Selangkah Bertemu Jodoh

Selangkah Bertemu Jodoh
Kapan Jodohku Datang, 1


__ADS_3

...Selagi kita masih muda, kita dapat memilih apa yang kita inginkan dan siapa yang pantas mendapatkan kita....


...Tapi tidak, ketika engkau sudah berada di akhir dua puluhan....


...Semua orang mendesakmu, orang tuamu, saudara-saudaramu, dan kerabatmu....


...Kau tidak punya kekuatan untuk memilih serta menunggunya terlalu lama lagi....


...Kali ini engkau terdesak....


...'Kapan Jodohku Datang?'...


...***...


Seorang gadis menatap keluar jendela kamarnya di malam yang sangat dingin. Dia melihat kaca jendela yang basah dan salju kecil turun dari langit. Musim ini dia melewatinya lagi. Dia menatap iri beberapa pasangan di luar sana tengah menikmati kencan mereka. Ada yang bergandengan tangan berjalan di trotoar, duduk di bangku sambil berciuman, dan pasangan yang berpelukan karena baru bertemu setelah lamanya. Dia berdoa untuk pasangan-pasangan itu agar memiliki akhir yang bahagia.


Gadis itu menghela nafas. Sekarang penghujung tahun baru dan dia tidak ada niat sekalipun keluar kamar. Baginya, malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam di hari-hari biasa. Dia memilih rebahan di kasur sambil memakan cemilan daripada hujan-hujanan hanya untuk melihat kembang api di atas langit sambil berdesak-desakan.


'Hidup itu singkat. Untuk apa di persulit dengan hal-hal yang rumit. Menikmati hari-hari libur dengan tiduran adalah surga bagi para pekerja sepertiku.'


Sera Widiana Putri, 28 Tahun, Lajang, Pekerja Kantor Percetakan, Manusia jomblo yang hobi rebahan. Sera tahu, hampir seluruh teman-temannya sudah menikah dan bahkan ada yang memiliki dua anak.


'Bagaimanapun itu sudah takdir,' pikirnya.


Sera masih betah melajang sampai sekarang. Bohong, jika dia tidak iri dengan teman-temannya. Hanya saja, Sera tipe gadis yang susah move on dari cinta pertamanya.


'*T*ok..tok..'


Suara ketukan pintu terdengar dan Sera terlalu malas bangkit dari kasur.


'Cklek.'


Pintu kamar Sera terbuka dan dia melirik siapa pelaku yang menganggu waktu istirahatnya. Wajah yang tidak asing, cantik, mungil, dan kuncir satu. Seri Widiana Putri, 22 tahun, Berpacaran, Mahasiswi, Adiknya Sera, hobi meminjam semua koleksi Sera untuk di pakai kencan.


Nama mereka cukup mirip, bukan kembar, tapi orang tua mereka tidak memiliki inspirasi untuk membuat nama di karenakan mereka berharap adik Sera adalah laki-laki ternyata yang lahir perempuan.


"Kak, pinjam baju dong." Seri melenggang masuk ke kamar menuju lemari pakaian Sera.


Sera hanya mendengus, seperti biasa, meskipun Sera tidak mengizinkan Seri tetap mengambil bajunya di lemari. Pernah, Sera marah dan bertengkar dengannya karena hal ini namun justru Sera yang dimarahi Ibunya. Ibunya bilang, Sera tidak boleh pelit dan harus berbagi sesama saudara. Tapi sialnya hanya Sera yang selalu berbagi bukan Seri. Beginilah memang nasib anak tertua selalu di marahi gara-gara adik.


Seri mengambil baju yang baru Sera beli minggu lalu. Sera otomatis bangkit dari kasur melihat baju barunya dan merebutnya dari Seri.


"Yang ini gak boleh. Ini baru ku beli minggu lalu," kesal Sera.


"Kakak jangan pelit. Lagian itukan udah pernah kakak pakai dan udah seminggu yang lalu juga. Aku mau pakai buat kencan sama Bobi." Seri merebut bajuku.


"Pokoknya yang ini gak boleh. Yang lain saja." Larangku menariknya kembali.


Seri menatapku dengan mata berkaca-kaca.


