Selingkuh Berujung Santet

Selingkuh Berujung Santet
1.Panik


__ADS_3

"Kalian ngapain berdua di sini?!" teriak Ana dengan keras.


Ana wanita yang bernama asli Riana itu kaget dan marah besar saat mengetahui suaminya Dito sedang berduaan dengan pembantunya Luna di kamar mereka.


"Ee... enggak kok Mbak, tadi Mas Dito cuma nyuruh aku buat ngambil baju kotor aja di sini." jawab Luna yang terlihat gugup diikuti tubuhnya yang bergetar.


"Jangan bohong kamu Luna!" teriak anak lagi.


"Udah, kamu langsung pergi aja Luna." perintah Dito ke Luna untuk segera pergi dari kamar itu dengan berbisik. Sedangkan Ana masih berdiri kaku di depan pintu terdiam tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Kamu tega Mas!" Pekik Ana menahan isak.


"Kamu udah salah sangka sayang. Ini nggak seperti yang kamu kira." Dito berusaha mencoba menjelaskan ke Ana bahwa apa yang dilihatnya barusan adalah tidak benar.


Setelah Dito menjelaskan dengan panjang lebar dan berusaha meyakinkannya, akhirnya Ana pun memaafkan Dito dan Luna, serta menganggap apa yang baru saja ia lihat merupakan kekeliruannya.


"Yaudah, kamu jangan nangis lagi ya sayang." rayu Dito ke Ana setelah mereka bercekcok panjang sembari mengusap air mata Ana di pipinya.


Luna yang masih setengah mati menahan gelisah dan takut ketahuan di kamarnya pun mencoba menghubungi Dito lewat chat menanyakan apakah Ana masih marah besar.


"Sayang, perempuan itu masih marah?" ketik Luna di HP nya dengan sesekali berjalan mondar mandir di kamarnya seraya menunggu balasan chat dari Dito.


"Cling!" bunyi notifikasi yang ditunggu-tunggu Luna akhirnya pun terdengar.


"Enggak sayang, kamu tenang aja. Perempuan itu udah nggak marah lagi kok." balas Dito di chatan mereka.


Dito dan Luna sebenarnya sudah sangat lama berselingkuh, tepatnya seminggu setelah Luna bekerja di rumah itu. Jika di hitung dari hari ini, sekitar sudah enam bulan lamanya. Sebelum Luna bekerja di rumah Dito dan Ana, Luna di kampung memang dikenal sebagai perempuan yang centil dan suka menggoda laki-laki. Tapi latar belakangnya itu belum sampai terdengar ke telinga Dito dan Ana, sehingga mereka pun tidak pikir panjang lagi sebelum memperkerjakan Luna di rumah mereka.


***


"Luna maafiin aku ya udah nuduh kamu macam-macam sama Mas Dito kemarin ." ucap Ana meminta maaf ke Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ooh iya, sebelum Mbak Ana minta maaf, aku udah maafin dulu kok." sahut Luna tersenyum memperlihatkan tingkah laku baiknya ke Ana.


"Makasih banyak loh Luna." ucap Ana lagi membalas senyuman Luna kemudian memegang tangannya.


"Ooh iya sayang, hari ini aku lagi ada lembur nih di kantor, kamu baik-baik ya di rumah." ucap Dito yang baru saja turun dari tangga seraya memasang jam tangannya.


"Ooh gitu ya sayang, hari ini sebenarnya aku mau minta izin sama kamu buat bantuin ibu di rumahnya masak karena ada pengajian sampai malam."


"Ooh, aku nggak keberatan kok sayang, kamu hati-hati ya nanti berangkatnya."

__ADS_1


Ana kemudian meraih tangan Dito lalu segera menciumnya, dikarenakan Dito sudah terlihat sangat buru-buru.


Luna hanya bisa membuang muka saat melihat Dito dan Ana bermesraan di depannya.


"Awas aja ya Ana, aku bakalan rebut Mas Dito dari kamu!" ujarnya dalam hati.


"Yaudah, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." sahut Ana dan Luna serentak.


"Eh, kamu nggak sarapan dulu Mas?" tanya Ana spontan sebelum Dito benar-benar meninggalkan rumah.


"Nggak, nanti aku sarapan di luar aja yang soalnya aku buru-buru banget nih." jawab Dito sambil mengenakan sepatu pantofelnya dengan terburu-buru.


"Ooh, yaudah deh kalau gitu. Hati-hati ya sayang."


"Iya sayang."


Dito pun langsung pergi, sementara itu Luna kembali membuang mukanya."


"Luna aku siap-siap ke rumah ibu aku dulu ya, kamu jagain rumah."


"Iya, siap Mbak."


