Selangkah Bertemu Jodoh

Selangkah Bertemu Jodoh
Kapan Jodohku Datang, 2


__ADS_3

Sera mulai berkeringat cemas padahal cuaca sangat dingin. Semua orang masih setia menatap Sera menanti jawaban termasuk Abel yang memberikan senyuman ramahnya padanya.


'Ah, apa yang harus kukatakan?'


Jantung Sera berdebar cepat tidak tahu apa yang harus ia katakan, hingga bibir mengatakan seharusnya tidak dia katakan.


"Tidak."


Semua orang terkejut mendengar jawaban Sera, termasuk Abel. Mitha mendengarnya langsung menghampiri Sera.


"Apa itu artinya kau sudah menikah ya, Sera? Wah, selamat, sejak kapan? maaf, aku berfikir kau masih single." Mitha merangkul bahu Sera yang saat ini tengah duduk.


Sera merutukki kebodohannya berbohong. Hati dan bibirnya tidak mau bekerja sama. Sera terlalu takut melihat raut wajah Abel saat ini, hingga dia memilih menunduk. Semua orang mengucapkan selamat pada Sera.


"Grecep juga ternyata Sera ya, diam-diam udah wedd."


"Suamimu orang mana, Sera?"


"Sera, selamat ya. Aku gak nyangka."


Sera menghela nafas berat mengigit bibir bawahnya. Banyak teman-teman sekelasnya percaya dengan omongannya karena Sera yang mereka tahu adalah siswi baik dan tidak pernah berbohong dari dulu.


"Selamat buat kamu, Sera."


Deg


Kali ini ucapan 'selamat' terlontar dari mulut Abel. Sera yang saat itu menunduk langsung mengangkat wajahnya. Raut wajah Abel terlihat baik-baik saja, justru saat ini dia sedang tertawa dan mengobrol dengan teman-teman yang duduk di sebelahnya, begitu juga gadis-gadis yang ingin dekat dengannya.


Mitha yang sebelumnya merangkul Sera kembali ke tempatnya dan berbicara dengan yang lain. Fokus semua orang hanya sesaat terhadap Sera dan mereka kembali melakukan pembicaraan yang lain. Sera merasa lega, tidak jadi pusat perhatian lagi tapi disaat itu pula Sera merasa ada sesuatu yang sakit. Abel sepertinya tidak peduli dengan status Sera.


'Mungkin saja, dia hanya berbasa-basi padaku. Kenapa aku sudah terlalu berharap banyak, meski sesaat.'


*


Waktu berlalu cepat hingga pertemuan itu berakhir pukul 11 malam. Semua orang keluar dari Cafe itu dan menikmati acaranya. Sera keluar dengan senyuman hambar, pura-pura menikmatinya padahal tidak sama sekali.


"Weh, lanjut ronde ketiga, gaess," seru Mitha.


Semua orang tertawa, beberapa ada yang mau bergabung ikut Mitha ke tempat karaoke, beberapa lagi memilih pulang atau kencan dengan pacar mereka. Sera salah satunya memilih pulang dengan alasan besok pagi dia ada pekerjaan padahal kantornya masih tutup. Sera melangkah memisahkan diri dari mereka berlawanan arah. Sera memutuskan untuk jalan-jalan sebentar melihat kembang api yang akan di lemparkan ke langit. Sebelum dia pergi, Sera sempat melirik Abel yang saat ini di tarik dan dikerubungi gadis-gadis untuk mengajaknya pergi. Abel disana tersenyum ramah pada mereka, membuat Sera sedikit cemburu. Sera ingin dekat dengan Abel, cinta pertamanya, tapi selalu tidak bisa. Sera berfikir mungkin saja dia hanya peran figuran yang lewat di antara sekumpulan orang-orang.


Sera membuang wajahnya dan melanjutkan langkahnya menjauh.


'Abel masih sendiri tapi kenapa diriku masih belum bisa berubah. Aku ingin dekat dengannya dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku merasa menjadi orang bodoh yang selalu berharap cinta pertamaku juga mencintaiku padahal itu hanya angan-angan belaka.'


Perasaan kecewa dan sedih bercampur menjadi satu di hati Sera, hingga Sera tidak menyadari seseorang berlari di belakang Sera dan semakin dekat ke arahnya. Orang itu tiba-tiba ikut menarik lengan Sera dan membawanya ikut lari. Sera kaget di bawa tiba-tiba oleh seseorang dan lebih lagi punggung serta pakaian yang di kenakan orang itu sangat Sera kenali. Dia Abel.


