-sangat malu. Dia tanpa sadar terbawa suasana dan mengungkapkan perasaannya pada Raga. Lalu tadi itu apa? Apa Clara tidak salah dengar bahwa Raga juga menyukainya. Clara segera mendorong tubuh Raga dan berniat kabur namun Raga menahannya. Raga memeluk tubuh Clara dari belakang. Raga menyandarkan kepalanya di bahu kanan Clara.
Mereka tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang melihatnya.
"Jangan melarikan diri. Kamu sudah memancingku mengatakannya, jadi harus tanggung jawab." Ucap Raga dengan suara parau namun terdengar lembut.
'Deg'
"Tidak mungkin. Aku sepertinya salah dengar." Gumam Clara.
Raga mendengar gumaman Clara terkekeh kecil.
"Aku menyukaimu Clara Sekarida. Maukah kau menikah denganku?" Ucap Raga berbisik tepat di telinganya.
Clara mungkin kali ini tidak salah dengar. Ini jelas. Bahkan sangat jelas hingga membuat telinganya ikut memerah.
'Sial, aku malu.' Batin Clara.
"Jawab, Mau atau tidak?" Lanjut Raga terdengar tegas.
Clara melirik wajah Raga yang bersandar di bahunya. Dia segera memalingkan kembali wajahnya tidak sanggup menatap.
"A-aku mau." Ucap Clara.
__ADS_1
Raga tersenyum senang begitupun Clara. Perasaan yang sulit terucapkan akhirnya terwujud. Di tahun baru ini, akhirnya mereka melepas kehidupan lajang mereka melalui Bus 021. Seperti perkiraanku. Mereka harus berakhir bahagia dan aku menyukai sesuatu dengan akhir bahagia.
...-END (CLARA)-...