
Setelah Luna menelpon Dito kemudian mengatakan keadaan Ana yang semakin parah, Dito seketika langsung bergegas pulang ke rumahnya, tapi lantaran jarak rumah mereka dengan rumah sakit cukup jauh, maka dari itu Dito bersama anggota keluarganya yang lain memutuskan untuk membawa Ana ke puskesmas saja yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
Di puskesmas.
"Ini keluarga Mbak Ana cemara banget sih, sampe hampir semua anggota keluarganya ikut ke puskesmas. Hahah, tapi sebentar lagi kebahagiaan kalian itu bakalan kandas di puskesmas ini." gerutu Luna dalam hati sambil tertawa licik. Tampak semua anggota keluarganya bersama Dito sedang menunggu kabar dari dokter yang masih memeriksa Ana di ruang UGD.
Mata Luna menyorot Dito yang sedang duduk di kursi tunggu pasien bersama ibu mertuanya. Ia pun mulai bergerutu lagi. "Mas Dito... Mas Dito... Aku tuh sebenarnya sayang banget loh sama kamu, kita udah ngejalanin hubungan ini selama enam bulan tapi kamu malah berubah seketika saat perempuan itu mengandung anak kamu. Aku bakal nggak segan-segan ngelakuin apapun demi dapetin kamu lagi Mas, termasuk menghilangkan anak kamu yang masih janin itu. Hahah!"
"Trekk!" suara pintu UDG di buka memecah keheningan anggota keluarga Ana dan Dito yang sedang menunggu di luar.
"Gimana dok, keadaan istri saya?" Dito mendahului.
Dokter diam sejenak.
"Maaf ya pak, janin yang sedang di kandung istri anda mengalami keguguran." jelas Dokternya.
suasana yang tadinya hening mendadak berubah menjadi riuh kicuh anggota keluarganya yang menangis.
"Yang sabar ya nak Dito." ucap ibu mertuanya menangis tersedu-sedu.
Di saat semua orang sedang berduka atas gugurnya kandungan Ana, Luna yang juga hadir di situ justru malah kesenangan luar biasa. "Yes! Akhirnya Mas Dito akan kembali ke pelukanku lagi." ujarnya sendiri.
Tanpa berlama-lama lagi, semua anggota keluarganya dan Dito pun langsung masuk ke ruang UGD untuk melihat keadaan Ana, termasuk Luna juga di sana.
Ketika Luna baru melangkahkan beberapa kaki masuk ke ruang UGD menyusul keluarga Ana, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat ada sesosok perempuan kurus kering tanpa busana menyantap janin di bawah kasur tempat Ana dibaringkan, kukunya panjang dan hitam serta berlumuran darah. Sesosok itu sangat kurus, bahkan tulang-tulangnya pun sampai kelihatan. Ana syok sampai hendak ingin berlari keluar, tapi yang aneh di situ keluarga Ana sama sekali tidak sadar bahwa ada orang di bawah kasur Ana, termasuk Dito juga terlihat biasa-biasa saja.
"Ehh busett! Mereka sadar nggak sih ada orang di bawah kasur itu." tanya Luna ketakutan dalam hatinya. Tapi karena ia benar-benar merasa yakin bahwa orang-orang tidak melihat sosok itu, Luna pun memutuskan untuk bersikap biasa-biasa saja. Ia berpikir mungkin saja itu ada kaitannya dengan tanah liat yang ia campurkan dengan minuman Ana.
***
Ketika sudah sampai di rumah.
__ADS_1
"Udah tiga tahun loh kita nikah Ana, kamu sama sekali nggak bisa kasih keturunan ke aku! Emang gimana sih kamu jaga perut kamu itu sampe bisa keguruan?! Aku capek loh gini terus Ana!" bentak Dito marah besar ke Ana di kamarnya yang tidak sengaja terdengar oleh Luna yang sedang lewat.
Ana tidak bisa berkata apa-apa selain hanya bisa menahan sesegukannya. Baru pertama kali ia melihat Dito marah besar seperti itu.
"Tapi kita kan udah berusaha semaksimal mung..." belum selesai Ana berbicara, Dito malah memotongnya dulu dengan teriakan.