Abel membawa Sera ikut pergi dengannya dan Sera melirik ke belakang dimana para gadis-gadis yang mengerubungi Abel tadi memanggil Abel dengan rengekan manja. Sera kembali menoleh menatap punggung Abel di depannya. Kakinya terus melangkah mengikuti langkah Abel yang membawanya. Jantung Sera seketika berdebar dan wajahnya memerah. Sera melihat tangan Abel yang menggenggam pergelangan tangan kanannya. Rasanya panas dan semakin panas karena udara malam yang dingin. Sera membiarkan Abel membawanya pergi entah kemana, semakin jauh. Hingga langkah itu terhenti di dekat taman dimana banyak pasangan bermesraan menunggu kembang api muncul tepat jam 12 malam.

__ADS_1


Sera memantung dan pikirannya kosong. Mata Sera hanya tertuju dengan penampilan Abel yang seksi baginya. Keringat di pelipisnya dan nafasnya tidak beraturan sama seperti dirinya. Abel menyeka keringatnya dengan pose yang membuat Sera semakin memerah.


'Sial, bagaimana bisa aku melupakan sosok seseksi ini.'


Abel menoleh dan melihat Sera yang berdiri disebelahnya tengah mengamati dirinya. Abel sedikit terkejut dengan kehadiran Sera dan dia tersadar bahwa dia lah yang menyeret Sera.


"Ah, maaf. Tanpa sadar aku membawamu juga," kekeh Abel.


Mendengar suara Abel membuat Sera tersadar dari kekagumannya, "ah, i-iya."


Sera segera menundukkan wajahnya yang masih memerah. Jantungnya masih berdetak seirama seperti sebelumnya saat di dekat Abel. Abel melihat kesekitar, seolah mencari tempat duduk yang kosong dan menemukannya.


"Mau lihat kembang api bersama?"


Abel mengajak Sera tiba-tiba, membuat Sera terkejut dengan perlakuan Abel untuknya. Belum sempat Sera menjawab, Abel menarik Sera duduk di bangku itu. Mereka duduk bersebelahan di bangku taman sambil menatap langit. Sejenak hanya keheningan yang terjadi di antara mereka dan suara angin bersepoi-sepoi menerpa kulit. Sera benar-benar gugup dengan situasi ini.


'Kenapa jadi begini?'


Sera meremas kedua tangannya, lurus menatap langit sama halnya seperti Abel. Abel terlihat menikmati pemandangan sementara Sera sibuk menetralkan jantung dan pipinya memanas.


"Ra," panggil Abel.


Abel masih menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Sera, berbeda dengan Sera yang menoleh saat Abel memanggilnya.


"Iya?" jawab Sera.


"Kau bohong, kan?" ucap Abel.


"Apa?!" Sera bingung dengan apa yang Abel katakan.


"Tentang dirimu yang sudah menikah. Aku tahu itu." Abel menarik sudut bibirnya membuat Sera terpesona dengan penampilan Abel saat ini.


Di taman yang gelap ini, hanya lampu taman yang menerangi. Wajah Abel tidak terlalu jelas terlihat, namun pantulan cahaya lampu taman menyoroti wajahnya. Di mata Sera ada bingkai bunga-bunga cantik yang mengitari wajah itu serta efek kupu-kupu kecil berterbangan.


"Kenapa kau berbohong?" tanya Abel.


Sena malu dan memalingkan wajahnya ke arah lain sedikit menunduk, "ti-tidak."


"Jangan bohong, Ra. Aku tahu semuanya," ucap Abel.


Sena bungkam tidak sanggup mengatakan apa-apa.


"Ah, hampir saja aku lupa. Kau masih bekerja di tempat itu?" tanya Abel.


"Iya, masih," jawab Sera.


"Tahun ini, aku sebagai perwakilan perusahaan akan kesana," ucap Abel.

__ADS_1


Sera membulatkan matanya terkejut. Sera pernah dengar ada perusahaan besar bekerja sama dengan kantor kecilnya itu dan mengutus salah satu karyawan mereka melihat situasi di kantor.


Abel tersenyum melihat ekspresi terkejut Sera yang menurutnya lucu, "mulai hari ini, mohon bantuannya, Bu Sera."


Abel mengatakannya dengan formal. Sera malu seketika, saat Abel memanggilnya 'Bu Sera'. Mereka saling bertukar pandang cukup lama, hingga terdengar suara kembang api yang meledak di atas langit. Suara bising ikut menyertai tahun baru ini. Sera buru-buru memalukan wajah menatap langit dengan perasaan gugupnya, sementara Abel masih setia menatap wajah Sera di sampingnya dengan tajam.


