
Hati Luna benar-benar hancur ketika itu, melihat Ana dan Dito bermesraan di depannya saja sudah membuatnya muak apalagi saat ini Ana sudah mengandung anaknya Dito, pasti Dito akan lebih banyak meluangkan waktu untuk Ana daripada dengannya.
"Sayang aku cuci tangan dulu ya." Dito meminta izin ke Ana untuk mencuci tangan di dapur saat sedang makan bersama keluarga mereka. Tanpa sengaja Luna pun mendengar hal itu, sehingga kesempatan ini tentu di manfaatkan olehnya untuk menemui Dito sembunyi-sembunyi di dapur. Luna pun berjalan di belakang menyusul Dito yang lebih dulu di depan.
"Syuuuurttt." Dito membuka kran wastafel dan segera membasuh tangannya. Setelah selesai ia lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali berkumpul dengan keluarga besar mereka di ruang tamu. Namun saat sudah membalikkan badan, ia kaget luar biasa karena ada Luna yang sedang berdiri di belakangnya.
Dito menghela napas berat.
"Luna kamu jangan dekat-dekat aku dulu ya, kita kan harus bersikap profesional kalo di depan istri aku, apalagi sekarang ada keluarga besar kami. Jadi tolong sabar dulu ya." jelas Dito melarangnya untuk menemuinya sementara.
"Nggak bisa gitu dong Mas! Aku punya harga diri ya, nggak bisa lah kamu seenaknya gitu sama aku!" teriak Luna sedikit pelan menahan amarah, matanya melotot.
"Ya tapi mau gimana lagi?" Dito mengernyitkan dahi.
"Aku udah lama ya pengen banget punya momongan, ya kasih aku waktu sebentar lah Luna." sambungnya.
"Sebentar atau seumur hidup?! Terus mau sampai kapan kita gini terus? Ini semua gara-gara perempuan itu kenapa sih pake hamil segala!" teriaknya lagi dengan pelan.
"Ye resiko kamu lah mau jadi selingkuhan." ucap Dito dengan entengnya.
Setelah itu Dito menepis bahu Luna dan segera pergi meninggalkannya sendirian di dapur. Siapa sangka hal itu justru malah membuat Luna semakin naik pitam, matanya memerah, ia bernapas dengan cepat.
"Berani banget ya kamu ngomong gitu ke aku Mas. Oke kita liat aja nanti." ketus Ana dengan isak sembari menyimpulkan tangannya di atas dada, seperti menyiapkan sesuatu.
***
Malam itu setelah keluarga Ana dan Dito pulang, Luna meminta izin ke Ana untuk pergi keluar sebentar.
"Tok... Tok... Tok!" ketuk Luna di pintu kamar pasangan itu.
Tidak lama setelah itu keluarlah Ana.
"Iya Luna, ada apa?"
"Maaf sebelumnya Mbak, aku keluar dulu ya sebentar."
"Ngapain Luna?"
__ADS_1
"Aku mau ketemu sama tunangan aku yang dari kampung. Dia udah jauh-jauh loh Mbak datang ke sini cuma buat nemuin aku. Dia ngajak aku ketemuan di warteg depan Mbak." jawab Luna agak kencang sengaja membuat Dito cemburu.
Jantung Ana seketika berdebar kencang. Kaget serta malu karena sudah mencurigai pembantunya itu macam-macam dengan suaminya, karena ternyata Luna sudah punya tunangan.
"Ya Allah aku hampir mau usir Luna loh karena udah curiga sama dia." gumamnya dalam hati merasa bersalah.
"Mbak? Kenapa bengong?" tanya Luna yang melihat Ana diam saja setelah ia menjawab mau menemui tunangannya.
"Ohh! Iya Luna kamu keluar aja sana. Hati-hati ya."
"Oke, makasih ya Mbak. Mau nitip sesuatu?"
"Enggak deh Luna, nanti ngerepotin kamu lagi."
Tanpa basa-basi lagi, Luna pun segera pergi dari rumah. Dito yang tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Ana pun marah serta segera mengechat Luna diam-diam di toilet.
"Siapa tunangan kamu itu! Kamu selingkuh?!" ketiknya di HP nya dengan tidak tau diri dan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Cling!" notifikasi pesan itu pun masuk ke HP Luna. Tapi karena buru-buru sekali akhirnya ia hanya mengabaikannya.
