
"Zina ya ibu-ibu? Oke kalau begitu nikahin aja kami sekalian langsung di sini! Kebetulan juga ada pak ustadz tuh." balas Luna geram dengan nada tinggi walau masih sakit untuk berbicara.
"Tapi apakah istri nak Dito sebelumnya sudah mengizinkan nak Dito untuk menikah lagi meskipun sidang cerainya ini belum selesai?" tanya ustadz mempertimbangkan.
"Sebenarnya sudah pak ustadz, hanya menunggu waktu saja untuk kami menikah. Dan kebetulan ada pak ustadz di sini jadi langsung aja pak ustadz, berhubung tetangga juga nggak enak kalo kami nggak segera menikah." jelas Dito.
"Walinya bagaimana?" tanya pak ustadz lagi.
"Kebetulan orang tua saya sudah meninggal keduanya pak ustadz, jadi untuk orang tua Luna kami akan berusaha menghubunginya dulu."
"Jadi siapa yang akan menjadi wali kamu nak Dito?"
"Rekan kerja saya adalah paman saya, jadi beliaulah yang akan menjadi walinya. Tapi saya hubungi dulu ya pak ustadz, punten." jelas Dito kembali kemudian bergegas menghubungi pamannya.
Dan setelah di pertimbangkan dengan panjang lebar, akhirnya pak ustadz pun setuju untuk menikahkan mereka atas usul dari salah satu tetangganya tadi. Berhubung Ana sebelumnya juga sudah mengizinkan Dito untuk menikah lagi dengan Luna. Dan singkat cerita, sah lah hubungan mereka sebagai suami istri.
"Yes! Rencanaku untuk menguasai harta Mas Dito akhirnya sudah di depan mata." ujar Luna dalam hati kesenangan setelah ijab kabul dikumandangkan.
***
"Mas pagi ini aku pulang ke kampung dulu ya, kan kataku kemarin ada pegangan dari keluarga aku yang harus diselesaikan, kalo dibiarin terus nanti aku digangguin lagi. Jadi nggak apa-apa kan?" ujar Luna berbohong meminta izin ke Dito untuk pulang ke kampungnya, padahal ingin membayar tebusannya di tempat Mbah Ompong.
"Boleh kok sayang, aku ikut ya." sahut Dito meminta untuk ikut.
"Ee...nggak boleh sayang, biar aku sendiri aja. Lagian juga kamu kan hari ini sibuk di kantor." sontak Luna kaget karena tiba-tiba Dito ingin ikut bersamanya.
"Nggak apa-apa kok sayang, nanti aku bilangin ke anak buah aku aja ya." ujar Dito mendesak.
"Aduuh gimana nih, Mas Dito maksa lagi buat ikut." gumamnya kesal dalam hati.
"Yaudah deh nggak jadi aja Mas, aku masih belum mendingan juga sih ini."
"Ooh, oke. Kalau gitu Mas ke kantor dulu ya, kamu baik-baik di rumah, daa."
"Iya mas, hati-hati, daa." sahutnya singkat.
__ADS_1
Saat Dito pergi ke kantor, saat itu juga Luna diam-diam keluar rumah pergi ke tempat Mbah Ompong untuk membayar tebusannya, tidak lupa ia membawa daun sirih dan paku yang diperintahkan oleh Mbah Ompong terakhir kali. Ia berangkat bersama tukang ojek yang membawanya dulu.
"Kang, masih ingatkan jalan ke alamat Mbah Ompong?" tanya Luna ke tukang ojek saat sudah diperjalanan.
"Tenang neng, saya masih ingat kok." sahutnya.
Saat mereka sudah mulai memasuki wilayah kediaman Mbah Ompong seperti terakhir kali mereka datangi, mendadak perkampungan yang dulunya ada rumah orang walaupun berjarangan, kini kosong tanpa satu pun rumah, yang ada hanya hutan lebat di penuhi pohon-pohon tinggi yang mereka lewati.
"Kang ini bener kan alamatnya? Kok nggak ada rumah ya? Perasaan terakhir kali ada kok rumahnya." ketus Luna bertanya ke tukang ojek.
"Iya bener kok neng, saya ingat betul. Tapi kok kali ini beda ya. Jadi gimana nih? Mau lanjut atau mau pulang aja neng?" tanya tukang ojek yang sepertinya sudah setengah takut.
