Selangkah Bertemu Jodoh

Selangkah Bertemu Jodoh
Selangkah Bertemu Jodoh, 6


__ADS_3

...Dari sekian banyak orang tanpa kusadari ternyata kamu yang ada di sekitar ku....


...***...


Raga memainkan ponselnya di kelas karena saat ini jam istirahat. Raga ingat gara-gara keisengan Bagas dan Bayu, mereka mengirim sesuatu ke Clara melalui akunnya. Raga sudah mengirim permintaan maaf ke sana, namun Clara tidak membaca chat pribadi Raga dan terlihat bahwa Clara offline. Raga berpikir mungkin saja Clara sedang tidur dan Raga memutuskan untuk menemui Clara nanti.


Kelas Raga sangat berisik terlebih pada jam istirahat. Kebanyakan teman-temannya memilih makan, mengobrol, dan bermain di kelas. Raga pun begitu, terkadang dia terlalu malas untuk berbelanja di kantin dan hanya menitipkan sesuatu pada salah satu teman sekelasnya yang ke kantin.


"Ci..," panggil Raga kepada siswi perempuan yang tengah berjalan bersama teman-temannya.


Dia Cici, salah satu teman sekelas Raga. Cici menoleh dan dapat di lihat teman-temannya menyenggolnya sambil terkekeh. Raga tidak peduli tentang itu. Raga bangkit dari duduknya dan menghampiri Cici yang berdiri di depan pintu kelas.


"Lo mau keluar kan? Nitip gue kayak biasa, batagor dan es teh." Ucap Raga mengeluarkan beberapa lembar uang di dompetnya lalu memberikannya ke Cici.


Cici mengangguk dengan ekspresi malu-malu. Raga pun berbalik kembali ke bangkunya. Tanpa Raga sadari samar-samar rona muncul di kedua pipi Cici. Cici malu dan teman-temannya menggodanya. Lalu mereka pergi ke luar kelas menuju kantin.


*


"Ini..," Cici menyerahkan kantong plastik berwarna hitam kepada Raga.


Raga mengangkat wajahnya sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya karena dia tengah bermain game bersama teman-temannya.


"Taruh di sana." Ucap Raga sekenanya sambil menunjuk mejanya dengan dagunya.


Cici mengangguk paham lalu meletakkan pesanan Raga. Cici menatap sekilas wajah serius Raga lalu memutar tubuhnya kembali ke bangku.


"Ci, makasih." Seru Raga sebelum Cici sampai di bangkunya.


Cici menoleh sekilas ke arah Raga.


Raga masih fokus dengan ponselnya lalu dia tersenyum penuh arti dan duduk di bangkunya.


"Ga, Lo serang turret atas , Gue di bawah noh lawan mak Hilda..," gerutu Bayu sibuk menekan layar ponselnya.


Mereka saat ini tengah bermain game, Mobile Lagend. Raga menggunakan Hero assassin sehingga dia dengan cepat bisa menghancurkan turret.


"Akh, siapa yang make Mage. Tolol banget anj*ng ..," umpat Raga ketika di bantu eh malah kabur ninggalin dia di keroyok habis-habisan sama musuh.


"Hehe..," tawa Abdi yang memakai Hero Mage dengan ekspresi tidak bersalah sama sekali.


"Lo sih, ngapain ikut campur. Gue make Pharsa bisa kabur. Tu lawan darahnya gak habis-habis. Lo tumbal aja haha..," lanjut Abdi.


"Sialan." Ucap Raga.


Mereka kembali fokus bermain hingga mereka berakhir kalah. Raga bernafas lega karena beruntung mereka bermain di mode classic hari ini. Kalau di rank, bisa turun lah bintangnya.

__ADS_1


Raga keluar dari gamenya.


"Lah, Lo udahan Ga?" Tanya Bayu.


"Iya, baterai hp gue sekarat." Balas Raga memasukkan ponselnya ke kantong celananya.


"Ooh..," Jawab Bayu dan Abdi serempak lalu kembali memulai permainan mereka.


Raga mengeluarkan batagor yang di tinggalkannya dari tadi di atas meja. Dia menggigit sudut bungkus batagor itu lalu mengeluarkan isi nya dan memakannya. Raga tengah sibuk menikmati makannya sambil melirik ke luar kelas melihat siswa siswi berlalu lalang.


'Deg'


Raga melihat Clara dan teman-temannya berjalan melewati koridor dekat kelasnya sambil mengobrol. Raga mematung seketika melihat senyuman di sudut bibir Clara.


'Ah, sial. Apaan-apaan sih gue..,' Batin Raga menyadarkan diri.


Raga belum pernah sekalipun pacaran. Dia masih sibuk bermain jadi pikirannya belum sampai ke arah itu. Raga menggelengkan kepalanya lalu memalingkan wajah, mengambil es teh, dan meminumnya.