"Iiss! Mas Dito kok lembur sih hari ini. Coba deh kalau nggak lembur, pasti kami udah berduaan dari tadi." keluh Luna yang sedang duduk di sofa.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara orang berjalan menggunakan sepatu pantofel yang mendekat ke arah Luna yang sedang duduk. Karena penasaran, Luna pun menolehkan wajahnya ke arah suara orang yang berjalan itu. Mata Luna sontak melotot saat mengetahui orang yang berjalan itu ternyata Dito.


"Mas Dito..." ucapnya dengan pelan.


"Sayang!" seru Dito sembari mendekati Luna.


"Aaa sayang." seru Luna kembali kemudian mereka berpelukan.


"Aku kangen banget loh sayang." Lanjut Luna dengan manja.


"Iya aku juga sayang." balas Dito kemudian mengecup dahi Luna.


"Kamu bilang kamu ada lembur tadi di kantor, kok balik lagi sih sayang?" tanya Luna penasaran.


"Emangnya kamu nggak suka kalo aku balik lagi?" jawab Dito dengan kembali bertanya.

__ADS_1


"Ya suka lah yang."


Selesai bercakap-cakap sebentar, mereka pun melanjutkan obrolan di kamar, kali ini mereka berduaan di kamar Luna.


"Aku kan bos, ya terserah aku dong mau berangkat jam berapa pulang jam berapa, mau lembur atau enggak itu semua kan terserah aku cantik." jelas Dito menjawab pertanyaan Luna tadi sembari melepas kancing kemejanya di depan Luna yang tengah siap terbaring di kasur. Dito kemudian terjun ke kasur itu mendampingi Luna.


"Luna bibir kamu tebal, aku suka." bisik Dito di telinga Luna seraya memandangi Luna dengan tatapan berkarisma.


Karena hari itu Ana baru pulang ke rumah sekitar malam, jadi waktu yang tersisa mereka manfaatkan untuk melepas rindu walau mereka berdekatan, serta melakukan hubungan yang terlarang.


Waktu berjalan begitu cepat sampai jam pun menunjukkan pukul sepuluh malam. Karena keasyikan berduaan di kamar, Dito dan Luna sampai lupa bahwa Ana akan segera pulang.


"Assalamualaikum... Luna bantuin aku beresin belanjaan dong." seru Ana sambil berjalan dari pintu utama rumahnya sampai ke ruang tamu membawa belanjaan yang sangat banyak. Rumah mereka memang selalu tidak di kunci sehingga Ana bisa masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu, kecuali malam hari saat semua orang akan tidur, barulah rumah itu akan di kunci.


Karena tidak ada respon, Ana pun mencoba memanggil Luna kembali.


"Luna!" teriak Ana sedikit kencang.


Sontak Dito dan Luna yang tengah bermesraan di kamar Luna pun terkejut bukan main.


"Mas, itu kayaknya perempuan itu udah pulang deh." ungkap Luna kepanikan sembari mengenakan pakaiannya cepat.


"Yaudah kalau gitu kamu keluar aja dan bilang aku belum pulang ya." perintah Dito ke Luna dengan juga mengenakan pakaiannya.


Belum selesai Luna mengenakan pakaian, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh Ana. Hal itupun makin membuat mereka panik luar biasa.


"Tok... Tok... Tok! Luna kamu udah tidur?" pekik Ana dari luar.


"Sebentar Mbak, aku lagi ganti baju nih! Mbak tungguin aja di ruang tamu." teriak Luna juga dari dalam kamar.


"Ooh oke, cepetan ya." Ana langsung meninggalkan kamar Luna kemudian menunggunya di ruang tamu.


Luna dan Dito pun bernapas lega setelah itu.


Tanpa berpanjang lebar lagi, Luna pun segera berlari kecil menyusul Ana yang sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu. Sedangkan Dito akan keluar dari jendela kamar Luna dan masuk rumah lagi lewat pintu depan.


"Iya Mbak, maaf ya tadi aku mandi dulu, soalnya gerah banget." jelas Luna mencoba meyakinkan Ana.


"Iya nggak apa-apa kok, ini bantuin masukin ke kulkas ya. Oo iya, Mas Dito belum pulang?" tanya Ana ke Luna dengan santai seolah-olah tidak ingat dengan kejadian kemarin.


"Ee... Belum kok Mbak, kan kata Mas Dito tadi dia ada lembur hari ini. Dari tadi aku sendirian aja kok Mbak di rumah." jawab Luna dengan gugup disertai sedikit gemetaran.

__ADS_1


"Ohh yaudah deh kalau gitu... Tapi kamu kok kayak gugup gitu sih Luna, kenapa? Kamu sakit?" tanya Ana lagi dengan khawatir.


__ADS_2