Sera berusaha mengembalikan suasana agar tidak canggung karena tatapan Abel padanya dan menunjuk ke arah langit, "Abel, lihat. Kembang apinya-"


Cup


Ucapan Sera terhenti seketika saat sesuatu membungkam mulutnya. Abel tiba-tiba saja mencium bibir Sera dan mendorong tubuh Sera bersandar ke sandaran bangku. Sera membulatkan matanya terkejut merasakan bibir Abel bergerak di sana.


*Deg


'Apa ini? Apa aku sedang bermimpi*?'


Tengkuk leher Sera di tahan oleh Abel untuk memperdalam ciuman itu. Sera kewalahan dan pikirannya kosong. Ada rasa kupu-kupu yang melilit perutnya. Kembang api berbagai terus bersorak ria menyaksikan mereka di atas langit. Udara yang sebelumnya dingin berubah menjadi panas. Abel melepaskan ciuman itu tidak lama. Tatapan Sera menjadi sayu dengan nafas memburu. Kedua pipinya memerah.


"Selamat Tahun Baru." Abel berbisik lembut di depan wajah Sera.


Sera yang masih belum paham dengan situasi mengerjakan matanya berulangkali. Abel kembali mencium bibir Sera dengan menangkup wajah mungil itu. Kedua tangan Sera bergerak tanpa sadar melingkar di leher Abel, membuat Abel tersenyum karena Sera menikmatinya. Sampai kembang api terakhir, mereka berciuman panas berulangkali di tempat itu. Setelah berciuman, Abel membawa Sera ke apartemen miliknya.


Di apartemen itu, Abel langsung mengunci pintu dan menggendong Sera ke kamarnya. Tubuh kecil Sera di jatuhkan ke kasur. Pakaian mereka satu sama lain sudah berantakan karena kekacauan yang mereka buat sendiri. Mereka sudah di luputi nafsu.


Abel juga terlihat terdesak melepas kemejanya hingga bertelanjang dada lalu mengukung Sera di bawahnya yang menggeliat tidak karuan dengan nafas memburu. Abel melepas seluruh kain yang menutupi tubuh Sera dan melemparnya asal. Pakaian mereka berdua berserakan dimana-mana tepat di bawah kasur. Abel mencium setiap inci tubuh Sera lalu meninggalkan satu kissmark di leher Sera. Tangannya tidak diam bermain di area privasi Sera yang belum pernah disentuh siapapun.


Saat satu jarinya Abel masuk kesana, Abel terhenti seketika melihat raut wajah Sera yang terkejut dan kesakitan. Abel bisa merasakan bahwa Sera masih perawan di bawah sini.


'Apa ini sudah benar? apa ini tidak apa-apa? aku suka Abel. Aku tidak ingin melepaskannya tapi aku takut.'


Pikiran Sera kacau dan perasaan campur aduk menyelimutinya. Abel menyadari bahwa Sera terlihat belum siap melakukan ini, meskipun mereka sudah sama-sama dewasa. Abel mengeluarkan jarinya di sana lalu mendekatkan wajahnya ke Sera dan mencium dahinya.


"Jika kau takut, aku akan berhenti sampai di sini."


Kalimat lembut Abel membuat Sera merasa tenang dan nyaman di sisinya. Sera sangat menyukai Abel, hingga dia mau-mau saja memberikan apapun yang dia punya.


Sera menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa. Lanjutkan saja.".


Sera melihat Abel yang menahan diri untuknya padahal mereka sudah dewasa satu sama lain dan seharusnya Sera sudah siap dengan ini. Sera bisa merasakan sesuatu yang bengkak di pangkal pahanya meski itu masih tertutupi dengan celana.


"Tidak apa, aku bukan pria yang hanya menyukaimu karena hal itu. Kita bisa melakukannya dengan pelan-pelan, jadi tidak perlu terburu-buru." Abel bangkit hendak beranjak dari atas tubuh Sera.


Ada rasa kecewa di hati Sera saat Abel hendak pergi menjauh darinya. Terlebih posisi Sera saat ini tidak memakai apa-apa. Sera menahan lengan Abel yang hendak pergi dan mendorong Abel hingga terbaring di kasur. Sera naik ke atas tubuh Abel, membuatnya terlihat seperti wanita nakal dengan posisi itu. Abel yang berusaha menahan diri akhirnya tergoda melihat Sera dalam posisi itu. Pantat Sela menduduki miliknya yang sudah tegang.


"Kau yang memancingku, Sera."


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2