'Kenapa sih gue, kok deg-degan gini. Kayak maraton aja.' Pikir Raga.


"Kenapa Lo Ga? Sehat?" Tanya Abdi yang melihat gelagat aneh temannya itu sesekali lalu melanjutkan mainnya.


"Gak tahu gue. Gerah di sini. Gue keluar dulu." Ucap Raga bangkit dari duduknya.


Raga membawa plastik sampah makanannya dan memasukkannya ke tempat sampah.


"Ga, yok. Ikut. Seru nih..," seru seseorang mengenakan pakaian olahraga di lapangan.


Raga mengenalnya. Raga tidak terlalu dekat namun faktanya Raga memang memiliki banyak teman di seluruh kelas. Yang memanggil Raga adalah Geri.


Raga mengangguk dan ikut bergabung ke lapangan bersama anak kelas lain. Siswi kelas lain tertawa melihat tingkah lucu Raga ketika melompat ke arah karet mereka.


"Gue ikut sampai bel masuk." Seru Raga semangat.


Tanpa Raga sadari, Clara mengamatinya bermain di lapangan sembari duduk di bangku kantin.


*


Raga tengah berjalan di trotoar sambil mendengarkan lagu dengan Earphone bertengger di telinganya. Raga berniat akan ke perpustakaan sehabis sepulang sekolah. Raga sendirian, tidak bersama teman-temannya. Bukannya Raga tidak mau mengajak mereka, tetapi memang begitulah tipe teman-teman Raga yang paling anti mengunjungi ruangan yang dipenuhi buku-buku. Melihat satu buku saja sudah pusing, apalagi berpuluh-puluhan bahkan ratusan buku. Raga menggelengkan kepala ketika mendengar ocehan teman-temannya itu.


Raga sebenarnya malas ke perpustakaan tetapi gara-gara ada tugas dari guru sejarah, dia perlu mencari buku untuk menambah referensi.


Raga masuk ke perpustakaan sambil menunjukkan kartu identitas dan keanggotaannya. Raga memiliki kartu ke anggotaan perpustakaan karena orang tuanya lah yang mengurus itu. Alasannya agar Raga bisa belajar lebih giat lagi. Orang tua Raga menginginkan Raga menjadi anak yang pintar dan sukses kedepannya.


Raga mengelilingi seluruh rak mencari bagian rak buku sejarah. Raga menemukannya dan mencari buku yang dia butuhkan. Raga membaca setiap judul dan nama penerbit di cover buku yang ada di sana. Raga menemukan buku yang dia cari lalu mengambilnya. Raga tersenyum puas dan memutuskan untuk pergi. Namun baru beberapa langkah, langkahnya terhenti di salah satu rak dengan label non fiksi.

__ADS_1


'Tidak salahnya meminjam novel di sini.' Batin Raga.


Raga melangkahkan kakinya ke rak itu dan mencari novel aksi. Dia membaca satu persatu judul cover buku tersebut.


'Deg.'


Raga menoleh karena seseorang baru saja melewati rak nya. Orang itu mematung sama halnya dengan Raga. Dia Clara.


"Oh, Maaf." Ucap Clara hendak buru-buru pergi.


Raga segera menghentikannya dengan menahan bahu Clara. Clara memutar tubuhnya dan Raga melepaskan pegangannya dengan ekspresi canggung.


"Anu, soal kemarin..," gugup Raga.


Raga mengingat kejadian kemarin dan ingin meminta maaf pada Clara menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka berdua.


Clara tampak gugup membalas tatapan Raga.


"Maaf, itu sebenarnya teman gue yang iseng." Ucap Raga.


"Eh?!" Clara terkejut.


"Iya, maaf. Membuatmu salah paham." Lanjut Raga.


"Ah itu. Iya. Tidak apa-apa." Jawab Clara dengan canggung.


Raga mengusap tengkuk leher belakangnya yang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar gugup saat ini.


"Emm..," Raga tampak ragu mengatakannya sementara Clara menunduk malu menunggu setiap kata yang keluar dari bibir Raga.


"Sendirian?" Tanya Raga.


Clara otomatis mengangkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu. Clara memalingkan wajah sambil menoleh ke arah rak label ekonomi. Di sana teman-teman Clara tengah berbisik satu sama lain melihat Clara mengobrol dengan Raga.


Raga menoleh melihatnya.


"Oh, kau sama teman-teman ya? Nyari buku?" Ucap Raga.


Clara mengangguk, "I-iya."


Raga membalas anggukkan Clara, "Em, kalau begitu gue duluan."


Raga mengangkat tangan kanannya permisi melewati Clara. Raga bingung harus mengatakan apa lagi karena sebelumnya Raga tidak pernah segugup ini berhadapan dengan perempuan. Raga melanjutkan langkah tanpa berniat menoleh ke belakang.


'Ah, Ada apa dengan gue? Sial.' Batin Raga.

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2