
"huhh....huhh...huhhh." Luna bernapas dengan cepat.
"Sayang!" teriaknya panik kemudian memeluk Dito.
"Aku mimpi buruk sayang, aku mimpi di kejar-kejar sama hantu di gunung!" jelasnya sambil ketakutan.
"Hantu? Udah nggak apa-apa kok sayang, itu cuma mimpi kamu aja kok. Yaudah sekarang tidur lagi sambil peluk aku ya." ucap Dito sembari menenangkan Luna.
Luna hanya mengangguk lalu melanjutkan tidur di pelukan Dito.
***
Saat pagi hari Dito berangkat ke kantor seperti biasa, tetapi untuk sarapannya di gantikan oleh Luna yang membuatnya.
"Sayang, kamu masak sarapan apa hari ini?" tanya Dito yang baru keluar dari kamar seraya memasang rolex di tangannya.
"Sayang?" seru Dito sekali lagi karena Luna tampak tidak mendengarnya.
"Hah, iya sayang?!" Luna kaget.
"Kamu kenapa sih? Kok kayak melamun aja dari tadi." tanya Dito menghernyitkan dahi.
"Ee... Nggak apa-apa kok sayang, aku cuma kepikiran pernikahan kita aja gimana konsepnya nanti."
"Yaudah kamu sarapan dulu ya sayang, ini aku mau buang sampah dulu ke depan." lanjutnya dengan sengaja bersikap seolah-olah sudah menjadi istri Dito agar Dito semakin yakin untuk menikahinya serta lebih mudah untuk menguasai hartanya.
Saat Luna berjalan menuju tempat sampah di depan rumah itu, tiba-tiba ia melihat ada sekumpulan emak-emak yang tampak seperti bergosip di dekat rumahnya.
"Eh, itu tuh. Si pelakornya Mbak Ana keluar." ujar salah satu emak-emak di sana yang tanpa sengaja terdengar oleh telinga Luna walau pelan.
"Iya tuh, pembantu berkedok pelakor. Tampangnya aja yang cantik, tapi hatinya busuk kayak iblis." sahut temannya yang lain.
"Iiihhh dasar emak-emak rempong! Kalian iri ya sama saya?! Kalau iri bilang bos, jangan jadi emak-emak rempong kayak gitu! Dasar mulut cabe kalian!" teriak Luna membalas.
Muak dengan emak-emak itu Luna pun langsung masuk ke dalam rumah lagi seraya mengadu dengan Dito yang tengah menikmati sarapan pagi itu.
__ADS_1
"Sayang, aku tuh kesel tau nggak sih sama emak-emak di luar! Masa mereka bilang aku pelakornya Mbak Ana sih?! Udah jelas-jelas Mbak Ana yang salah nggak bisa kasih keturunan ke kamu, eh malah aku yang mereka gosipin." ketus Luna mengadu ke Dito.
"Jangan terlalu di ambil pusing sayang, biarin aja mereka gitu. Kamu fokus mempercantik diri aja sama kencengin punya kamu itu ya biar aku makin cinta sama kamu."
"Hmm, yaudah deh sayang."
"Mas berangkat ke kantor dulu ya." ucapnya sembari mencium kening Luna.
"Iya Mas, hati-hati."
Setelah itu, Luna bersiap-siap untuk mandi. Dan seperti biasa, ia kemudian berdandan di depan cermin. Saat ia melihat wajahnya di cermin itu lagi-lagi ia melihat ada sesosok hitam besar lewat di belakangnya. Sontak matanya pun langsung menghadap ke belakang untuk memastikannya.
"Siapa?!" seru Luna dengan nada tinggi.
"Siapa pun kalian tolong jangan ganggu saya! Saya capek tau nggak sih kalian ganggu terus!" teriaknya marah tanpa rasa takut seperti sebelumnya.
Tanpa Luna duga sebelumnya, seketika sosok hitam besar tadi menampakkan dirinya di depan Luna dengan wajah seperti terlihat marah. Sosok itu mendekat ke Luna, tapi saat Luna ingin berteriak minta tolong, ia malah tidak bisa bersuara, mulutnya seperti terkunci.
Sosok itu berjalan langkah demi langkah hingga sampailah tepat di hadapan Luna. Tubuh dan mulut Luna kali ini benar-benar tidak bisa bergerak dan bersuara. Mendadak sosok itu mencekik leher Luna dengan sangat kuat sampai Luna tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Cepat bayar tebusanmu ke Mbah Ompong...Kau belum membayar tebusanmu. Jika kau tidak membayarnya juga maka nyawamu taruhannya..." hardik sosok itu ke Luna dengan masih mencekiknya.
Saat Luna bangun membuka mata, tiba-tiba ia kaget karena banyak orang di dekatnya, mengingat terakhir kali ia dicekik oleh sosok hitam besar itu.
"Aww... Kepalaku sakit banget." ketusnya.