Deg


'Sial, dia pasti akan menangis dan mengadu pada Ibu.'


"Huaaaa.., Ib-hmpth." Seri menjerit berniat memanggil Ibu namun segera di bekap Sera dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Sera terpaksa memberikan baju itu karena dia tidak ingin mendengar keributan di malam tahun baru ini. Seri tersenyum senang menjauhkan tangan Sera dari mulutnya dan mengamati baju itu.


"Terimakasih kakakku yang cantik~" puji Seri setengah mengejek.


"Cih," Sera berdecak kesal melihat tingkah adiknya.


Cup.


Seri mencium pipi kiri Sera lalu bergegas lari keluar kamar sebelum Sera mengamuk sambil tertawa puas.


"Kak Sera semangat menjomblo nya di kamar hahaha..," ledek Seri di luar kamar.


Sera ingin sekali memukul adiknya itu kalau berhasil menangkapnya.


*


Sera melanjutkan lagi rebahannya di kasur setelah menutup pintu kamar.


Drrtt..drrt..


Sera mengangkat ponselnya yang terletak di atas meja belajar lalu menemukan notifikasi.


Sera mendapatkan undangan alumni kelasnya dulu sewaktu SMA. Mereka mengajak bertemu dan berkumpul di malam tahun baru.


Sera melihat sekitar 20 orang dapat menghadiri undangan itu, 10 orang belum menjawab, dan 5 orang tidak bisa hadir. Sera penasaran siapa-siapa saja yang akan hadir dan...


Deg


'Dia datang.'


Sudah sangat lama Sera tidak bertemu dengannya. Itu sejak kelulusan mereka. Sera ingin melihatnya lagi. Sera berfikir mungkin dia sudah menjadi pria yang sukses, menikah, memiliki istri yang cantik dan mempunyai anak. Sera ingin datang tapi dia terlalu malu untuk bertemu dengannya. Sekitar 15 menit, Sera berfikir dan akhirnya dia memutuskan dengan mengklik gambar 'centang'.


'Apa keputusanku benar?'


'Pakaian apa yang harus ku pakai?'


'Apakah aku harus berdandan?'


'Tapi buat apa? Siapa yang ku lihat.'


'Ha, ini membingungkan.'


Sera melirik jam di dinding kamarnya.


Pukul 21:00 PM, undangan alumni itu. Sekarang sudah pukul jam 8 lewat, dia butuh beberapa menit lagi untuk bersiap-siap.


'Ah, sial.'


Sera terdesak waktu karena dia mendapatkan informasi dadakan gara-gara beberapa hari yang lalu tidak melihat chatan di grup karena sibuk kerja. Sera bergegas dan turun dari kasur menuju kamar mandi.


*


Sera melirik ponselnya dan memastikan lokasi yang di bagikan di grup sudah benar. Dia mendorong pintu kaca itu. Mereka mengadakan pertemuan alumni di sebuah cafe milik salah satu teman sekelasnya dulu. Seorang pegawai menghampiri Sera dan bertanya apakah Sera sudah memesan tempat. Cafe ini sangat ramai dan banyak pengunjung terlebih sekarang malam tahun baru.


"Atas nama Alumni SMA Permata Hati Angkatan 20XX."

__ADS_1


Pegawai itu paham dan menuntun Sera dimana ruangan itu. Pegawai itu pergi setelah menunjuk sebuah pintu. Sera dapat mendengar suara orang tengah mengobrol dan sangat bising di dalam sana. Sera mengambil nafas lalu membuangnya karena gugup. Sudah lama dia tidak bertemu dengan teman-teman lamanya. Sera hendak meletakkan tangannya di ganggang pintu namun seseorang di belakang Sera lebih dulu memegangnya dan pintu pun terbuka lebar.


Deg


Semua orang di dalam ruangan memandang ke arah Sera. Bukan, lebih tepatnya sosok tinggi di belakang Sera.


Deg


Sera menoleh kebelakang dan orang itu tersenyum menyapa Sera.


"Woah, lihat ini, siapa yang datang. Idola cewek-cewek di kelas dulu haha..," sambut seorang wanita berambut pendek dengan penampilan sedikit tomboy. Mitha Astuti, 27 tahun, menikah, memiliki dua anak, membuka toko butik, mantan ketua kelas.