Luna pun berjalan beberapa langkah kaki lagi ke depan, dan tidak lama setelah itu barulah terdengar suara sepeda motor yang mendekat ke arahnya.
"Kok lama banget sih kang!" pekiknya ke tukang ojek yang ia pesan lewat online.
"Iya maaf neng, soalnya saya tadi nganter orang dulu. Jadi agak lama deh." jelas tukang ojek itu sembari memberikan helm ke Luna.
"Iya yaudah deh. Ini... Tau nggak alamat ini?" tanya Luna seraya memperlihatkan alamat di layar HP nya ke tukang ojek itu.
"Jalan Runtuh Dusun Saji?" baca tukang ojeknya.
"Saya tau nih neng, jalan ini bukannya jalan mau ke rumah Mbah Ompong ya?" tebaknya.
"Iya benar! Kalau udah tau langsung antar saya ke sana aja ya." ucapnya langsung mengenakan helm di kepalanya.
"Tapi eneng yakin? Ini malam-malam loh neng, emang nggak takut?" tanya ojek itu sekali lagi.
"Kalau buat balas dendam kenapa harus takut?!" celetuk Luna spontan dengan wajah geram mengingat perlakuan Dito terhadapnya.
__ADS_1
"Hah, maksudnya neng?"
"Ooh nggak kok! Jalan aja kang, nanti saya kasih tambahan deh." ujarnya.
Mereka pun mulai berangkat menuju alamat Mbah Ompong, dukun terkenal di salah satu wilayah di tempat Luna bekerja.
Sekitar empat puluh menit lamanya, tibalah mereka di alamat yang mereka tuju.
"Ini sekitar lima menit lagi neng." ketus tukang ojek.
"Ohh iya, jauh juga ternyata ya kang." sahutnya.
Sekitar lima menit lagi akan sampai di kediaman Mbah Ompong, Luna sempat memperhatikan kiri kanan dekat jalan itu. Jalannya kecil, penuh lalang, tidak ada lampu jalan, serta rumah orang yang berjarangan. Sebenarnya Luna agak merinding dan takut, tapi mengingat Dito telah menyakitinya ia pun membuang jauh-jauh rasa takut itu.
"Nah, ini dia neng udah sampe kita di rumah Mbah Ompong." ucap tukang ojek itu sembari memberhentikan sepeda motornya dan menurunkan standar.
"Ini?". ujarnya seraya melepaskan helm di kepalanya serta memandangi rumah Mbah Ompong dengan rancu.
"Gelap banget ya kang." lanjutnya sambil berjalan bersama tukang ojek mendekati rumah Mbah Ompong.
"Saya ketuk ya kang." Luna hendak mengetuk pintu rumah Mbah Ompong yang sepertinya terbuat dari kayu itu. Namun belum sampai tangannya menyentuh pintunya, pintu itu lebih dulu terbuka dengan sendirinya.
"Creeeeeet." pintu itu mengeluarkan suara seperti di film-film horor, yang tentu membuat bulu kuduk Luna dan tukang ojek berdiri.
"Masuk!" tiba-tiba terdengar suara kakek-kakek menyuruh mereka masuk.
"Kang, akang di sini aja ya. Biar saya aja yang masuk." perintah Luna.
Tukang ojek itu hanya pasrah saat di suruh Luna untuk menunggu di luar, karena memang sekitar tempat itu benar-benar seram.
"Iya neng, hati-hati ya di dalem." sahutnya.
Baru sekitar satu langkah Luna menginjakkan kaki di rumah itu, semerbak bau kemenyan seolah-olah sudah menempel di hidungnya. Sama seperti di luar yang gelap, dalam rumah itu ternyata juga gelap gulita. Dengan bermodalkan flash HP lah Luna bisa melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Dari luar, rumah itu tampak sangat kecil, tapi setelah Luna jelajahi dari dalam walaupun dengan keadaan gelap, rumah itu terasa sangat luas. Sepuluh menit Luna berjalan dari luar masuk ke dalam tidak sama sekali menemukan kakek yang memanggilnya tadi, jantungnya hampir copot.
"Permisi, Mbah." mulainya memberanikan diri.
__ADS_1