Pak Ustadz yang tengah berbincang-bincang dengan Dito yang ada di dekat Luna pun langsung menengok ke arahnya saat mendengar Luna mengeluarkan suara.
"Sayang, kamu udah siuman?" tanya Dito dengan masih sedikit cemas mengelus-elus kepala Luna.
"Aku kenapa sayang? Kok sampe bisa banyak orang gini di rumah?" tanya Luna penasaran berusaha berbicara walau tenggorokannya masih sakit.
Dito pun menceritakan kejadian yang dialami Luna tadi mengenai kenapa ia sampai bisa seperti itu.
Tatkala Dito sudah pulang dari kantor sekitar jam lima sore, tiba-tiba ia mendengar Luna meraung kesakitan di kamarnya. Karena khawatir terjadi apa-apa, Dito pun langsung berlari ke arah kamar Luna. Dan saat Dito membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat Luna yang sedang menangis tersedu-sedu sembari seperti memakan sesuatu di tangannya, namun tidak ada bendanya. Saat di tanya kamu kenapa oleh Dito, Luna lalu menatap wajah Dito dengan tajam lalu berkata, "bayar tebusanmu!" dengan suara serak seperti bukan suara Luna.
__ADS_1
Menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Luna, ia pun mencoba mendekati Luna. Saat baru satu langkah ia berjalan mendekatinya, tiba-tiba Luna bereaksi di luar nalar. Ia berlari lalu mencekik Dito dengan sangat kuat sampai Dito tidak bisa mengelak. Dito kemudian berusaha sekuat tenaganya untuk melepaskan cengkraman tangan Luna di lehernya. Setelah terlepas dari cekikan Luna, Dito pun berlari keluar rumah seraya meminta tolong dengan orang-orang yang ada di dekat rumahnya.
"Tolong... Di rumah saya ada yang kerasukan!" teriak Dito meminta tolong.
Sontak orang-orang yang ada di sekitar rumah Dito pun langsung berlari ke rumahnya untuk melihat keadaan orang yang di bilang Dito kerasukan itu, termasuk emak-emak yang tadi pagi bergosip, sebagian dari mereka juga ada yang berlari ke rumah ustadz terdekat untuk di bawa ke rumah Dito.
"Siapa yang kerasukan nak Dito?" tanya salah satu tetangganya.
"Luna." jawab Dito singkat karena syok baru pernah melihat orang kerasukan.
Dan dari arah yang berlawanan, tiba-tiba datang Luna membawa pisau tengah berlari menuju banyak orang di situ.
"Jangan mendekat kalian! Jika kalian mendekat akan ku habisi perempuan ini!" ancam Luna dengan suara serak.
Tidak lama setelah itu, datanglah beberapa tetangganya yang membawa ustadz ke rumah Dito.
Singkat cerita, ustadz itulah yang menyadarkan Luna ketika ia kerasukan.
"Gitu sayang, ceritanya." jelas Dito panjang lebar pada Luna yang masih terbaring di kasur.
"Sebaiknya nak Luna segera selesaikan urusannya dengan makhluk itu, jika tidak dalam jangka waktu dekat ini nak Luna yang akan jadi korbannya." ujar pak ustadz yang juga ada di dekat Luna terbaring.
"Urusan? Urusan apa pak ustadz?" tanya Dito penasaran.
"Ee...enggak kok sayang, itu cuma pegangan leluhur aku kok, jadi besok aku akan kembali dulu ke kampung aku buat menyelesaikan semuanya." jawab Luna berbohong.
Pak ustadz yang ada di situ sebenarnya sudah tau siapa dan apa maksud sosok itu merasuki Luna, namun takut hal itu adalah privasi dan tidak mau ikut campur, jadi pak ustadz pun hanya diam saja.
"Mungkin aja itu azab karena udah jadi pelakor." celetuk salah satu tetangga yang masih ada di rumah Dito.
"Makanya jangan berani jadi pelakor Mbak Luna." sahut tetangga yang lainnya.
"Astaghfirullah... ibu-ibu, nggak boleh ngomong seperti itu, di jaga mulutnya." tutur pak ustadz menyambung.
"Luna ini bukan pelakor ibu-ibu, saya sendirilah yang memutuskan untuk menceraikan Ana dan akan menikahi Luna. Jadi ibu-ibu jangan ngomong gitu lagi ya." sahut Dito juga dengan tegas.
__ADS_1
"Eh, itu bukannya emak-emak yang gosipin aku tadi pagi deh." gumam Luna dalam hati.
"Ya tapikan nggak enak juga nak Dito, kalian kan belum menikah, masa udah tinggal satu rumah sih? Zina itu. Walaupun sebelumnya neng Luna ini pembantu sampean ya tetep aja nggak enak di pandang sama kita-kita. Ya nggak ibu-ibu?" cibir tetangga yang lainnya lagi.