
Seketika ruangan yang gelap itu mendadak terang benderang oleh beberapa obor yang menempel di dinding rumah Mbah Ompong, Luna pun melihat sekelilingnya dan kaget bukan main.
"Banyak orang yang datang ke sini hanya ingin memenuhi hasrat dan nafsunya. Tidak banyak juga yang menghabiskan banyak harta demi penyakit hatinya." ujar seorang kakek-kakek dengan suara serak yang berada di depan Luna berdiri.
"Permisi, kek. Saya ingin bertemu dengan Mbah Ompong." ketus Luna agak ketakutan.
"Hahahahahah! Aku adalah Mbah Ompong, silahkan duduk ndok." kakek itu tertawa dengan lantang kemudian memerintah Luna untuk duduk di depannya yang penuh dengan sesajen.
"Ee... Iya Mbah." sahut Luna menundukkan tubuhnya untuk duduk, kali ini bau kemenyan yang ia cium tadi lebih menyengat.
Suasana sempat hening sebentar.
"Katakan, apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Mbah Ompong sembari membakar-bakar sesuatu di sebuah bara api.
"Ee... Jadi gini Mbah, saya ini adalah selingkuhannya majikan saya. Nah, istri majikan saya itu lagi hamil sekarang Mbah, dan semenjak itu selingkuhan saya nggak lagi peduli sama saya. Saya mau anak di dalam kandungannya itu dimusnahin Mbah. Bisa kan?" jelas Luna terus terang menyampaikan maksudnya datang ke situ tanpa rasa malu sedikitpun.
"HAHAHAHAH!" Mbah Ompong tertawa dengan kencang lagi.
"Kau ada foto istri selingkuhanmu?" sambung Mbah Ompong.
"Ee... Iya ada Mbah, ini...." Luna memperlihatkan foto Ana dan Dito yang ada di galeri HP nya.
"Namanya Ana." ketusnya lagi.
Mbah Ompong mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya.
"Tunggu sebentar ya." Mbah Ompong beranjak dari duduknya dan seperti ingin mengambil sesuatu.
"Iya Mbah."
Sekitar kurang lebih satu menit Mbah Ompong pun kembali lagi, dan benar saja ia kembali dengan membawa sesuatu.
"Ini adalah tanah liat dari Gunung Tangkuban yang kubungkus dengan daun pisang kering. Tanah liat ini sudah kubacakan, campurkan ini ke dalam minuman istri selingkuhanmu." perintah Mbah Ompong lalu memberikan bungkusan tanah liat itu ke Luna.
"Cuma itu Mbah?" tanya Luna lagi.
"Iya." jawabnya mengangguk.
"Ohh, siap Mbah. Kalo tebusannya ini berapa ya kira-kira?"
"Bayar saja semau mu."
"Ee... Saya cuma bawa uang lima puluh ribu Mbah, nggak apa-apa ini teh?"
"Saya tidak mau menerima tebusan dengan uang kosong."
"Uang kosong? Maksudnya Mbah?"
"Kembalilah lagi nanti ketika janin itu sudah mati. Serahkan tebusan itu bersama daun sirih dan paku."
__ADS_1
"Eemmm... Iya Mbah, makasih sebelumnya." balasnya seraya berdiri dan segera meninggalkan tempat itu bersama tukang ojek yang menunggunya dari tadi di luar.
***
Di perjalanan menuju pulang.
"Neng jangan kaget ya nanti kalo pulang ke rumahnya." ketus tukang ojek tiba-tiba.
"Hah? Emangnya kenapa kang?"
"Kampung yang kita tuju tadi terkenal dengan kampung gaib neng. Biasanya orang-orang pergi seharian ke situ pulangnya cuma setengah jam."
"Hah? Apa kang? Saya masih nggak paham deh."
"Yaudah nanti liat aja jam ketika neng udah sampe di rumahnya."
"Ohh iya deh kang."
"Tapi... Percaya nggak percaya sih neng, soalnya kan akang sudah pernah jalan ke sini sebelumnya."
***
Di kamar Luna.
"Huuuhh... Capek banget sih!" keluh Luna sembari membaringkan tubuhnya di kasur. Iseng-iseng ia menengok layar HP nya.
