Selangkah Bertemu Jodoh

Selangkah Bertemu Jodoh
Selangkah Bertemu Jodoh, 4


__ADS_3

...Gambarannya terlalu sederhana, sehingga aku dapat melihat makna tersembunyi dari apa yang telah kau bagikan di sana....


...***...


Raga tidak ada niat sedikitpun untuk pergi ke kelas Clara hari ini. Tapi gara-gara Bagas temannya yang satu kelas dengan Clara tengah meminjam catatannya dan belum juga dipulangkan, dia terpaksa pergi ke kelas itu.


Raga berdiri di depan pintu kelas. Raga dapat melihat Clara dan teman-temannya tengah duduk di bangku bagian belakang. Mereka tengah mengobrol satu sama lain.


'Deg'


Salah satu teman Clara melihatnya dan menyenggol bahu Clara untuk melihat ke arahnya. Raga menelan salivanya karena pandangan mereka bertemu.


'Ah, sial.' Batin Raga.


"Nih, makasih. Gue lupa kemaren balikinnya hehe..," Ucap Bagas yang telah berdiri di hadapan Raga menyodorkan catatan itu.


Raga bersyukur Bagas menghampirinya sehingga dia tidak berlama-lama beradu pandang dengan Clara.


"Yo, Gue balik ke kelas." Ucap Raga santai.


Raga sekilas melirik Clara yang tengah di tertawakan temannya. Raga  samar-samar melihat rona di pipi Clara, membuatnya tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya.


"Ga..," panggil Bagas menepuk bahu Raga.


Bagas tengah menyenderkan tangannya di bahu kanan Raga sembari menoleh ke arah pandangan Raga yaitu Clara dan teman-temannya.


"Cie, lo naksir Clara ye..," goda Bagas.


Raga menepis tangan Bagas di bahunya.


"Ck, apaan? Sok tahu lu mah..," Balas Raga sedatar mungkin.


Bagas tertawa melihat tingkah malu-malu temannya. Dia terus menggoda Raga sambil mencolek-colek pipi Raga.


Raga menghela nafas panjang karena di godain Bagas seperti itu. Bagas sebelas dua belas dengan Bayu, yang menurutnya suka ikut campur.

__ADS_1


"Dah lah, gue cabut balik ke kelas dulu." Ucap Raga memutar tubuhnya pergi dari tempat itu.


Di setiap langkahnya, Raga masih dapat mendengar teriakan Bagas yang menggodanya meneriaki bahwa dirinya suka dengan Clara. Raga mengusap rambut bagian belakangnya melihat tingkah temannya yang tidak tahu malu.


'Ah, semakin salah paham Clara sama gue nih.' Batin Raga.


*


Kantin.


Raga duduk di bangkunya bersama Bayu dan Abdi. Mereka kebetulan sekelas. Sementara Ridho dan Bagas beda kelas. Raga memakan nasi gorengnya dengan santai sembari melihat orang-orang bermain basket.


Tidak lama, Ridho ikut bergabung ke meja mereka membawa nasi goreng dan sebotol air mineral.


"Lo gak gabung gih sama Dion dan anak-anak lain..," ucap Ridho yang dia tujukan kepada Raga.


Bayu ikut menoleh ke arah lapangan basket sambil memakan baksonya.


"Males gue. Bukan jam olahraga." Jawab Raga sekenanya.


"Emang apa serunya bermain basket? Bikin panas dan keringatan..," seru Abdi sambil menyeruput mie nya.


"Haha, lo samain Raga dengan lo yang anak mami." Ledek Bayu.


Abdi menatap kesal karena Bayu selalu menjahilinya. "Siapa yang anak mami?"


Abdi terlahir di keluarga biasa namun  Abdi cukup menjadi perhatian keluarganya karena dia anak bungsu dan satu-satunya laki-laki dalam keluarganya. Semua saudaranya perempuan, sehingga Abdi bahkan tidak tahu bagaimana bersikap sebagai laki-laki keren pada umumnya. Dari kecil kakaknya selalu mendandaninya seperti anak perempuan. Entah kenapa, Abdi bisa bergaul dengan geng nya Raga. Geng Raga terkenal nakal tetap Abdi bukanlah anak nakal, dia salah satu anak terpintar di kelas, dia tidak pernah membolos, namun teman-temannya suka membolos. Abdi hanya ikut-ikutan, apabila jalannya benar.


"Oi, jangan mempengaruhi Abdi kita." Ucap Ridho sambil terkekeh.


Bagas tiba-tiba muncul dan merangkul bahu Raga.


"Apaan?" Raga menepis tangan Bagas karena mengingat kejadian memalukan tadi.


"Cie, yang marah haha..," ledek Bagas.

__ADS_1


Raga hanya memalingkan wajahnya tidak peduli.


"Apaan gas? Apa yang terjadi?" Tanya Bayu penasaran.


"Eh, kalian tahu gak tadi. Si Raga benaran naksir Clara cuy..," seru Bagas dengan suara lantang yang membuat siswa siswi yang ada di kantin menoleh ke arahnya.


Raga ingin menjitak kepala temannya itu yang tidak tahu malu namun dia berusaha sabar, agar tidak mudah terpancing. Raga tahu sendiri Bagas orangnya seperti apa, semakin di ladenin semakin semangat.


"Serius Ga, Lo naksir?" Tanya Ridho.


"Gak lah, ngawur si Bagas mah. Gak usah dengerin tu anak." Sahut Raga.


"Apaan, gue lihat sendiri. Lo dan Clara saling pandang memandang taik..," balas Bagas.


"Lah, ngapain taik di pandang dodol." Ucap Abdi yang terlalu polos.


Raga, Bayu, Ridho tertawa puas, sementara Bagas memukul kepalanya sendiri mendengar jawaban Abdi yang kelewat polos.


"Pfft, bener tuh di. Mana mungkin kan gue dan Clara memandang taik. Si Bagas dodol amat dah..," tawa Raga puas.


"Ah, sial, Lo di. Lo polos atau bego sih. Masa gak bisa bedain taik benaran dengan yang gak..," kesel Bagas.


"Emang bedanya apaan Gas?" Tanya Abdi penasaran.


Raga, Bayu, dan Ridho tertawa lepas sementara Bagas semakin kesal. Abdi kebingungan lalu melanjutkan makannya.


"Kalau Lo mau ngomong kasar, jangan di depan Abdi. Lo tahu sendiri bakal emosi gila di buatnya haha..," ucap Ridho memberi saran sambil menepuk bahu Bagas untuk bersabar.


"Sabar, ini ujian Gas..," Ucap Bayu terkekeh.


Raga tersenyum puas sambil mengacungkan dua jempol ke arah Abdi karena berhasil menuntaskan dendamnya kepada Bagas.


Raga kembali menoleh ke arah lapangan namun tiba-tiba matanya tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis yang duduk di bangku penonton bersama teman-temannya. Dia Clara. Lagi-lagi kebetulan itu membuat mereka berdua sama-sama malu dan refleks memalingkan wajah ke arah lain.


'Ah, Ngapain juga mata gue harus ke arah sana.' Batin Raga.

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2