"Lanjut aja kang." teriaknya dari belakang.
Tukang ojek kemudian langsung menancap gas motornya. Lalu sekitar lima belas menit dari situ, tanpa mereka sangka sebelumnya tiba-tiba motor yang mereka kendarai mogok. Luna dan tukang ojek pun semakin panik dibuatnya.
"Aduh neng, mogok lagi nih. Gimana dong?!" ujar tukang ojek panik.
"Kira-kira masih jauh nggak ini kang?" tanya Luna berusaha tenang.
Dalam waktu yang bersamaan tampak ada seorang pemuda laki-laki berjalan dari arah yang berlawanan ke arah mereka. Pemuda itu memakai baju hitam dari atas sampai bawah, kecuali atas kepalanya menggunakan peci yang bermotif batik. Pemuda itu berjalan membawa cangkul.
"Kang itu ada orang tuh." ucapnya merasa lega.
"Mana neng?"
"Di depan itu tuh." Luna menunjuk ke arah pemuda yang berjalan mendekat ke arah mereka itu.
"Aduuh, emang eneng yakin itu orang? Secara logika nggak masuk akal neng ada orang jalan bawa cangkul di hutan lebat gini. Ngapain coba?"
"Bisa aja dia balik dari kebon kang." ujar Luna lagi meyakinkan.
"Tapi neng, di sini kan terkenal dengan kampung gaib."
"Ya, nggak ada salahnya kan kita nyoba dulu minta tolong ke dia kang." Luna tetap ngotot meyakini bahwa orang yang sedang berjalan ke arah mereka itu merupakan benar manusia.
__ADS_1
"Permisi kang, punten. Ini motor kita lagi mogok, kira-kira akang bisa bantu nggak?" seru Luna ke orang yang tidak dikenal itu memberanikan diri walau wajah orang itu terlihat datar.
"Iya, ikuti saya." sahut orang itu singkat kemudian berjalan lurus.
"Ayo kang." ajak Luna ke tukang ojek untuk mengikuti orang itu.
"Neng, akang nggak yakin deh tuh orang manusia, dia jawabnya aja gitu neng." bisiknya pelan.
"Udah kita ikutin aja kang, kita berusaha dulu. Daripada kita di sini sampe malam akang pilih yang mana?" Luna berusaha meyakinkan tukang ojek lagi.
"Yaudah deh neng." tukang ojek hanya pasrah karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Mereka berjalan sekitar dua meter di belakang orang yang tidak dikenal itu. Dan sekitar tiga puluh menit berjalan kaki sambil menyeret motor, berhentilah mereka di sebuah gubuk kecil. Selama diperjalanan mereka tidak berbicara sepatah katapun.
"Ini rumah akang?" tanya Luna memulai obrolan memecah keheningan.
"Iya, kalian tunggu di sini." ucap orang itu seraya berjalan ke belakang gubuk itu.
"Tuh kan bener kang, orang itu beneran orang kok. Buktinya aja dia punya gubuk." celoteh Luna ke tukang ojek.
"Iya, iya deh neng. Habis dia bantuin kita nanti, kita tanya ke dia arah pulang ke jalan raya ya neng. Setelah itu kita langsung pulang aja." ujar tukang ojek tampak kelelahan.
"Hah? Pulang? Ya nggak bisa gitu lah kang, saya harus bayar tebusan ke Mbah Ompong, kalau nggak saya bayar nanti saya digangguin terus sama sosok-sosok hantu." pekik Luna menjelaskan panjang lebar.
"Tapi neng saya takut."
"Nanti saya kasih lebih deh kang. Suami saya orang kaya loh, akang bisa minta berapa aja asal akang bisa nemenin saya ketemu sama Mbah Ompong."
Mendengar kata orang kaya, tukang ojek itu akhirnya pun tergiur dan mau untuk menemani Luna bertemu kembali dengan Mbah Ompong. Tapi di tengah obrolan mereka itu, mereka mendadak sadar bahwa orang tadi belum kembali juga dari belakang gubuk itu.
"Kang, orang tadi mana ya? Kok belum kembali juga?"
"Lah iya ya neng, mana bentar lagi gelap nih." ujar mereka mulai takut.
"Apa kita masuk aja ya kang ke gubuk itu?" ketus Luna memberi saran.
__ADS_1