"Aalahhh!!!" teriak Dito sambil melempar vas bunga yang ada di depannya.
Luna yang ada di luar kamar mereka pun semakin penasaran lalu menempelkan telinganya ke pintu kamar Ana dan Dito.
"Kamu ingat nggak apa kata dokter tadi?! Ingat nggak?! Kamu nggak bisa hamil lagi Ana!" bentaknya lagi seraya mengambil kunci mobil yang ada di meja kerjanya lalu pergi meninggalkan Ana sendirian di kamar.
Luna yang mendengar langkah kaki Dito menuju pintu pun bergegas berlari ke kamarnya karena takut ketahuan menguping.
Terdengar suara tangisan Ana semakin kencang saat ditinggalkan Dito. Sementara itu, Luna yang baru tiba di kamarnya langsung tertawa terbahak-bahak dengan pelan melihat nasib Ana sekarang.
"HAHAHAHAH! Kasian deh lho Ana. Mulai sekarang, Mas Dito akan menjadi milik Luna seutuhnya, hahahah! Manjur juga ternyata ramuan Mbah Ompong ya. Telepon Mas Dito ahh." ujar Luna sendirian di kamarnya lalu mengambil HP yang ada di saku bajunya untuk menelpon Dito.
Dito yang sedang menyetir mobil pun menghadapkan wajahnya ke layar HP nya itu, kemudian melihat nama Lino memanggilnya. Tanpa pikir panjang lagi, jempolnya lalu menggeser panggilannya ke tombol berwarna hijau.
"Halo sayang, kamu lagi di mana?" tanya Luna dengan suara manjanya.
"Aku lagi di mobil nih, kesal sama Ana." jawabnya lesu.
"Oo iya, maapin aku ya Luna, waktu itu udah kasar sama kamu." sambungnya.
"Iya, nggak apa-apa kok sayang."
"Aku pengen ketemu kamu nih."
"Tapi di rumah kan ada istri kamu sayang."
__ADS_1
"Gini aja, kamu keluar rumah tunggu aku di jalan, nanti aku jemput kamu, aku balik lagi nih."
"Oke sayang!"
Telepon terputus.
Luna pun segera bersiap-siap dan berganti baju untuk bertemu dengan Dito di luar. Saat ia hendak melepas bajunya tiba-tiba ia merasakan seperti ada yang memegang ***********.
"Hah?! Siapa itu!" teriaknya pelan disertai kaget.
Ia lihat sekelilingnya tapi tidak ada siapa-siapa.
Mencoba berpikir positif, ia pun melanjutkan berganti baju. Seusai itu, ia kemudian berdandan di depan cermin. Dan ketika ia melihat wajahnya di cermin itu, dalam waktu bersamaan Luna melihat ada sesosok bayangan hitam besar lewat di belakangnya. Sontak matanya pun melihat ke belakang.
"Siapa itu?!" teriaknya ketakutan.
Cepat-cepat Luna berdandan dan lanjut keluar untuk pergi bersama Dito yang akan menjemputnya di jalan. Ia tidak lagi meminta izin kepada Ana, karena menganggap Ana sudah tidak ada apa-apanya lagi setelah keguguran.
***
Sebuah Civic Turbo berjalan mendekati Luna yang sedang berdiri cantik di tepi jalan yang jaraknya masih tidak jauh dengan rumah mereka. Civic itu berhenti tepat di depan Luna.
"Masuk sayang!" seru Dito dari dalam mobil.
Luna hanya mengangguk dan segera melangkahkan kaki masuk ke mobil itu.
"Istri kamu itu kan udah nggak ada gunanya lagi buat kamu Mas, dia juga udah nggak bisa kasih kamu anak. Kenapa nggak langsung kamu talak aja sih tadi." ketus Luna di mobil memberikan saran ke Dito.
"Iya sayang, nanti malem langsung aku talak dia."
"Nah, gitu dong baru kesayangan aku. Eh btw kita mau jalan ke mana nih Mas?"
__ADS_1
"kita ke oyo aja." jawabnya singkat.