"Udah jam berapa sih sekarang." ujarnya sendiri. Dan seketika ia tercengang melihat jam di HP nya ternyata baru menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh malam.
Mendadak ia mengingat obrolannya tadi dengan tukang ojek yang mengatakan bahwa kampung yang mereka datangi merupakan kampung gaib. Ia berangkat jam tujuh pas, dan ketika kembali, jam baru menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Sangat mustahil untuk dicerna pikiran mengingat perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai di kampung itu sangatlah lama. Kaget, syok, takut, capek, semuanya dirasakan Luna. Akhirnya ia pun memutuskan untuk beristirahat saja malam itu.
***
"Eh Mbak, baru bangun?" sapa Luna yang tengah beres-beres di dapur.
"Iya nih Luna, Mbak sakit kepala tadi.... Uwek!!" Ana mual-mual dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Eh, kenapa Mbak?!" tanya Luna berpura-pura simpati.
"Nggak tau nih Luna, dari tadi." pekik Ana dari kamar mandi menahan mual.
Selang beberapa menit kemudian Ana pun keluar dari kamar mandi.
"Aduuh sakit banget kepala Mbak Luna." Ana keluar kamar mandi dengan berpegangan ke dinding. Luna kemudian meraih Ana untuk membantunya berjalan.
"Duduk di sini saja Mbak." ketus Luna sembari mendudukkan Ana ke kursi meja makan di dapur.
"Mbak kayaknya ini morning sickness deh." lanjutnya.
"Iya deh kayaknya Luna, tapi kemarin-kemarin kok enggak ya? Ee... Gini aja, kamu tolong buatin Mbak minuman jahe yang ada di lemari itu ya."
__ADS_1
"Widih... Pucuk dicinta ulam pun tiba, kesempatan aku buat nyampurin tanah liat yang dikasih Mbah Ompong nih." gumam Luna dalam hati.
"Oke siap! Tunggu bentar ya Mbak."
Luna lalu bergegas membuatkan Ana minuman jahe yang diperintahkannya. Dan sesuai rencana, ia lalu menambahkan tanah liat ke minumannya.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." seru Dito ke Ana yang baru keluar dari kamar.
"Eh, iya Mas, Hati-hati." sahutnya seraya mencium tangan Dito.
"Maafin aku, aku nggak bisa jagain kamu dulu di rumah, soalnya hari ini aku harus ketemu sama clien di kantor. Luna tolong kamu jagain istri saya ya." perintah Dito ke Luna yang sedang membawa minuman jahe menuju Ana yang sedang duduk.
Luna naik pitam lagi saat mendengar Dito memerintahkannya untuk menjaga Ana. Hampir saja minuman yang ia bawa mau ia hempasan ke lantai.
"Iya." jawabnya singkat.
"Ini Mbak, minuman jahenya."
"Makasih ya Luna."
"Iya Mbak, sama-sama."
Ana meneguk habis minuman jahe yang sudah Luna campur dengan tanah liat dari Mbah Ompong itu, sesaat memang belum terjadi reaksi apapun.
"Perempuan ini nggak ngerasa apa ya minumannya aku kasih tanah liat?" gubris Luna dalam hati.
"Ana Mbak ke kamar dulu ya, mau istirahat lagi. Tolong bantuin Mbak jalan, soalnya kepala ini masih sakit.
"Ohh iya Mbak."
Luna pun membawa Ana berisitirahat di kamarnya.
***
Di kamar Ana.
"Mbak aku tinggal dulu ya sebentar, mau beresin cucian tadi yang belum selesai. Nggak apa-apa kan?"
"Ohh iya, nggak apa-apa kok Luna. Mbak sendiri di sini juga nggak masalah."
Baru beberapa langkah Luna menginjakkan kaki keluar kamar Ana, tiba-tiba Ana menjerit kesakitan lagi."
"Aduuh sakit! Luna tolong ini... Perut aku sakit banget!" teriaknya sambil memegang perutnya yang sakit.
Sontak Luna pun langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menghampiri Ana kembali.
"Oke, drama di mulai." ketus Luna dalam hatinya.
"Sakit gimana Mbak, perutnya?"
__ADS_1
"YA ALLAH! Ini sakit banget Lunaaa, tolong telpon Mas Dito cepetan!" perintah Ana menahan sakit.