Pria yang baru datang itu hanya terkekeh mendengar candaan Mitha sang ketua kelas dan duduk di bangku sebelah teman-temannya. Dia Abel Wahyudi, 28 Tahun, Pengusaha properti, status belum di ketahui, cinta pertama Sera.


Sera berjalan menuju tempat bangku yang kosong dan duduk di sana. Seperti biasa, Sera seolah tidak terlihat di mata orang-orang dan hanya duduk diam sendirian.


'Inilah alasan kenapa aku tidak mau berkumpul dengan teman-teman lamaku.'


Di dalam ruangan ini bentuk posisi duduk kami berhadapan satu sama lain. Meja besar berbentuk persegi panjang dan berjejer bangku di sebelah kanan dan kiri dengan jumlah yang sama. Jarak duduk Sera cukup jauh dari Abel. Abel duduk di dua bangku paling ujung sebelah kanan sementara Sera di tengah bagian kiri.


Sera diam-diam menguping pembicaraan Abel dengan teman-temannya. Abel memiliki banyak teman dan mudah akrab dengan siapapun dan sekarang dia tengah mengobrol dengan Mitha dan seorang pria bernama Mio, karyawan perusahaan T.


"Bel, Lo udah sukses nih. Pasti udah nikah dan punya istri cantik kayak lo yang tampan haha..," Mitha tertawa menggoda Abel.


"Haha..," Abel ikut membalasnya dengan tertawa.


'Sepertinya Abel sudah menikah,' pikir Sera.


Mitha melirik tatapan gadis-gadis teman sekelasnya yang masih lajang meminta kepastian. Mitha kasihan melihat teman sekelasnya yang masih lajang dan mengorek setiap laki-laki teman sekelasnya, apakah di antara mereka masih ada yang belum menikah.


Sera tersentak karena pandangannya tiba-tiba bertemu dengan Mitha. Sera malu karena ketahuan ikut penasaran dengan status Abel. Mitha tersenyum ke arahku dengan ramah. Meskipun Sera sekelas dengan Mitha, dia tidak terlalu akrab dan hanya mengenalnya sebagai ketua kelas yang selalu mengumpulkan setiap buku tugas. Mitha kembali menatap Abel.


"Apa tuh jawabannya. Kasih tahu tuh kita-kita, banyak gadis-gadis disini penasaran sama status lo, si Ani, Yanti, Vika, Rahma, Wely, Cika, Tuti, Meri, dan Sera. Seluruh baris kiri bisa Lo pilih kalau lo masih jomblo." Mitha berseru lantang membuat Sera terkejut ketika namanya ikut di sebut.


Mio yang duduk di sebelah Abel menyenggolnya sambil terkekeh. Abel hanya menggaruk tengkuknya dan menatap gadis-gadis yang ada di hadapannya sambil tersenyum dan terakhir Sera. Sera refleks menunduk tidak berani menatap karena malu.


Deg


'Ah, malu banget.'


Sera menyadari tempat yang dia duduki adalah barisan untuk para jomblo yang belum menikah.


'Pantesan barisan ini banyak kosong.'


"Gue masih Single." Abel membuka suara membuat semua gadis yang duduk di baris kiri tersenyum cerah karena masih memiliki kesempatan sementara Sera mengangkat wajahnya terkejut menatap Abel yang saat itu juga menatapnya.


"Ra, kamu Single juga, ya?" Abel tiba-tiba bertanya pada Sera membuat seluruh orang-orang di ruangan menatapnya.


Sera tidak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini dan gara-gara satu pertanyaan dari Abel membuatnya kebingungan harus menjawab apa.


'Jika aku jawab iya, apa yang terjadi?'


'Jika berbohong mengatakan tidak, bagaimana?'


Sera mulai berkeringat cemas padahal cuaca sangat dingin. Semua orang masih setia menatap Sera menanti jawaban termasuk Abel yang memberikan senyuman ramahnya padanya.

__ADS_1


'Ah, apa yang harus kukatakan?'


...-TBC-...


__ADS_2